Oleh: Jo Priastana
“Mahavihara seperti Nalanda bukan hanya sebagai biara,
tetapi sebagai pusat pendidikan tinggi Buddhis internasional.
Nalanda memiliki organisasi akademik, guru spesialis, mahasiswa
dari berbagai negeri, tradisi penelitian dan debat.”
(Hirakawa Akira,1915-2002, sejarawan Buddhisme Jepang)
Apakah perguruan tinggi Nalanda di India masa lalu dapat dipandang semacam universitas di Eropa yang berkembang terus hingga kini? Universitas modern dengan kurikulum yang sistematis sehingga mengakibatkan terjadinya warisan dan perkembangan ilmu pengetahuan secara institusional. Dalam konteks ini, bagaimana memaknai perguruan tinggi Buddhis seperti Nalanda yang pada 2 Agustus 2026 meresmikan gedung baru bernama “Balaputradewa.” Nama seorang raja Sriwijaya yang memiliki kemiripan, dimana dahulu “Balaputradewa” juga membangun gedung untuk para mahasiswanya yang bersekolah di Nalanda India historis.
Dalam kesempatan peresmian itu, Bapak Tan Tjoe Liang mengisahkan dan mengingatkan Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda yang dipimpinnya telah berusia 50 tahun (berdiri 1976). Dan di tahun 1979 membuka Akademi Buddhis Nalanda untuk memenuhi kebutuhan akan guru agama Buddha. Dipergunakan nama Nalanda untuk mengingat kebesaran Nalanda masa lalu dan sekaligus sebagai modal perjuangan mengembangkannya menjadi universitas modern, cita-cita membangkitkan Nalanda dalam konteks modern yang bukan mustahil selangkah lagi akan terealisasi.
Perguruan tinggi Nalanda masa lalu pada abad 5-12 dikenal sebagai pelopor universitas pertama di dunia dimana beragam ilmu pengetahuan diajarkan. Sedangkan pengembangan ilmu dalam universitas yang berawal di Eropa pada abad 12 yang menjadi cikal bakal universitas modern yang sampai kini tetap terwariskan dalam berbagai ilmu pengetahuan yang terus berkembang dengan adanya sistem kurikulum pengetahuan bersifat sistemik-institusional. Hal ini mungkin yang membedakan dengan Nalanda masa lalu itu yang tergantung penilaian dari personal guru dan tanpa ada lisensi macam wisuda dan ijazah.
Perguruan Tinggi Nalanda Historis
Menyelam ke masa silam. Nalanda adalah monastik yang mengembangkan ilmu pengetahuan hingga dikenal sebagai Mahavihara, tumbuh sekitar abad ke-5 pada masa Dinasti Gupta dan menjadi pusat pembelajaran besar hingga abad ke-12 M. Ia adalah sebuah Mahavihara (vihara Besar) yang berfungsi sebagai pusat pendidikan, penelitian, diskusi filsafat, dan pengembangan ilmu. Berbeda dengan vihara biasa, Nalanda memilki beberapa ciri yang juga memiliki kesamaan dengan universitas.
Ciri perguruan tinggi Nalanda diantaranya telah adanya sistem penerimaan mahasiswa yang selektif, dimana para calon pelajar harus diuji oleh para guru sebelum diterima. Para guru ahli dalam berbagai bidang. Kurikulum yang luas, bukan hanya Buddhadharma. Ada asrama bagi ribuan pelajar dari berbagai wilayah Asia, serta perpustakaan besar, yang dikenal dengan nama seperti “Dharmaganja,” yang menyimpan banyak manuskrip.
Nama Nalanda berasal dari kata “nalan”, artinya bunga teratai dan “da”, artinya: pemberi. Nalanda berarti pemberi ilmu pengetahuan. Perguran tinggi yang didirikan oleh Raja Kumara Gupta dan mencapai puncak kejayaannya di abad ke tujuh itu hingga kini masih menyimpan aura kebesarannya sebagaimana unversitas yang menjadi model saat ini (Jo Priastana, “Jalan Sunya Dharmayatra: Ziarah Tanah Suci di India, Jakarta: Yasodhara Puteri, 2019).
Bidang kajian di Nalanda sangat luas, meliputi filsafat Buddhis maupun ilmu non-keagamaan. Dalam filsafat Buddhis terdapat studi mengenai Abhidhamma, Madhyamaka Nagarjuna, Yogacara Asanga dan Vasubandhu, serta logika Buddhis (Hetuvidya) dari Dignaga dan Dharmakirti. Ilmu non-keagamaan meliputi: tata bahasa Sansekerta, logika dan epistemologi, kedokteran (Ayurveda), Matematika, Astronomi, Seni dan Sastra, maupun Ilmu Politik dan Sosial.
Dalam hal sebagai pemberi “ilmu pengetahuan” Nalanda mirip dengan universitas modern karena ilmu tidak dipisahkan secara sempit antara agama dan rasionalitas. Seorang pelajar Buddhis tidak hanya belajar ritual, tetapi juga melakukan debat filsafat, analisis konsep, dan penyelidikan realitas.
Di Nalanda terdapat komunitas guru dan murid, ada debat ilmiah, studi teks klasik, asrama, dan tradisi akademik. Demikian pula dengan Universitas Eropa Abad Pertengahan, terdapat komunitas profesor dan mahasiswa, debat skolastik, studi kitab dan filsafat, college, serta tradisi akademik.
Ada juga kemiripan lainnya. Nalanda lahir dari tradisi monastik Buddhis, sedangkan Universitas Eropa berkembang dari tradisi gereja Kristen dan kemudian menjadi institusi sekuler. Nalanda kuno tidak berlanjut secara institusional tanpa putus. Nalanda mengalami kehancuran sekitar abad ke-12 ketika wilayah itu mengalami perubahan politik dan serangan militer. Namun, warisan intelektualnya tetap hidup melalui tradisi Buddhis Tibet, Tiongkok, Korea, Jepang, dan Asia Tenggara.
Pada zaman modern kemudian didirikan kembali Nalanda University pada 2014 sebagai universitas internasional yang mengambil inspirasi dari semangat Nalanda lama. Secara filosofis, Nalanda dapat dipandang sebagai contoh bahwa pendidikan Buddhis klasik bukan sekadar transmisi keyakinan, tetapi sebuah pencarian pengetahuan yang menggabungkan filsafat, ilmu, etika untuk transformasi batin dan transformasi sosial.
Dalam bahasa Buddhis, tujuan akhirnya bukan hanya menjadi orang yang banyak tahu (Bahu Sutta), tetapi menjadi manusia yang melihat realitas secara lebih jernih dan terbebas dari kebodohan (avidya) dan mewujudkan nilai-nilai kepedulian Bodhisattva. Seperti Xuanzang atau Hiuen Tsang, abad ke-7, yang mengunjungi Nalanda.
Hiuen Tsang, walaupun bukan ilmuwan modern, catatan perjalanannya adalah sumber penting yang menggambarkan Nalanda dengan sekitar ribuan pelajar dan ratusan guru, dengan disiplin belajar yang sangat tinggi. Ia menulis bahwa para penghuni Nalanda mendalami kitab, melakukan debat filsafat, mempelajari berbagai ilmu, hidup dalam komunitas pendidikan. Karena catatan Xuanzang inilah banyak sejarawan modern melihat Nalanda sebagai “universitas internasional” pada zamannya.
Beberapa sejarah Asia melihat Nalanda sebagai contoh bahwa Asia memiliki tradisi pendidikan tinggi sebelum model universitas Eropa berkembang. Nalanda bukan sekadar sekolah agama, tetapi sebuah pusat produksi pengetahuan. Namun ada juga kritik dari para ahli sejarah pendidikan: mereka mengatakan bahwa Nalanda bukan universitas modern sepenuhnya, karena tidak memiliki sistem fakultas, juga tidak mengenal gelar akademik standar seperti Bachelor, Master, PhD, tidak memiliki sistem sertifikasi internasional, dan wisuda, seperti universias modern eropa yang terus berkembang maju hingga sekarang.
Universitas Modern Eropa
Penanda yang jelas terlihat dan tampak utama yang menjadi tujuan para pelajar di universitas modern adalah adanya wisuda. Apa makna wisuda? Sejak kapan manusia merasa perlu merasakan kelulusan dengan begitu khidmat? Pertanyaan yang membawa untuk menelusuri sejarah hampir sembilan abad ke belakang. Tradisi wisuda lahir di Eropa sekitar abad ke-12 ketika Universitas Bologna di Itali yang berdiri sekitar tahun 1088, bersama Universitas Paris pada pertengahan abad ke-12 (FB Denny J.A’s World/30/7/26).
Mereka mulai membangun sesuatu yang belum pernah dikenal dunia sebelumnya. Universitas itu bukan hanya mengumpulkan orang-orang pandai. Mereka menciptakan sebuah lembaga yang memiliki kurikulum, ujian, standar, dan hak memberikan gelar akademik. Inilah revolusi yang sesungguhnya dari keberadaan universitas modern, yang berbeda dengan di Yunani.
Di zaman Yunani kuno, seseorang belajar langsung kepada Plato (428-348 SM) di Akademia atau Aristoteles (384-322SM) di Lyceum. Pengetahuan terletak pada sosok guru. Setelah selesai belajar, murid pulang tanpa ijazah, tanpa gelar, tanpa upacara. Hubungan itu bersifat personal. Di Eropa abad pertengahan (500-1500 M), di zaman kuno dan modern, pengetahuan berubah menjadi institusi. Lahir sebuah komunitas ilmiah yang disebut Universitas.
Universitas berasal dari kata Latin universitas “magistrorum et scholarium,” yaitu persekutuan pada guru dan pelajar. Di sana, ilmu tidak lagi bergantung pada seorang tokoh, tetapi oleh sebuah komunitas yang memiliki aturan bersama. Gelar akademik yang diberikan bukan sekadar penghargaan.
Ia adalah “licentia docendi,” lisensi resmi untuk mengajar. Dengan lisensi itu, seorang sarjana Bologna dapat mengajar di Paris, Oxford, atau Salamanca. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ilmu pengetahuan memperoleh paspor yang melampaui batas kerajaaan dan bahasa.
Proses wisuda lahir sebagai pengakuan publik atas perubahan status itu. Ritual wisuda disertai dengan toga. Mengapa para lulusan mengenakan toga hitam? Jubah panjang yang kini tampak anggun itu mula-mula hanyalah pakaian sehari-hari para rohaniwan dan cendekiawan abad pertengahan.
Saat itu gedung kuliah belum memiliki pemanas. Jubah tebal membantu melindungi tubuh dari musim dingin. Lama-kelamaan pakaian itu berubah menjadi simbol bahwa ilmu menuntut disiplin, kerendahan hati, dan kehidupan intelektual.
Topi akademik berkembang dari penutup kepala para sarjana abad pertengahan. Sementara hood pada mulanya benar-benar merupakan tudung untuk menghangatkan kepala. Kini hood menjadi kain berwarna yang dikenakan di belakang bahu. Warna dan bentuknya menunjukkan jenjang akademik serta bidang ilmu yang ditekuni. Sebuah benda sederhana berubah menjadi bahasa simbol yang dipahami komunitas akademik di seluruh dunia. Begitulah tradisi bertahan. Fungsi praktis boleh hilang, tetapi makna tetap hidup.
Yang membedakan universitas Eropa dari sekolah filsafat Yunani bukanlah kecintaan kepada ilmu. Plato (427-347 SM) maupun Aristoteles (384-322 SM) sama-sama mencintai pengetahuan dengan sepenuh hati. Perbedaannya terletak pada cara ilmu diwariskan. Di Yunani, ilmu berkembang melalui percakapan antara guru dan murid. Di Eropa, ilmu dibangun melalui institusi yang mampu melampaui usia siapa pun. Plato wafat, akademinya berubah. Aristoteles meninggal, Lyceumnya ikut meredup. Namun Universitas Bologna tetap hidup lebih dari sembilan abad kemudian.
Universitas Bologna hidup karena yang dipertahankan bukan seorang guru, melainkan sistem. Di sinilah salah satu penemuan terbesar peradaban manusia. Peradaban menjadi panjang umur bukan semata karena melahirkan orang-orang jenius, tetapi karena berhasil menciptakan lembaga yang menjaga pengetahuan melampaui generasi. Ilmu akhirnya mempunyai rumah. Ruman itulah universitas. Dan wisuda merupakan cara rumah itu menyuambut anggota baru yang kelak akan meneruskan estafet pengetahuan (FB Denny J.A’s World/30/7/26).
Nalanda Menjadi Universitas Modern
Pandangan diatas itu untuk menangkap adanya perbedaan penting antara tradisi pendidikan Nalanda masa lalu dan universitas Eropa yang kemudian menjadi model universitas modern, meski keduanya muncul sama-sama dari monastik. Universitas Eropa berkembang di seluruh dunia masa kini, termasuk model bagi perguruan tinggi Buddha saat ini.
Perbedaannya, Nalanda masa lalu dengan Universitas Modern mungkin lebih terletak pada arah perkembangan institusi dan konsep legitimasi ilmu, meski di Nalanda juga memiliki sistem kelembagaan yang kuat, bukan semata hanya bergantung pada pribadi guru. Institut Nalanda yang mengacu kepada Universitas modern masa kini juga memiliki modal kultural yang sangat bernilai dari berharga dari warisan Nalanda historis.
Namun, terselip juga pertanyaan yang menggelitik, apakah di Nalanda masa lalu itu ada wisuda dan sertifikat atau ijazah seperti univeritas sekarang? Jawabnya, kemungkinan besar tak ada wisuda formal seperti sistem modern dengan toga, ijazah, dan upacara kelulusan.
Sistem gelar akademik seperti sarjana, magister, doktor muncul jauh kemudian dalam tradisi universitas Eropa. Di Nalanda, keberhasilan seorang murid lebih diakui melalui pengakuan guru, kemampuan berdebat secara filosofis, penguasaan kitab dan ilmu, serta pengangkatan sebagai guru atau cendekiawan.
Seorang pelajar Nalanda tidak “lulus” dengan ijazah, tetapi ditandai oleh transformasi intelektual dan spiritualnya. Namun begitu, jika dibandingkan dengan universitas Eropa abad pertengahan seperti University of Bologna atau University of Paris, terdapat juga kesamaannya.
Namun begitu, Institut Nalanda yang ada saat ini dan yang akan bergerak menjadi universitas modern dapat menimba kebesaran dari perguruan tinggi masa lalu itu, baik universitas eropa modern maupun perguruan tinggi Nalanda historis dengan warisan keilmuan dan kebijaksanaannya yang terasa akrab.
Karena nama itu mengandung doa, harapan dan berkah, termasuk hadirnya gedung baru bernama “Balaputradewa,” donatur besar bagi mahasiswa Nusantara di Nalanda zaman dahulu, yang tampaknya kini juga sedang bertumimbal lahir, mewujud kembali pada Insitut Nalanda, Jakarta, Indonesia yang selangkah lagi menjadi universitas modern dan menciptakan gelar master, doktor, profesor, guru besar. Pastinya semua kita bekerja dan tidak hanya berdoa agar berkah itu tidak tinggal harapan! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: Dok. Majaputera Karniawan