Pendidik Bukan Komoditas

Home » Artikel » Pendidik Bukan Komoditas

Dilihat

Dilihat : 65 Kali

Pengunjung

  • 18
  • 16
  • 37
  • 33,034
WhatsApp Image 2023-07-25 at 1.40.53 PM

Oleh: Jo Priastana

 

“Pendidikan adalah tindakan cinta, oleh karena itu, tindakan nilai.

Pendidikan sejati adalah praksis, refleksi dan tindakan manusia di dunia untuk mengubahnya”

(Paulo Freire, 1921-1997, Aktivis, Pendidik, Autor of Pedagogy of the Oppressed)

 

Marwah guru sebagai pengabdi ilmu pengetahuan bersumber dari filsafat pendidikan, dunia kebenaran yang terukir juga dalam kehidupan para filsuf sebagai pendidik yang mencintai kebenaran. Para filsuf seperti Sokrates juga melakoni kehidupannya sebagai pendidik. Sikap hidupnya dan pemikirannya berpengaruh terhadap praktik dan teori pendidikan di dunia Barat khususnya di bidang pengajaran.

Senada dengan Sokrates, begitu pula dengan Pythagoras yang membangun padepokannya atau perguruannya. Keduanya sama-sama mencurahkan kehidupannya dalam berfilsafat, cinta akan kebenaran, kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan serta mendidik membangunkan jiwa-jiwa anak-anak muda untuk menjadikannya hidup bernilai. Para filsuf itu mendidik mengabdikan ilmunya dengan tanpa meminta bayaran, karena mendidik bukanlah menjual ilmu, dan pendidik bukanlah komoditas.

Sokarates memang pergi ke pasar-pasar, agora, berjalan di kota-kota bukan seperti kaum “Sofis” yang menjajakan ilmunya. Ia menjumpai anak-anak muda mengajaknya berdialog, dan layaknya seorang bidan membangunkan jiwa anak-anak muda tentang kebenaran dan mengajaknya berpikir kritis. Sokrates sebagai pendidik layaknya wuju guru yang diangankan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, bahwa seorang pendidik adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa yang mencerdaskan bangsa. 

 

Pendidikan dan Pasar Guru

Sokrates mengembangkan pengajaran dengan metode dialog atau berdialektika untuk menemukan kebenaran. Fungsi dari pengajarannya adalah untuk melatih kecermatan individu dalam berpikir dan menguji dirinya sendiri, serta memperbaiki pengetahuan yang telah diketahuinya sebelumnya. Metode Sokrates dimanfaatkan dalam pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik secara mandiri dan (dimana peserta didik) tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh pemikiran dari pendidiknya. (Amka. 2009. “Filsafat Pendidikan” (Pdf) Sidoarjo: Nizamia Learning Center. Hlm, 18).

Tidak seperti Sokrates sang pendidik anak-anak muda di jalanan, Pythagoras (l570 SM – 495 SM) adalah seorang filsuf Yunani yang mendirikan perguruan. Ia membangun padepokan yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, dan namanya dikaitkan dengan berbagai penemuan matematika, seperti teorema Pythagoras, lima bangun ruang beraturan, teori kesebandingan, teori bumi bulat.

Pythagoras juga adalah orang pertama yang menyebut dirinya sebagai filsuf (pecinta kebijaksanaan) darimana kata “philosophia” atau Filsafat muncul. Philosophia yang berarti “cinta kebijaksanaan, cinta kebenaran, cinta ilmu pengetahuan.” Kata philosohia sebagai ungkapan kerendahan hati dan tanggapan terhadap kaum sofis (sophia) yang merasa telah mengenal kebenaran dan menarik bayaran dalam aktivitasnya.

Berdasar pada kata philosophia dan peran mendidik para filsuf, maka Guru atau pendidik bukanlah penjual ilmu dan profesinya sebagai pendidik tidaklah pantas dianggap sebagai komoditas. Namun sungguhkah idealitas guru ini menjadi kenyataan? Tidakkah kini guru juga perlu dipasarkan dan masuk dalam jaring istilah ekonomi marketing?

 

Marketplace Guru

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan mengenai Marketplace Guru, sebuah istilah yang sebenarnya untuk menghadirkan guru-guru dan ditujukan untuk memenuhi guru-guru baik di daerah terpencil atau bagi sekolah-sekolah yang membutuhkannya melalui aplikasi yang mempertemukannya.

Marketplace untuk guru adalah sebuah database yang nanti akan didukung secara teknologi dimana semua sekolah bisa mengakses siapa saja yang bisa menjadi guru dan siapa yang akan diundang menjadi guru di sekolah tersebut. (Marketplace Guru? Apakah benar-benar solusi? Cispy Channel, 1/6/23)

Marketplace guru sebagai cara pemenuhan guru secara teknologis, merekrut guru kapan saja karena adanya database mungkin dipandang juga sebagai sebuah terobosan positif. Namun, haruskah demikian? Guru sekedar dijadikan komoditas untuk mempertemukan dengan konsumennya.

Mungkin berlebihan bila guru, pendidik dipandang sebagai pedagang ilmu, dan dirinya dianggap sebagai komoditas yang pantas dipasarkan melalui database marketplace guru. Munculnya marketplace guru mengungkap gejala akan pemahaman terhadap ilmu dan sang guru diantara hiruk pikuknya menangani dunia pendidikan dewasa ini.

Penolakan terhadap istilah marketplace yang menjadikan guru sebagai komoditas juga terdengar di kalangan pendidikan dan guru. Istilah marketplace untuk solusi pengadaaan guru ini dipandang mengandung konotasi yang merendahkan martabat profesi guru.

 

Bukan Komoditas

Pengamat pendidikan, Doni Koesoema, menilai istilah tersebut biasanya untuk berdagang barang maupun jasa. “Kok istilahnya kurang tepat, guru kok kaya jual beli. Itu untuk istilah-istilah orang-orang startup yang kemudian ada marketplace jual barang, jual jasa, sekarang ada jual guru,” kata Doni dalam YouTube Pendidikan Karakter, dikutip selasa 13 Juni 2023.” 

Selanjutnya, “Doni mengakui saat ini merupakan era digital, namun, tidak semua dibuatkan platform. Dan seolah-olah begitu ada platform sudah dapat menyelesaikan persoalan pendidikan.” tutur dia. (Ilham Pratama Putra, medcom,id 15/623).

Salamah, Kepala SD Negeri Pungangan di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, mengatakan, “Marketplace tidak tepat untuk guru karena guru bukan barang, tetapi subyek yang mulia, yang pekerjaannya mencerdaskan anak bangsa.” (Kompas, 20/6/23)

Rakhmat Hidayat mengemukakan, “Komodifikasi menjadikan guru yang tadinya bukan komoditas menjadi komoditas dalam transaksi pasar. Karl Marx (1818-1883) dalam bukunya, “Das Capital”, secara kritis membahas komoditas sebagai topik yang penting dibahas karena terkait relasi produksi manusia, khususnya antara kelas pekerja dan kelas pemodal.” (Kompas, 22 Juni 2023).

Rakhmat Hidayat, Sosiolog Universitas Jakarta dan Dewan Pakar Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengemukakan bahwa ide marketplace adalah kemasan dari perdagangan global dengan sokongan teknologi digital. Dalam pandangannya, ide ini sekaligus mendegradasikan nilai luhur guru yang mendidik dan mencerahkan, menjadi nilai komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan nilai jual.” (Kompas, 22/6/2023).

 

Marwah dan Martabat Guru

Masalah yang menyangkut pendidik ini perlu menyelami lebih dalam terhadap profesi dan hakekat guru. Pandangan kritis yang menempatkan penghargaan terhadap profesi guru dan berdasarkan pada martabat dan hakekat guru sebagaimana dinyatakan oleh pakar pendidikan Bapak Doni Koesoema dan rekan pendidik lainnya tetap perlu diperhatikan.

Terlebih adanya juga pandangan kritis yang mengemukakan yang diangkat dari data hasil survey, tulisan hasil jejak pendapat mengenai Marketplace Guru. (Majaputera Karniawan, “Jejak Pendapat: Marketplace Guru, Bisakah Mendongkrak Mutu dan Kesejahteraan Guru.” dalam setangkaidupa.com). 

Dalam tulisan ini mengemukakan: “Kemungkinan membuat rendah harga diri dan marwah guru, layaknya barang yang diperjualbelikan semata produk marketplace Guru tidak dipandang sebagai subjek pekerja, namun sebagai barang yang bisa kapan saja di checkout oleh sekolah. Jika dianggap barang, maka ada kemungkinan peran si guru akan dieksploitasi dengan ancaman pemecatan (bahkan ada kemungkinan diberi beban kerja diluar yang seharusnya). Akankah dengan konsep marketplace guru ini, orang yang akan mengabdi menjadi guru harus mangasong-asongkan ijazah ketika lulus pendidikan keguruan? Kita lihat nanti.”

Tidak berlebihan bila hiruk pikuk dunia pendidikan termasuk dalam penanganan guru dan pendidik ini kita teringat dan menemukan relevansinya pada istilah “sofis” dan “philosophia”, meski tetap menyisakan pertanyaan. Berkaca kepada marwah guru atau pendidik itu sendiri, terlihat adanya kesenjangan antara dunia idealitas sang pendidik dengan tantangan dunia realitas. Akankah jarak kesenjangan yang terbentang ini harus dibiarkan tetap menjauh?! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: https://derapguru.com/wp-content/uploads/2023/05/marketplace.jpg

Butuh bantuan?