PERJUANGAN MEREVOLUSI PENDIDIKAN BUDDHIS DENGAN GAS TERAKHIR (PART 2)

Home » Artikel » PERJUANGAN MEREVOLUSI PENDIDIKAN BUDDHIS DENGAN GAS TERAKHIR (PART 2)

Dilihat

Dilihat : 10 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Perjuangan Merevolusi Picture2

Reporter: Majaputera Karniawan (Tjia Wie Kiong 谢偉强)

“Sang Raja Dharma menghendaki agar ajaran-ajarannya menjadi sesuatu yang universal” (Tipitaka Master Tong Sam Cong 唐三藏 dalam Wriggins, 2015: 208)

Ya, inilah harapan Sang Guru Buddha. Bahwa Dharmanya dapat dirasakan siapapun juga tanpa pandang aliran dan latar belakang. Pada misi pertama 60 Dharmaduta dikatakan bahwa mereka membabarkan Dharma demi satu tujuan mulia, bahwa ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka yang akan sadar jika memperoleh Dharma. Layaknya seorang Añña Kondañña yang memperoleh mata Dharma setelah bertemu dengan Hyang Buddha.

Tetapi darimana mereka bisa memperoleh Dharma? Jika sedari kecil sudah belajar di sekolah non Buddhis pasti tidak ada bertemu Buddha-Dharma di sekolah, karena tidak ada gurunya. Demikian juga apabila mereka lahir di pelosok yang tidak ada guru-guru Dharma di sana. Guru Dharma (Dharmacariya) ternyata memikul peran penting bagi pengembangan Dharma baik di masa kini atau generasi mendatang.

Masih pada suasana yang sama dengan artikel part 1 yakni pada hari Kamis, 28 April 2022 Tim Setangkaidupa.com bertemu dan berdiskusi ringan kepada YM Bhiksu Vidyasasana (Shi Xue Zhi 释学知). Semula Suhu berbicara tentang pembangunan Universitas Buddhis Negeri sebagai satu urgensi, tetapi ternyata ada yang lebih urgent daripada membangun universitas Buddhis!

Hal ini beliau sadari dikala tukar pikiran dengan salah satu pejabat petinggi Bimas Buddha terkait rencana mendirikan universitas Buddhis. Suhu pernah berbicara sama seorang pimpinan pejabat, beliau bilang ‘Suhu jangan cerita yang tinggi-tinggi dulu, itu banyak guru Buddhis yang gak dapat bulanan’.

‘Kalau begitu pak pejabat panggil dong lembaga-lembaga yang sudah diizinkan (mengelola Corporate Social Responsibility/CSR di bidang Buddhis), panggil dong! Lu orang kerja apa kalau begitu?’

Suhu pun kemudian berpikir keras bagaimana caranya mendukung para guru melalui yayasan yang kelak akan beliau bentuk, karena beliau berpikir kalau nasib guru saja prasejahtera, bagaimana bisa membangun pendidikan Buddhis? Siapakah yang akan mau menempuh pendidikan keguruan dan membaktikan karirnya buat negeri ini tanpa kesejahteraan finansial? Mengingat orang kuliah rata-rata untuk bekerja, menjadi karyawan bukannya sukarelawan.

Suhu pun bercerita kepada kami tentang rencana beliau meminta wihara-wihara dan kelenteng-kelenteng yang dikenalnya dan peduli dengan pendidikan Buddhis untuk memulai menyisihkan sebagian hasil dari beras Sembahyang Cioko untuk kemudian diuangkan dan uangnya dikelola sebagai subsidi silang bagi guru-guru Buddhis yang belum mendapat honor ataupun honornya minim.

‘…Itu salah satu contoh yang akan kita telurkan, mudah-mudahan tahun depan terjadi. Saya mau minta kepada semua kekuatan yang di kenal, pada saat Chit Gwee Poa (Sembahyang bulan 7, ulambana) kan kelenteng wihara banyak yang bagi beras, setiap wihara kita minta sisihkan saja 1 ton, kita kumpulin dan jual lagi buat (menyokong) guru-guru, kita subsidi guru-guru’

Urgensi memanggil di kala memang nasib ujung tombak pendidikan Buddhis ada di tangan guru-guru kita, maka suhu merasa sebaiknya ada upaya kausalya (upaya cerdas untuk membabarkan Dharma) kepada generasi penerus dengan membantu para guru. ‘Kita bantu dulu mereka (guru-guru Buddhis), kan selama ini jarang tersentuh mereka. Sekuat kita dulu lah kita bantu. Sisihkan aja setiap kelenteng 1 ton, lu boleh koordinir langsung kalau lu tidak percaya sama kita, sisihkan satu ton, nih bagi. Cuma pertanyaannya, siapa yang mau dan punya perhatian? Nahh, kita akan menjadi pelopornya, dan mudah-mudahan akan banyak yang terpanggil.’ Pungkasnya.

Setidaknya, untuk membangun kesejahteraan pendidikan Buddhis bisa dimulai dari langkah yang lebih kecil ini, lewat membangun kesejahteraan finansial para guru Buddhis. Suhu berusaha merealisasikan cita-cita kesejahteraan pendidikan Buddhis walau dengan ‘Gas Terakhir’ (Tenaga terakhir, red) dalam kehidupan saat ini. Beliau berkata: ‘Ini sebelum kita cerita (bangun) sekolahan, ini yang paling kecil. Tapi kalau yang paling kecil aja kita belum bisa kerjain, jangan ngomong yang gede, namanya omong kosong!’

Bagaimana kelanjutan ‘Gas terakhir’ suhu dalam membangun kesejahteraan pendidikan Buddhis? Nantikan di artikel Part 3.

 

DAFTAR PUSTAKA

Wriggins, Sally Hovey. 2015. Napak Tilas Jalur Sutra Xuanzang Catatan Sejarah Perjalanan Ke Barat. Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ivan Taniputera. Jakarta. Penerbit Karaniya.

Butuh bantuan?