Polusi Spiritual: Paradoks Validasi Atraksi vs Spirit Salvasi

Home » Artikel » Polusi Spiritual: Paradoks Validasi Atraksi vs Spirit Salvasi

Dilihat

Dilihat : 9 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 129
  • 482
  • 282,137
Pic 6 Polusi

Oleh: Dr. Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

“Selalu menertawakan ramalan bintang, kartu tarot, orang pintar, pembaca nasib. Namun… Padamu kupercaya. Tak masuk logika.” Lagu ‘Tarot’ – By Feast

 

Belakangan ini ada semacam fenomena ‘Polusi Spiritual’ yang terjadi di media sosial (khususnya toktok) mulai dari trend merekam penghancuran guci di altar tua (dengan dalih melepaskan tentara alam bawah yang direkrut sebelumnya oleh Suhu terdahulu) hingga atraksi lenggak lenggok aneh tanpa makna. Sementara spiritualitas kita bergerak semakin hilang makna, di dalamnya penuh orang-orang yang saling serang saling bantah dan saling adu ‘ilmu’. Benarkah spiritualitas kini malah menjadi polusi tanpa makna dalam algoritma saja?

 

A. Apa itu Spiritualisme?

Spiritual dalam sudut pandang filsafat metafisika bisa dimaknai sebagai sesuatu yang luhur, yakni konsep yang dianut oleh berbagai sistem pemikiran, berkenaan dengan adanya realitas immaterial yang tidak dapat dirasakan oleh indra, termasuk sistem pemikiran apa pun yang mengasumsikan adanya pikiran universal atau kekuatan kosmik yang berada di luar jangkauan interpretasi materialistis semata (lannone, 2013). Sementara dalam sudut pandang awam, spiritual dimaknai sebagai “segala yang berhubungan dengan/atau bersifat kejiwaan (rohani, batin)” (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016).

Demikianlah spiritualisme dimaknai sebagai jalan yang mengutamakan kerohanian. Setiap nafas seorang spiritualis harusnya mengutamakan transformasi kerohanian dalam dirinya. Apapun yang rohani selalu ada di ruang sakral yang dimasuki lewat jalan ritual, apapun ritual agamanya, karena dalam ruang sakral itulah lebih mudah terjadi proses transformasi kesadaran dari duniawi ke dalam kesadaran transenden, termasuk di dalamnya ‘menelanjangi’ segala kekotoran dan kekhilafan diri sendiri.

 

B. Ekstase Spiritual

Di tengah proses ritual, seringkali seseorang merasakan perasaan kegiuran dan kebahagiaan yang sangat menggairahkan, perasaan itulah yang disebut sebagai Ekstase, yang dalam konteks religius adalah bentuk perubahan kesadaran yang ditandai dengan berkurangnya kesadaran eksternal dan peningkatan kesadaran mental dan spiritual internal, yang sering disertai dengan penglihatan dan euforia emosional (dan terkadang fisik). tetapi sisi buruk dari Ekstase adalah sifatnya memabukkan. Menjerat manusia seakan akan itulah inti spiritualisme. Sekalipun Ekstase ada di dalam ruang sakral dalam sebuah ritual, tetap saja ia  bukanlah tujuan dari latihan spiritual, karena hakikatnya spiritual adalah transformasi jalan kerohanian seseorang, yang dengannya bisa menjadi versi lebih baik dari kemarin.

Bertemu Ekstase adalah tanda bahwa seseorang telah masuk ke dalam gerbang spiritual yang lebih dalam. Tetapi ketika kita menuruti Ekstase tersebut, pikiran kita tidak akan mampu menjangkau kesadaran transendental yang lebih tinggi. Sebaliknya ia akan mulai menarik pikiran kita kepada kesadaran imanen yang duniawi.

 

C. Polusi Spiritualitas: Atraksi vs Salvasi

Bukti penarikan Ekstase kepada kesadaran imanen yang duniawi biasa disebut dengan “Atraksi”. Ada beragam macam atraksi yang kini dipertontonkan di media sosial kita (Toktok, Facenuk Pro, dll), misal atraksi menusuk pipi dengan Ngo Ya Ciam (Jarum 5 jendral), jalan di atas api, mengaku mendapat visi penglihatan/pendengaran tertentu, hingga trance dan melakukan gerakan tertentu di luar kesadaran.

Meski sebelumnya atraksi sudah menjadi tradisi rakyat dan menjadi bagian dari kebudayaan manusia, kini tidak semua Atraksi dilakukan dengan tujuan keselamatan/soteorologi lewat estetika ritual. Ekstase dalam atraksi kini justru dipertontonkan dalam logika tontonan, yakni sebuah logika yang hidup dalam masyarakat yang hampir segala aspek kehidupannya justru dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan kehidupan (Piliang, 2020).

Kita bisa melihat, orang-orang pelaku Ekstase atraksi di toktok atau bahkan Facenuk Pro justru malah mendapat saweran digital, dinantikan kontennya, bahkan dalam setiap saat jadi bahan perbincangan. Dampaknya terjadilah semacam polusi spiritualitas, di mana spiritualitas tidak lagi bicara Salvasi/penyelamatan dan perkembangan batin ke arah lebih berkesadaran dan mapan, Spiritualitas tercemar menjadi semacam kolam layar tontonan di mana semua masyarakat menjadi penonton dan aktor aktornya adalah para praktisi gadungan yang mempertontonkan aneka atraksi, tidak ada perubahan apapun yang dicapai penontonnya setelah atraksi berakhir selain sebatas “rasa kagum dan takjub” belaka (Piliang, 2011).

 

D. Satire-Parodi Kultivasi Spiritual

Pernah saya menonton film Bhiksu Chikung mengkritisi seorang bhiksu muda yang obsesi pada spiritualitas: 修行修行, 有修还没行 (Kultivasi Kultivasi, sudah berlatih tetapi belum ada pergerakan). Parodi ini menegaskan sebuah latihan yang jalan di tempat di mana pelakunya tidak mendapatkan kemajuan apapun

Belum lagi dalam penyusunan Vinaya Buddhis pernah terjadi seorang Bhikkhu bernama Pindolya-bharadvaja melakukan “Atraksi” terbang mengambil Patta (mangkok Bhikkhu) di atas pohon (Samaggi Phala, 2021). Atas atraksinya Buddha tidak memberinya tepuk tangan melainkan teguran keras bahwa itu jauh dari jalan kehidupan suci (Brahmacariya). Buddha sadar itu semua hanya sensasi yang remeh temeh.

Pada akhirnya mereka yang terjebak dengan fantasmorgana Ekstase Spiritual, mereka hanya berputar putar pada siklus lingkaran penderitaan yang sama, tidak ada perubahan yang berarti. Mungkin dalam prosesnya ia mengalami Ekstase, lalu setelah itu semua menguap kembali. Di sinilah pandangan Taoisme yang menganggap spiritualitas itu tentang menjadi pribadi yang bertransformasi dalam diam dan bertindak alamiah 无为而虚无自然  (Dr. I. D. Lika, 2015; Komjathy, 2008)menjadi tolak ukur yang logis bahwa spiritualis sejati justru pandai menyembunyikan dirinya alih alih mempertontonkan Ekstase belaka.

Jadi apa itu spiritual? Pada akhirnya bukan soal menusuk pipi dengan Ciam, melakukan tarian/gerakan aneh, meramal, dll tetapi soal bagaimana melakukan Salvasi dan transformasi manusia dan batin sendiri menjadi lebih baik.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka

Iannone, A. P. (2013). Dictionary of World Philosophy. Britania Raya: Taylor & Francis.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, K. P. (2016). KBBI VI Daring. Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia. https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Dr. I. D. Lika, Ms. (2015). Dao De Jing – Kitab Suci Utama Agama Tao. Elex Media Komputindo.

Komjathy, L. (2008). Handbooks for Daoist practice = [Xiu dao shou ce].

Marghanita Laski, Ecstasy. A Study of Some Secular and Religious Experiences. The Cresset Press, London, 1961. p. 57

Piliang, Y. A. (2011). Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi. PT Mizan Publika.

Piliang, Y. A. (2020). Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan (A. Adlin (ed.); 2020th ed.). Cantrik Pustaka.

Samaggi Phala. (2021). Mukjizat Kembar di Bawah Pohon Mangga – Samaggi Phala. https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/mukjizat-kembar-di-bawah-pohon-mangga-2/

Gambar: https://image.koreajoongangdaily.com/12582491.webp?imageId=12582491&width=1412&height=940&format=webp Diakses 12 Sep. 26

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?