Penguatan Literasi Remaja Buddhis di Tengah Globalisasi

Home » Artikel » Penguatan Literasi Remaja Buddhis di Tengah Globalisasi

Dilihat

Dilihat : 26 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035
pic 23111 - 3

Oleh: Jo Priastana

 

“The who does not read has no advantage over the man who cannot read.”

(Mark Twain, Penulis)

 

Literasi sering kali dikaitkan dengan pendidikan. Namun, pentingnya literasi ini masih belum menjadi kenyataan. Sejumlah pengujian internasional yang pernah dilakukan, data menunjukkan bahwa lebih dari 55 persen masyarakat Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan masih mengalami functionally illiterate, yakni suatu keadaan terbatasnya kemampuan menganalisis atau mengolah informasi yang diperoleh untuk dapat dipergunakan bagi kecakapan hidup guna meningkatkan kesejahteraan.

Penguatan literasi akan mencerdaskan bangsa dan memberikan kesejahteraan. Tugas mencerdaskan anak bangsa adalah tugas bersama. Sebab bangsa yang cerdas akan memberikan kesejahteraan. Keberadaan perpustakaan umum dimana segala kalangan, anak, remaja, pemuda, dewasa dapat mengakses literasi masih perlu diperkuat, dan disertai aktivitas yang menarik demi terbukanya jendela kecerdasan seluasnya di tengah arus kuat globalisasi.

Pentingnya penguatan literasi ini disadari oleh pemuka dan pembimbing agama Buddha, seperti pembina agama Buddha di wilayah Jakarta Utara. Baru-baru ini, Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Utara, mengadakan kegiatan pemberdayaan literasi yang ditujukan bagi remaja Buddhis, siswa pendidikan agama Buddha di Jakarta. Kegiatan yang bertemakan “Pembinaan Literasi Keagamaan Bagi Siswa Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha”.

 

Literasi di Tengah Globalisasi

Dengan mengambil tempat di Vihara Lalitavistara, Cilincing, Jakarta Utara, pada hari Sabtu 24 Juni 2023 lalu, sekitar 100 siswa dengan antusias mengikuti kegiatan pembinaan di bidang literasi. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Jakarta Utara yang dalam pengarahannya menjelaskan tentang pemahaman dan pengertian tentang makna kegiatan pemberdayaan literasi yang sebenarnya.

Sementara itu, Pembimas Buddha, Kanwil Kemenag Prov. DKI Jakarta, Bapak Suliarna, memberikan sambutannya berkenaan betapa pentingnya kemampuan literasi yang dimiliki oleh remaja Buddhis. Kegiatan penguatan literasi yang dikomandani oleh Bapak Mugiyanto, Pembimas Buddha Jakarta Utara ini diisi oleh sejumlah narasumber seperti Bhiksu Duta Kshanti, yang mengemukakan dan melihat pentingnya “Pengembangan Literasi Untuk Memperdalam Buddhadharma”. Ada Bapak Sarjono memberikan motivasi dan mengajak untuk selalu “Menanamkan Kebiasaan Membaca di Kalangan Remaja.”

Globalisasi telah melanda segenap penghuni bola dunia. Globalisasi yang disertai dengan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi mengharuskan segenap penduduk dunia untuk melek literasi, termasuk kalangan remaja Buddhis. Demikian dikemukakan oleh narasumber Jo Priastana, yang mengingatkan kepada para peserta betapa pentingnya penguatan literasi di tengah arus kemajuan zaman globalisasi ini.

Dengan lugas, Jo Priastana menekankan dan selalu mengingatkan akan “Pentingnya Literasi Dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi.” Dikemukakan bahwa globalisasi yang melanda dunia saat ini adalah ungkapan dari kata globe yakni bola bumi yang berbentuk bundar. Karenanya bila arus informasi saat ini begitu deras melanda dunia, penghuni bola bumi ini, maka serasa kita pun seperti berada di dalam “Global Village” atau “Desa Dunia”.  Dunia kini ibaratnya seperti sebuah desa dimana arus informasi itu begitu mudah diketahui dan hadir di hadapan para penghuninya.

Jo Priastana mengemukakan, globalisasi menjadi tantangan dimana kita semua perlu memiliki kemampuan untuk menghadapinya, yakni kemampuan literasi, penguatan berliterasi. Membaca dan menganalisa arus globalisasi yang telah saling mendekatkan kehidupan manusia di dunia. Kemampuan dalam memahami beragam etnis yang tiba-tiba mudah kita jumpai, penguasaan teknologi yang terus berkembang, kecerdasan dalam keuangan, serta menggunakan media dan menangkap serta mengolah ide-ide.

“Globalisasi cerminan dari bola bumi ini telah menghubungkan dunia Timur Barat, segenap sudut-sudut dunia yang diresapi oleh arus informasi, transportasi berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.” ungkap dosen di STAB Nalanda ini. Seperti roda dharma yang terus berputar yang diawali oleh Sang Buddha dalam membabarkan dharmanya pertama kali, Jo Priastana mengharapkan agar para remaja Buddhis yang ikut dalam kegiatan itu memiliki seperangkat kemampuan dan keterampilan dengan apa yang dikenal sebagai kemampuan berliterasi.

Menurut Jo Priastana, kemampuan berliterasi ini tidak hanya sekedar dalam membaca, menulis, dan berbicara atau menghitung, namun juga mampu dalam memilah, menganalisa, memecahkan masalah, mentransformasikan pengetahuan untuk menjadi berguna dan bermanfaat.

“Kemampuan berbahasa dalam arti memahami setiap gejala dan fenomena yang muncul serta berkembang adalah wujud kemampuan berliterasi sebagaimana yang juga terdapat dalam misi Buddhaddharma Dharmacakra yang mengandung upaya-kausalya yakni cara-cara cerdas dan terampil dalam menyampaikan ajaran,” ujar Pak Jo yang mengumpamakan kemampuan berliterasi dengan upaya-kausalya yang harus dimiliki oleh segenap remaja Buddhis yang kini hidup di tengah dunia global ini.

Untuk itu, Jo Priastana mengingatkan para remaja bahwa tak ada cara lain, selain untuk terus menjadi orang yang selalu belajar, terus meningkatkan berbagai keterampilan yang terpendam dalam diri seperti potensi kognitif, moral, sosial dan spiritual. Terus meningkatkan kualitas melek aksara, teks maupun tekstual yang tercermin dalam fenomena kehidupan, serta kemajuan iptek, literasi media yang semakin cenderung berkembang secara teknologis, maupun memahami ide-ide visual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari media literasi masa kini.  

Adult Literasi dan Kesejahteraan Bangsa

Literasi merupakan syarat untuk cerdasnya bangsa dalam meraih kesejahteraannya. Remaja Buddhis menjadi pembelajar seumur hidup, menjadi manusia pembelajar. Penguatan literasi pun berlaku untuk segala kalangan. Agar literasi terus membudaya dan masyarakat menjadi sungguh-sungguh cerdas berliterasi, maka penguatan literasi juga patut ditujukan untuk segala kalangan, tidak semata remaja namun juga orang dewasa, adult literacy. Literasi melalui pendidikan sekolah perlu dilengkapi dengan pendekatan program adult literacy (literasi untuk orang dewasa).

Adult literacy adalah suatu program literasi yang bertujuan untuk membangun kemampuan individu dalam membaca dan menulis sekaligus kemampuan menganalis atau mengolah informasi yang diperoleh untuk bisa mendatangkan manfaat langsung dalam usaha meningkatkan kesejahteraan.

Program literasi untuk orang dewasa dinilai telah menghasilkan manfaat yang melampaui hasil dari pendidikan sekolah. Pandangan tersebut terungkap pada agenda Stakeholder Meeting Nasional Perpustakaan Nasional RI Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) 2023 yang digelar di Jakarta, Rabu, 21/6/2023. (Kompas, 26/6/23).

Pada kesempatan itu, Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando, mengemukakan tentang Manifesto The International Federation of Library Association and Institutions (IFLA) yang di dalamnya menyebutkan bahwa, bangku terakhir bagi yang tidak duduk di sekolah formal adalah perpustakaan umum. “Tidak perlu silabus atau kurikulum. Yang terpenting bagi masyarakat adalah bahan bacaan yang mampu memberikan pengetahuan dan pengajaran dan sarat tutorial.” ujar Syarif.

Sementara, Plt. Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Kementeriaan PPN/Bappenas Didik Darmanto berpendapat bahwa literasi memiliki keterkaitan erat dalam upaya mengentaskan kemiskinan, memberdayakan masyarakat, serta sumber inspirasi untuk melahirkan inovasi. Potret literasi, kata Didik, dapat menggambarkan kemajuan suatu bangsa.

Bapak Didik Darmanto juga mengungkapkan perlunya mengubah paradigma tentang literasi, baik di kalangan pihak yang bekerja di perpustakaan maupun masyarakat sendiri. Paradigma harus diubah bahwa literasi tidak sekedar proses belajar membaca dan menulis, tetapi juga menjadikan literasi sebagai praksis sosial untuk lebih mentransformasikan pengetahuan kepada masyarakat agar menjadi praktik-praktik yang manfaatnya bisa langsung dirasakan. (Kompas, 26/6/23).

 

Pemajuan Budaya Bangsa

Kegiatan pemberdayaan literasi perlu digalakkan, seperti misalnya dengan mengadakan festival literasi yang akan memperkuat kebudayaan bangsa. Seperti diketahui bahwa minat baca warga Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya satu dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca. Sementara Hasil Asesmen Nasional 2021 menunjukkan, satu dari dua peserta didik di Tanah Air belum mencapai standar kompetensi minimum literasi. Indonesia berada di urutan ke 62 dari 70 negara atau termasuk 10 negara terbawah dalam tingkat literasi rendah.” (Kompas, 26/10/23).   

Untuk itu, kegiatan “Pembinaan Literasi Keagamaan Bagi Siswa Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha”, yang dilaksanakan pembina agama Buddha kota Jakarta Utara pada Sabtu 24 Juni  2023 itu patut mendapat sambutan dengan melanjutkan lewat berbagai kegiatan seperti misalnya mengadakan festival dan pelatihan literasi.

Sebuah bangsa akan maju dan berkembang, tinggi peradabannya karena kuatnya literasi masyarakatnya. Marilah, kita terus lanjutkan kegiatan yang sungguh sangat berarti, relevan dan bermanfaat ini. Kegiatan menyemarakkan pemberdayaan literasi dan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia untuk pemajuan budaya bangsa menyongsong 100 tahun Indonesia. Indonesia Emas 2045 yang dihuni generasi milenial, generasi yang harus kuat dan melek literasi, kompetitif di tengah globalisasi! (JP).

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

Butuh bantuan?