Qin Shi Huang 秦始皇 (qín shǐ huáng)

Home » Artikel » Qin Shi Huang 秦始皇 (qín shǐ huáng)

Dilihat

Dilihat : 32 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Qin Shi Huang pic 1

Oleh: Suyena Adegunawan, S.H., S.E., M.M., M.Hum.

(陳 書 源 Tan Su Njan)

*) Suyena Adegunawan adalah penulis serta kompilator buku dan artikel Agama Khonghucu, filsafat, sejarah, budaya dan bahasa Tionghoa tinggal di Kabupaten Bandung.

 

Hanya kebajikan berkenan kepada Tuhan.

惟德動天

 

Qin Shi Huang 秦始皇

1. Latar Belakang

Peradaban Tiongkok berkembang di sekitar Sungai Kuning 黃河 (huáng hé), di daerah aliran sungai sebelah utara Propinsi Henan 河南省 (hé nán shěng) sekarang, daerah yang meliputi sebagian besar bagian timur laut dari dataran Tiongkok disebut Zhong Yuan 中原 (zhōng yuán). Di daerah ini berkembang jadi pusat peradaban Tiongkok kuno, banyak peningggalan sejarah ada di sini. Pada tahun 1122-256 SM berdiri Dinasti Zhou, Zhou Chao 周朝 (zhōu cháo) atau Zhou Dai 周代 (zhōu dài).

Pada jaman Dinasti Zhou, raja dianggap mendapat perintah dari Tuhan atau Tian Ming 天命 (Mandate of Heaven). Tuhan yang disebut Tian 天 (tiān) atau Shangdi 上帝 (shàng dì; Lord of High) menganugrahkan kekuasaan duniawi dalam bentuk negara kepada orang terpilih yang dianggap mampu memimpin suatu negara. Penguasa Dinasti Zhou bergelar raja wang 王 (wáng). Pendiri dan raja pertama Dinasti Zhou yang sangat dihormati dan dipuja oleh bangsa Tionghoa hingga saat ini adalah Zhou Wen Wang 周文王 (zhōu wén wáng) dan anaknya Zhou Wu Wang 周武王 (zhōu wǔ wáng).

Berdasarkan sistem politik feodalisme, fengjian zhidu 封建制度 (fēng jiàn zhì dù, feudal system), wilayah kerajaan dibagi menjadi beberapa negara setingkat feoda besar-kecil yang disebut negara, guo 国 (guó) atau zhuhou guo 诸侯国 (zhū hóu guó, feodal states; vassals), tiap zhuhou guo ada berapa negeri lagi. Kepala negaranya adalah raja muda atau wali negara disebut zhuhou 诸侯 (zhū hóu) atau guojun 国君 (guó jūn) atau junzhu 君主 (jūn zhǔ).

Biasanya yang memerintah di negara feoda adalah kerabat istana atau jenderal perang yang berjasa menguasai daerah tersebut. Raja memberi daerah kekuasaan kepada mereka yang berjasa bagi kerajaan, daerah kekuasaan itu disebut lingdi 领地 (lǐng dì) atau fengdi 封地 (fēng dì) atau feuda. Di atas negara daerah feuda itu mereka mendirikan negara yang kekuasaannya diwariskan turun-temurun, zhuhou memakai gelar raja muda atau gong 公 (gōng).

Beberapa negara feodal yang terkenal adalah Jin 晋 (jìn), Chu 楚 (chǔ), Qi 齐 (qí), Qin 秦 (qín), Zheng 郑 (zhèng), Song 宋 (sòng) [keturunan dari keluarga Shang 商 (shāng)], Chen 陈 (chén), Cai 蔡 (cài), dan Wei 卫 (wèi) dan Lu 鲁 (lǔ).

 

2. Jaman Negara Berperang

Dalam rentang waktu sejarah Tiongkok ada jaman yang disebut Jaman Negara-negara Berperang atau Zhanguo Shidai 战国时代 (zhàn guó shí dài) (Warring States Period) berlangsung tahun 475-221 SM. Pada jaman ini nyata bahwa pembagian wilayah Kerajaan Zhou menjadi negara-negara besar-kecil zhuhou guo menjadi masalah besar. Negara-negara feoda ini selalu dalam keadaan siap perang perluasan teritorial. Selain menghadapi serangan suku-suku bangsa pengembara dari utara, raja juga tidak mampu berbuat apa-apa ketika negara-negara feodanya saling menyerang, melakukan ekspansi, menganeksasi satu terhadap yang lain. Daratan Tiongkok merupakan medan perang saudara. Pembesar kerajaan, feoda dan jenderal saling memperalat dan perang-memerangi, desintegrasi negara, pemberontakan, dan banyak terjadi kejahatan, penegakan hukum tidak jelas. Di sisi lain jenderal dan bangsawan dalam tiap feoda ketika merasa mendapat dukungan rakyat juga melakukan kudeta atau gerakan separatis, kemudian timbul feoda baru. Berbagai penyimpangan dilakukan oleh aparatur pemerintah. Kondisi sosial Tiongkok pada saat itu menunjukkan ketidakteraturan, degradasi moral dan anarkisme.

Dalam opini klasik ada pepatah jika perang saudara yang terus-menerus selalu mengorbankan rakyat. Bagi kepala suku atau wali negara, nyawa, darah, keringat, tenaga dan harta rakyat tidak ada nilainya dibandingkan dengan kekuasaan yang mereka kejar. Bencana kelaparan, wabah penyakit, kerusakan infrastruktur sosial merupakan hal biasa. Kondisi itu sudah terkenal dalam idiom klasik Bahasa Tionghoa sebagai aihong bianti 哀鸿遍地 (āi hóng biàn dì) artinya ladang dengan tangisan duka angsa liar; maksudnya lahan penyebaran korban bencana alam atau perang yang terlantar; karena keadaan politik, sosial dan ekonomi suatu negara yang sangat buruk, rakyat hidup dalam penderitaan.

Sebelum Jaman Negara-negara Berperang ada lebih dari 200 negara, setelah negara-negara saling menguasai, tinggal 7 negara besar yang saling bermusuhan satu sama lain. Negara-negara tersebut adalah:

  1. Negara Qin 秦国 (qín guó), menguasai wilayah Propinsi Shaanxi 陕西省 (shǎn xī shěng) sekarang;
  2. Negara Chu 楚国 (chǔ guó), menguasai wilayah Propinsi Hunan湖南省(hú nán shěng), Propinsi Hubei 湖北省 (hú běi shěng) sekarang;
  3. Negara Han 韩国 (hán guó), menguasai wilayah Propinsi Shanxi山西省 (shān xī shěng) sekarang;
  4. Negara Qi 齐国 (qí guó), menguasai wilayah Propinsi Shandong山东省 (shān dōng shěng) sekarang;
  5. Negara Zhao 赵国 (zhào guó), menguasai wilayah Propinsi Hebei河北省 (hé běi shěng), Daerah Otonomi Khusus Mongolia Dalam内蒙古自治政府 (nèi měng gǔ zì zhì zhèng fǔ) dan Propinsi Shanxi sekarang;
  6. Negara Wei 魏国 (wèi guó), menguasai wilayah Propinsi Henan河南省 (hé nán shěng) sekarang;
  7. Negara Yan 燕国 (yàn guó), menguasai wilayah Propinsi Hebei河北省 (hé běi shěng)

Ketujuh negara ini sering disebut sebagai Tujuh Pahlawan Negara-negara Berperang Zhanguo Qixiong 战国七雄 (zhàn guó qī xióng).

 

Peta Jaman Negara-negara Berperang               

Sima Qian 司马迁

 

Menurut Buku Catatan Sejarah 《史记》(shǐ jì) karya Sima Qian司马迁 (sī mǎ qiān), Negara Qin semula hanya merupakan keluarga sudah ada sejak abad ke-2 SM, didirikan oleh keturunan dari Zhuanxu 颛顼 (zhuān xū) atau Gaoyang 高阳 (gāo yáng), kemudian menjadi negara yang merupakan vassal dari Kerajaan Zhou. Raja pertama bernama Qin Xiang Gong 秦襄公 (qín xiāng gōng) memerintah tahun 833-766 SM, ia mendirikan marga Ying 嬴 (yíng). Negara Qin menjadi besar karena raja-raja mementingkan sumber daya manusia unggul dalam mengelola negara, di antaranya yang menjadi perdana menteri di Negara Qin adalah: Baili Xi 百里奚 (bǎi lǐ xī), Jian Shu 蹇叔 (jiǎn shū), Shang Yang 商鞅 (shāng yāng), Zhang Yi 张仪 (zhāng yí), Lu Buwei 吕不韦 (lǚ bù wéi), Li Si 李斯 (lǐ sī).

 

3. Keadaan Keluarga

Dalam Buku Catatan Sejarah  disebutkan Qin Shi Huang lahir tahun 259 SM. Ketika lahir bernama Ying Zheng 嬴政 (yíng zhèng), ia anak Raja Qin ke-30 Qin Zhuang Xiang Wang 秦庄襄王 (qín zhuāng xiāng wáng  – memerintah tahun 249-247 SM). Ibunya bernama Zhao Ji 赵姬 (zhào jī) berasal dari kota Handan 邯郸 (hán dān) di Negara Zhao 赵国 (zhào guó).

Qin Zhuang Xiang Wang 秦庄襄王     

Lu Buwei吕不韦       

Zhao Ji 赵姬 Queen Dowager Zhao

 

Sebenarnya Ying Zheng adalah anak Zhao Ji dengan Lü Buwei吕不韦 (lǚ bù wéi), seorang pegawai di istana kerajaan Qin. Sebelum diambil sebagai selir oleh Qin Zhuang Xiang Wang, Zhao Ji sedang hamil, hasil hubungan di luar nikah dengan Lu Buwei. Dengan perencanaan yang matang Lu Buwei berhasil memperkenalkan dan akhirnya Qin Zhuang Xiang Wang menikah dengan Zhao Ji. Sejak kecil Ying Zheng dididik oleh Lü Buwei yang merupakan ayah biologisnya.

Sampai akhir hayatnya Zhao Ji dan Lü Buwei merahasiakan hal ini, Lü Buwei tidak pernah mengakui Ying Zheng sebagai anaknya, karena akan membahayakan kedudukan Ying Zheng sebagai pewaris tahta Qin Zhuang Xiang Wang.

Qin Zhuang Xiang Wang mempunyai istri lain bernama Han Ji 韩姬  (hán jī), pasangan ini dikaruniai anak bernama Ying Chengqiao 嬴成蟜 (yíng chéng qiáo)

Pada tahun 247 Qin Zhuang Xiang Wang wafat karena sakit, pada saat akan menghembuskan napas, Lü Buwei berhasil memperdaya Qin Zhuang Xiang Wang untuk membuat surat wasiat mewariskan tahtanya kepada Ying Zheng, akhirnya Ying Zheng menjadi Raja dengan dengan sebutan Qin Wang 秦王 (qín wáng). Lü Buwei吕不韦 diangkat sebagai perdana menteri xiang bang 相邦 (xiāng bāng) atau cheng xiang丞相 (chéng xiàng).

Selama pemerintahannya hubungan antara Ying Zheng dengan Ying Chengqiao tampaknya baik, Ying Chengqiao mengakui dan menghormati Ying Zheng sebagai Raja Qin, tetapi dia minta diangkat sebagai jenderal kepala pasukan Negara Qin. Hal ini menimbulkan kecurigaan bagi Raja Qin, bahwa kalau Ying Chengqiao menguasai tentara, dia akan memberontak. Maka untuk menghindari konflik horizontal, Ying Chengqiao diangkat sebagai panglima perang, tetapi tidak pernah diizinkan mengerahkan tentara.

Suatu saat Ying Chengqiao bersama pasukannya melakukan serangan ke negara Negara Zhao 赵国 (zhào guó). Serangan itu menimbulkan rasa malu, kerena Qin sebagai negara besar tidak berhasil mengalahkan kecil dan lemah. Ying Chengqiao memberontak kepada Qin Wang di Distrik Tunliu 屯留 (tún liú) dan menyerah kepada Negara Zhao. Pada tahun 239 SM, pasukan Qin menyerbu Negara Zhao dan Ying Chengqiao terbunuh dalam peperangan.

Qin Wang mempunyai 2 orang ahli pemerintahan sebagai penasihat, yaitu Li Si 李斯 (lǐ sī) dan Han Fei  韓非 (hán fēi). Li Si (李斯) penganut filsafat aliran legalisme 法家 (fǎ jiā) yang direkrut oleh Lü Buwei sebagai guru untuk Ying Zheng. Han Fei adalah tokoh utama aliran legalisme. Kedua penasihat ini dalam sejarah filsafat Tiongkok disebut Fajia 法家 (fǎ jiā) legalists ajaran hukum atau legalism School of Law, memperjuangkan:

  • sifat dasar manusia tidak egois;
  • untuk melestarikan tatanan sosial harus menerapkan disiplin dan memastikan penegakan hukum yang ketat;
  • negara berdaulat di atas segalanya,;
  • tugas negara adalah mencari kemakmuran dan kesejahteraan rakyat;
  • cara paling tepat untuk memerintah adalah menerapkan konsepsi pasif, Wu Wei 无为 (wú wéi).

Han Fei  韓非                

                               Li Si 李斯                                  Zhao Gao 赵高

 

Di samping dua orang ahli dalam istana, Qin Wang mempunyai pembantu pribadi yang setiap saat mendampinginya, ia bernama Zhao Gao 赵高 (zhào gāo), seorang kasim.

 

4. Ekspansi Ke Seluruh Dunia.

Istilah dunia pada waktu itu disebut tianxia 天下 (tiān xià) artinya bawah langit, maksudnya seluruh dunia atau Zhong Yuan. Sejak Ying Zheng menjadi Qin Wang, fokus politik penyelenggaraan pemerintahannya adalah mempersatukan dunia 统一天下 (tǒng yī tiān xià), semua kegiatan negara dan masyarakat dianggap penting kalau ada hubungan dengan mempersatukan dunia.

Kegiatan latihan militer dan pelajaran siasat perang zhance 战策 (zhàn cè) menjadi pemandangan sehari-hari. Pembantu raja yang akan menduduki jabatan dalam pemerintahan jika mengerti pengerahan tentara dan strategi perang.

Salah seorang jenderal kesayangan Qin Wang adalah Meng Tian 蒙恬 (méng tián). Di bawah pimpinan Jenderal Meng Tian, tentara Negara Qin menguasai negara-negara lain di Zhong Yuan:

  • tahun 230 SM: menguasai Negara Han;
  • tahun 228 SM: menguasai Negara Zhao;
  • tahun 227 SM: menguasai Negara Yan;
  • tahun 225 SM: menguasai Negara Wei;
  • tahun 224 SM: menguasai Negara Chu;
  • tahun 222 SM: menguasai Negara Zhao dan Negara Yan;
  • tahun 221 SM: menguasai Negara Qi;

setelah Negara Qi jatuh, Negara Qin satu satunya kerajaan yang berkuasa di dataran Zhong Yuan, untuk pertama kali dan seterusnya kaisar selalu mempersatukan Tiongkok.

Peran Meng Tian lainnya adalah peperangan melawan serangan tentara Mongol 蒙古 (měng gǔ) dan Xiong Nu 匈奴 (xiōng nú) di utara.

 

5. Dinasti Qin Sebagai Sentral Hegemoni Tiongkok

Setelah mempersatukan Tiongkok, Negara Qin 秦国 (qín guó) berubah nama menjadi Dinasti Qin, Qin Chao 秦朝 (qín cháo) atau Qin Dai 秦代 (qín dài). Ying Zheng menamakan dirinya Huang Di 皇帝 (huáng dì) artinya kaisar, beda dengan sebelumnya disebut Qin Wang 秦王 (qín wáng) artinya Raja Qin. Gelar Huang Di adalah gabungan huruf Huang 皇 (huáng) dan Di 帝 (dì), dengan demikian ia ingin dipersamakan kedudukannya dengan Tiga Maharaja dan Lima Kaisar三皇五帝, yaitu tokoh-tokoh yang menguasai langit, bumi dan manusia dalam legenda Tiongkok kuno. Bahkan kata Di 帝 (dì) sering diasosiasikan dengan Tuhan, Shang Di 上帝 (shàng dì). Untuk selanjutnya raja-raja pemegang hegemoni kekuasaan di daratan Tiongkok memakai gelar Huang Di, sampai runtuhnya Dinasti Qing tahun 1912. Lebih jauh gelarnya adalah Shi Huangdi 始皇帝 (shǐ huáng dì), yang bermakna Kaisar Pertama, selengkapnya Qin Shi Huangdi  秦始皇帝 (qín shǐ huáng dì) artinya Kaisar Qin Pertama.

Kebijaksanaan baru yang dijalankan adalah menghapus sistem politik feodalisme, fengjian zhidu 封建制度 (fēng jiàn zhì dù, feudal system). Pada jaman Dinasti Zhou saudara raja atau jenderal yang berjasa diberi daerah untuk didirikan kerajaan serta dibiarkan berkuasa turun temurun. Pada jaman Qin Shi Huang, kekuasaan pemerintahan dipusatkan di tangan kaisar. Kaisar mempunyai kekuasaan absolut, para menteri mempunyai hak untuk memberikan pandangan dan nasihat dalam penetapan kebijakan pemerintahan namun perdana menteri sekalipun tidak punya hak untuk memutuskan kebijakan. Perdana menteri menjalankan pemerintahan, sedangkan 2 wakil perdana menteri masing-masing bertugas sebagai pelaksana militer dan pemeriksa (kontrol pemerintahan).

Akibat kekuasaan absolut dan sentralisasi kekuasaan:

  1. Pemerintahan berjalan anarkhis, tidak ada aturan yang jelas, pada jaman Dinasti Zhou ada Kitab Zhou Li 周礼 (zhōu lǐ) yang merupakan petunjuk ritual kerajaan dan pedoman bagi raja untuk menjalan pemerintahan menuju kesejahteraan rakyat.
  2. Para jenderal dan kerabat kerajaan yang dulu sekuat tenaga membantu Qin Wang menundukkan negara-negara di Tiongkok, sekarang kecewa karena tidak mendapatkan daerah kekuasaan.
  3. Hubungan antara rakyat dengan raja sangat jauh, Raja di ibu kota negara, mengingat wilayah kekuasaan Dinasti Qin yang sangat luas, pengaruh kebijaksanaan kaisar tidak sampai ke rakyat. Hal ini menyebabkan rakyat jadi korban kesewenang-wenangan penguasa di daerah.
  4. Para jenderal dan cendekiawan kerajaan ahli strategi perang, sekarang tidak diperlukan lagi karena perang sudah selesai, negara sudah damai. Mereka diminta meletakkan senjata dan mengambil cangkul untuk kembali ke sawah.
  5. Sistem pembagian tanah fengdi 封地 (fēng dì) kepada pejabat negara adalah aturan kerajaan yang dituangkan dalam berapa ketentuan dalam buku-buku Rujia 儒家 (rú jiā), aliran yang dipelopori oleh Kong Zi 孔子 (kǒng zǐ). Penghapusan sistem feoda menyebabkan terjadinya pertentangan antara tokoh Rujia dan tokoh Fajia 法家 yang dimotori oleh Li Si 李斯 (lǐ sī). Untuk mengatasi masalah ini Qin Shi Huang dan Li Si mengeluarkan perintah: pembakaran seluruh buku agama Rujia, dan melarang semua aliran pikiran yang berkembang pada jaman itu. Hanya aliran Fa Jia yang boleh berkembang.

Adanya pertentangan hebat antara berbagai aliran filsat di satu sisi dan Fajia 法家 di sisi lain, sedang salah satu tokoh Fajia adalah Li Si, tangan kanan Qin Shi Huang. Oleh sebab itu kaisar memerintahkan pembakaran kitab-kitab klasik berbagai aliran di luar Fajia, hal ini disebut fenshu焚书 (fén shū).

Fenshu焚书, waktu itu kitab terbuat dari lempengan bambu zhujian 竹简  (zhú jiǎn)

 

6. Proyek Kaisar Qin Shi Huang.

Selama puncak kekuasaannya, Qin Shi Huang melakukan dan membangun proyek besar-besaran, saat itu dalil dalam pemerintah adalah: perang sudah selesai, rakyat kembali ke sawah. Anjia shubing 按甲束兵 (àn jiǎ shù bīng) mengistirahatkan pasukan, meletakkan senjata, menanggalkan pakaian perang; menghentikan perang bicara perdamaian. Jiejia guitian 解甲归田 (xiè jiǎ guī tián) menanggalkan pakaian perang kembali ke sawah.

Kenyataannya Qin Shi Huang menggagas proyek besar yang pelaksanaannya diawasi sendiri dengan membebankan target berat kepada pengawas di lapangan, jika target tidak tercapai, petugas akan dipenggal kepalanya. Karena ancaman hukuman ini petugas di lapangan berlaku bengis kepada pekerja.

Proyek yang dijalankan Qin Shi Huang di antaranya:

1)    Untuk unifikasi dan kesederhaan pemerintahan di Negara Qin dan negara-negara yang ditundukkannya. Kaisar Qin Shi Huang memerintahkan kepada Li Si untuk menyatukan unit satuan mata uang, satuan ukuran berat, panjang dan takaran volume tongyi duliang heng 统一度量衡 (tǒng yī dù liáng héng). Tulisan yang berbeda untuk tiap daerah diseragamkan.

2)    Berdasarkan tulisan segel besar 大篆 (dà zhuàn) yang biasa digunakan oleh orang-orang Qin selama Periode Negara-Negara Berperang, Li Si menciptakan sistem aksara baru dengan bentuk seragam dan goresan sederhana, yang disebut “Qin Zhuan” 秦篆 (qín zhuàn), juga sekarang dikenal sebagai “Xiaozhuan” 小篆 (xiǎo zhuàn), sebagai karakter normatif resmi, juga akan menghapus karakter varian lainnya. Sistem aksara resmi mematahkan tradisi aksara Tiongkok kuno, meletakkan dasar unifikasi aksara biasa dan meningkatkan efisiensi penulisan.

3)    Jarak antara sumbu roda kereta kuda disamakan che tong gui 车同轨 (chē tóng guǐ) untuk memudahkan pembangunan jalan antar wilayah kerajaan.

4)    Qin Shi Huang juga memerintahkan perbaikan dan pembangunan tembok besar xiuzhu changcheng 修筑长城 (xiū zhù cháng chéng) yang sebelumnya telah dibangun pada masa Dinasti Zhou untuk menahan serangan dari bangsa Xiong Nu di utara.

5)    Membangun Istana E Pang 阿房宫 (ē páng gōng).

E Pang 阿房 (ē páng) adalah kompleks istana untuk Qin Shi Huang dan keluarganya sekarang terletak di Gunung Li Shan 骊山 (lí shān), sekarang Kota Xi-an西安市 (xīān shì), Propinsi Shaanxi, 陕西省 (shǎn xī shěng), dibangun dengan mengerahkan tenaga kerja paksa lebih dari 700.000 orang, sampai keruntuhan Dinasti Qin pembangunannya tidak selesai. Tujuan pembangunan istana ini adalah untuk menunjukkan wibawa dan kekuasaan Qin Shi Huang.

      

Rekonstruksi Istana E Pang  阿房宫

 

Sketsa Istana E Pang 阿房宫

Pembangunan Tembok Besar 长城

 

6)    Pembangunan kompleks makam dengan selaksa patung pasukan dan kereta perang, terletak di Gunung Li Shan, maka disebut Pemakaman Li Shan 骊山陵 (lí shān líng), sekarang Kota Xi-an, Propinsi Shaanxi.

Qin Shi Huang berkeyakinan jika ia wafat, harus disiapkan kompleks bangunan makam mewah dengan 10.000 pasukan bingmayong 兵馬俑 (bīng mǎ yǒng), saat ini terkenal sebagai pasukan terakota, Kota Xi-an西安市, Propinsi Shaanxi.

 

Pasukan terakota 兵馬俑

 

7. Akhir Hayat

Setelah Qin Shihuang menyatukan 6 negara, untuk membuat Dinasti Qin bertahan selama 10.000 tahun, dia mencari orang-orang berbakat yang mengetahui lokasi Penglai 蓬莱, berharap mendapatkan obat mujarab dan keabadian长生不老 (cháng shēng bù lǎo). Seorang ahli kimia Xu Fu 徐福mengunjungi Qin Shi Huang dan berkata bahwa dia bisa menemukan pulau abadi Penglai 蓬莱仙岛 (péng lái xiān dǎo) dan mendapatkan obat umur panjang 长生药(cháng shēng yào) untuk Qin Shi Huang. Qin Shi Huang sangat gembira, jadi dia mengirim Xu Fu untuk membawa 3.000 anak laki-laki dan perempuan ke laut untuk mencari obat. Tapi Xu Fu menghilang setelah dia pergi ke laut dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Harapan Qin Shi Huang bisa menemukan rahasia kehidupan abadi, tetapi usahanya sia-sia.

Pada tahun 210 SM Qin Shi Huang melakuan perjalan inspeksi negara ke wilayah utara wilayah kerajaan. Dalam perjalanan Qin Shi Huang mangkat jiabeng 驾崩 (jià bēng) di tempat yang disebut Istana Bukit Pasir 沙丘宫 (shā qiū gōng), sekarang Propinsi Hebei, kota Xingtai 邢台市 (xíng tái shì).

Qin Shi Huang mempunyai dua orang putra dari dua istri: Fu Su 扶苏 (fú sū), yang seharusnya menjadi penerus Qin Shi Huang dan Hu Hai 胡亥 (hú hài).

Pada saat mangkat Qin Shi Huang hanya didampingi oleh Zhao Gao, Qin Shi Huang menyuruh Zhao Gao membuat surat wasiat mengangkat Fu Su sebagai penggantinya. Setelah meninggal Zhao Gao dan Li Si bersekongkol membuat mandat palsu. Pangeran Hu Hai yang masih muda dan intelektualnya lebih rendah dari putra mahkota Fu Su, ditunjuk sebagai penerus takhta dengan sebutan Qin Er Shi  秦二世 (qín èr shì) atau Er Shi Huang Di 二世皇帝 (èr shì huáng dì).

Makam Qin Shi Huang 秦始皇陵

 

惟德動天 Salam Kebajikan

善哉 Shanzai.

Butuh bantuan?