Menjadi Super Tanpa Menindas

Home » Artikel » Menjadi Super Tanpa Menindas

Dilihat

Dilihat : 0 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Kue Super

Oleh: Majaputera Karniawan, S.Pd

Gambar ini saya temukan ketika sedang berselancar di Facebook, sayang handphone keburu force close sewaktu mau mengambil sumbernya. Pada gambar ini, si pembuat membicarakan kebebasan yang salah.

Terjemahan tulisan berbahasa inggris di gambar adalah: “Ini seharusnya dapat dipahami dengan mudah bagaimana kebebasan bekerja. Orang ini mengambil bagiannya, tetapi menyinggung orang lain secara negatif. Ia menggunakan kebebasannya, tetapi dengan berlaku tidak adil pada yang lainnya. Kebebasan individu tidak bisa dilakukan sesukanya tanpa melihat apakah kebebasannya menindas/tidak adil pada pihak lainnya. Keadilan lenyap ketika kau menyakiti (merugikan) yang lainnya. (Gambar) inilah sebuah contoh dari tindakan kebebasan individu yang buruk.”

Sifat buruk dari kebebasan memang kadang menjadi perampasan hak orang lain. Dalam dunia kerja misalnya, seorang atasan memaksakan lembur pada anak buah tanpa memberikan uang lembur yang layak dan mengancam memecatnya. Demikian sebaliknya, seorang karyawan masuk kerja seenaknya karena atasan mereka terlalu percaya menyerahkan segala tugas kepadanya (Laissez Fair).

Dalam dunia pendidikan seorang mahasiswa seenaknya tidak mengerjakan tugas dengan alasan mengikuti kegiatan kampus, demikian sebaliknya seorang dosen menggunakan kekuasaannya seperti membuat soal ujian agar mahasiswa membuat satu jurnal atau buku bahan ajar dengan dosen sebagai nama penulis utama bahkan penulis tunggal.

Dalam keluarga juga bisa saja terjadi anak yang terlalu dimanja ataupun orang tua yang terlalu otokratis. Yang menjadi pertanyaan adalah: Kenapa sih harus toxic untuk mencapai kebahagiaan?

 

Toxic (Beracun, maksudnya merugikan dan menyesatkan orang lain) bisa jadi karena kita terbelenggu dengan kekotoran batin. Dalam ajaran Buddha, makhluk dalam samsara rentan terhadap jerat nafsu. Terlalu serakah (Lobha) dan diliputi tendensi kebencian (Dosa) jika apa yang diharapkan tidak terwujud menjadikan batin kita terdelusi (Moha).

Buddhisme percaya akan hukum akibat perbuatan setelah kematian. Dikatakan siapa yang mencari kebahagiaan untuk diri sendiri dengan jalan menganiaya makhluk lain, maka setelah kematian ia tak akan memperoleh kebahagiaan (Dhammapada 131). Akan tetapi hukum perbuatan (kamma) versi Buddhis tidak hanya menekankan akibat setelah kematian saja.

Sangat jelas orang yang toxic bisa menerima akibatnya dikehidupan kini, seperti Devadatta sepupu Sang Buddha yang demi menjadi pemimpin Sangha melakukan cara-cara toxic dengan menghasut dan tipu daya, pada akhirnya harus dipermalukan akibat perbuatannya sendiri secara alamiah. Pada masa kini, bisa kita lihat fenomena toxic leader dengan segala euforianya, yang pada akhirnya kembali pada titik nol atau bahkan memasuki kemunduran.

Dalam filsafat Taoisme, Laozi berpandangan bahwa segala sesuatu yang berlebihan justru akan berbalik pada kemunduran, maka ia menyatakan “Lebih baik secukupnya saja”, bahkan ia memberi analogi bagai pisau yang diasah terlalu tajam tidak akan bertahan lama, demikian bersikap berlebihan dan sombong karena wewenang kekuasaan dan harta malah akan mendatangkan petaka (Dao De Jing, 9).

Konfusius punya pemikiran lain, ia memberikan tiga analogi tentang bagaimana setiap orang saling mempengaruhi perilaku orang lain disekitarnya: 1. Bila anggota keluarga saling mengasihi niscaya seluruh negeri ada dalam cinta kasih; 2. Bila anggota keluarga saling mengalah niscaya negeri dalam suasana saling mengalah; 3. Bila anggota keluarga tamak dan curang, seluruh negeri bisa dalam kekalutan. Semuanya berperan, sepatah kata dapat berperan merusak perkara dan seseorang juga dapat berperan menentramkan negara (Thai Hak IX:3).

Lantas apakah kita orang yang berperan menentramkan negara atau justru yang berperan merusuhkan negara? Yuk, alih haluan dari toxic menjadi positif!

Jika Buddhisme punya konsep Hiri dan Ottapa (Malu berbuat salah dan Takut akibat perbuatan salah), Konfusianisme mengajarkan konsep tenggang rasa (tepa selira) agar kita bisa berperan tanpa merugikan orang lain. Inti dari hukum ini adalah Apa yang diri sendiri tidak inginkan, jangan diberikan pada orang lain (Lun Gi, XV:24). Kedua konsep inilah yang menjadi kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Menyadarkan bahwa kita mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan terikat dengan kontrol sosial. Maka kita memiliki tanggung jawab atas perbuatan kita tidak hanya secara transendental, tetapi juga kepada sosial.

 

Daftar Pustaka:

Lika, ID (Penafsir). 2015. Dao De Jing. Jakarta. Elex Media Komputindo.

MATAKIN. 2010. Su Si (Kitab Yang Empat). Jakarta. Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Samaggi Phala. Dhammapada, Danda Vagga. https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/danda-vagga/. Diakses 24 November 2021

Butuh bantuan?