Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.
Pada Minggu, 31 Mei 2026, umat Buddha akan melaksanakan peringatan hari raya Trisuci Waisak, sebagaimana tradisi lazim yang diulang terus setiap tahunnya, di hari ini umat Buddha akan merenungkan dan merefleksikan kembali makna 3 peristiwa dalam siklus hidup Buddha: Kelahiran pangeran Siddharta, pencerahan menjadi Buddha, dan Parinibbana. 2570 tahun yang lalu sejak guru agung kita semua mencapai pencerahan, bebas dari ilusi dunia. Lalu pertanyaan mendasar pernah ditanyakan kepada saya oleh dosen saya sewaktu kuliah: Mungkinkah mencapai pencerahan seperti Sang Buddha di masa kini? Tentu kebanyakan mahasiswa memberikan argumentasi secara Buddhologis: Selama ada jalan mulia berunsur delapan , maka masih ada jalan menuju penembusan Ariya (Kesucian).
Bila saya pikirkan, nampaknya tidak semudah itu untuk mencapai pencerahan di masa sekarang. Bila dahulu ilusi mewujud dalam bentuk Dewa Mara mengganggu mereka, kini mereka mewujud dalam wujud yang lebih artifisial. Bisa kita katakan sebagai Hiperrealitas.
A. Hiperrealitas
Saya pernah mendengar argumen seorang saksi dari suatu pengadilan, ia menyatakan bahwa apa yang disajikan di media sosial tidak merepresentasikan realitas. Bagi saya pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, namun kurang tepat, lebih tepatnya: Tidak semua yang ada di media sosial merepresentasikan realitas. Ia pasti sudah diberi bumbu-bumbu tertentu, bumbu ini bisa kita bilang sebagai Hiperrealitas. Hiperrealitas sendiri adalah konsep dari Jean Baudrillard, dalam pemahamannya tentang runtuhnya realitas, ia memandang hiperrealitas adalah kondisi budaya postmodern di mana batas antara realitas nyata dan simulasi (dunia maya/citraan) menjadi kabur, membuat representasi atau buatan terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Di dalam proses hiperrealitas sendiri terjadi proses simulasi dan simulakra. Simulasi adalah Proses menghasilkan “realitas” melalui tanda, simbol, atau citra. Ini adalah tahapan di mana kebenaran digantikan oleh tanda-tanda, sementara Simulakra (Simulakrum) adalah salinan atau imitasi yang tidak lagi memiliki hubungan dengan kenyataan asli, atau salinan yang aslinya tidak pernah ada. Contohnya adalah karakter kartun, dunia virtual, atau gaya hidup selebriti yang dikonstruksi. Bisa kita bayangkan bahwa saat ini kita cenderung dikendalikan oleh logika tontonan, yakni apa yang kita tonton (kalau dulu di TV sekarang di tiktok) dengan standar aneh-aneh yang berseliweran, mereka pun yang hadir di dunia maya (sejak mereka masuk dunia maya maka mereka tidak lagi selalu real) menerapkan standar yang bagi kita sendiri nampak tidak mungkin di masa ekonomi seperti ini.
Kita selalu disuguhkan narasi-narasi perjuangan seorang pengusaha yang mengaku merintis usahanya dari garis 0 (meski kemudian diketahui ada bantuan bapaknya yang ternyata miliuner, dan sebagainya) dan mereka pun menerapkan standar kesuksesan versi mereka sendiri. Celakanya adalah kita menjadikan mereka standar baru, figur otoritas baru, dan bahkan sebagai realitas baru, meskipun kita tahu bahwa itu tidak mungkin.
Satu-satunya hal yang mungkin bagi realitas semu adalah kesemuan itu sendiri, mereka eksis di media sosial sekalipun tanpa makna, karena yang dikejar adalah sensasi. Bila anda pernah ingat sebuah gelang yang diyakini bisa meningkatkan kekuatan penggunanya pada sekitar tahun 2010an lalu, orang banyak yang meyakininya, itulah sensasi. Sensasi itu begitu lemah karena mudah sekali dimanipulasi khususnya lewat budaya tontonan kita sehari-hari. Standar-standar yang berdiri di atas sensasi sejatinya rapuh, sehingga bagi orang waras itu tidak tampak realistis dan jauh dari kata realitas.
B. Eksistensi vs Esensi
Saya ingat kata seorang filsuf eksistensialisme bernama Jean Paul Sartre pernah berkata “Eksistensi mendahului esensi”. Setiap orang akan meng-‘ada’ terlebih dahulu barulah kemudian menemukan makna keberadaaannya. Makna keberadaan inilah yang kita sebut sebagai esensi. Pandangan ini sedikit berbeda dengan paham prinsip esensialisme (dan pandangan teologis tradisional) yang menegaskan “Esensi mendahului eksistensi” bahwa tujuan, hakikat, atau kodrat (esensi) seseorang/benda telah ditentukan terlebih dahulu sebelum keberadaannya (eksistensi) di dunia. Di dunia hiperrealitas seperti saat ini, sulit sekali mencari makna tersebut. Mereka cenderung berpola pada pengejaran Hiperrealitas itu sendiri, ketika eksistensi dianggap satu-satunya kepentingan dan jalan untuk mencapai hal tersebut dilakukan dengan menebar sensasi, maka hadirlah fenomena lainnya: Narsistik. Di dunia maya, sejak adanya platform media sosial seperti facebook, IG, Youtube, Tiktok bahkan media yang sudah mati itu sendiri seperti Friendster atau BBM (Blackberry Messenger), orang-orang sudah terkena virus-virus eksis.
Bila McLuhan menyatakan bahwa ‘media adalah pesan itu sendiri’ maka kita bisa saksikan beragam pesan yang dibawakan oleh setiap platform: Awalnya hanya aplikasi pertemanan kini menjelma menjadi pesan popularitas, di balik popularitas itu ada ilusi berikutnya: Mencari validasi lewat media sosial, parameternya apa? Banyaknya followers, like, dan saweran koin. Inilah yang dikatakan maya di atas maya. Eksistensi semacam ini tidak dibangun oleh logika pencerahan seperti apa yang diajarkan Buddha ataupun filsuf-filsuf Eropa pertengahan, jika para penganut Cartesian mewujudkan eksistensi mereka dengan berpikir: ‘Aku berpikir maka aku ada’ , orang-orang yang larut dalam hiperrealitas sendiri menganggap ‘Aku narsis maka aku ada’.
Dampak bagi kehidupan adalah runtuhnya realitas yang dibanjiri dengan ekspektasi semu yang tidak wajar, pada titik tertentu terjadi dialektika moral antara ekspektasi berlebihan tersebut dengan realitas, seperti contoh: ‘Anda bukan keturunan CEO, jadi berhentilah hedon! Jika anda tidak berhenti hedon, bagaimana kita bayar kontrakan bulan depan?’ ; ‘Tidak semua orang kaya raya, mahar 1 milliar sekedar untuk menikah itu nampak mustahil, gaji saja saat ini UMR paling di angka 5-6 juta’.
C. Pencerahan dari Hiperrealitas
Buddha sendiri sebagai filsuf pencerahan, ia mengajarkan jalan menuju pencerahan, salah satunya dengan keluar dari jebakan realitas semu yang paling umum: Logika dualitas (Oposisi biner): kalau bukan tidak ada, ya pasti ada; Kalau bukan benar ya salah; Kalau bukan baik ya buruk. Buddha mengajarkan pada muridnya Bhikkhu Kaccanagota bahwa segala sesuatu ada sebabnya dan muncul secara berkondisi, bergantungan. Pandangan ketiadaan (Nihilisme) menganggap segala sesuatu sejatinya tidak ada, sementara pandangan keberadaan (eksistensialisme garis keras) menganggap segala sesuatu sejatinya ada. Tetapi Buddha berusaha mengatasi semua itu, baginya segala sesuatu muncul karena adanya perpaduan sebab pembentuk, ia tidak berdiri sendiri namun dengan konstruksi sebab-sebab terdekat, dan sebab terdekat dari semua penderitaan menurut Buddhisme adalah nafsu/hasrat (SN12.15, SN56.11).
Dalam hal melihat realitas dunia konstruksi realitas tersebut tidak hanya dipelajari sampai level ciri keberadaan (eksistensi) melainkan secara holistik (keseluruhan) perlu dipelajari sampai level epistemik (esensi), baik secara sinkronik (1 ruang dan 1 waktu) maupun diakronik (lintas ruang dan waktu). Sehingga kemudian membentuk pemahaman atas apa yang terjadi sebagaimana adanya (yatha bhuta nanadassana) dan dengan melakukan hal inilah seseorang akan mampu melihat realitas sebagaimana adanya, mencapai pencerahan kebijaksanaan dan keluar dari jeratan hiperrealitas.
Konstruksi fakta di dalam hiperrealitas dibangun atas konstruksi logika hasrat, bila seseorang mampu mengendalikan hasrat dalam dirinya, ia tidak akan mudah terjerat oleh logika hasrat tersebut. Saat ini mungkin kita kesulitan membedakan mana eksistensi konten dari AI atau dari kreator asli, tetapi sejatinya mereka semua bisa saja menjadi subjek dari hiperrealitas itu sendiri, bahkan semua media juga bisa. Apa yang bisa kita lakukan adalah selektif dalam menerima apa yang disampaikan dalam pesan tersebut, berusaha memaknai makna dalam pesan tersebut apakah sebagai makna yang real, positif, membangun, atau malah menjurus pada toksik, ekspektasi berlebih, dan realitas semu.
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Daftar Pustaka
https://suttacentral.net/sn12.15/en/sujato?lang=en&layout=linebyline&reference=none¬es=asterisk&highlight=true&script=latin Diakses 19 Feb 2026.
https://suttacentral.net/sn56.11/en/sujato?lang=en&layout=linebyline&reference=none¬es=asterisk&highlight=true&script=latin Diakses 19 Feb 2026.
Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna. Indonesia: Matahari.
K Bertens. (1987). Fenomenologi Eksistensial. Jakarta: Gramedia.
Descartes, R. (2020). Diskursus dan metode. Indonesia: IRCiSoD.
Gambar: https://assets.kompasiana.com/items/album/2015/06/17/143451372310345274998.jpg?v=600&t=o?t=o&v=770 Diakses 19 Feb 2026.