Moral Sebagai Tameng Waham/Kuasa

Home » Artikel » Moral Sebagai Tameng Waham/Kuasa

Dilihat

Dilihat : 19 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 120
  • 571
  • 278,647
Pic 2 0926 - MORAL TAMENG WAHAM

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

“Jika kau memegang senjata api dan aku juga memegangnya, kita bisa bicara soal hukum. Jika kau memegang pisau dan aku juga memegangnya, kita bisa bicara soal aturan. Jika kau datang dengan tangan kosong dan aku pun demikian, kita bisa bicara menggunakan akal sehat. Namun, jika kau memiliki senjata api sementara aku hanya memegang pisau, maka kebenaran ada di tanganmu. Jika kau memiliki senjata api dan aku tak punya apa-apa, benda yang kau pegang itu bukan sekadar senjata, melainkan nyawaku.

Konsep hukum, aturan, dan moralitas hanya bermakna jika didasarkan pada kesetaraan. Kenyataan pahit dunia ini adalah: saat uang yang berbicara, kebenaran pun bungkam. Dan saat kekuasaan yang berbicara, bahkan uang pun harus mundur tiga langkah. Mereka yang membuat aturan sering kali menjadi pihak pertama yang melanggarnya.

Aturan adalah belenggu bagi yang lemah, namun menjadi alat bagi yang kuat. Di dunia ini, segala hal yang baik harus diperjuangkan. Para penguasa permainan saling bersaing sengit memperebutkan sumber daya, sementara kaum lemah hanya berdiam diri, menunggu untuk diberi bagian.”  (The Godfather II movie, 1974)

 

Kutipan di atas biasa ditemui di sebuah meme ‘What your hearing, son?’ yang berseliweran di Instagram, namun sebenarnya kalimat di atas bukan barang baru, tetapi sudah menjadi bahasa meme angkatan lawas/old school. Bagi kaum “old school” yang sudah terbiasa dengan budaya feodal, kita tidak asing dengan narasi “Adab lebih tinggi daripada ilmu”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan narasi ini, tujuannya agar masyarakat di atas segalanya mementingkan perilaku yang baik. Tetapi dalam konsep yang sama, adab (moral) tadi seringkali dipakai kaum yang berkuasa atau lebih superior (feodal) sebagai alat hasrat atau alat mempertahankan status kuasanya.

Sebenarnya praktik-praktik manipulatif seperti ini selalu ada di setiap zaman, dalam lingkaran relasi kuasa yang menyangkut poliitk kekuasaan, apalagi di era kapitalisme lanjut seperti saat ini, kode-kode moral bisa saja dipakai sebagai kode-kode feodalistik, bahkan disalahgunakan untuk melanggengkan kekuasaan atau mencapai tujuan tertentu. 

 

A. Penyelewengan Logika Opsisi Biner: Adab vs Ilmu

Adab vs Ilmu seringkali menjadi perbandingan di masyarakat, kita seakan dipaksa memilih mana yang lebih penting, apakah adab ataukah ilmu? Padahal keduanya sama-sama penting dan sama-sama bernilai dalam pembentukan karakter masyarakat secara holistik. Namun, bagi kaum-kaum manipulatif, logika oposisi biner antara adab dan ilmu memang dibiarkan menjadi dikotomi yang harus selalu dipertentangkan, dan selalu pada akhirnya diberat sebelahkan (walau sejatinya keduanya sama-sama penting).

Sebagai contoh di beberapa lembaga pendidikan, perusahaan, bahkan organisasi di sekitar kita, orang-orang yang minim prestasi namun selalu menjilat dan manut pada atasan, seringkali berkembang lebih cepat daripada orang-orang yang giat berinovasi dan gemar berdialektika dengan atasannya. Dalam proses dialog seringkali sengit, tetapi orang pintar biasanya tahu bahwa sebuah opini tidak boleh menyerang personal seseorang (argumentum at hominem), namun bagi atasan/bos/rekan/kolega yang lebih superior namun minim inovasi dan literasi, ini adalah ancaman bagi harga diri dan citra waham/kuasa yang dia miliki, sehingga mereka menganggap itu adalah ancaman bagi eksistensial mereka.

Akhirnya narasi-narasi moral seperti ‘Adab lebih tinggi daripada ilmu’ ; ‘Percuma pintar kalau tidak beradab’ ; Kita di sini gabutuh orang pintar tetapi butuh orang jujur’, dan sebagainya menjadi narasi untuk membungkam intelektualisme, kaum teknokrat yang dididik dengan gaya berpikir kritis, dialektis, dan meritokratis pasti ‘auto gatal gatal sekujur badan’ dengan hal ini.

 

B. Rusaknya relasi kebenaran

Dampak dari kebiasaan feodal, membuat relasi apa yang dianggap kebenaran dengan fakta dilapangan menjadi berbeda. Kebenaran kini tidak lagi dipandang sebagai fakta objektif (das sein) namun subjektif apa yang seharusnya benar menurut pimpinan (das sollen).

Masalahnya adalah budaya seperti ini, akan menutup rapat nalar kritis di antara penerus bangsa ini, orang-orang akan malas berinovasi karena berinovasi dianggap menentang atasan, berinovasi kini dianggap harus siap melawan arus, menjadi oposisi pimpinan, dicap kiri, atau misalnya kita diberi jalan untuk membuktikan inovasi tersebut, seringkali kita diberi beban moral dan tanggung jawab yang berat.

Bila sudah begini, siapa yang berani mau berinovasi? Ketika berargumen dan berinovasi dianggap amoral karena melawan atasan, melawan perintah. Relasi kebenaran kini berubah sebagai relasi perintah (korsa) yang tidak boleh sedikitpun dikritisi benar/salahnya. “Apa yang saya perintahkan itulah kebenaran, kamu kalau tidak patuh perintah saya, tidak loyal kepada perusahaan”.

 

C. Martir Ketika Gagal

Biasanya, orang yang berkuasa tidak suka disalahkan oleh orang orang atas kegagalan kebijakan yang dia ambil, karena sekali lagi, hal itu akan menghancurkan waham/citra kekuasaannya, mereka menyangkal habis-habisan bila ternyata kebijakan mereka gagal, bahkan memilih untuk sengaja menciptakan konflik/chaos agar perhatian publik bisa luput dari menyerang dirinya. Strategi ini memang agak marchiavellianism, tetapi seringkali dipakai, namanya Scapegoating (pengkambing-hitaman)

Target ideal untuk menciptakan chaos ya buat kambing hitam pelampiasan/scapegoating. Kenapa? Anarkis butuh pelampiasan minoritas/kaum marginal yang tidak bisa “fight back”, anarkis butuh mereka yang siap jadi wadal/martir dan ditumbalkan untuk menjaga waham/marwah citra pimpinannya.

Kita coba sama-sama bayangkan di sebuah kantor yang penuh orang mumet, orang pusing, karena satu kegagalan perusahaan, dibakar emosinya sama propaganda atau politik kotor ‘Ini ulah si Anu yang gagal menjalankan perintah pimpinan’, orang orang yang sudah terlanjur burnout tidak mampu berpikir jernih, lalu dikasihlah kambing hitam yang gabisa ngelawan. Sudah pasti chaoss dan sikambing hitam itulah yang akan menjadi sasaran masa.

 

Bila kita lihat di sini, sebenarnya menjadi penurut sajapun tidak benar-benar aman, kita bisa ditumbalkan kapan saja oleh atasan/bos/kolega/rekan kita karena ketidak becusan mereka dalam bekerja atau bahkan membuat kebijakan yang sederhana. Dalam relasi kerja kapitalisme, siapa yang punya modal dia yang berkuasa, ditambah feodalisme, siapa yang berkuasa dia selalu benar dan harus dijunjung, kombo maut ini, mau tidak mau suka tidak suka selalu ada di sekitar bahkan tak lagi asing dari hidup kita.

Bahkan jika kita pernah mempelajari seni perang SunTzu, kode-kode moral hanya ia pakai ketika ia berurusan dengan penguasa, sekalipun Suntzu sendiri membahas tentang penggunaan kode-kode moral sebagai bagian dari etika perang, namun hakikatnya Pendekatan Suntzu pada perang sepenuhnya pragmatis! Satu-satunya tujuan adalah mengalahkan musuh dan tidak ada konsep tentang pendekatan “kesatria” dalam menjelaskan cara untuk melakukannya. “Moral Kompas/Tao” seorang jenderal hanya berlaku pada sikapnya terhadap penguasa.

Terkadang, kita memang harus mengamalkan kompas moral sebagai langkah hidup tepa salira (Zhongshu 忠恕) seperti ajaran Konghucu ‘Apa yang diri sendiri tidak inginkan jangan berikan kepada orang lain’, atau seperti ajaran Buddha yang mengajarkan humanisme ‘Semoga semua mahluk hidup berbahagia’. Tetapi ketika berhadapan dengan manipulator moral, apalagi ada ketimpangan kuasa (misal dalam narasi kapitalisme: borjuis vs proletariat), nilai moral yang kita anut rentan dikomodifikasi bahkan dimanfaatkan oleh mereka, maka di sinilah kita harus bersikap profesional, ingatlah kalau dalam pekerjaan, kita bekerja bukan sebagai relawan. Jangan mau dininabobokan pakai agama agar dibayar murah dan/atau dimanfaatkan! Ketegasan kita akan menghentikan praktik-praktik culas seperti ini, minimal bagi diri kita sendiri.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka

https://www.goodreads.com/quotes/12783145-if-you-hold-a-gun-and-i-hold-a-gun

https://www.instagram.com/reels/Db7icj3RJJR/

Adegunawan, Suyena. 2018. Kompilasi 四书 – Si Shu Empat Kitab Klasik The Classic of Four Books. Bandung. Penerbit TSA.

Karniawan, Majaputera. 2024. Kompilasi Kitab 孫子兵法 Sūn Zǐ Bīng Fǎ – Sun Tzu The Art of War – Seni Perang Sun Tzu. https://setangkaidupa.com/artikel/kompilasi-kitab-%e5%ad%ab%e5%ad%90%e5%85%b5%e6%b3%95-sun-zi-bing-fa-sun-tzu-the-art-of-war-seni-perang-sun-tzu/ Diakses 18 Agustus 2026.

Piliang, Y. A.  2005. Transpolitika: dinamika politik di dalam era virtualitas. Indonesia: Jalasutra.

Piliang, Y. A. 2012. Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna. Indonesia: Matahari.

Suttacentral.net. n.d. Khuddakapatha. https://suttacentral.net/kp diakses 18 Agustus 2026.

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?