Oleh: Jo Priastana
“Sumber segala kisah adalah kasih. Angan berawal dari angin. Ibu tak pernah kehilangan iba.
Segala yang baik akan berbiak. Terlampau paham bisa berakibat hampa.”
(Penyair Joko Pinurbo (1962-2024), “Kamus Kecil”)
Istilah atau frase “Isi itu kosong, kosong itu isi”, begitu populer dalam masyarakat dan segala kalangan. Istilah yang terkandung dalam Prajna Paramita Sutra itu berbunyi “form is emptiness, emptiness is form. Bentuk adalah kosong, kosong adalah bentuk. Istilah yang mengungkapkan tentang kekosongan fenomena (sunyata) cerminan Filsafat Buddha.
Buddhadharma mengajarkan tentang anicca, dukkha, anatta atau impermanence, suffering, dan sunyata. Istilah yang mengungkap bahwa segala, benda, fenomena kosong, dan dalam Prajnaparamita Sutra terungkap dalam istilah isi/bentuk adalah kosong, kosong adalah isi/ bentuk.
Kosong juga sering diartikan sebagai void, kekosongan yang mencerminkan bahwa segala bagian memiliki bagian-bagiannya begitu seterusnya dan saling berhubungan. Fenomena adalah kosong atau non-substansial. Kosong bisa juga diartikan sebagai real dan tidak real, nyata dan tiada nyata, ada dan tiada.
Popularitas Tong Sam Cong
Frase “kosong adalah isi dan isi adalah kosong” yang merupakan konsep Buddhisme ini nyatanya juga populer melewati batas-batas komunitas Buddhis. Konsep yang merujuk pada pandangan bahwa realitas sejati tidak dapat dijelaskan dengan bahasa atau konsep, dan bahwa segala sesuatu pada dasarnya tidak memiliki substansi atau “kebenaran yang tetap”. Kosong adalah isi dan isi adalah kosong. Kehidupan ini hanyalah sebuah ilusi dan ilusi ini hanya bisa disadari melalui kehidupan ini. (wikipedia).
Frase “kosong adalah isi dan isi adalah kosong” ini populer dikenal masyarakat luas. Banyak kalangan dari berbagai latar belakang yang mencoba menanggapi dan mengartikannya, sebagaimana terdapat dalam laman “id.quora.com” yang diakses pada 30/5/23. Terdapat sejumlah nama yang mencoba memberikan penjelasan tentang makna “kosong itu isi, isi itu kosong.”
Untuk itu, ada baiknya dan juga tiada salahnya bila kita tuturkan saja di bawah ini beberapa pandangan yang mencoba mengartikan frase “kosong itu isi, isi itu kosong.” Setidaknya untuk memperluas, memperdalam, memperkaya pemahaman kita terhadap frase yang nyatanya dan sesungguhnya juga memiliki pemahaman yang luas, dalam dan mungkin tak berhingga, tak ada batas.
Nisa Asti dalam laman Quora mengungkapkan, “Kosong adalah isi, isi adalah kosong” adalah pernyataan di dalam Sutra Hati (Prajnaparamitahrdaya Sutra) yang sangat diagungkan oleh pengikut Buddha Mahayana. Pengertiannya, segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah tidak tetap.
Sementara Naruto, menjelaskan, Kosong yang dimaksud adalah bahwa segala sesuatu merupakan perpaduan unsur “pembentuknya”, tiada satu materipun yang dapat berdiri sendiri. Segala sesuatu (isi) muncul karena hukum sebab dan akibat yang saling berkaitan. Kosong adalah isi, isi adalah kosong, menyatakan bahwa isi dan kosong itu, hakikatnya tidaklah berbeda. Isi muncul dari kekosongan, dan saat isi lenyap, akan kembali pada kekosongan.
Sedangkan Benny Lim mengungkapkan, “Layaknya gelas kosong, ia memiliki untuk diisi air untuk diminum. Namun gelas yang terisi air perlu untuk diminum, agar air baru bisa diisi lagi. Dengan artian, jika kamu merasa cukup, kamu tidak akan membutuhkan lebih, karena kamu sudah “terisi”. Jika kamu belum merasa cukup, kamu akan ingin sesuatu lagi dan lagi. Si gelas bernama ego dan keinginan kamu semakin membesar, minta diisi air lagi karena masih kosong.
Benny Lim, mengungkapkan bahwa frase itu dipopulerkan oleh Biksu Tong Sam Cong dalam perjalanannya mengambil kitab suci di salah satu episode kera sakti. Suatu filosofi ajaran Buddha. Prinsip dasar ajaran Zen. Prinsip ini mengajarkan bahwa semua hal di dunia ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebagai contoh, sebuah kotak yang kosong tidak benar-benar kosong karena ia memiliki bentuk dan ruang yang memungkinkannya untuk berisi sesuatu (udara).
Demikian juga, isi dari suatu kotak tidak benar-benar ada keberadaannya sendiri tanpa kotak yang menyimpan dan menampilkannya. Prinsip ini menekankan bahwa semua hal di dunia ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain, sehingga tidak ada hal yang benar-benar kosong atau isi tanpa yang lainnya. (Benny Lim, Quora).
Persepsi Berlawanan
Frase tersebut juga bisa dimaknai sebagai permainan persepsi, seperti diungkapkan oleh Jayanti. Menurutnya, persepsi melihat sesuatu dari sudut pandang yang berlawanan. Jika seseorang melihat hanya dari sudut pandang tertentu maka hanya ada kosong, tetapi kalau ia melihat dari sudut pandang yang berlawanan maka yang ada adalah isi, demikian sebaliknya. Tetapi tidak semua orang dapat memiliki sudut pandang yang berlawanan, karenanya ia harus banyak belajar, sehingga muncullah persepsi lain terhadap sesuatu.
Jayanti memberikan contoh mengenai persepsi yang mirip dari “kosong adalah isi, isi adalah kosong”. Adalah ketika gelas yang setengah diisi air. Gelas setengah penuh, gelas setengah kosong. Keduanya salah dan juga keduanya benar, tergantung melihat dari sudut pandang yang mana. Jika gelas diisi penuh dengan air maka ada dua persepsi. Jika seseorang berharap ingin meminum air, maka ia mengatakan gelas itu ada isi. Dan sebaliknya jika seseorang ingin menuangkan susu kedalam gelas tersebut ia tidak mungkin melakukannya, maka gelas tersebut adalah “kosong” dari susu. Jika gelas dikosongkan, maka akan ada dua persepsi: Jika seseorang ingin minum, maka gelas itu kosong, dan jika seseorang ingin menuangkan susu ke gelas, maka gelas itu akan “isi” dengan susu. Persepsi keduanya yang digunakan sebagai dasar mengapa ada istilah “isi adalah kosong, kosong adalah isi.” (Jayanti,dalam Quora)
Senada dengan masalah persepsi itu adalah persamaannya dengan satu koin yang satu atau sama yang memiliki dua sisi. “Seperti koin yang memiliki dua sisi, padahal keduanya berasal dari bentuk yang sama. Semuanya hanyalah persoalan sudut pandang,” demikian diungkapkan oleh Sufren dalam Quora.
Jap Kee Bin mengungkapkan, “Kosong dari isi: yang kosong (dari nafsu keinginan) adalah isi. Isi adalah kosong: yang penuh (dengan nafsu keinginan) adalah kosong. (Jap Kee Bin dalam Quora). “Seperti ada tapi tiada dan tiada tapi ada. Ya dengerin aja. Tuhan, neraka, surga, udara, angin, pikiran,” Ungkap Pandu D.
Popularitas kata “isi itu kosong, kosong itu isi,” bersumber dari Buddhisme. Buddhisme yang hadir berkat Siddhartha melalui perjalanan spiritualnya yang panjang yang bepuncak pada pencerahaan di malam suci sunyi Waisaka. Tentang Buddhism dan kekosongan segala sesuatu ini, Norman Fischer, American Poet, writer and Zen teacher mengungkapkan:
“Buddhism’s signature doctrine of emptiness is simple enough to understand intellectually: everything is transitory and without essence. But it’s a long journey to really seeing that nothing is real in the way we think it is” (JP). **
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
sumber gambar: https://id.quora.com/Apa-makna-dari-kosong-adalah-isi-dan-isi-adalah-kosong