Nilai Kebaikan Dalam Ajaran Buddha

Home » Artikel » Nilai Kebaikan Dalam Ajaran Buddha

Dilihat

Dilihat : 43 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
wp2272541 kebaikan

Oleh: Deddy Sukamto & Majaputera Karniawan, S.Pd.

 

 

  1. Kebaikan dalam pengertian umum

Kebaikan adalah suatu nilai yang ada dalam setiap enam agama besar yang diakui di Indonesia dan juga dalam ajaran agama maupun kepercayaan lainnya. Kebaikan juga adalah sebuah nilai universal yang dapat dipahami oleh semua manusia. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kebaikan berakar pada kata ‘baik’ yang berarti: elok, patut, teratur; berguna; tidak jahat, sedangkan kebaikan sendiri berarti sifat baik ataupun perbuatan baik (KBBI v2.1). Kebaikan juga sering diasosiasikan dengan kebajikan, yang secara arti kata, kebajikan berarti sesuatu yang mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan, dsb); juga berarti perbuatan baik (Ibid).

Banyak tokoh umum yang juga mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan mengentaskan ketidakadilan serta kejahatan tanpa menjelaskan secara definitif apa itu kebaikan. Setiap agama pun memiliki nilai kebaikannya sendiri, sehingga sulit menemukan kebaikan menurut pendapat ahli, hal ini dikarenakan kebaikan adalah istilah lazim yang sudah diketahui khalayak umum.

 

  1. Kebaikan dalam Ajaran Buddha

Melakukan kebaikan (kebajikan) berarti menjadi baik kepada sesama, yaitu menjadi bermanfaat bagi sesama atau murah hati (Dhammavuddho, 2008:3)

Dalam bahasa Pali, ada beberapa kata yang berarti kebaikan dan kebajikan. Seperti Kusala yang berarti Kebaikan; Punna berarti kebajikan, jasa.; sedangkan Succarita berarti perbuatan kebaikan, bisa melalui perbuatan jasmani, ucapan, maupun pikiran.

The Thai Buddhist Sangha Order (dalam Ping 2016:22) menjelaskan berbagai pokok ajaran Buddha yang berhubungan dengan kebajikan (Punna):

 

No.

Palivacana

Arti Bahasa Indonesia

Sumber

1

Punnam Corehi Duharam

Kebajikan tidak dapat dirampok

Sam. Sa. 15/50.

2

Punnam Sukham Jivitasankhayamhi

Kebajikan memberikan kebahagiaan pada saat ajalnya tiba

Khu. Dha. 25/59.

3

Sukho Punnassa uccayo

Kebahagiaan berasal dari akumulasi kebajikan

Khu. Dha. 25/30.

4

Punnani paralokasmim patittha honti paninam

Kebajikan akan melindungi dalam kehidupan yang akan datang

Sam. Sa. 15/26; San. Pancaka 22/44; Khu. Ja. Dasaka 27/294.

5

Punnani kayiratha sukhavahani

Kebajikan akan membawa kebahagiaan

Sam. Sa. 15/3. An. Tika. 20/198.

Sumber tabel: Pengolahan sendiri.

 

Pada dasar ajarannya, Buddha mengajarkan untuk menghindari segala bentuk kejahatan, mengembangkan kebaikan, dan mensucikan pikiran (Dhp.183), dari sini sudah terlihat dengan jelas bahwa Ajaran Buddha berorientasi pada perbuatan kebajikan (Succarita) dan mencegah perbuatan buruk (Duccarita) serta membuat pikiran menyingkir dari hal-hal yang menimbulkan kekotoran yaitu: keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Ketiga hal ini disebut Tiga macam nasihat Sang Buddha (Buddha Ovada, Ping, 2016:27-29).

Seseorang yang mempelajari Ajaran Buddha, pertama-tama harus mengetahui dan mampu menghindari serta mencegah semua perbuatan buruk (Duccarita). Kesemuanya dari sini dikelompokan melalui 3 (tiga) jalur yaitu perbuatan buruk melalui jasmani (Kaya duccarita), ucapan (Vaci duccarita), dan pikiran (Mano duccarita) (dalam U Jotalankara, 2013:55-56). Apapun jenisnya, perbuatan buruk ini disebut sebagai kualitas tidak bermanfaat atau tidak baik (Akusala dhamma) yang harus segera diatasi. Ada sepuluh macam duccarita yang harus dihindari (Ibid, 2013:55-65) sebagaimana diterangkan pada tabel berikut:

No

Perbuatan Duccarita

Dikatakan terjadi jika Faktor terjadinya lengkap:

Melalui jalur

1

Membunuh

1.1. Mahluk hidup

1.2. Sadar itu Mahluk hidup

1.3. Kehendak untuk membunuh

1.4. Usaha untuk membunuh

1.5. Kematian akibat membunuh.

TINDAKAN JASMANI

2

Mencuri

2.1. Kekayaan orang lain

2.2. Sadar itu milik orang lain

2.3. Kehendak untuk mencuri

2.4. Usaha mencuri

2.5. Terjadi pencurian akibat usaha.

3

Melakukan hubungan seksual yang salah

3.1. Objek terlarang (perempuan di bawah perwalian)

3.2. Hasrat seksual untuk menikmatinya

3.3. Upaya untuk menikmati

3.4. Memasukan alat kelamin ke dalam kelamin orang lain.

4

Berbohong

4.1. Suatu hal yang tidak benar

4.2. Kehendak untuk menipu

4.3. Usaha untuk berbohong

4.4. Berbicara kebohongan pada orang lain.

UCAPAN

5

Memfitnah/

Memecah belah

5.1. Hubungan yang akan dipecah

5.2. Pikiran untuk memecah belah

5.3. Usaha memecah belah

5.4. Berbicara untuk memecah belah.

6

Ucapan kasar

6.1. Ada pihak lain untuk dilecehkan

6.2. Pikiran marah

6.3. Melakukan pelecehan.

7

Ucapan omong kosong/gosip

7.1. Adanya pembicaraan tidak masuk akal atau tidak ada untungnya

7.2. Terdapat topik-topik sejenis.

8

Tamak, iri hati

8.1. Properti atau materi orang lain

8.2. Menunjuk dengan mengharapkan “Kalau saja itu milikku”.

PIKIRAN

9

Keinginan jahat

9.1. Ada mahluk lain

9.2. Berpikir untuk menyakiti mahluk lain.

10

Pandangan salah

10.1. Sikap menyesatkan dalam memandang objek

10.2. Pemahaman berdasarkan konsep yang salah.

Sumber tabel: Pengolahan sendiri.

 

Setelah mengetahui jenis-jenis perbuatan buruk yang harus dihindari, seseorang perlu berusaha semaksimal mungkin menghindarinya dan mencegahnya untuk timbul, dengan menghindari kejahatan sebagai awal kebajikan.

Menghindari perbuatan jahat dan memulai melakukan perbuatan baik tidak perlu dalam hal yang besar, untuk melakukannya dibutuhkan tekad yang kuat, usaha berkesinambungan dan terus menerus. Agar seseorang dapat menjadi semakin baik, usaha ini harus sering dilatih dan dikembangkan dalam kehidupannya.

Dalam rangka mengembangkan kebaikan, ada 10 hal yang dapat dikembangkan, yang dinamakan 10 dasar perbuatan baik (Dasa Puna Kiriya Vatthu, Iti 230 dalam U Jotalankara, 2013:71-81):

 

  1. Memberi (Dana)

Memberi adalah bermurah hati, perbuatan derma yang patut dipuji merupakan dasar atau landasan untuk memperoleh berbagai keuntungan atau manfaat. Bentuknya tidak selalu materi, bisa saja berupa non materi. Ada tiga jenis Dana yang paling umum: A. Amisa Dana adalah pemberian dalam bentuk benda atau materi; B. Abhaya Dana adalah memberi perlindungan dari bahaya, bisa dari para penguasa yang jahat, pencuri, kebakaran, musibah, binatang buas, musuh, perang, dan lain sebagainya; C. Dhamma Dana adalah memberikan ajaran kebenaran (Dhamma) dengan pikiran murni, pemberian berbentuk spiritual-religi dengan tujuan mengajarkan jalan menuju akhir dari penderitaan (dukkha) dan mencapai nibbana. Diantara ketiga jenis ini, Sang Buddha menyatakan Dhamma Dana adalah yang terbaik (Dhp.354).

 

  1. Moralitas (Sila)

Moralitas adalah aturan, sebuah tatanan aturan yang menjadi dasar tingkah laku baik secara jasmani maupun ucapan. Umat Buddha sedikitnya menjalankan 5 (lima) aturan sila (Pancasila) yaitu menghindari pembunuhan mahluk hidup, menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan, menghindari perbuatan asusila, menghindari ucapan yang tidak benar, dan menghindari minuman memabukkan hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran (DN33. Sangiti Sutta).

Pada hari Uposatha, umat Buddha melaksanakan 8 (delapan) Sila (Disebut Atthasila, Atthangauposatha sila – AN8.41. Saṅkhittūposatha Sutta, yaitu 5 (lima) sila tadi ditambah menghindari makan makanan setelah tengah hari; menghindari menari, menyanyi, bermain musik, melihat pertunjukan, memakai dan berhias dengan bebungaan, perhiasan, wewangian, kosmetik untuk tujuan menghias dan mempercantik diri; menghindari penggunaan tempat tidur yang tinggi dan besar/mewah) atau melaksanakan 9 (sembilan) Sila (Disebut Navasila, Navangauposatha sila – AN9.18. Navaṅguposatha Sutta, yaitu 8  (delapan) Sila ditambah bertekad akan berdiam dalam pikiran memancarkan cinta kasih terhadap semua makhluk). Menjalankan sila selain kewajiban juga adalah suatu bentuk kebaikan yang bisa membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

 

  1. Bhavana (Samadhi, meditasi pengembangan mental)

Meditasi adalah pengembangan mental, sebuah perbuatan baik yang juga bermanfaat bagi melatih pikiran sendiri. Ada 2 (dua) hal yang harus dikembangkan dalam meditasi, yaitu: Samatha (ketenangan batin) dan Vipassana (pandangan terang).

 

  1. Apacayana (Apaciti) Rasa Hormat

Secara harfiah berarti kehendak yang timbul dari dalam diri seseorang untuk menghormat kepada orang yang bijaksana atau orang yang lebih tua dengan berdiri dari tempat duduknya dan memberikan penghormatan tanpa mengharapkan pamrih apapun. Rasa hormat sebagai suatu dasar perbuatan baik yang patut dipuji, misalnya ketika pergi menemui seorang bhikkhu senior, kita membawakan mangkuk dan jubah kepadanya, memberikan penghormatan kepadanya, menunjukkan jalan, dan sebagainya. Ada 4 (empat) manfaat bagi seseorang yang menghormati orang yang lebih tua (Dhp.109) yaitu: umur panjang, paras bagus, kebahagiaan, dan kekuatan.

 

  1. Veyyavacca (Pelayanan)

Arti sesungguhnya adalah kehendak yang muncul dalam diri seseorang dalam menjalankan tugas-tugas atau kewajibannya kepada seorang yang lebih tua atau merawat mereka yang sakit dengan pikiran tulus dan murni. Pelayanan sebagai dasar perbuatan baik yang patut dipuji harus dijalankan dalam bentuk menjalankan tugas dan kewajiban baik besar maupun kecil, seperti bakti kepada orang tua, memenuhi tugas dari guru, dan sebagainya.

 

  1. Pattidana (Pelimpahan jasa)

Arti sesungguhnya adalah kehendak yang muncul dari dalam diri seseorang untuk mendedikasikan jasa kebajikan kepada yang lainnya. Seseorang berbagi jasa kebajikan sebagai dasar perbuatan baik misalnya: ketika seseorang melakukan suatu perbuatan baik seperti berdana bunga atau makanan, ia mendedikasikan perbuatan baiknya dengan berharap “semoga perbuatan baik ini dapat dinikmati oleh seseorang, atau semua makhluk”.

 

  1. Pattanumodana (Bergembira atas kebaikan orang lain)

Arti sesungguhnya adalah kehendak yang muncul dari dalam diri seseorang yang bergembira atau bersukacita dengan jasa kebajikan yang diperbuat oleh orang lain yang telah dilakukan. Pattanumodana juga sama dengan Muditta (simpati), yaitu bersimpati atau turut bahagia dengan kebaikan dan kebahagiaan makhluk lain. Hal ini dapat dilakukan misalnya ketika telah melihat perbuatan baik yang dilakukan orang lain, kita turut berbahagia dengan mengucapkan ‘terima kasih’, ‘bagus’, ‘baik sekali’, ‘sādhu’, dan sebagainya. Dilakukan saat orang lain berbagi jasa kebaikan dengan kita ataupun ketika orang lain telah melakukan perbuatan baik.

 

  1. Dhammadesana (Membabarkan Dhamma)

Arti sesungguhnya adalah kehendak yang muncul dari dalam diri seseorang yang membabarkan Dhamma (ajaran kebenaran) atau memberikan ceramah Dhamma tanpa mengharapkan imbalan, pamrih, ataupun penghargaan. Semata-mata agar para pendengar dapat memperoleh manfaat dari Dhamma yang kita sampaikan.

 

  1. Dhammasavana (Mendengarkan pembabaran Dhamma)

Arti sesungguhnya adalah kehendak yang muncul dari dalam diri seseorang yang mendengarkan ceramah ataupun pembabaran Dhamma dari orang lain dengan pikiran murni, sebagai bentuk perbuatan baik yang akan membawa manfaat apabila dapat dipraktikkan dalam aplikasi kehidupan sehari-hari, lebih baik lagi jika bisa dibagikan kembali kepada orang lain sehingga orang lain tersebut juga memperoleh manfaat, seperti Khujuttara yang mendengarkan Dhamma dari Sang Buddha dan kemudian membagikannya kembali kepada Samavati (Vijjananda, 2008).

 

  1. Ditthujukamma (Meluruskan pandangan salah)

Adalah meluruskan pandangan salah seseorang, atau memperbaiki pandangan-pandangannya sendiri, itulah dasar perbuatan baik yang patut dipuji.

 

Dengan melakukan kesepuluh dasar perbuatan kebajikan sama dengan halnya memenuhi pengajaran Sang Buddha tentang “mengembangkan kebajikan”, inilah bentuk praktis dalam Ajaran Buddha yang kedua.

  1. Mengembangkan kebajikan dan Menghindari kejahatan dengan 4 (empat) Usaha Benar (Sammapadhana)

Dalam rangka memperkuat praktik kita agar terus tumbuh dalam Ajaran Buddha, Sang Buddha telah mengajarkan metode 4 (empat) usaha benar (Cattaro Sammapadhana), keempatnya memiliki 4 (empat) tujuan yang berbeda-beda (SN49.1 Pācīnādi Sutta), yaitu:

  1. Membangkitkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul;
  2. Membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul;
  3. Membangkitkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul;
  4. Membangkitkan keinginan untuk mempertahankan, meningkatkan, dan memperluas kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk memenuhinya melalui pengembangan.

Metode empat usaha benar (AN4.14. Saṃvara Sutta) terdiri dari:

  1. Usaha dengan mengendalikan (Saṃvarappadhānaṃ), maknanya adalah mengendalikan diri untuk tidak memunculkan atau mencegah kualitas-kualitas buruk tidak bermanfaat yang belum muncul (memenuhi tujuan pada poin A). Caranya dengan menjalankan pengendalian keenam indera (mata, telinga, hidung, lidah, kulit badan, dan pikiran) dengan tidak menggenggam atau melekat pada gambaran dan ciri-cirinya, sehingga tidak akan muncul kerinduan dan kesedihan yang dapat muncul akibat melekat pada keenam indera ataupun objek turunannya.
  2. Usaha dengan meninggalkan (Pahānappadhānaṃ), maknanya adalah meninggalkan kualitas-kualitas buruk tidak bermanfaat yang telah muncul (memenuhi poin B). Caranya dengan tidak membiarkan pikiran buruk yang telah muncul berupa pikiran keinginan inderawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Berupaya untuk melenyapkan pikiran-pikiran buruk tersebut adalah usaha benar dengan meninggalkannya.
  3. Usaha dengan mengembangkan (Bhāvanāppadhānaṃ) maknanya adalah memunculkan kualitas-kualitas baik dan bermanfaat yang belum muncul (memenuhi poin C). Caranya adalah dengan melatih mengembangkan 7 (tujuh) faktor yang disebut 7 faktor pencerahan, yaitu: Perhatian, penyelidikan fenomena, semangat, kegiuran batin, ketenangan batin, Samadhi, dan keseimbangan batin. Dengan demikian, maka kualitas-kualitas bermanfaat dapat muncul dan tumbuh pada seseorang.
  4. Usaha dengan melindungi (Anurakkhaṇāppadhānaṃ) maknanya adalah mempertahankan serta berupaya mengembangkan dan meluaskan kualitas-kualitas baik dan bermanfaat yang telah muncul (memenuhi poin D). Caranya adalah dengan melindungi objek konsentrasi yang baik (samādhi­nimittaṃ) yang telah muncul dalam meditasi, dengan demikian cara ini ditempuh dalam meditasi.

Dengan melatih ke empat usaha benar ini, maka kebaikan akan semakin berkembang dan kejahatan dapat ditekan semaksimal mungkin, dan memaksimalkan agar kejahatan tidak dapat timbul dan bertahan kuat di dalam diri seseorang di kemudian hari serta kebaikan akan terus tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang.

Demikianlah nilai kebaikan dalam Ajaran Buddha.

 

***

 

DAFTAR PUSTAKA

Dhammavuddho, Ven Hye (Bhikkhu). 2008. Ajaran Buddha. Jakarta. Penerbit Dian Dharma.

Vijjananda, Handaka. 2008. Bodhi – Samawati kekuatan cinta. Jakarta. Penerbit Ehipassiko Foundation.

Ping, Tjhan Shao (Penyunting). 2016. Kurikulum Dhamma Tingkat Satu. Edisi 1 Hak cipta oleh: The Thai Buddhist Sangha Order, The Office of the Dhamma-Studies Management and Examination, Controller Under the Royal Patronage. Bandung. Penerbit THE BOARD COMMITTEE FOR DHAMMAYUT IN INDONESIA Vihara Vipassana Graha. 

Suttacentral (Offline Legacy Version). 2005. Dīgha Nikāya. Diakses 19 Mei 2019 pukul 13:00.

_________ (Online Legacy Version). 2005. Dīgha Nikāya. Diakses 19 Mei 2019 pukul 13:00. https://legacy.suttacentral.net/dn

_________ (Offline Legacy Version). 2005. Saṃyutta Nikāya. Diakses 19 Mei 2019 pukul 13:00.

_________ (Online Legacy Version). 2005. Saṃyutta Nikāya. Diakses 19 Mei 2019 pukul 13:00. https://legacy.suttacentral.net/sn

_________ (Offline Legacy Version). 2005. Aṅguttara Nikāya. Diakses 19 Mei 2019 pukul 13:00.

_________ (Online Legacy Version). 2005. Aṅguttara Nikāya. Diakses 19 Mei 2019 pukul 13:00. https://legacy.suttacentral.net/an

U Jotalankara, Sayadaw. 2013. AJARAN-AJARAN DASAR BUDDHISME. Jakarta. Penerbit Yayasan Prasadha Jinarakkhita Buddhist Institute.

Yoga Permana, I Putu. 2014, KBBI v2.1., Diakses melalui aplikasi windows

phone pada 10 Oktober 2018 20:06.

Butuh bantuan?