Mengenalkan Studi Buddhisme Awal ke Mimbar Akademik di Indonesia: Sebuah Eksplorasi Perdana atas Eksistensi, Proses, dan Dampak Stagnasinya

Home » Artikel » Mengenalkan Studi Buddhisme Awal ke Mimbar Akademik di Indonesia: Sebuah Eksplorasi Perdana atas Eksistensi, Proses, dan Dampak Stagnasinya

Dilihat

Dilihat : 36 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 140
  • 571
  • 278,667
Pic 3 JUN 2025 JO

Oleh: Tim Setangkai Dupa

            Pada hari Rabu, tanggal 26 Agustus 2026 pukul 14.00 WITA dilaksanakan sidang terbuka promosi Doktoral Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan atas nama promovendus sdr. Arya Whisnu Karniawan. Sidang ini beranggotakan dewan penguji berupa para Guru Besar dan Lektor Kepala dari Universitas Hindu Indonesia dan IABN Sriwijaya Tangerang.

            Yang menarik dari sidang terbuka ini adalah topik yang dibahas begitu niche di Indonesia sendiri yaitu adalah “Studi Buddhisme Awal” atau “Early Buddhism Studies”. Disclaimer dulu, sidang terbuka ini tidak membahas kajian mendalam tertentu atas teks-teks Buddhisme Awal, melainkan membahas tentang bagaimana topik “Studi Buddhisme Awal” ini eksis di Indonesia khususnya di Jabodetabek, proses mengapa propagasi studi ini mengalami stagnasi, dan bagaimana dampaknya terhadap studi Buddhisme di Indonesia.

Apa itu studi Buddhisme Awal? Studi Buddhisme Awal sendiri adalah studi yang menekankan pada teks-teks Buddhisme Awal, yaitu teks-teks yang diucapkan oleh Sang Buddha historis dan para murid sezamannya. (Sujato dan Brahmali, 2014:9). Penentuan materi dengan membandingkan sumber berbahasa Pali, Cina, dan lainnya. Dengan sudut pandang keilmuan yang ketat, para cendekiawan Buddhis di bidang ini berharap dapat mencari tahu apa yang Sang Buddha sendiri ajarkan dengan mengintip ke zaman sebelum terjadinya perpecahan sekte. (Sujato, 2012:2-4) Pembahasan tentang studi ini pertama kali hadir di Indonesia, khususnya di Jabodetabek pada tahun 2008 melalui diskusi pada forum DhammaCitta. Setelahnya diskusi terus berlanjut dan muncul komunitas lainnya yang membahas Studi Buddhisme Awal di tahun 2015, yaitu EBSI. (Karniawan, 2026:186)

 

            Mengapa studi ini penting? Studi ini mencari ‘benang merah’ identitas otentik yang terdapat dalam semua tradisi Buddhis utama, yakni berupa ajaran-ajaran yang memiliki karakterikstik esensial, lintas sektarian, dan mendasar, yang menjadi akar dari semua tradisi Buddhisme. Dengan berangkat pada kajian filologi yang ketat, Studi Buddhisme Awal mengutamakan *kejujuran* terhadap perkembangan tradisi Buddhisme yang awal dengan yang belakangan. Studi Buddhisme Awal sendiri tidak menganggap tradisi awal selalu baik dan tradisi belakangan lebih buruk, studi ini hanya mengutamakan kejujuran bahwa satu konsep dapat muncul di satu masa dan di masa-masa setelahnya dapat muncul konsep yang lain. (Karniawan, 2026:xxxi)

 

            Tim Setangkai Dupa sendiri menilai Studi ini dapat menjadi nilai lebih tersendiri bagi agama Buddha dalam hal kajian keotentikan ajaran. Hal ini karena pada umumnya sekte-sekte dalam Buddhisme berkembang dengan prinsip ‘Jalan masing-masing’ tanpa saling menghancurkan satu sama lain. Hal inilah yang menyebabkan teks-teks Buddhisme begitu ‘hidup’ dan berkembang, yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain yang menggunakan pendekatan ‘pemurnian’ ajaran dengan mengeliminasi teks-teks yang dianggap ‘sesat’. Karena banyaknya teks yang tersedia, para cendekiawan Buddhis modern dapat menggunakan studi filologi yang ketat dengan komparasi teks-teks yang ada untuk mengetahui apa yang Sang Buddha ajarkan. Pendekatan ini walau tidak praktis, namun sesungguhnya menawarkan kepastian.

           

            Bagaimana pendekatan ini membantu pembelajar Buddhis dalam memahami agamanya? Misalkan sebuah langit malam tanpa ada rembulan dan bintang-bintang yang terlihat, dalam hal ini bagaimana manusia dahulu dapat mengetahui arah dan waktu jika tidak ada pola-pola astrologi tertentu? Atau misalnya ketika seseorang menawarkan sebuah permata yang diklaim sebagai emas asli, namun anda tidak memiliki pembanding antara emas asli dan palsu. Bagaimana anda yakin emas yang ditawarkannya adalah asli? Persis seperti itulah studi ini dapat membantu pembelajar Buddhis dalam mempelajari ajaran Buddha. Dengan dialektika yang sehat, studi ini membawa umat Buddha untuk menyadari perbedaan yang ada dan menghormati perbedaan-perbedaan tersebut tanpa bersikukuh mengatakan ‘Buddhisme saya yang paling benar’. (Karniawan, 2026:xxxi)

 

            Lantas, mengapa pembahasan tentang studi ini menjadi stagnan? Hal ini dipicu oleh interaksi sosial yang melibatkan emosi negatif ditambah dengan hadirnya hambatan-hambatan, baik dari segi internal seperti sifat Ajaran Buddhisme Awal sendiri. Studi Buddhisme Awal sendiri menggunakan pendekatan sains, artinya terdapat proses dialektika yang terkadang tidak sejalan dengan pendekatan tradisional. Sains itu sendiri selalu berubah. Misalnya dalam Matematika, terdapat konsep Geometri Euclid di mana dua garis sejajar yang mempunyai jarak yang sama (Ilustrasi seperti tanda ‘=’ ) tidak akan pernah berpotongan/ saling bertemu satu sama lain (Fatqurhohman, 2022:3). Namun, bagaimana jika kedua garis lurus tersebut digambar diatas sebuah bola? Demikianlah sains memperdebatkan segala hal, bahkan sesuatu yang telah dianggap pasti sekalipun. Hal ini berbeda dengan pendekatan tradisional yang cenderung menganggap suatu nilai tertentu sebagai kebenaran karena sudah menjadi ‘keyakinan’ yang diwariskan dalam tradisi secara turun temurun. Ketika pemahaman yang baru ini  bertemu dengan nilai-nilai tradisi, maka sangat mungkin terjadinya penolakkan atas nilai-nilai baru tersebut. Selain itu juga hambatan internal yang lain berupa waktu, dan tidak adanya regenerasi anggota. Sedangkan hambatan eksternal seperti menjamurnya komunitas Buddhis, arus informasi, serta kemajuan teknologi. Kombinasi ini secara bertahap mengakibatkan stagnasi dalam kualitas propagasi dan mengakibatkan turunnya/ berhentinya peran anggota komunitas sebagai ‘penjaga tradisi’ dalam studi dan propagasi Studi Buddhisme Awal. (Karniawan, 2026:187-188)

 

            Jika stagnasi terus terjadi, maka dampak yang ditimbulkan atas stagnasi ini adalah: (1) Hilangnya kejelasan antara tradisi awal dan belakangan sebagai konsekuensi akibat tidak hadirnya pembahasan yang jujur dan berimbang antara tradisi awal dan belakangan, (2) Memperburuk obesitas informasi seiring berkembangnya konten-konten sampah, (3) Hilangnya proses deradikalisasi yang timbul akibat seseorang mempelajari studi ini dengan benar, (4) Terjadinya proses negosiasi budaya yang berlebihan dan dapat menggerus prinsip-prinsip fundamental Buddhisme, (5) Menghambat integrasi studi ini ke pendidikan formal. (Karniawan, 2026:188)

 

            Sidang Promosi Doktor kali ini cukup semarak, karena dihadiri tokoh-tokoh penting yang menjadi Dewan Penguji pada sidang ini, di antaranya:

1. Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si. selaku Ketua Sidang (Rektor UNHI).

2. Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna MS. selaku Promotor.

3. Dr. I Gusti Agung Paramita, S.Ag., M.Si. selaku Kopromotor.

4. Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra, M.Pd. selaku Anggota (Rektor IABN Sriwijaya).

5. Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si. selaku Anggota (Kaprodi S-3 IAK).

6. Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si. selaku Anggota (Dekan FIASB).

7. Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si. selaku Anggota.

8. Prof. Dr. Dra. I Gusti Ayu Suasthi, M.Si. selaku Anggota.

 

            Agar studi ini dapat terus berkembang, perlu adanya perhatian khusus dari semua pihak. Promovendus menyarankan agar pemerintah dapat menaruh atensi sehubungan dengan keberadaan Studi Buddhisme Awal sebagai salah satu studi Buddhisme yang eksis di Indonesia. Dan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha agar dapat  mempertimbangkan Studi Buddhisme Awal dapat menjadi salah satu mata kuliah yang diajarkan pada prodi Pendidikan Keagamaan Buddha atau prodi lain yang relevan. (Karniawan, 2026:188-189) Lebih dari itu, kesadaran setiap umat Buddha juga perlu ditingkatkan. Karena studi Buddhisme Awal sendiri dapat terus menggaung selama terdapat orang-orang yang menekuninya. Bagaimana umat Buddha yang budiman, tertarik mempelajari studi ini lebih lanjut? J

 

Referensi

 

Fatqurhohman. 2022. Geometri Transformasi Teori dan Implementasinya. Jember. Universitas Muhammadiyah Jember.

Karniawan, Arya Whisnu. 2026. DISERTASI STAGNASI STUDI BUDDHISME AWAL DI JABODETABEK (KAJIAN KASUS KOMUNITAS BUDDHIS DHAMMACITTA DAN EARLY BUDDHIST SOCIETY OF INDONESIA). Bali. Universitas Hindu Indonesia.

Sujato, Bhikkhu & Bhikkhu Brahmali. 2014. The Authenticity of the Early Buddhist Texts. Kandy. Buddhist Publication Society.

Sujato, Bhikkhu. 2012. Kelahiran Kembali dan Keadaan Antara Dalam Buddhisme Awal. Jakarta: DhammaCitta Press.

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?