Praktik Ajaran Buddha Dalam Bisnis: Agar Bisnis Bertahan Lama

Home » Artikel » Praktik Ajaran Buddha Dalam Bisnis: Agar Bisnis Bertahan Lama

Dilihat

Dilihat : 99 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 2
  • 38
  • 33,966
Praktik Ajaran

Oleh: Anggi
Email:
Anggdamara608@gmail.com

 

A. Pendahuluan:

Pada saat ini masih banyak umat Buddha yang belum menerapkan ajaran Buddha Dharma dalam kehidupannya sehari-hari. Banyak diantara umat Buddha tersebut tidak memahami penerapan ajaran Buddha pada mata pencahariannya. Umat Buddha pun semata hanya cenderung mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Beberapa di antara umat Buddha tersebut menggunakan kekayaan yang diperolehnya tersebut dengan tidak bijaksana, sehingga mengakibatkan kebahagiaan itu menjauh. Tentunya ini dapat berpengaruh pada kesejahteraan rumah tangga, apabila kondisi keuangan dalam rumah tangga tersebut bermasalah. Hal ini selaras dengan sabda Sang Buddha yang menyatakan bahwa salah satu cara untuk memperoleh kebahagiaan adalah melalui kekayaan, yakni atthisukham. 

 

B. Pembahasan:

Penyuluhan mengenai implementasi ajaran Buddha agar bisnis dapat bertahan lama. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan, agar implementasi ajaran Buddhis dalam berbisnis bisa bertahan lama:

  1. Bisnis adalah kewajiban dan disebut sebagai aktivitas bertujuan menurut (Merriam Webster, 
      2021), sedangkan dharma adalah sesuatu yang mencegah kita dari mengalami penderitaan. 
      Jika dua hal ini dipadukan yaitu menjalankan bisnis sesuai dengan dharma maka selain
        diperoleh kekayaan juga kebahagiaan. Banyak umat yang memiliki kekayaan yang namun
        tidak bahagia. 
  2. Bagi umat awam yang masih pelajar dan sudah berumah tangga yang masih menikmati
      kesenangan inderawi harus mampu berbisnis dan menjalani hidup demi kebahagiaan dan 
      kesejahteraan di kehidupan ini dan di kehidupan-kehidupan mendatang. Kekayaan yang
        dikumpulkan dengan kebijaksanaan bagai sinar daripada kobaran api dan benar bagaikan
        madu tanpa merusak bunga akan mendukung terciptanya kehidupan rumah tangga yang
        layak dan nyaman, serta persahabatan.
  3. Dalam rumah tangga diperlukan persatuan arah dan tujuan untuk membangun kesuksesan 
      berdasarkan 3 landasan, yakni: 

    (a) Menghilangkan halangan dari dalam diri sendiri; 

    (b) Memiliki keyakinan akan potensi diri sendiri; dan 

    (c) Mengandalkan diri sendiri dan mengembangkan kemandirian.

       4. Adapun strategi umum dalam berbisnis adalah berupa mindset sebagai berikut:

  1. Upaya dan inisiatif secara konsisten; 
  2. Perhatian dan kewaspadaan; 
  3. Sahabat yang mendukung; 
  4. Menjaga kehidupan yang seimbang; 
  5. Peka terhadap peluang; 
  6. Memahami hukum sebab-akibat; 
  7. Memahami konsep ketidakkekalan; 
  8. Keharmonisan; 
  9. Kreativitas; serta 
  10. Kemampuan untuk menghasilkan.

 

  1. Sang Buddha dalam ajaran-Nya juga menyarankan untuk membagi kekayaan (Lihat DN31 Sigalovada Sutta) menjadi empat bagian, yakni: 
  1. Satu bagian (25%) untuk biaya hidup dan pemenuhan kebutuhan lainnya; 
  2. Dua bagian (50%) untuk modal usaha; 
  3. Satu bagian (25%) untuk cadangan keadaan sulit.

Kekayaan dalam ajaran Buddha sendiri merupakan salah satu dari empat jenis kebahagiaan (cattārimāni sukhāni), yakni kebahagiaan memiliki kebahagiaan (atthisukham).

 

C. Etika Dalam Berbisnis:

Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan makhluk lain dalam suatu hubungan saling ketergantungan. Ada yang menjadi petani, kemudian manusia ada yang menjadi distributor dan ada pula yang menjadi penjual hasil panen dan ada pembeli. Hubungan timbal balik antara satu dengan yang lain dan membutuhkan antara satu dengan yang lain itulah hubungan yang terjadi diantara manusia. Dalam bekerja manusia tidak harus bekerja dengan manusia yang lain, manusia dapat membuka suatu lapangan kerja bagi diri manusia itu sendiri atau berbisnis sendiri. Menurut etika yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam berbisnis dan membangun usaha atau bermata pencaharian hendaknya:

C1. Tidak melanggar Pancasila Buddhis

Dalam hidup manusia memiliki berbagai macam aktifitas, dari semenjak bangun tidur hingga kembali tidur. Manusia pada dasarnya menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang dapat dirasakan ketika mendapatkan apa yang diharapkan maupun yang dicita-citakan. Dalam keseharian tingkah laku manusia melaksanakan Pancasila Buddhis. Tidak hanya tidak membunuh atau sengaja merugikan makhluk lain, namun juga menebarkan niat bajik terhadap seluruh makhluk. Jujur, menahan diri dari penyalahgunaan hak milik makhluk lain dengan kata lain tidak mencuri. Dengan sadar tidak berlebihan dalam menjalin hubungan seksual. Dalam kehidupan berumah-tangga manusia berlaku struktur keluarga dimana terdapat seorang suami dan seorang istri berbicara jujur. Seseorang dalam hidupnya seyogyanya lurus, jujur dan tulus. Menahan diri dari meminum minuman keras atau mengkonsumsi narkoba. Manusia yang memiliki sila akan meningkatkan kualitas dirinya sendiri.

C2. Tidak menyakiti mahluk lain

Manusia dalam menjalankan usaha yang telah didirikan dan dimiliki membutuhkan suatu bisnis dan kerja keras. Suatu bisnis tidak akan begitu saja berdiri dan berjalan dengan mudah, dibutuhkan suatu perjuangan awal yang membutuhkan pengorbanan, keuletan, semangat dan teman yang baik yang dapat membantu. Bila memiliki pasangan, pasangan inilah yang menjadi teman berbagi, berkeluh kesah dan mencari pemecahan masalah serta solusi dari masalah-masalah yang dihadapi dalam menjalankan usaha yang dimiliki manusia tersebut. Dalam menjalankan suatu usaha atau bisnis tidak jarang terdapat manusia yang memiliki pandangan salah membuat suatu bisnis yang menyakiti makhluk lain.

C3. Tidak merugikan makhluk lain

Manusia merupakan makhluk sosial yang terkadang individualis dalam menjalankan suatu bisnis yang dimiliki, manusia melakukan berbagai macam cara dan upaya dilakukan. Manusia dalam menjalankan bisnis yang telah didirikan dan dimiliki membutuhkan suatu usaha dan kerja keras. Suatu usaha tidak akan begitu saja berdiri dan berjalan dengan mudah, dibutuhkan suatu perjuangan awal yang membutuhkan pengorbanan, keuletan, semangat yang membara tidak mudah putus asa dalam berjuang untuk menjalankan usaha yang dimiliki manusia itu sendiri. Mata pencaharian yang benar adalah mata pencaharian atau suatu pekerjaan yang tidak merugikan makhluk lain dan juga tidak merugikan diri sendiri. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut: 

  1. Mata pencaharian atau pekerjaan yang tidak mengakibatkan pembunuhan atau hilangnya
      atau terpisahnya antara rupa dan nama makhluk. 
  2. Mata pencaharian yang wajar atau halal. 
  3. Mata pencaharian yang tidak berdasarkan penipuan. 
  4. Mata pencaharian yang tidak berdasarkan ilmu yang rendah atau sering dikenal dengan
      istilah ilmu perdukunan.

 

D. Kesimpulan:

Dapat disimpulkan bahwa implementasi ajaran Buddha dapat mempertahankan kegiatan bisnis menjadi lebih tahan lama, sehingga akan mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat perumah tangga yang masih hidup dalam keduniawian, serta turut berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan ajaran Buddha.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber referensi:

Kumari, W., Selwen, P., Lisniasari, L., & Siu, O. C. (2021). Penyuluhan Kemandirian Peserta Didik Sekolah Minggu Buddha Melalui Loka Shanti Camp Di Vihara Loka Shanti Kota Medan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bodhi Dharma, 1(1), 1-10.

—————. 1998. Kitab Suci Buddhis Itivuttaka. Bandung: Institut Anagarini Indonesia, Sangha Theravada Indonesia.

Sutta Khanda-Vagga, Dhammacakkappavattana Sutta, Anutara-pali Sutta

Foto: Helmi Fithriansyah, https://www.liputan6.com/photo/read/2277241/aktivitas-perdagangan-di-pasar-tradisional-masih-sepi-pasca-lebaran?page=5.

Butuh bantuan?