Mindfulness Di Zaman Edan

Home » Artikel » Mindfulness Di Zaman Edan

Dilihat

Dilihat : 19 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 2
  • 38
  • 33,966
Pic Mindfulness Edan

Oleh: Jo Priastana

 

“Menyaksikan zaman gila. Serba susah dalam bertindak. Ikut gila tidak akan tahan. Tapi kalau tidak mengikuti (gila). Tidak akan mendapat bagian… namun sebahagia-bahagianya orang yang lalai. Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat (sadar) dan waspada.”

(Ronggowarsito 1802-1873, Pujangga Jawa)

 

Kalimat terkenal dari Pujangga Jawa Ronggowarsito yang berbunyi: “Menyaksikan zaman gila. Serba susah dalam bertindak. Ikut gila tidak akan tahan. Tapi kalau tidak mengikuti (gila). Tidak akan mendapat bagian… namun sebahagia-bahagianya orang yang lalai. Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat (sadar) dan waspada.” Kesadaran penuh atau mindfulness dibutuhkan ditengah kegilaan zaman edan ini.

Melalui kalimatnya itu, Ronggowarsito sepertinya hendak mengingatkan bahwa tak ada jalan keluar dari kesengsaraan bagi mereka yang tenggelam dalam kegilaan, tenggelam dalam kegelapan dunia. Dan hanya mereka yang sadar dan ingat atau waspada yang sesungguhnya berbahagia. Untuk itulah, pelatihan diri untuk tetap sadar penuh perlu terus digalakkan oleh kaum bijaksana yang terlatih dan terdidik dalam kesadaran. 

Tidak di langit, tidak di dalam samudera, tidak di puncak gunung, mereka yang berperilaku buruk dapat terhindar dari perbuatan buruknya. Seperti bayangan yang selalu mengikuti bendanya, begitu pula akibat perbuatan jahat akan selalu menyertai pembuat kejahatan. Begitulah kiranya tuturan Sang Buddha, bahwa setiap perilaku bagaimana pun bentuk dan macamnya senantiasa tidak luput dari hukum sebab dan akibat.

 

Tak Ada Yang Lolos

Dimanapun dan dengan cara apa pun tetap saja pembuat kejahatan tidak bisa bersembunyi dari kuasa waktu, raja kematian dan tidak bisa luput dari hukum kesunyataan sebab – akibat. Tak ada yang dapat menolong pembuat kejahatan yang menderita sebagai akibat perbuatan jahatnya dan ketika mengalami kematian. Perbuatan jahat selalu mengandung akibatnya sebagaimana kelahiran yang selalu menyertai datangnya kematian.

“Pembuat hanya melihat hal yang baik selama perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk.” (Dhammpada 119).

Selagi melakukan kejahatan, mereka mungkin menganggap bahwa surga dan neraka itu tidak ada atau tidak berlaku, tidak pernah ada secara geografis dimana tempatnya. Tapi ingatlah, surga dan neraka hanyalah metafora untuk menerangkan sesuatu yang bersifat psikologis. Neraka adalah keadaan pikiran yang menyedihkan, menyengsarakan yang disebabkan oleh perbuatan yang keliru.

Segala perbuatan keliru atau perilaku buruk akan dengan sendirinya mendatangkan akibat pada yang empunya sendiri, seperti debu yang dilemparkan melawan angin dan kembali ke mukanya sendiri, begitu pula pelaku kejahatan akan menerima akibat perbuatannya. Apa yang datang adalah hasil dari apa yang ditanam. Jika menanam bibit keburukan maka akan menerima kesengsaraan. Inilah hukum kesunyataan sebab-akibat yang berlaku universal.

Tak ada seorang pun yang luput dan lolos dari hukum universal ini. Tak ada kekecualian. Mungkin pelaku kejahatan merasa pintar dan cerdas untuk mengakalinya, namun apa yang dihasilkan manusia tidaklah akan mampu mengatasi hukum kesunyataan. Apa yang dilakukan manusia secerdas, selicik, secerdik, sepintar apa pun tidak dapat menandingi kecerdasan hukum kesunyataan yang berlaku universal.

Hukum kesunyataan tidak dapat dikalahkan, dan jika anda mencoba berlaku bertentangan dengannya, maka penderitaan akan menjadi tabungan kehidupan yang setiap saat akan berbuah dan berbunga kembali. Kita menciptakan neraka, alam kesengsaraan dambaan tak henti, bagi diri dan kehidupan kita sendiri. Sebaliknya bila kita bersatu dengan hukum kesunyataan, hidup selaras dan sesuai dengan hukum kesunyataan, maka kita menciptakan surga bagi diri kita sendiri.

Hukum kesunyataan termanifestasikan dalam kuasa waktu dimana hukum karma bekerja. Tak ada yang bisa lolos dari perbuatan yang dilakukannya seperti waktu yang terus mengikutinya dan menanti saat tepat untuk mengeksekusi akibatnya. Manusia dengan perbuatannya sepertinya dicengkeram oleh waktu yang mengendalikannya. Sekuasa-kuasanya orang, sekuasa-kuasanya penguasa dunia tak ada yang bisa luput dari kuasa waktu maha kala.

Dalam zaman edan, kekuasaan waktu yang terkutuk itu lebih kuat dan lebih berkuasa daripada kehendak baik dan kekuatan manusia sendiri. Kuasa dunia, betapapun baiknya, betapapun panjangnya akan lunglai tak berdaya apa-apa di hadapan waktu.

Menurut Ranggawarsita (1802-1873), orang dapat atau harus menerima apa yang selalu terjadi dalam zaman edan. Tak ada suatu pun yang ada dalam genggaman kuasa manusia. Orang kuasa mungkin ingin memperpanjang kuasanya tak kenal waktu. Tapi, terhadap waktu, manusia tak berdaya dan tak berkuasa apa-apa. (Sindhunata, Ratu Adil: Ramalan Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik,” 2024: 379).

 

Mindfulness Hidup Berkesadaran

Hidup sesuai dengan hukum kesunyataan berarti hidup penuh kesadaran atau mindfulness. Seorang yang berkesadaran bertindak berdasarkan kesadaran dirinya. Tak ada penyesalan atas tindakan yang dilakukannya, karena tindakannya bersifat total dan menyeluruh murni hasil dari kesadaran. Tindakannya menjadi indah sehingga tidak lagi menciptakan karma, tidak lagi meninggalkan jejak sesuatu. 

Ronggowarsito mengingatkan, sebahagianya orang adalah mereka yang tetap sadar. Ronggowarsito mengingatkan orang untuk menjadi sadar, sadar sepenuh-penuhnya.  Karena di dalam tindakan yang sadar inilah secara otomatis terjadi transformasi diri. Orang sadar tidak dapat melakukan kesalahan, karena kesalahan hanya dilakukan oleh mereka yang tidak sadar, mereka yang berada dan larut dalam lautan kegilaan.

“Kesadaran adalah jalan menuju kekekalan; ketidaksadaran adalah jalan menuju kematian. Orang yang sadar – waspada tidak akan mati, tetapi orang yang lengah – tidak sadar seperti orang yang sudah mati.” (Dhammapada 21).  

Manusia yang sadar tidak berbuat buruk, dan manusia yang sadar mengetahui bahwa tidak ada kematian bagi kesadaran. Tubuh mungkin akan mati, tetapi kesadaran akan tetap tumbuh terus tak berhingga. Amitabha putra, kita sesungguhnya adalah anak-anak kesadaran yang lahir dari rahim kebuddhaan Tathagata dan memiliki kehidupan yang sempurna kekal.

Buddha mengatakan, kesadaran menuju jalan kehidupan dan ketidaksadaran menuju jalan kematian. Kesadaran mendatangkan transformasi baik dalam diri dan perilaku dan mengenali diri yang sempurna adanya, bahwa kita mengenal diri kita, demikian adanya dan begitu adanya, tathata, suchness.

Kesadaran ibarat cakrawala luas tak terhingga. Kesadaran berarti tumbuhnya kematangan, dan orang yang sadar senantiasa waspada dalam setiap saat dan dalam hal apa pun juga. Kesadaran adalah matahari yang tetap hadir dan terjaga dengan kehangatannya meski disembunyikan sementara oleh awan kegelapan.

“Jangan terlena dalam kelengahan, jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indera. Orang yang waspada dan dan rajin bersamadi/berkesadaran akan memperoleh kebahagiaan sejati.” (Dhammpada 27).

Zaman edan adalah zaman di mana semua manusia kerasukan roh kegilaan. Zaman kemerosotan moral pada masa Kaliyuga yang dipenuhi oleh kejahatan, kebobrokan, kesusahan, kebingungan, kemerosotan mental dan moral dan keruntuhan peradaban. Sangatlah sukar dan tidak mungkin untuk menjauhkan diri dari kegilaannya. Kendati demikian, Ronggowarsito mengajarkan, “…begja-begjani kang lali, luwih begja kang elih lawan waspada. Sebahagia-bahagianya (orang) yang lupa, (masih) lebih yang sadar dan bahagia. (Sindhunata, Ratu Adil: Ramalan Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik,” 2024: 381).

Kita bisa memahami apa yang dikatakan Ronggowarsito bahwa kebahagiaan itu hanya terdapat pada mereka yang sadar dan waspada. Sebuah ujaran yang juga dianjurkan oleh Sang Buddha. Alih-alih mengarungi kondisi kehidupan dalam kedangkalan magnet duniawi, Buddha selalu mengajak kita untuk sadar setiap saat, setiap momen, ksanika, dan berada dalam samudera kesadaran yang membahagiakan.

Di tengah kemeriahan zaman edan ini, marilah tetap sadar penuh, mindfulness. Penyair W.S. Rendra menyemangatkan, “Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Mari kita sambut para pejuang kesadaran penuh, mindfulness, para penekun rohani yang tetap menjaga kelangsungan bumi, kemurnian hidup dan kewarasan dalam menjalaninya! (JP)

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: AI

 

Butuh bantuan?