Ritual: Nafas sekaligus Asma Bagi Agama

Home » Artikel » Ritual: Nafas sekaligus Asma Bagi Agama

Dilihat

Dilihat : 31 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 0
  • 38
  • 33,964
ritual

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd. (Sia Wie Kiong 謝偉強)

Foto: Unsplash/Qurrata Ayuni

A. Ritual Sebagai Simbiosis Mutualisme Agama dan Umatnya.

Ritual juga digunakan untuk menciptakan satu bentuk keteraturan, yang mana diharapkan lewat keteraturan inilah kita bisa kembali ‘Memegang kendali’ agar tidak jauh dari norma-norma agama, lebih meresapi ajaran agama, dan dalam dosis tertentu kekuatan afeksi dari ritual bahkan bisa meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi lika-liku kehidupan.

Penelitian yang dilakukan Brooks dkk (2016) menunjukan bahwa ritual yang dilakukan secara formal dan berulang mampu mengurangi rasa ansietas yang muncul serta meningkatkan performa kinerja.  Secara ilmu kedokteran yang terkait dengan ritual, memang terlibat secara khusuk dalam beribadah, sembahyang, ataupun bermeditasi bisa meningkatkan hormon serotonin yang berfungsi untuk menstabilkan perasaan. Lebih lanjut jika ritual tersebut memakai instrumen musik, akan mengaktifkan hormon endorphin yang dapat mengatasi rasa sakit dari tubuh ; Bila ritual dilakukan dengan serius serta dilengkapi aksi nyata berbuat baik (seperti fangshen, bakti sosial, dll) juga bisa memunculkan hormon oksitosin yang membuat hidup seseorang penuh dengan cinta dan kasih sayang.

Selain itu ritual juga menjadi nafas bagi suatu agama, khususnya pundi-pundi keuangan suatu organisasi/majelis/lembaga yang bernaung di bawah agama. Misalnya bisa kita liat, bagaimana upacara-upacara puja manggala (Keberkahan) maupun avamanggala (kematian) selain bisa membawa manfaat bagi umat juga membawa manfaat berupa cashflow yang cukup lumayan untuk setiap paket ritual (seperti bunga, pelita, persembahan, dll) yang terjual. 

Apalagi jika ritual tersebut cukup besar layaknya ritus kematian yang biasa disebut Kung Tek 功德 bisa mencapai  angka fantastis. Pemasukan dari ritual inilah yang bisa menghidupi lembaga keagamaan dalam hal finansial, sehingga lembaga tersebut bisa terus aktif dalam memberikan pelayanan keagamaan pada umatnya. Dari sini sudah jelas bahwa ritual tidak hanya membawa keuntungan bagi lembaga keagamaan, melainkan juga umatnya. Maka tidak berlebihan jika dikatakan ritual adalah nafas dari sebuah agama.

B. Pergeseran Ritual: Dari Pelayanan Menjadi Materialisme Hingga Pemenuhan Hasrat.

Sejatinya ritual adalah layanan keagamaan agar umat lebih bisa meresapi nilai-nilai dari ajaran suatu agama, ritual juga membuat penghayatan keagamaan menjadi hidup dengan adanya sebuah keteraturan, seperti bila tiba waktunya sembahyang, orang akan menggunakan segenap ciptanya untuk beribadah. Bila mengalami keterpurukan seperti ditinggal orang terkasih, seseorang akan mengadakan ritual besar untuk mendoakan almarhum sekaligus mengembalikan daya resiliensi pikirannya sendiri agar kembali stabil.

Masalahnya adalah, saat ini ritual mulai bergeser pada materialisme (Paham yang menyatakan bahwa materi sebagai satu-satunya substansi, tanpa perolehan materi tidak bernilai. Lorens, 2000: 593-600). Bahasa gampangnya ‘Apa-apa jadi serba diuangkan’. Misalnya saja ada paket-paket sembahyang tertentu yang harganya cukup ekspensif

Lama-kelamaan, ritual ini menimbulkan kesenjangan sosial, adanya anggapan bahwa kalau dapat memberikan persembahan yang lebih ‘Waow’ kepada orang tuanya akan menjadi pahala yang semakin besar. Padahal target utamanya menumbuhkan sikap kewajiban bakti dan ingat jasa leluhur yang telah tiada. Ritual yang ekspensif juga akan mengaburkan kesan sederhana dan memberikan pemahaman bahwa hanya orang kaya saja yang bisa sembahyang, karena biaya sembahyangan itu mahal.

Belum lagi dalam praktik dilapangan seringkali umat kita di ‘skakmat’ dengan kata-kata ‘kalau buat sembahyangan harus yang bagus, jangan ditawar-tawar pamali’, hingga kesan ini akan membuat sebagiaan orang ‘terpaksa’  membelikan alat-alat sembahyang meskipun besok mereka bingung harus makan apa. Ini pernah terjadi dan sangat disayangkan. Di sinilah ritual menjadi malfungsi dan malah membuat keyakinan seseorang menjadi lemah bahkan hilang terhadap nilai Ajaran agama. 

Bahkan ada pemahaman di antara orang-orang yang berpindah agama dikarenakan agama sebelumnya ‘Terlalu ribet’ dalam hal ritual. Hal ini tentu sangat disayangkan, elemen yang tadinya bernilai sakral, malah menjadi sesuatu yang ditolak karena dianggap tidak relevan dengan keadaan saat ini yang serba pragmatis dan praktis namun efektif serta efisien.

C. Mengembalikan Peran Ritual

Sejatinya ritual adalah momen repetisi untuk mengingatkan dan membuat kita teratur pada ajaran agama, maka ritual harus berlandaskan filsafat nilai-nilai luhur dari ajaran agama. Utamanya soal kesederhanaan, keikhlasan, bakti, salutasi, dan sebagainya. Misalnya pada keyakinan taoisme ada nilai kesederhanaan (Jian 简) sebagai salah satu mustika ajaran Laozi (Dao De Jing Bab 67). 

Kemudian di dalam Taoisme sendiri ada prinsip Yinsi wufu 淫祀无福 (Pemujaan yang berlebihan tidak mendatangkan berkah) yang juga harus diyakini. Sementara dalam prinsip Konghucu menekankan bahwa di dalam upacara sembahyang, daripada mewah mencolok lebih baik sederhana, bahkan di dalam sembahyang kedukaan, daripada meributkan perlengkapan sembahyang masih lebih baik ada rasa sedih yang benar (Lun Gi III:4).

Dalam filsafat Buddhisme sekalipun juga mengenal konsep Upayakausalya yang disebut cara cerdas untuk mencapai tujuan. Tentunya salah satu prinsip cara yang dipakai adalah ‘Dengan sumber daya yang terbatas bisa menghasilkan jasa dan manfaat yang sebesar-besarnya’. Maka seharusnya ritual bisa dibuat sederhana tetapi bermanfaat sama dengan ritual besar, khususnya ketika memberikan pelayanan kerohanian kepada keluarga-keluarga yang berlatar belakang ekonomi rendah.

Buddhisme juga mengajarkan untuk tidak terlalu over terhadap ritual. Melekat pada upacara dan ritual (sīlabbata-parāmāsa), fanatisme dogmatis (idaṁ-saccā-bhinivesa) menjadi ikatan (ganthā) dalam Buddhisme (DN33. Sangīti Sutta). Maka kembalikan peran ritual pada fungsinya untuk pelayanan dan penghiburan bagi umat, niscaya dalam jangka panjang akan memberi kehidupan bagi agama itu sendiri. Bisa diibaratkan sebagai ladang apabila ditanam dan dipanen seperlunya maka akan memberi keberlangsungan jangka panjang, tetapi kalau dieksploitasi, maka akan habis tanpa sisa.

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, Alison Wood. dkk. 2016. Don’t stop believing: Rituals improve performance by decreasing anxiety. Journal of  Organizational Behavior and Human Decision Processes 137 (2016) 71–85. Elsevier.

Lorens ko . 2000. Kamus Filsafat. Hal. 593-600. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 

Rossalina. 2022. 4 Hormon Bahagia yang Menjaga Kestabilan Emosi. https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/hormon-bahagia-fungsinya. Diakses 8 Oktober 2023.

Adegunawan, Suyena (Kompilator). 2018. Kompilasi 《四书》– Si Shu – Empat Kitab Klasik. Bandung. USA.

Suttacentral.net (Legacy Version). 2015. Digha Nikaya. http://legacy.suttacentral.net/dn. Diakses 10 Oktober 2023.

Lika, I.D (penerjemah). 道德经Dao De Jing. Ditulis oleh Laozi. Jakarta. Elex Media Komputindo.

 

Butuh bantuan?