Merayakan Perbedaan Dalam Teduh Ramadhan: Refleksi Kebijaksanaan dalam Sarasehan dan Buka Puasa Bersama di Institut Nalanda

Home » Artikel » Merayakan Perbedaan Dalam Teduh Ramadhan: Refleksi Kebijaksanaan dalam Sarasehan dan Buka Puasa Bersama di Institut Nalanda

Dilihat

Dilihat : 101 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 143
  • 571
  • 278,670
Sarasehan nalanda

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

“Yang beda jangan disama-samakan, yang sama jangan dibeda-bedakan”

(Alm. KH. Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 Republik Indonesia)

 

Dalam tradisi Filsafat Timur, harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan manusia untuk memahami dan menerima perbedaan. Semangat inilah yang tercermin dalam kegiatan Sarasehan dan Buka Puasa Bersama yang diselenggarakan oleh Rumah Moderasi Beragama Institut Nalanda pada Jumat, 13 Maret 2026.

Mengangkat tema “Merayakan Perbedaan, Merajut Kepedulian dalam Masyarakat Multikultural”, kegiatan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif keagamaan dalam suasana persaudaraan dan kebersamaan.  Acara yang dimulai pukul 15.00 ini dipandu oleh Kemiran, M.Pd., dosen Institut Nalanda, dengan Astri Chintya Astana, M.Pd., Wakil Rektor III Institut Nalanda, sebagai moderator diskusi.

 

A. Toleransi sebagai Praktik Kebijaksanaan

Dalam laporan pembukaan, Ariyanto, M.Pd. selaku ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat nilai toleransi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Menurutnya, sarasehan bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga ruang perjumpaan batin, tempat individu dari latar belakang berbeda belajar saling memahami dan menghargai.

Budaya Nusantara yang identik dengan nilai-nilai kekeluargaan menjadi salah satu alasan mengapa bentuk sarasehan menjadi pengerat rasa kebersamaan. Ambil contoh budaya Nyaneut dalam tanah tatar Sunda, Nyaneut bukan sekedar mampir dan menikmati teh saja, tetapi setelah teh ada cerita, ada kisah, dan ada rasa yang kembali tersambung. Kekeluargaan ini kemudian membentuk rasa empati dan simpati kolektif secara lambat laun, melampaui sekat-sekat perbedaan itu sendiri.

 

B. Belajar Menerima Perbedaan dari Diri Sendiri

Rektor Institut Nalanda, Dr. Sutrisno, S.IP., M.Si, dalam sambutannya menyampaikan refleksi yang menarik mengenai akar dari konflik dalam keberagaman. Beliau menekankan bahwa sering kali seseorang gagal menerima perbedaan karena belum mampu berdamai dengan dirinya sendiri.

Menurutnya:

              “Jika seseorang ingin menerima perbedaan, ia harus terlebih dahulu belajar menerima                                         dirinya sendiri.”

Lebih jauh, beliau mengajak peserta untuk melihat sesuatu berdasarkan hakikatnya, bukan sekadar dari “kulit luar”. Dalam pandangan ini, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan potensi kolaborasi yang memungkinkan masyarakat saling melengkapi.

Menariknya, ada satu paradoks eksistensial yang dikemukakan oleh filsuf Erich Fromm, menurutnya manusia memiliki dua kebutuhan sekaligus, kebutuhan akan ketergantungan (keterhubungan) sekaligus kebutuhan akan kemandirian dan otonomi. Ia berpendapat bahwa manusia modern mengalami “dilema eksistensial” karena terpisah dari alam dan manusia lainnya, menyebabkan rasa kesepian dan isolasi.  Sehingga manusia membutuhkan ketergantungan pada orang lain, namun juga membutuhkan kemandirian dan otonomi. Dalam konteks perbedaan inilah manusia menemukan ruang untuk bagaimana memantapkan eksistensinya, perbedaan ada sebagai realitas dan mampu menerima dan menyesuaikan diri dengan perbedaan adalah kemampuan manusia mengatasi dilema eksistensial .

 

C. Keberagaman Seperti Aneka Rasa

Pandangan menghargai perbedaan disampaikan oleh Sumantoro, S.Ag., M.A, Penyelenggara Buddha Jakarta Timur yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.  Ia menggambarkan keberagaman dengan analogi yang sederhana namun mendalam: anekaragam rasa dalam makanan.  Manis, asin, pedas, dan berbagai rasa lainnya mungkin berbeda, tetapi ketika berpadu dalam komposisi yang tepat, semuanya menghasilkan cita rasa yang kaya. Demikian pula dalam kehidupan beragama.

              “Moderasi beragama, menurutnya, pada dasarnya sederhana: menerima, menghargai, hidup   rukun, dan saling menghormati.“

Ketika sikap saling menghormati hadir dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber kedamaian dan makna hidup.

 

D. Perspektif Islam: Keberagaman sebagai Jalan Saling Memahami

Pada sesi utama, R.M. Alfian, S.Tr., Kes., S.Ud., M.Si, Kaprodi S1 Dharma Usada Institut Nalanda, membahas pandangan Islam tentang hidup berdampingan dalam keberagaman. Beliau menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal dan memahami.  Dalam konteks ini, bulan Ramadhan dipahami bukan sekadar praktik ibadah, tetapi juga latihan moral dan etika—sebuah proses pembinaan diri yang menumbuhkan kejujuran, kepedulian sosial, dan empati terhadap sesama.  Beliau membahas prinsip Tabayyun, prinsip verifikasi informasi dalam Islam untuk meneliti kebenaran berita guna menghindari fitnah dan kesalahan, terutama dari sumber yang meragukan.

Menurutnya proses Tabayyun baru bisa berdampak ketika sebagai manusia saling terintegrasi dengan komunikasi antar umat beragama yang terjalin baik, semua itu dilandasi dengan mampu menerima keberagaman.

Beliau juga menceritakan pengalaman masa kecilnya di lingkungan kampung yang penuh keberagaman agama. Dalam kehidupan sehari-hari, warga saling membantu satu sama lain. Ketika umat Islam melaksanakan Sholat Jumat, masyarakat bersama-sama mengatur parkir kendaraan secara swadaya. Hal yang sama dilakukan pada hari Minggu bagi umat Kristen yang beribadah di gereja, serta bagi umat Buddha yang datang ke vihara maupun umat Tridharma yang beribadah di kelenteng. Pengalaman tersebut menjadi contoh nyata bahwa toleransi dapat tumbuh secara alami dalam kehidupan masyarakat ketika dilandasi rasa saling menghormati.

 

E. Perspektif Buddhis: Melihat Segala Sesuatu Apa Adanya

Narasumber kedua, Bhikkhu Tejavaro Thera, mengajak peserta melihat perbedaan dari sudut pandang kebijaksanaan Buddhis.  Menurut Bhante, kehidupan tidak pernah lepas dari perbedaan. Bahkan dalam hal yang sederhana, seperti sepasang sandal, kanan dan kiri tidaklah sama. Namun justru karena perbedaan itulah keduanya memiliki fungsi. Bhante berpendapat bahwa perbedaan, dengan demikian, bukan sesuatu yang harus ditolak, melainkan dipahami dan dimaknai.

Bhante juga menekankan pentingnya melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, tanpa terburu-buru memberikan penilaian. Dalam ajaran Buddhisme, segala sesuatu bersifat tidak tetap (anicca) dan terus berubah (viparinama). Kesadaran akan sifat perubahan ini membantu manusia untuk tidak melekat secara berlebihan pada harapan maupun suatu penilaian.

Di akhir pemaparannya, Bhante memberikan pesan sederhana namun mendalam:

              “Lakukanlah kebaikan demi kebaikan itu sendiri, bukan karena harapan akan balasan.”

Kegiatan sarasehan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta dari berbagai latar belakang saling berbagi pandangan mengenai pengalaman hidup dalam masyarakat yang majemuk. Acara ditutup dengan foto bersama dan buka puasa bersama, di mana panitia juga menyediakan takjil gratis bagi para hadirin. Momentum kebersamaan ini menjadi simbol sederhana namun bermakna bahwa dialog lintas agama tidak hanya terjadi dalam diskusi intelektual, tetapi juga dalam perjumpaan manusiawi yang penuh kehangatan.

Melalui kegiatan seperti ini, Rumah Moderasi Beragama Institut Nalanda berharap nilai-nilai toleransi, kebijaksanaan, dan kepedulian sosial terus tumbuh dalam masyarakat Indonesia yang multikultural.Karena pada akhirnya, sebagaimana banyak diajarkan dalam tradisi filsafat Timur, harmoni bukanlah menghilangkan perbedaan, melainkan menemukan keseimbangan di dalamnya.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka

Boiliu, N. I., & Nadeak, B. (2023). Memahami manusia sebagai makhluk paradoksal dalam praktik Pendidikan Agama Kristen. Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan), 12(2), 313-333.

Hernawan, W., Basri, H., & Syaputra, A. (2019). Message in Culture Nyaneut from Ethnic Sundanese Tradition. Opción: Revista de Ciencias Humanas y Sociales, (20), 343-358.

https://kalsel.kemenag.go.id/opini/748/%E2%80%9CTabayyun%E2%80%9D. Diakses 14 Mar. 26.

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?