Revolusi Nepal Gen Z dan Siddharta Muda yang Revolusioner

Home » Artikel » Revolusi Nepal Gen Z dan Siddharta Muda yang Revolusioner

Dilihat

Dilihat : 191 Kali

Pengunjung

  • 4
  • 107
  • 571
  • 278,634
PIC 25112

Oleh: Jo Priastana

 

“Revolusi sejati adalah keberanian untuk selalu menyuarakan

akan kenyataan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi”

(Rosa Luxemburg 1871-1919, Filsuf, Sosialis Revolusioner)

 

Akankah “butterfly effect” melanda negara-negara Asia, sebagaimana dulu di tahun 2010-an muncul “Arab Springs” gelombang revolusi yang melanda negara-negara Arab? Selang beberapa hari protes sosial mahasiswa dan rakyat Indonesia, 25 Agustus hingga awal September 2025, Nepal bergolak. Bahkan hingga menumbangkan pemerintahan, dimana Perdana Menteri dan Presiden mengundurkan. Tampaknya gelombang pergolakan oleh Gen Z juga melanda negara lainya seperti Bangladesh, Srilanka, lanjut Filipina, Madagaskar juga Maroko, Peru.

Kerusuhan sosial, kekacauan yang melanda Nepal pada September 2025 bukan sekadar gejolak politik biasa. Ia meletus sebagai ledakan kemarahan rakyat yang telah lama terpendam. Pemicu utamanya adalah keputusan pemerintah untuk memblokir 26 platform media sosial, termasuk Facebook, Instagram, dan You Tube. Langkah ini dianggap sebagai bentuk pembungkaman terhadap suara publik, terutama generasi muda, Gen Z yang selama ini menggunakan media sosial (FB/Koran Harian Bola/11/9/25).

Media sosial sebagai ruang untuk menyatakan kritik terhadap korupsi dan ketidakadilan. Larangan tersebut menjadi titik balik yang mengubah ketegangan sosial menjadi pemberontakan terbuka. Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai dengan poster dan nyanyian protes, berubah menjadi bentrokan brutal setelah aparat keamanan menanggapi dengan kekerasan. Gas air mata, peluru tajam, dan meriam air digunakan untuk membubarkan massa, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Amarah rakyat pun memuncak dan tertumpah.

 

Revolusi Nepal

Rakyat melawan. Gedung parlemen, rumah pejabat, dan kantor partai politik dibakar, dan   insiden paling mengejutkan adalah tewasnya istri mantan Perdana Menteri dalam kebakaran rumahnya yang diserbu demonstran. Di balik kekacauan ini, muncul gerakan gelombang perlawanan yang dipimpin oleh anak muda Nepal. Generasi Muda Nepal menjadi motor gerakan menuntut perubahan.

Tekanan publik yang masif akhirnya memaksa tokoh tertinggi negara – Perdana Menteri KP Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel – untuk mundur dari jabatannya. Di tengah kekacauan, rakyat menuntut agar suara mereka benar-benar didengar dan dijadikan dasar pembentukan pemerintahan baru.

Kisah kekacauan Nepal bukan hanya tentang politik, tapi juga kemerosotan moralitas, tentang harapan yang dikhianati dan keberanian yang bangkit. Ia mencerminkan ketegangan antara generasi lama yang mempertahankan kekuasaan dan generasi baru yang menuntut perubahan. Di tengah abu bangunan yang terbakar dan suara demonstrasi, satu hal menjadi jelas. Nepal sedang menulis ulang sejarahnya, dan pena itu kini berada di tangan rakyat.

Selama protes sosial di Nepal itu, banyak orang terlibat dan terlihat menjarah toko dan pusat perbelanjaan, dan terlihat lebih mengerikan dari apa yang terjadi di Indonesia. Menteri keuangan diarak massa, ditelanjangi sampai kecebur ke sungai dan masih dikejar-kejar. Rumah Perdana Menteri yang dibakar dan isteri mantan perdana menteri juga rumahnya dibakar massa di Kathmandu.

Protes keras selama berhari-hari menentang larangan media sosial dan dugaan korupsi pemerintah yang membuat Perdana Menteri dan Presiden Nepal mengundurkan diri. Kericuhan juga mengakibatkan 30 orang tewas dan 1.000 orang terluka. Militer melakukan penjagaan di sekitar gedung parlemen yang telah dibakar massa, dan  mengambil alih pemerintahan untuk masa transisi.

 

The Power of Gen Z

Para motor perubahan itu, generasi muda Nepal Gen Z, bukan hanya menuntut pencabutan larangan media sosial, dan penghapusan elit-elit politik yang dianggap memperkaya diri sendiri. Dengan semangat digital dan solidaritas lintas wilayah, mereka mengorganisir  aksi, menyebarkan informasi, dan membangun narasi perlawanan yang kuat. Gerakan ini menjadi bukti bahwa generasi muda tak lagi pasif, melainkan menjadi motor perubahan, para pemuda revolusioner.

Seorang siswa SMA Nepal, bernama Avishkar Rauth mengeluarkan aspirsinya dalam pidato yang berapi-api. Pidatonya sendiri disampaikan pada acara tahunan sekolah Holy Bell School, Maret 2025. Ia dikenal sebagai “Jai Nepal” karena pidatonya yang membakar semangat perlawanan generasi muda Nepal terhadap korupsi dan ketidakadilan yang dilakukan pemerintah. Pidato yang menjadi pemicu awal dan pengobar semangat dalam gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Nepal pada 8 September 2025. Pidato generasi Z sangat revolusioner yang berjudul “Kita adalah Api.”

“Wahai seluruh pemuda, bawalah kata-kata ini di dalam hatimu. Dan ukirlah sebuah monumen perubahan dalam perjalanan sejarah. Nepal adalah milik kita dan masa depannya ada di tangan kita. bergabunglah kalian semua dengan Nepal. Nepal our mother, dari melahirkan kami, membesarkan kami, tapi apa yang dimintasnya sebagai balasan, hanya kejujuran kita, kerja keras kita, kontribusi kita, tapi apa yang kita lakukan, kita dibatasi oleh rantai pengangguran, melihat peluang yang luas dan semacam itu. Kita terjebak oleh permainan egois partai-partai politik, korupsi telah menumbuhkan cambuk, yang memadamkan cahaya masa depan kita. Bangkitlah wahai pemuda. Kami adalah pembawa obor perubahan. Jika anda tidak mengangkat suara kami, siapa lagi? Jika kalian tidak membangun bangsa ini, siapa lagi? Kitalah api yang akan membakar kegelapan, kitalah badai yang akan menyapu bersih ketidakadilan dan membawa kemakmuran. Leluhur kami menumpahkan darah mereka untuk memberikan bangsa ini kepada kami. Kami tidak bisa menjualnya, kami tidak bisa kehilangannya. Raja Birendra pernah berkata: bahkan jika aku mati, biarlah negeriku tetap hidup.”

 

Siddharta Muda Yang Revolusioner

Nepal adalah tanah kelahiran Siddharta yang menjadi Buddha Gautama. Di Taman Lumbini yang kini diabadikan jadi tempat suci Buddha termasuk wilayah Nepal. Siddharta Gautama sebelum menjadi Buddha bisa dikatakan sebagai seorang yang revolusioner, meskipun tidak dalam arti politis atau militer. Revolusi yang dia bawa adalah revolusi spritual, sosial dan filosofis, yang sangat signifikan pada zamannya. Terdapat beberapa penjelasan yang bisa menjawab kenapa Siddharta bisa disebut Revolusioner yang juga berdampak bagi kemajunan kehidupan sosial-budaya, ekonomi dan politik.

Secara sosial-politis, Siddharta menolak sistem kasta. Pada masa itu, masyarakat India sangat terikat dengan sistem kasta. Kaum Brahmana (pendeta) dianggap paling suci dan berhak atas ilmu spiritual. Siddharta menolak pandangan ini. Ia mengajarkan bahwa pencerahan tidak ditentukan oleh kasta, melainkan oleh usaha dan pemahaman pribadi. Ini sangat kontroversial saat itu.

Secara budaya, ekonomi dan gaya hidup, Siddharta meninggalkan kehidupan materialistik hedonisme. Ia meninggalkan kehidupan mewah istana. Sebagai Pangeran, Siddharta memiliki segala kemewahan dan kenyamanan. Tetapi dia meninggalkan semuanya demi mencari kebenaran tentang penderitaan manusia. Tindakannya yang melawan ekspektasi keluarga dan masyarakat ini adalah bentuk revolusi pribadi yang luar biasa.

Siddharta meninggalkan kerajaannya sebagai putra mahkota yang diramalkan akan menjadi raja besar, bila mengambil takhta. Namun ia melepaskannya, pergi bertapa dan akhirnya melakukan revolusi spiritual dengan menjadi Buddha, sebuah julukan yang belum dikenal saat itu. Makhluk sadar yang sempurna karena tumbuhnya kebijaksanaan (wisdom) dan welas asih (karuna) yang begitu memperdaya sehingga mampu melahirkan perubahan peradaban dunia.

Dalam kepertapaan, Siddharta juga melakukan kritik terhadap praktik asketik ekstrem. Siddharta ikut menjalani praktik menyiksa diri untuk mencari pencerahan, tapi kemudian menyadari itu tidak efektif. Ia menolak dua kehidupan ekstrem: kemewahan dan penyiksaan diri, dan menemukan jalan tengah yang disebut “Jalan Tengah” (Majjhima Patipada). Ini adalah pendekatan baru dalam spiritualitas. Pertapa Siddharta melakukan revolusi spiritualitas sehingga memungkinkan mencapai keberhasilan menjadi Buddha.

Spiritualitas Buddha menekankan pengalaman langsung, bukan omon-omon. Dalam ajaran spiritual waktu itu, otoritas agama dan kitab suci adalah segalanya. Siddharta menekankan bahwa kebenaran harus dialami langsung, bukan hanya dipercaya karena diajarkan. Ini sangat radikal.

Kebenaran itu hidup dan dialami langsung, bersifat kontekstual dan empiris mengatasi dogmatisme teks kitab suci. Ini merupakan cara hidup spiritual radikal yang dimiliki seorang humanis-revolusioner dan berjiwa solidaritas-emansipatoris, seorang bernama Siddharta yang berarti cita-cita yang tercapai.

Jiwa pembebasan Siddharta memungkinkan akses spiritual untuk segala kalangan. Ajaran Buddha dibuka untuk semua, baik laki-laki, perempuan, dari kasta rendah maupun tinggi. Bahkan para kriminal bisa menjadi muridnya. Sikap yang sangat maju ini sangat bertentangan dengan norma sosial dan agama saat itu. Pada semasanya pula muncul demonstrasi perempuan memperjuangkan hak spiritualnya untuk dapat mennjalani cara hidup kebhikhuan.

Siddharta menyambut demontrasi yang dilakukan Prajapati dan Yasodhara dan ratusan perempuan lainnya yang melakukan Long March beratus-ratus kilo meter jauhnya untuk menjumpai dan meminta Buddha Siddhartha berkenan membuka Sangha Bhikkhuni. Sebuah revolusi bagi kaum perempuan dilakukan oleh Buddha Siddhartha, ia membuka Sangha Bhikkhuni. Derajat perempuan masa itu pun terangkat setinggi-tingginya.

Perempuan terbebas dari kekangan kasta dan kelas dua dalam masyarakat dan kehidupan religius untuk menjadi setara dengan kaum lelaki. Sangha Bhikkhuni berdiri hasil para demonstrans perempuan seperti Prajapati, Yasodhara dan kawan-kawan. Gerakan perempuan Buddhis yang merubah peradaban dunia dalam kesetaraan perempuan dan yang mengilhami serta menginspirasi gerakan-gerakan emansipasi perempuan selanjutnya di belahan bumi lainnya (Jo Priastana, “Buddhadharma dan Kesetaraan Gender,” Jakarta, 2005). 

 

Gerakan Nurani Bangsa

Siddharta yang revolusioner, menjadi Buddha mewartakan kesetaraan dan keadilan. Karenanya revolusi yang terjadi di bidang spiritual ini, juga berdampak pada terjadinya perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Bukankah agama dan spiritualitas adalah sebuah tindakan nyata untuk perubahan, kemajuan kehidupan dan peradaban, transformasi batin yang perlu memperoleh pembuktiannya pada transformasi sosial?

Siddharta yang Revolusioner yang lahir di Taman Lumbini, Kapilawastu yang kini masuk dalam negara Nepal. Ia lahir dari keluarga bangsawan Sakya. Ia dibesarkan dalam kemewahan dan dijauhkan dari penderitaan. Namun ia memberontak dengan melakukan perjalanan keluar dari istana melihat kehidupan yang sebenarnya, penderitaan manusia.

Ia keluar istana, meninggalkan kemewahan hidup dan melihat kenyataan hidup yang sebenarnya dalam empat peristiwa cermin penderitaan: orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa. Ini mengguncang jiwanya. Kemudian, ia meninggalkan istri dan anaknya untuk mencari makna hidup dan cara mengatasi penderitaan. Ia belajar pada guru-guru spiritual, mencoba pertapaan ekstrem, tapi tidak puas. Akhirnya ia bermeditasi di bawah pohon Bodhi dan mencapai pencerahan (Buddha).

Siddharta menjadi Buddha. Mulai mengajar dan menyebarkan ajarannya yang menjadi dasar Buddhisme berkembang. Siddharta Gautama adalah tokoh revolusioner bukan karena ia memimpin pemberontakan atau perang, tetapi karena ia mengguncang fondasi sosial, religius, dan filosofis masyarakat India kuno. Ia membawa cara berpikir baru, jalan hidup baru, dan ajaran yang membebaskan, tanpa kekerasan dan terbuka untuk semua kalangan tanpa diskriminasi.

Dampak ajarannya begitu luas, menyebar ke segenap pelosok dunia, dan sikap radikal revolusionernya meresapi generasi Nepal selanjutnya. Agama Buddha menyebar ke mancanegara di dunia termasuk ke nusantara, Indonesia yang merupakan tanah subur untuk berkembangnya Buddhadharma, dan selalu menanti generasi muda Buddhisnya bersikap revolusioner memperjuangkan nilai kemanusiaan dan keadilan bagi kemajuan Indonesia.

Buddhadharma yang membawa kesetaraan dan memiliki misi yang jelas untuk mengatasi penderitaan. Siddharta Muda Yang Revolusioner, yang lahir di Nepal telah membawa obor api perubahan masyarakat dan peradaban dunia. Pada sosok revolusioner Siddharta Muda yang sarat wisdom serta welas asih Buddha ini, tersimpan energi, sumber semangat, inspirasi untuk gerakan perubahan.

Revolusi para aktivis muda Nepal adalah gerakan pembebasan untuk melawan keserakahan para pemimpinnya. Hal ini mengingatkan pada Buddha yang dilahirkan di tanah Nepal yang mengatakan keserakahan adalah akar penderitaan. Keserakahan para pemimpin yang tidak empati dan tidak memiliki solidaritas adalah akar kesengsaraan penderitaan rakyat, dan harus dilawan.

Aksi para pemuda humanis Nepal adalah untuk menstop keserakahan para pemimpin yang mempergunakan kekuasaan dan jabatannya untuk mencari keuntungan pribadi tanpa henti. Keserakahan pemimpin adalah akar kejahatan, akusala kamma yang akan menghancurkan negeri cantik Nepal yang melahirkan Siddhartha Buddha di bawah pegunungan Himalaya yang dekat ke langit itu, cakrawala dharma.

Baik gerakan di Nepal maupun Indonesia adalah gerakan nurani bangsa untuk keadilan dan kesetaraan dan bukan karena hobi rakyat turun ke jalan. Gerakan nurani bangsa karena suara mereka dalam memperjuangkan kesengsaraan dan kemiskinan rakyat tak benar-benar dipahami. Gerakan nurani bangsa karena Negara lupa mendengar, lupa merasakan, lupa kepada siapa mereka mengabdi. Gerakan revolusioner mengingatkan, kekuasaan diatas penderitaan rakyat pasti akan binasa! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: Meta AI

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?