Ratu Adil Wairocana – Dhyani Buddha Di Hati Wong Cilik

Home » Artikel » Ratu Adil Wairocana – Dhyani Buddha Di Hati Wong Cilik

Dilihat

Dilihat : 51 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 0
  • 38
  • 33,964
Pic 2424 Foto by Budi Ubrux

Oleh: Jo Priastana

 

“Adil ialah menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak yang empunya dan jangan berlaku zalim di atasnya. Berani menegakkan keadilan, walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian.”

(Buya Hamka, 1908-1981, Ulama, Aktivis dan Sastrawan Indonesia)

 

Bapak Sejarah Indonesia Sartono Kartodirdjo pernah menulis buku kecil yang berjudul ‘Ratu Adil’. Sebuah gagasan tentang ‘juru selamat’ yang akan mewujudkan abad keemasan dengan gerakan perlawanan yang bersifat milenaristis. Milenarisme atau milenarianisme adalah suatu keyakinan oleh suatu kelompok atau gerakan keagamaan sosial, atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat dan setelah itu segala akan berubah ke arah yang positif (wikipedia).

Gerakan perlawanan rakyat tidak selalu meninggalkan kepercayaan terhadap yang transenden. Milenarisme sebagai sebuah gerakan sosial perlawanan rakyat juga berkaitan dengan gagasan perang suci yang dipimpin oleh kiai berkaitan dengan Mitos Ratu Adil yakni Raja Kebenaran yang akan membebaskan orang dari penyakit, kelaparan, dan setiap jenis kejahatan. Gerakan milenarisme juga tercermin semasa perang Diponegoro (1825-1830) dengan sebutan Erucakra sebagai Ratu Adil.

Sebutan Ratu Adil ini berasal dari Ramalan Jayabaya yang memerintah di kerajaan Kediri pada tahun 1135-1157 M. Menurut Wiselius, (Samuel Iperuszoon, Knight Wiselius, 1769-1845, sejarahwan, penyair, pengacara Belanda), paling tidak ada dua pengarang Ramalan Jayabaya yang ditujukan sebagai Ratu Adil. Yang pertama (kira-kira 1750) percaya akan Tanjung Putih (atau Teratai Putih) yang kedua (kira-kira 1828) percaya akan Erucakra.

 

Ratu Adil Erucakra dan Zaman Kaliyuga

Sebagai pembaharu dunia, Ratu Adil, erucakra juga dijunjung dengan gelar Arab-Islam. Namun begitu, tak ada petunjuk bahwa pengarang Ramalan Jayabaya menghubungkan karyanya dengan ajaran dan figur-figur eskatologis Islam, seperti Imam Mahdi. Piegaud yang mengidentifikasikan Erucakra sebagai “persona” berpendapat, erucakra berasal dari saat sebelum Islam datang ke Jawa, dan bisa dikembalikan pada person Wairocana yang dikenal sebagai Dhyani Buddha yang pertama dari pantheon buddhistis-tantristis. (Sindhunata, 2024:397).

Dalam pandangan Pigeaud sangatlah mungkin bahwa nama erucakra sebagai Ratu Adil dalam ramalan Jayabaya adalah nama Wairocana dalam bentukan nama yang dikembangkan lebih kemudian, atau bisa juga nama itu bentuk nama yang sudah tersimpangkan dari nama Wairocana. (Sindhunata, 2024:397). Piegaud atau Dr. Theodoor Gautier Thomas Piegaud  (1899-1988) adalah seorang ahli sastra Jawa dari Belanda. Ia termasyhur berkat kamus Jawa-Belanda.

Ratu Adil sebuah harapan wong cilik yang akan mengembalikan tatanan yang tertib dari keadaan kacau menuju masa depan zaman keemasan kesejahteraan. “Mereka, wong cilik itu bukanlah kalah, mereka hanya menitipkan rahasia penderitaan, tempat tersimpannya harapan akan masa depan di mana ditegakkan negeri ijo royo-royo panjang punjung lohjinawi murah sandang murah pangan, rojo koyo gembira berjingkrak-jingkrak iwen-iwen, itik, ayam, dan banyak pulang ke kandang diiringi sorak: keadilan turun bagaikan embun, kesejahteraan mekar bagaikan bunga bakung, wong cilik tiada lagi miskin dan papa, tertawa ngguyu asuka-suka dengan tawa zaman Kerta. Jago-jago mereka merdu kokoknya mengusir pilu menghapus rindu hingga menjauh sudah air mata dari bumi tiada lagi berduri-duri derita. (Sindhunata, “Ratu Adil: Ramalah Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik” 2024:658).

Paham Ratu Adil tidak lepas dari pandangan kosmologis falsafah India, Hindu dan Buddha Tantris dalam ajaran tentang Yuga, periode-periode sejarah dunia-semesta, ajaran didaktis untuk raja, kedatangan pembaharu dunia, dimana setiap siklus dunia ini jatuh dalam empat yuga, yaitu: Kritayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. (G. Drewes., H. Zimmer., W. Muhlmann, dalam Sindhunata, 2024:361).

Kaliyuga adalah periode atau masa kegelapan zaman. Tidak hanya manusia, tetapi juga alam, habis dihancurkan. Semua itu dapat dihindarkan bila raja taat pada Dharma, maksudnya bersungguh dalam menjalankan tugasnya sebagai raja, tidak hanya dalam melestarikan tatanan masyarakat, tetapi juga tatanan alam. Masa Kaliyuga, adalah masa dimana kejahatan memerintah dunia, manusia dicengkeram oleh nafsunya dan mencaplok semua yang terlarang baginya.

Manusia memandang sesamanya sebagai musuh dan terjerumus ke dalam perseteruan satu sama lain, lalu meletuskan perang yang tanpa henti. Tak ada lagi cinta dan persaudaraan. Orang-orang tidak dapat melakukan apa-apa selain melanggar hukum. Pemerintah tidak dapat lagi memerintah dan rakyat tidak bisa lagi diperintah. Rakyat hanya ingin berkuasa. Sungguh gilalah saat itu, hingga anak-anak pun berpakaian gila-gilaan. Itulah semua kegilaan zaman edan Kalisangara atau Kaliyuga. (G. Drewes., dalam Sindhunata, 2024: 373-374).

Ada empat sinonim Kaliyuga yaitu Kalisangara atau zaman Sangara (zaman hujatan), Kalabendu (zaman kutukan), Kalatidha (zaman kebingungan), Kaladora (zaman laku dusta dan tipu daya), juga disebut zaman angkara murka (zaman nafsu yang tak terpuaskan), zaman dahuru (zaman huru-hara), dan zaman edan (zaman gila-gilaan). (Sindhunata, 2024:376). Ajaran ini juga dicetuskan oleh Ronggowarsito (1802-1873), pujangga dari keraton Surakarta yang terkenal dengan sebutan pujangga zaman edan.  (Th. Piegaud, dalam Sindhunata, 2024:398).  

 

Ratu Adil Wairocana

Ratu adil dihubungkan dengan keyakinan terhadap Wairocana. Wairocana termuat dalam ajaran Buddhisme Tantristis yang merupakan bentuk perkembangan lebih lanjut dari Tantrisme di India. (Th. Piegaud, dalam Sindhunata, 2024:398). Tantrisme meyakini bahwa daya atau impak magis, kontak dengan Yang Transenden dan penyelamatan dapat diraih lewat praktik-praktik ritual, persisnya lewat upacara-upacara khusus dan tindakan sakral, terutama lewat penggunaan kata-kata, bahkan suku-suku kata, dan ucapan-ucapan mistis, yang bisa dikenal sebagai mantra-mantra. (Sindhunata: 2024:398).

Sebelumnya, Buddhisme memandang Buddha sebagai konsep yang “terlalu abstrak” sebagai kenyataan, kebenaran, inti terdalam, dan prinsip hidup, yang ada di balik semua materi dan hal ihwal yang ada di dunia ini. Karena pengaruh Tantrisme ini, Buddhisme mengembangkan sebuah konsep baru: Buddha lalu dipandang dapat menginkorporasikan diri dan memperagakan diri dalam figur-figur yang bisa disentuh indra, figur yang kasat mata. Kodrat Buddha jadi mendapat karakternya yang antropomorpis. Buddha tidak hanya merupakan Keabsolutan yang abstrak atau prinsip yang transenden, melainkan juga merupakan individualitas yang dapat dikenal. (Sindhunata: 2024:398-399)

Berpadanan dengan pandangan di atas, dalam Buddhisme tantristis terdapat apa yang disebut sebagai lima Dhyani-Buddha, yang juga dilukiskan sebagai lima Jina. (E.Conze, H. dalam Sindhunata: 2024:399). Jina berarti pemenang atau perebut dan merupakan nama gelar bagi Buddha, yang semula dilukiskan sebagai “Siapa” yang mengatasi nafsu-nafsu dan memenanginya. Wairocana, artinya: sang tercerahkan atau sang pemancar terang, adalah Jina yang pertama, dan umumnya dijunjung sebagai Jina yang tertinggi di atas Jina-Jina lainnya. (E.Conze, H. dan H. Nakamura, dalam Sindhunata: 2024:399).

Jina-Jina itu adalah pribadi-pribadi yang memperantarai keselamatan. Dengan kehadirannya, aspek-aspek magis dari Buddhisme menjadi makin terus berkembang. Karena itu, untuk meraih keselamatan tidaklah cukup bila orang hanya mengandalkan upaya individualnya saja. Untuk itu masih dibutuhkan pertolongan para Jina, dan karenanya orang harus mengadakan penghormatan dan kebaktian para Jina. (Sindhunata: 2024:399).

Dalam sejarah Buddhisme, lima Dhyani Buddha berbeda dari semua Buddha lain yang dikenal sebelumnya. Semua Buddha yang pernah muncul memulai perjalanan hidup mereka sebagai manusia biasa atau sebagai hewan. Hanya dengan melalui banyak jerih payah dan pemurnian diri selama jutaan masa kehidupan, barulah mereka mencapai tingkat Buddha. Sedangkan lima Jina adalah Buddha sejak awalnya, tidak berubah dan tidak pernah menjadi yang lain. (E.Conze, dalam Sindhunata, 2024:400).

Lima Dhyani Buddha atau Panca Dhyani Buddha terdiri dari Wairocana, Aksobhya, Ratnasambhava, Amitabha dan Amoghasidhi. Lima Dhyani Buddha manifestasi dari Dharmakaya (keabsolutan Buddha). Dharmakaya dalam ajaran Mahayana dan Tantrayana berpadanan dengan Sambhogakaya dan Nirmanakaya sebagai Trikaya. Manifestasi Sambhogataya dalam Panca Dhyani Bodhisattva yang terdiri dari Samantabhadra, Vajrapani, Ratnapani, Avalokitesvara, Vivapani. Manifestasi Nirmanakaya dalam Panca Manussi Buddha, terdiri dari Kakusandha, Kanogammana, Kassapa, Sakyamuni, Maitreya. (Jo Priastana, “Filsafat Mahayana,” 2017:19-20). 

Dalam literatur Jawa, Wairocana bisa didapati kembali dalam kisah Kunjarakarna. (H. Kern, 1992:3-45). Cerita itu mengisahkan dua tokoh yaitu Kunjarakarna dan Purnawijaya, yang dibebaskan dari siksa neraka lewat perantaraan rahmat dan pertolongan Wairocana. (H.Kern, dalam Sindhunata, 2024: 400). Karena belas kasihnya, Wairocana dipuja sebagai junjungan yang berkuasa yang membawa kedamaian dan kebahagiaan ke dunia. (Sindhunata, 2024:400).

 

Visi Keadilan Buddhadharma

Kondisi atau keadaan masa kegelapan Kaliyuga yang mementingkan keakuan, dunia materialisme, keburukan manusia kiranya juga terdapat dalam ajaran Buddha. Hal ini diakui dan ditegaskan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, tentang keadaan kemerosotan moral, dimana bila egoisme dalam keserakahan, kebencian, dan kebodohan begitu menggejala, maka disitulah terjadi kemerosotan masyarakat, kebobrokan moral, kriminalitas dan kondisi chaos seperti dalam zaman Kaliyuga.

Realitas yang buruk seperti kemiskinan dan ketidak-adilan kesenjangan sosial, kemerosotan masyarakat menimbulkan sifat-sifat buruk dan melatar-belakangi konflik dan kekacauan sosial. Kesenjangan antara desa dan kota, si kaya dan si miskin, pendatang dan pribumi bagai jurang menganga. Yang kaya makin kaya, sementara yang miskin kian bertambah sengsara, sehingga menimbulkan sifat kecemburuan dan rasa ketidakadilan. Ketidakadilan ini terus menindih dengan kuat dan menunggu waktu untuk dilampiaskan, menimbulkan konflik sosial.

Ketidakadilan sosial hanya mencerminkan tidak terwujudnya kehidupan sosial secara baik, dimana perdamaian dan kesejahteraan – sebagaimana yang digambarkan sebagai tanah suci – tidak terwujud. Kehidupan yang penuh perdamaian dan bahagia bagai layaknya tanah suci itu, merupakan sebuah wadah dimana manusia di dalamnya, (seperti Tanah Suci Sukhavati Amitabha Buddha) dapat sepenuhnya mengembangkan segenap potensi kebaikannya, menjalankan latihan kesuciannya.

Terwujudnya keadilan sosial merupakan prasyarat terciptanya persatuan, perdamaian dan kebahagiaan serta kesejahteraan yang terwujud sekarang juga, di dunia ini, dalam kehidupan saat ini. Kondisi kegelapan ini kiranya juga bisa menjadi visi keadilan sosial bagi siapa saja, umat Buddha yang sadar tercerahkan berperan sebagai aktivis kemanusiaan menegakkan tatanan ketertiban moral melalui perjuangan mewujudkan keadilan sosial.

Keadilan atau justice dalam Buddhisme juga dimaknai sebagai impartiality atau kesetaraan. The Buddhist Dictionary defines the Pali term ‘yutti; as impartiality. Kata “yutti” juga dapat bermakna sebagai ‘a man of virtue, dan digabungkan dengan kata “dhamma” sebagai ‘yuttidhamma” yang berarti ‘a virtue of impartiality” (Buddhadatta, 1995). Keadilan sebagai nilai luhur kehidupan bersama menuntut perwujudannya melalui manusia utama, a man of virtue, manusia yang sadar penuh dengan kejernihan berpikir, wisdom dan daya welas asih.

Untuk itulah, keadilan dan kesejahteraan patut terus ditumbuhkan dan diperjuangkan. Selama aspirasi yang tersimpan dalam Dhyani Buddha Wairocana itu tetap hidup dalam wong cilik, maka selama itu pula akan tumbuh “Engaged Buddhism” dengan para pejuang kesadaran, pemimpin kerohanian, serta aktivis-aktivis Buddhis, maupun para Bhiksu yang terlibat  mewujudkan cinta kasih dan keabsolutan Dhyani Buddha Wairocana untuk tercermin, hidup dan tumbuh dalam kesejahteraan dan keadilan wong cilik. Appamadena sampadeta! (JP)

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

 

 

Butuh bantuan?