Merajut Jalinan Karma Baik (结缘 jiéyuán) dan Melepas Ikatan Karma Buruk (解寃 jiěyuān)

Home » Artikel » Merajut Jalinan Karma Baik (结缘 jiéyuán) dan Melepas Ikatan Karma Buruk (解寃 jiěyuān)

Dilihat

Dilihat : 4 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035
Pic 4 Merajut

Oleh: Majaputera Karniawan, M. Pd.

 

Di pertengahan bulan April, saya berkesempatan berkunjung ke satu wihara, dimana dari seluruh elemen masyarakat komunitas wihara tersebut mulai dari umat hingga panditanya tidak memiliki kemampuan berbahasa mandarin. Hingga pada akhirnya ada satu waktu seseorang menitipkan papan leluhur keluarganya ke wihara tersebut. Papan tersebut milik almarhum suami bermarga Qiu/Khu 丘 dan istri bermarga Li/Lie 李.

Kaget sekali saya menemukan papan tersebut ada bersama-sama dengan rupang-rupang dewa dewi tidak terurus lainnya. Pada akhirnya saya karena merasa kasihan, mengirimkan sedikit doa-doa agar almarhum dan almarhumah menemui ketenangan di alam sana. Lantas setelah memberikan pembabaran Dharma di wihara tersebut, saya menemui pengurus di sana dan menanyakan asal muasal papan tersebut bisa ada di altar dewa dewi dalam kondisi begitu memprihatinkan.

Tepat seperti dugaan saya, anak dan keturunan dari almarhum sudah berpindah keyakinan. Karena dalam keyakinan yang baru melarang ada persembahyangan kepada para dewa dan leluhur, sehingga mereka memilih menelantarkan papan leluhur tersebut di sini. Salah satu rohaniwan yang ada di wihara ini mengaku tidak tahu bahwa itu adalah papan leluhur, mereka berpikir itu adalah papan dari Dewa tanah (Tu Di Gong 土地公) makanya dibiarkanlah untuk ada di sana dan ada terus hingga sekarang.

Pada akhirnya saya memberikan pemahaman bahwasanya papan tersebut tidak bisa ada di sana karena dalam filsafat Taoisme Yin dan Yang jelas berbeda dan tidak bisa dipersatukan. Serta secara etika moral juga kurang etis. Saya memberikan sebuah alegori sederhana “Bagaimana jika foto orang tua anda ditaruh di wihara dan dicampakkan begitu saja? Saya rasa kita semua pun akan merasa bersedih bukan?”

Kami pun merencanakan sebuah upacara penyeberangan kesadaran sederhana bagi almarhum. Setelah upacara dilakukan dengan penuh hormat, kami pada akhirnya mengkremasi papan nama leluhur tersebut di pagoda pembakaran kertas wihara, Dalam prosesnya tentu melibatkan unsur filsafat yang tertuang dalam ritus ritual. Filsafat itu adalah:

  1. Merajut Jalinan Karma Baik (结缘 jiéyuán). Bahasa padanannya bisa kita sebut sebagai ‘Silaturahmi’. Dalam ritual sembahyang kematian ala Tionghoa, apapun tradisi yang dipakai, si pendoa harus bersilaturahmi dan merajut jalinan karma baik dengan almarhum. Caranya dengan mengundangnya, bisa dengan mantra suci, paritta, kitab, dan sebagainya. Orang tionghoa memperlakukan orang yang mati sebagaimana ia masih hidup karena saat kita sembahyang kita membayangkan bahwa ia benar-benar hadir di dekat kita (Lun Gi III: 12). Dengan kata lain, kita memperlakukan ia yang sudah mati seperti ia masih benar-benar hidup. Celakanya adalah sebagian besar dari kita memperlakukan orang tua dan leluhur kita dengan begitu hormat dengan aneka sajian saat mereka sudah mati, namun bertindak kurang ajar dan mengabaikan mereka sewaktu mereka masih hidup. Tentu saja hal ini sudah terlambat. Konsep 结缘 jiéyuán atau menjalin ikatan karma baik atau silaturahmi ini tidak melulu pada mereka yang sudah mati. Kita memberikan hadiah dan penghormatan pada tetangga kita, guru kita, suami kita, istri dan anak kita, orang tua kita, bahkan orang tidak dikenal pun sudah merupakan 结缘 jiéyuán. Rajutan karma baik ini tidak melulu dimaknai untuk mendapatkan jasa pahala. Tetapi karma di sini juga sebagai “perbuatan’’ yang mengkondisikan pelakunya bisa merasa nyaman di manapun dan kapanpun dia berbaur dengan satu lingkungan. Hanya tentu beda antara 结缘 jiéyuán kepada mahluk hidup (dengan pemberian-pemberian: misal Buddha mengajarkan dengan cara mengembangkan cinta kasih lewat perbuatan, ucapan, pikiran; Berbagi/beramal; menjaga moralitas; dan menyamakan persepsi, AN6.12 Saraniya Dhamma Sutta), dengan kepada mereka yang telah tiada (dengan bantuan dewata, paritta, dan mantra tertentu).
  2. Melepas Ikatan Karma Buruk (解寃 jiěyuān). Ikatan karma buruk ini berasal dari dendam dan rasa tidak suka. Kalaupun orang tersebut masih hidup, tentu akan lebih mudah untuk mengikis dan mengakhirinya. Namun beda cerita jika orangnya sudah tidak ada atau meninggal. Ini memerlukan upaya khusus yang lebih jauh dengan bantuan dewata dan kekuatan paritta/mantra. Namun konsep Melepas Ikatan Karma Buruk (解寃 jiěyuān) tidak melulu soal melepas kepada mereka yang telah meninggal saja. Inti dari konsep ini ‘Melepaskan dendam’ kepada siapa saja, agar dendam tidak lagi berlarut-larut dan bisa mengakhiri lingkaran kebencian di antara 2 atau lebih makhluk. Orang Tionghoa percaya (terlepas dari apapun agama yang dianut) bahwasanya setiap makhluk dan kecenderungannya senantiasa berubah. Ketika makhluk-makhluk mengakumulasi dendam yang begitu banyak, hanya tinggal menunggu kapan akan meledak. Sebelum ledakan itu terjadi, dibuatlah upaya dengan proses Jieyuan ini. Bisa dikatakan dalam hukum modern ini seperti ‘Upaya kekeluargaan’, ‘musyawarah dan mufakat’, atau bahkan ’restorative justice’ sebagai upaya mendamaikan kedua belah pihak agar tidak saling berseteru kembali.

Pada akhirnya di antara kedua jenis ritual tersebut merepresentasikan upaya baik bukan hanya kepada orang yang sudah tiada saja namun juga kepada mereka yang masih hidup. Sebenarnya ada upaya lebih lanjut yang bisa kita lakukan yakni 化缘huàyuán (Mentransformasi jasa perbuatan). Maknanya adalah dari upaya silaturahmi dan melepaskan dendam yang telah dilakukan, kita melanjutkan lebih jauh dengan membuat ‘Jasa-jasa’ agar kebajikan dan kebahagiaan bisa terus berkembang. Misalnya dalam ajaran Buddha dengan melakukan kebajikan atas nama almarhum dan melanjutkan tradisi baik dari sebuah keluarga (DN31, Sigalovada Sutta). Atau bila kepada orang yang masih hidup bisa dengan saling melibatkan diri dalam kebajikan demi manfaat bersama.

Inilah yang digambarkan bahkan dalam ritual kematian Tionghoa saja, tidak memikirkan kesejahteraan bagi mereka yang telah tiada, namun juga ajaran Budi Pekerti luhur bagi mereka yang masih hidup dalam mengarungi kehidupan!

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka:
Suttacentral.com (Legacy). 2016. Digha Nikaya. Aplikasi Pribadi.

Suttacentral.com (Legacy). 2016. Anguttara Nikaya. Aplikasi Pribadi.

Dhighest Dream. Tanpa Tahun. Kitab Su Si. Aplikasi Android.

Gambar: Dokumentasi Pribadi.

Butuh bantuan?