Paradoks “Kosong Adalah Isi, Isi Adalah Kosong”

Home » Artikel » Paradoks “Kosong Adalah Isi, Isi Adalah Kosong”

Dilihat

Dilihat : 7 Kali

Pengunjung

  • 18
  • 16
  • 37
  • 33,034
Gelas Setengah Kosong

Oleh: Jo Priastana

 

“There is no need to struggle to be free;

the absence of struggle is in itself freedom”

(Chogyam Trungpa)

 

Popularitas “Kosong adalah Isi dan Isi adalah Kosong” tidak dipungkiri karena adanya pemahaman yang lebih dalam terhadap frase itu yang bersifat paradoks. Diungkapkan oleh Ilham Winanadi, “makna kosong adalah isi dan isi adalah kosong” adalah sebuah paradoks atau kontradiksi bertautan yang menggambarkan konsep kosong atau sunyata dalam ajaran Buddha.

Dalam ajaran Buddha, kosong atau “Sunyata” mengacu pada sifat keberadaan yang sebenarnya dari semua fenomena, bahwa tidak ada sesuatu yang memiliki keberadaan yang permanen atau substansial di dalamnya.” Lanjut Ilham Winandi, “Semua fenomena adalah kosong dari keberadaan yang substansial dan keabadian.

Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa kosong adalah isi, karena tidak ada apa pun yang memiliki keberadaan yang permanen atau substansial di dalamnya. Sebaliknya, kita juga dapat mengatakan bahwa isi adalah kosong, karena keberadaan semua fenomena bersifat kosong, dan karena fenomena hanya memiliki keberadaan relatif dan tergantung, tidak ada sesuatu atau benda yang dapat dianggap memiliki keberadaan yang substansial atau permanen di dalamnya.” 

 

Spiritualitas Sunyata

Ilham Wanadi juga menyinggung pemahaman yang berkenaan dengan praktik spiritual. Dalam praktik spiritual, seperti meditasi, paradoks ini dapat membantu seseorang untuk memahami sifat kosong dan membantu mereka memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang keberadaan yang sebenarnya. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, paradoks ini bisa diartikan bahwa mungkin ada kebahagiaan di tengah kekosongan atau ketiadaan, dan hal-hal yang dianggap penting sebenarnya tidak selalu memberikan kepuasan atau berarti dalam hidup. (Ilham Winandi, dalam Quora).

Sementara itu Yudha Alarez mengungkapkan frase itu sebagai konsep Sunyata dalam Buddhisme. Menurutnya, “Kalimat “kosong adalah isi dan isi adalah kosong” adalah sebuah frase dalam konsep Buddhisme. Frase ini merujuk pada pandangan bahwa realitas sejati tidak dapat dijelaskan dengan bahasa atau konsep, dan bahwa segala sesuatu pada dasarnya tidak memiliki substansi atau “keberadaan yang tetap”. (dalam Quora)

Dalam konteks ini, “kosong” merujuk pada konsep Sunyata dalam Buddhisme, yang berarti kekosongan atau ketiadaan substansi. Sunyata mengajarkan bahwa tidak ada hal yang memiliki eksistensi yang tetap atau mandiri. Semua hal pada dasarnya tidak memiliki substansi atau identitas yang terpisah, dan hanya da keadaan yang saling tergantung satu sama lain.

Lanjut Yudha Alfarez, “Dalam pandangan ini, segala sesuatu yang kita pandang sebagai “isi” seperti individu, benda, atau pikiran hanyalah konsep atau ilusi, karena pada dasarnya tidak ada yang benar-benar eksis atau memiliki substansi yang tetap. Dalam hal ini, “isi” bukanlah sesuatu yang nyata atau berdiri sendiri, tetapi hanyalah manifestasi sementara dari kekosongan atau Sunyata.

Jadi, “kosong adalah isi dan isi adalah kosong” menunjukkan bahwa pada akhirnya tidak ada perbedaan yang jelas antara kosong dan isi, atau antara kekosongan dan substansi. Konsep ini berfungsi untuk membantu orang untuk memahami sifat fundamental dari realitas dan untuk melepaskan diri dari ikatan konsep atau ilusi yang dapat menghalangi pemahaman yang lebih dalam.” (Yudha Alfarez).

 

Prajna dan Karuna

Kosong sepenuhnya lepas dari ciri-ciri sebagaimana ditujukan bagi Sang Tathagata.   Bahkan lebih dalam, juga dapat memahami hakikat tiadanya ciri yang terdapat dalam ciri-ciri. Sutra Intan Prajnaparamita mengungkapkan:

“Subhuti, bagaimana pendapatmu? Mungkinkah memahami Tathagata melalui ciri-ciri tubuh jasmani?” “Tidak, Bhagava Junjungan Dunia.” Ketika Tathagata menyatakan ciri-ciri tubuh jasmani, bukan ciri-ciri yang dibicarakan. Buddha berkata kepada Subhuti: “Di mana ada sesuatu yang bisa dibedakan berdasarkan ciri-ciri, di sana pula terdapat hal yang memperdaya. Jikalau engkau dapat memahami hakikat tiadanya ciri-ciri yang terdapat dalam ciri, maka engkau dapat meohat Tathagata,” (Vajracchedika Prajnaparamita).

Hal tersebut juga seperti apa yang diungkapkan oleh David Hawkins, (1927-2012) seorang penulis dan guru spiritual and consciousness researcher. “Pada akhirnya, tidak ada dualitas atau nondualitas; hanya ada kesadaran. Hanya kesadaran itu sendiri yang dapat menyatakan bahwa itu melampaui semua konsep seperti “ada” atau “tidak.” Pasti begitu, karena “adalah” hanya dapat dipahami oleh kesadaran itu sendiri, kesadaran itu sendiri melampaui kesadaran.”

Kesadaran yang melampaui kesadaran, tidak ada dualitas maupun nondualitas itu terekam dalam Sutra Hati Kebijaksanaan.  Frase “kosong itu isi, isi itu kosong” yang berasal dari Sutra Prajnaparamita memang memiliki makna yang dalam dan luas dan bisa dipahami berkenaan atau menyangkut apa saja, karena yang sesungguhnya diacu tersebut sebenarnya lepas dari pemahaman, di luar jangkauan konseptual.

Sutra Prajnaparamita sendiri dalam bahasa Mandarin disebut Sin Ching atau Xin Jing. Makna “sin ching” atau “xin jing” dalam Mahayana adalah pemahaman dari realisasi kekosongan yang mendalam tentang kekosongan dan kebijaksanaan. Sutra Hati mengajarkan tentang konsep kekosongan, yang menyatakan bahwa semua fenomena dan entitas dalam alam semesta tidak memiliki esensi atau identitas yang tetap.

Hal ini menunjukkan bahwa realitas sejati adalah tanpa batasan, terlepas dari pemahaman konvensional kita tentang dunia. Makna dari Sutra Prajnaparamita adalah mengajarkan pentingnya mengatasi pemahaman konvensional, melampaui pemikiran dualistik, dan mengembangkan kebijaksanaan yang transendental.

Sutra ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang kekosongan dan kebijaksanaan sejati adalah jalan menuju pencerahan dan kebebasan dari penderitaan. Mengatasi pemahaman konvensional atau lepas dari pemahaman konseptual, kekosongan Sunyata seperti burung di udara terbang bebas melalui dua sayapnya, wisdom dan karuna. Kebijaksanaan yang membuahkan sebuah perjalanan panjang dimana pemahaman kebijaksanaan yang sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari pengalaman dan welas asih! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://www.pojokseni.com/2023/06/kosong-adalah-isi-isi-adalah-kosong.html

Butuh bantuan?