Oleh: Majaputera Karniawan 謝偉強
Bila di masa sekarang transliterasi Tionghoa-bahasa Indonesia mempergunakan kamus, di masa peranakan tempo doeloe pun juga memakai kamus, namun tentunya berbeda dengan kamus pada umumnya. Di masa lalu di mana belum ada kamus digital maupun komputer semua masih pakai manual dengan Wordenboek (Kamus).
A. Menerjemahkan Bahasa Melayu Peranakan ke Aksara Hanzi
Untuk melakukan hal ini di masa dulu, salah satu caranya orang-orang Tionghoa peranakan memakai Kitab Wordenboek Melajoe – Tionghoa (Hoa Woe Ta Tze Tian 華巫大辭典), karangan Kwik Khing Djoen 郭慶春tahun 1924 kitab ini sejatinya wordenboek (kamus) yang menerjemahkan kata dalam bahasa melayu peranakan dan sebagian bahasa hindia-belanda ke dalam aksara Hanzi.
Kitab bisa di download di sini (PDF): https://drive.google.com/file/d/1yPxiy9Ns2DA-MKjFEGe8qY9qNw4ID3iU/view?usp=drive_link
Cara memakai kitab ini sama seperti kamus pada umumnya. Misalnya untuk mencari kata “Air” maka cari di bagian huruf “A” secara alfabetis. Perlu digarisbawahi bahwa penggunaan ejaannya masih ejaan lama (ejaan Van Ophuijsen): “pelatoeran” = peraturan, “pendjoeroe” = penjuru/sudut, “roepanja” = rupanya. Beberapa kata yang mungkin di saat ini termasuk kata-kata vulgar, seperti kata ‘Koent*el’ juga masih ada di kamus ini. Kamus ini juga dilengkapi transliterasi istilah-istilah Belanda-Hanzi (Hal. 152-188) Juga tambahan nama-nama daerah di Indonesia tempo doeloe dalam aksara Hanzi (189-191).
B. Menerjemahkan Huruf Hanzi ke Bahasa Melayu Peranakan
Untuk melakukan hal ini, di masa dulu orang-orang Tionghoa peranakan memakai Kitab Logat Baroe Tionghoa-Melajoe (Hoa Wu Sin Tze Tien 華亞新辭典) Karangan Prof. 黄昌懷 Oey Tjiang Koay tahun 1935, kitab ini sejatinya wordenboek (kamus).
Kitab bisa di download di sini (PDF):
https://drive.google.com/file/d/1AZocmyDDuvIBunjXk8X4JZbR2dHT5JAY/view?usp=drive_link
Sebelum ada komputer + pinyin, orang Indonesia, peranakan Melayu-Tionghoa yang lupa baca huruf tetapi masih ingat bentuknya bisa tetap cari di kamus. Sistem ini diciptain Wang Yunwu tahun 1920an dan populer sampai 1990an. Ejaan Indonesianya masih ejaan lama (ejaan Van Ophuijsen): “pelatoeran” = peraturan, “pendjoeroe” = penjuru/sudut, “roepanja” = rupanya.
Kitab ini juga dikenal sebagai Four Corner Method Dictionary bahasa Tionghoa-Melayu. Kitab ini adalah cara kuno buat mencari hanzi/huruf Tionghoa di kamus tanpa tahu baca/pinyin-nya. Sangat cocok buat orang yang tidak tau pelafalan tapi tahu bentuk tulisannya. Cara kerja kitab ini sederhana, tiap huruf Tionghoa dianggap kotak persegi, terus dibagi 4 sudut:
Contoh huruf 伏fú
- Sudut ke-1 Atas-kiri = 丿
- Sudut ke-2 Atas-kanan = 𠃍
- Sudut ke-3 Bawah-kiri = 丶
- Sudut ke-4 Bawah-kanan = 丶
Setelah mengetahui keempat sudut hurufnya, kita berikan kode 0-9 buat tiap bentuk goresan. Jadi setiap sudut tidak ditulis bentuknya, tapi diganti angka 0-9. Tabelnya adalah sebgai berikut:
- 0 = 丶 titik
- 1 = 一 garis datar
- 2 = 丨 garis tegak
- 3 = 丿 garis serong kiri
- 4 = 十 silang
- 5 = 亠 tutup
- 6 = 口 kotak
- 7 = 乛 bengkok
- 8 = 冂 bingkai atas
- 9 = 𠃌 bengkok bawah
Jadi kombinasi 4 angka tersebut menjadi “kode” huruf itu. Nah sebagai contoh huruf 伏 = sudut 1-2-3-4 = 3-7-3-3 → maka kodenya 3733, Tinggal buka kamus bagian “3733”, ketemu deh huruf 伏 + artinya. Kekurangannya: 1 kode bisa buat banyak huruf. Misal 0098 isinya nggak cuma 好hǎo, tapi juga 妤yú, dan lain-lain. Makanya di kamus perlu diurutkan kembali jumlah goresannya.
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).