Pendidikan Penuh Kesadaran – Berjalan dan Bernafas di Alam Baduy

Home » Artikel » Pendidikan Penuh Kesadaran – Berjalan dan Bernafas di Alam Baduy

Dilihat

Dilihat : 5 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 52
  • 70
  • 6,335

Oleh: Jo Priastana

“We go around and around, trying to improve ourselves through struggle,

until we realize that the ambition to improve ourselves is itself the problem”

(Chogyam Trungpa)

 

Hanya berjalan kaki dan bernafas, tidak berniat atau tidak bermaksud mencari sesuatu apa pun entah itu memperbaiki diri maupun upaya memecahkan persoalan. Hanya berjalan dan bernafas. Bernafas merupakan elemen terpenting dalam kehidupan semua makhluk. Tanpa bernafas, kita akan mati. Bernafas terus berlangsung, siang dan malam, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun, sepanjang tahun, sepanjang usia, sepanjang masih mampu berjalan, sepanjang hidup masih bisa dijalani. Sepanjang hayat dikandung badan sepanjang itu pula nafas masih menghidupinya.

Mungkin Buddha juga melakukan hal ini, dan seandainya beliau hidup di zaman modern ini, mungkin Beliau juga akan mengajarkan sebagaimana dilakukan Thich Nhat Hanh tentang meditasi mindfulness. Meditasi kesadaran atau mindfulness menjadikan kita ada, keberadaan kita yang sepenuhnya sadar. Hanya kesadaranlah yang menjadikan sebuah makhluk manusia, sebagaimana kata Buddha itu sendiri yang berarti sadar.

Latihan bernafas secara sadar berlaku di dalam meditasi termasuk meditasi yang dipraktikkan dengan berjalan kaki.  Dalam bernafas kita sadar, dalam kesadaran kita ada. Bernafas menjadikan kita ada dan hidup. Melangkah di alam Baduy yang penuh dengan udara yang menyegarkan itu kita menyadari dalam bernafas, nafas masuk, nafas keluar. Berjalan kaki dan bernafas di alam Baduy yang bersih dan ramah dapat menjadi sarana pendidikan mindfulness.

Walking and Breathing di Alam Baduy

Sudah sekian kali datang dan masuk ke perkampungan Baduy di Lebak Banten yang berjarak sekitar 150 km dari Jakarta dan selalu mengundang datang, dan datang kembali. Tidak hanya terpesona akan keindahan alam dan keramahan budaya setempat namun juga menyehatkan fisik, menyegarkan jiwa dan mencerahkan pikiran.

Dengan berjalan kaki memasuki perkampungan yang penduduknya ramah sederhana jauh dari teknologi modern ini, kita hanya dapat berjalan kaki sejauh yang kita mampu. Langkah mendaki dan menurun seiring kesadaran dalam nafas masuk dan nafas keluar seiring menikmati udara segar sepuasnya yang sungguh menyegarkan.

 Dari luar Baduy pintu gerbang yakni terminal Ciboleger masuk ke dalam perkampungan Baduy banyak pengunjung hanya mencapai kampung Gajeboh. Kampung Gajeboh menjadi destinasi wisatawan.  Kampung ini memiliki pemandangan sungai dan jembatan bambu yang asri indah, membentang di atas sungai yang airnya mengalir jernih di antara bebatuan dalam naungan lebatnya pepohonan.

Di tepi sungai di dalam kelebatan pepohonan itu rumah-rumah penduduk berjejer rapih. Sungguh sebuah tempat yang sunyi, sepi dan menawarkan keheningan. Kampung Gajeboh juga menjadi lintasan bagi mereka yang akan meneruskan masuk ke kawasan Baduy Dalam dengan melewati beberapa kampung seperti Cicakal, Cicakal Girang, Cipaler, dan seterusnya menuju Cibeo, Cikeusik, maupun Cijahe.

Banyak wisatawan berhenti dan menghabiskan waktunya di kampung Gajeboh hingga sore hari sebelum kembali lagi berjalan naik turun menuju pintu gerbang Baduy luar, Ciboleger. Jarak dari pintu gerbang Ciboleger ke kampung Gajeboh ini ada sekitar 4 km, dan dapat ditempuh dalam tempo sekitar satu jam, tergantung kecepatan dan kelambatan kaki melangkah dalam kesadaran penuh.

Sepanjang perjalanan yang turun naik, naik dalam ketinggian yang cukup menguras tenaga dan nafas, maupun turunan curam yang memerlukan kehati-hatian pada jalanan bebatuan yang licin ketika manakala hujan datang. Berjalan kaki pergi balik dari Ciboleger ke Kampung Gajeboh yang berkontur naik turun dengan melewati kampung Kaduketug, Balingbing, Marengo dilakoni sebagai bentuk pelatihan spiritual laku meditasi.

 Laku spiritual meditasi dalam berjalan kaki dengan penuh kesadaran dalam tarikan nafas masuk dan nafas keluar. Berjalan kaki dengan penuh kesadaran dalam bernafas, menyadari nafas masuk dan keluar dari setiap langkah kaki yang menjejak bumi menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan dan menyegarkan dan meminta untuk kembali diulangi, kembali datang kembali. Sepertinya ada energi dopamin yang diminta tubuh kembali, kesegaran jiwa dan kejernihan pandangan dalam laku spiritual.

Nafas Masuk dan Nafas Keluar

Berjalan kaki di alam Baduy yang bersih dan alami menyegarkan pemahaman kita akan meditasi jalan kaki dan pernafasan dalam meditasi mindfulness. Berjalan dan bernafas di alam Baduy adalah kesatuan yang tidak terpisahkan satu sama lain. Dalam berjalan kaki kita sekaligus bernafas, dan kita berkesadaran dalam nafas masuk seraya menenangkan tubuh, dan dalam nafas keluar sambil tersenyum. Hidup di saat ini dan menyadari saat ini sebagai masa yang mengagumkan.  

Meditasi mindfulness menyadari nafas masuk dan nafas keluar. Nafas masuk, saya tahu saya sedang menarik nafas. Nafas keluar, saya tahu selagi tarikan nafas saya semakin dalam, hembusan nafas saya melambat. Nafas masuk, saya merasa tenang. Nafas keluar, saya merasa ringan. Saat saya menarik nafas, saya tersenyum. Saat saya menghela nafas, saya melepaskan semua tekanan. Nafas masuk, saya tahu hanya ada saat ini dan nafas keluar, saya tahu saat ini adalah masa yang mengagumkan sambil melangkahkan kaki dalam jalan setapak yang naik dan turun.

(Breathing in, I calm my body. Breathing out, I smile. Dwelling in the present moment, I know this is a wonderful moment! Breathing in, I know that I am breathing in. Breathing out, I know that as my in-breath grows deep, my out-breath grows slow. Breathing in, I feel calm. Breathing out, In felt at ease. As I inhale, I smile. As I exhale, I release all accumulated pressures. Breathing in, I know there is only the present moment. Breathing out, I know it is wonderful moment). (Sulak Sivaraka, 2013: 119-120).

Ketenangan Jiwa dan Kejernihan Pikiran

Setahu kita teknik meditasi pernapasan mindfulness itu dinamakan samatha bhavana. Teknik meditasi yang dapat membantu untuk menjaga ketenangan. Konon katanya, begitu kita dapat menguasai latihan sederhana ini, kita akan siap untuk mempraktikkan meditasi pandangan terang atau vipassana bhavana. Dari ketenangan menimbulkakn kejernihan dalam pandangan terang.

Meditasi ketenangan dan meditasi pandangan terang merupakan dua sisi dari satu keping uang yang sama. Meditasi pandangan terang dapat menciptakan kesadaran kritis mengenai diri dan menghindari menekan diri sendiri secara berlebihan. Dalam ketenangan timbul kejernihan atau pandangan terang. Kesadaran adalah kekritisan terhadap diri dan lingkungan dalam merasakan makna kesatuan yang tak terpisahkan, diri dan alam, langkah kaki dan bebatuan di atas tanah.

Langkah kaki di alam Baduy adalah penyatuan diri dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Alam yang asri, segar, dengan udara bersih dan lingkungan budaya yang artistik serta penduduknya yang ramah, sopan, jujur dengan benda-benda seni yang kaya makna dan hasil hutan yang memperkuat tubuh, menyemangati hidup. Setiap langkah dalam berjalan kaki di alam Baduy adalah langkah-langkah yang penuh damai, keriangan dan teriakan kemenangan.

Dalam cara berjalan dan bernapas seperti itu, kita menikmati ketenangan. Dalam langkah-langkah seperti itu kita juga dapat menghindari diri sendiri secara berlebihan serta menjadi berkurang dan makin berkurang keegoisan kita. Lengan terasa ringan untuk diulurkan dalam membantu teman-teman yang juga sedang melangkah bersama, langkah naik turun, tarikan nafas masuk dan hembusan nafas keluar.

Dalam ketenangan berjalan kaki, tumbuh kejernihan berpikir atau kesadaran terang, pengertian benar tentang diri yang tak terpisahkan dengan alam dan rekan-rekan. Terasakan hikmah kebijaksanaan dalam keseimbangan dan ketenangan dalam diri yang sadar, diri yang tidak lagi dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebingungan.

Melangkah di alam Baduy menghantar ketenangan dan pandangan terang. Melihat dengan jelas kemurnian alam dan budaya Baduy menghantar akan tumbuhnya rasa perdamaian dunia, keadilan sosial, kearifan lokal, dan keseimbangan lingkungan. Dengan melangkahkan kaki dan bernafas, walking and breathing dalam diri kita sendiri, saya menarik nafas dengan tenang dan saya menghembuskan nafas dengan penuh kesadaran.

 Harmoni dan Keluasan Pandangan

Alam Baduy menitipkan benih-benih perdamaian dan kebahagiaan tumbuh dalam diri. Egoisme berkurang dalam kesadaran yang meningkat. Berkurangnya kemelekatan diri, sehingga diri terbuka untuk dunia, untuk bumi, untuk sungai, dedaunan, pepohonan dan mata anak-anak leutik Baduy yang polos dan jujur. Pandangan jernih terbuka melihat dunia yang penuh dengan fenomena diantara masih adanya kekerasan, kejahatan berdampingan dengan kebaikan serta perdamaian.

Dalam berjalan kaki dan bernafas, kita menghubungkan hati dan pikiran melihat dunia secara utuh, sebagaimana isi dunia yang dipenuhi makhluk hidup yang seluruhnya terkait dan tidak terpisahkan satu sama lain. Pemahaman dan pengertian menjadi luas bersamaan tumbuhnya cinta kasih, welas asih, kepedulian dan solidaritas. Alam Baduy menawarkan banyak sisi kehidupan yang tiba-tiba terbuka, terpandang ketika melangkah dan bernafas.

Langkah di alam Baduy juga menghantar tumbuhnya tekad dan upaya untuk menciptakan dunia yang penuh damai bebas dari kekerasan. Bercermin pada alam Baduy yang sederhana, menjadikan hidup pun sederhana dengan menawarkan diri untuk melayani kepada mereka yang kesusahan atau sedang tertindas. Alam indah dengan adat budaya dan kearifan lokal ini harus terus dijaga dan dipertahankan, dan kita mesti turut berjuang dalam menjaga hak-hak Adat Alam dan Budaya dalam perumusan Undang-Undang, aksi kepedulian dalam advokasi hak alam, budaya dan adat.

 Ketika berjalan dan bernafas di alam Baduy pikiran-pikiran bajik bermunculan dalam hati yang diliputi welas asih dan kepedulian. Terasa desakan hati muncul untuk menjadi mitra dan sahabat bagi mereka yang marginal, menderita dalam, menumbuhkan hidup yang penuh sejahtera, menciptakan dunia yang damai dan berkeadilan, bebas dari kekerasan. Semua makhluk hidup dalam harmoni, bebas dari penderitaan, hidup dalam kedamaian dan berbahagia.    

Kesadaran dan Pengalaman Tanpa Diri

Dalam pengetahuan meditasi kita kenal ada beberapa gerbang meditasi atau memasuki arus meditasi. Ada gerbang ketidakkekalan, gerbang penderitaan, dan gerbang bukan diri. Pada meditasi jalan kaki, kita tergugah akan meditasi melalui gerbang bukan-diri. Pengalaman tanpa diri yang terjadi dengan cara-cara yang paling sederhana melalui jalan kaki. Dalam meditasi berjalan, ketika kita melangkah, kita menyadari kemunculan pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, sensasi-sensasi.

Sambil berjalan dan bernafas, kita mengamati semua itu menghilang, melalui pertanyaan-pertanyaan: Itu semua milik siapa? Ke mana itu semua pergi? Mereka semuanya kembali ke dalam sunyata, kekosongan. Kita bertanya ke mana perginya hari kemarin, begitu pula tentang masa kanak-kanak kita, tentang kemana perginya orang-orang besar dan orang-orang yang membangun karya-karya monumental dunia. Mereka pergi kedalam sunyata dan juga kita. Datang ke dunia dan pergi, berlalu dalam sunyata, kekosongan, datang pergi berlalu dalam sekejap.

Dalam sunyata kita melepaskan kemelekatan, kita merasakan ketanpadirian, kesadaran kesementaraan akan segala sesuatu. Terkadang batasannya hilang, dan kita tidak dapat memisahkan diri kita sendiri dari pohon yang berada di sepanjang jalan, dengan kicauan burung, lalu lalang anak-anak berjalan cepat sambil memikul durian.

Terlintas pula ibu-ibu tua yang berjalan perlahan namun tabah dan pasti, maupun sesama wisatawan yang saling menyapa dan menyemangati. Keseluruhan rasa akan diri menjadi pengalaman kosong dan kesatuan yang muncul dalam kesadaran di antara kesenyapan alam dan semilir angin serta gemericik air sungai di kejauhan tanpa ada lagi tanya masih jauh atau dekat, tinggal belok kiri atau kanan, sedikit mendaki atau menurun.

Berjalan kaki dan bernafas penuh kesadaran untuk tiba di rumah dengan ketiadaan diri, diri yang sepenuhnya tahu. Setidaknya berjalan kaki di alam Baduy bisa menjadi sarana pendidikan laku spiritual, sebagai sebuah bentuk pelatihan diri meditasi mindfulness. Sarana dalam mengembangkan awareness of walking and breathing yang bisa dilakukan oleh anak-anak sekolah, mahasiswa, manula, siapa saja, lelaki dan perempuan, pejalan kaki, pecinta alam, terutama pecinta dan pelaku meditasi kesadaran/mindfulness!(JP). ***

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).

 

Butuh bantuan?