MENYIMPAN BATU UNTUK MENGAJAR ANAK

Home » Artikel » MENYIMPAN BATU UNTUK MENGAJAR ANAK

Dilihat

Dilihat : 48 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035
UP SD COM

Oleh: Xie Zheng Ming 谢峥明

 

Dalam budaya Tionghoa, terdapat sebuah nilai luhur yang turun menurun terus dilestarikan yaitu: bakti. Bibi saya dari Zhong Guo, ketika datang berkunjung ke Indonesia pernah menuliskan sebuah syair untuk saya baca dalam dialek Hakka. Beliau sangat dapat memaklumi keadaan saya: Lebih bisa membaca han zi dengan menggunakan bantuan pinyin daripada membaca han zi dalam dialek Hakka. Beliau sangat bangga terhadap keluarga kami, terus memberikan dorongan untuk meluangkan waktu mempelajari budaya Hakka. Isi syair tersebut adalah:

娶了一房妻子,生了两个儿子。

养大两个儿子,不如一箱石子。

不是一箱石子,必然饿死老子。

莫丢那些石子,留来教导孙子。

“Menikahi seorang istri, darinya dua putra lahir.

Membesarkan dua putra, Tidak lebih baik dari sekotak batu.

Jika bukan karena sekotak batu, Saya pasti akan mati kelaparan.

Jangan membuang batu-batu itu, simpanlah untuk mengajar cucumu.”

Bibi menjelaskan bahwa syair tersebut memberi tahu kepada kita semua agar berbakti kepada ke dua orang tua. Alkisah, di desa Bing kabupaten Mei梅县丙村 hiduplah seorang pak tua, sang istri telah lebih dahulu meninggal dunia. Pak tua tersebut dikaruniai 2 orang putra yang sudah hidup berumah tangga, mereka hidup bersama dalam sebuah rumah besar. Kedua putra dan menantunya menganggap pak tua sebagai beban, saling mencari alasan untuk menolak memberikan perawatan sebagai perwujudan laku bakti. Baik pasangan sulung maupun bungsu tidak ada yang memiliki kesadaran untuk menerima keberadaan pak tua. 

Mengetahui hal tersebut, pak tua menjadi merasa sangat sedih, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah selama beberapa saat.  Ketika  kembali ke rumah, pak tua membawa sebuah kotak kayu yang isinya penuh dengan batu kerikil sehingga tampak berat. Pak tua bersandiwara, memberikan kesan seolah-olah takut ada orang yang mengetahui isi kotak kayu tersebut. Ia dengan sangat hati-hati menyimpan kotak tersebut. Sejak saat itu, pak tua tidak mudah untuk meninggalkan ruangannya, ketika pergi selalu mengunci pintu kamarnya. 

Anak-anak & menantu menyimpulkan jika di dalam kotak tersebut berisi banyak barang berharga seperti: emas, perhiasan. Dalam sekejap, mereka dapat merubah perangainya dari menganggapnya sebagai beban menjadi penuh perhatian & kasih. Ke-2 saudara tersebut saling berlomba-lomba untuk mendapatkan hati pak tua, sampai-sampai hampir berselisih paham. Untungnya, pak tua memiliki cara penyelesaian yang bijaksana, diberikan kesempatan yang sama secara bergantian untuk memberikan perawatan. Sejak saat itu keadaan pak tua membaik, tidak kekurangan sandang pangan papan. 

Pak tua menyelesaikan tugasnya di dunia pada usia yang senja. Setelah selesai mengurus upacara perkabungan, kedua pasang putra & menantunya segera bergegas menuju ke kamar pak tua mencari & membuka kotak kayu yang disembunyikan untuk dibagi rata. Betapa terkejutnya mereka, ketika kotak tersebut ditemukan & dibuka, isinya adalah batu kerikil yang  tidak berharga. 

Menurut说文解字 (Shuo Wen Jie Zi, sino-etimologi), 教 agama diartikan sebagai ajaran tentang berbakti. 孝+文=教. Dalam kitab bakti/孝经开宗明义章第一 (Hauw King, Bab I. Ruang Lingkup dan Arti risalah) tertulis:sesungguhnya laku bakti adalah pokok kebajikan. Dari situ agama berkembang 子曰:“夫孝,德之本也,教之所由生也. Selamat belajar, semoga bermanfaat. Jia you! 

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka:

Adegunawan, Suyena. 2018. 《孝经》 Xiao Jing. Kitab Bakti. The Classic of Filial Piety. Bandung. TSA.

Butuh bantuan?