Sasanaputera Satyadharma: Kedalaman Lembah Tridharma

Home » Artikel » Sasanaputera Satyadharma: Kedalaman Lembah Tridharma

Dilihat

Dilihat : 0 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
IMG-Sasanaputera

Oleh: Jo Priastana

  

 Seorang bijak berkata, pemimpin adalah seorang yang bersedia turun ke bawah dan menyediakan dirinya seperti sebuah lembah untuk menampung segala keluhan, pengetahuan dan informasi dari mana saja. Tampaknya sosok pribadi Sasanaputera Satyadharma, tokoh Tridharma yang begitu akrab dan dekat dengan masyarakatnya ini, amat tepat dengan gambaran pemimpin seperti itu.

    Sasanaputera atau yang akrab disebut Thio Liang Ek bukanlah tokoh yang jauh dijangkau dan sulit ditemui. Tokoh yang ditahbiskan sebagai upasaka oleh Bhikkhu Ashin Jinnarakkhita pada tahun 1954 ini, merupakan salah satu tokoh yang terlibat langsung dalam pergerakan Tridharma sejak awal hingga saat ini. Selain itu tokoh yang juga dikenal sebagai tokoh agama ini masih setia berada di akar rumput, meski namanya kerap tertera pada pucuk-pucuk dedaunan dan puncak pepohonan.

 

Sam Kauw Hwee dan Pergerakan Buddha

    Thio yang lahir di Cariu, Jonggol, Jawa Barat, pada 6 Oktober 1930 ini mengawali aktivitas pergerakan keagamaannya di THHK (Tionghoa Hwee Koan) Jatinegara dengan mengikuti kebaktian dan mendengarkan ceramah bersama encim-encim pada setiap Rabu malam. Ceramah biasanya datang dati Thian Lie Hwee, sebuah organisasi kebatinan yang tergabung dalam Sam Kauw Hwee. Ceramah-ceramah kebatinan tidaklah asing, bahkan tokoh kebatinan seperti Ki Ageng Suryo Mataram, R. Sutono Judo Prawira, R. Sumarjo, dan lain-lain juga pernah berceramah di  Sam Kauw Jatinegara.

    Dari Sam Kauw Hwee Jatinegara, Thio yang haus pengetahuan Dharma itu aktif mencari sumber lainnya. Ia tak segan pergi ke Pegangsaaan 56 untuk mendengarkan ceramah kebatinan nasional maupun internasional pada setiap Kamis malam yang diasuh oleh Mr. Wongsonegoro dengan menaiki sepeda bersama pemuda-pemuda lainnya. Nantinya, Sam Kauw Jatinegara dikenal sebagai sumber para penceramah.

    Pada awalnya umat di Sam Kauw  Jatinegara yang dipimpin oleh Chang Yun Lin, Kepala Sekolah THHK ini tergabung dalam THHK (Tionghoa Hwee Koan) bagian kebatinan. Kemudian pada tahun 1952 menggabungkan diri menjadi Sam Kauw Hwee Jatinegara. Pada tahun 1953-1954 terbentuk Sam Kauw Hwee bagian Pemuda. Selanjutnya bersama pemuda lainnya yang terdapat di Pal Merah, Sariputra, Bogor, Sukabumi, Tangerang dan Karawang membentuk P3SKI. (Persatuan Pemuda dan Pemudi Sam Kauw Indonesia).

    Thio yang otodidak ini terlibat dalam proses pembentukan Pemuda Tridharma bersama 30 pemuda lainnya. Pemuda Tridharma Indonesia bermula dari berdirinya P3SKI (Persatuan Pemuda dan Pelajar Sam Kauw Indonesia) tersebut, yang sejak tahun 1954 pada Kongres Gabungan Sam Kauw Indonesia berjuang membentuk organisasi kepemudaan Tridharma.

    Sam Kauw Hwee sendiri kemudian berubah menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) dan diketuai oleh The Boan An, yang kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Ashin Jinarakkhita Maha Sthavira, bhikkhu pertama dan pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia. Tahun 1962 di bawah pimpinan Drs. Khoe Soe Khiam, GSKI diubah namanya menjadi Gabungan Tridharma Indonesia, dengan majalahnya yang bernama “Tri Budaya”. Selanjutnya GTI juga sempat dipimpin oleh Drs. Aggi Tjetje, SH.

    Dalam pandangan Sasanaputera, sejarah pergerakan Tridharma di Indonesia memberi andil besar bagi munculnya kembali agama Buddha, di samping organisasi Theosofi yang ada waktu itu. Diungkapkannya bahwa Oka Diputhera mantan Ditura Buddha Depag. RI pernah mengatakan bahwa Tridharma adalah Bapak, dan Theosofi adalah ibu yang melahirkan pergerakan agama Buddha di Indonesia.

    Karena itu berbincang dengan tokoh yang juga terlibat dalam perumusan ikrar Walubi pada tahun 1978 ini, tidak bisa dilepaskan dari perbincangan mengenai sejarah pergerakan agama Buddha di Indonesia. Diungkapkannya bahwa pergerakan kebangkitan kembali agama Buddha itu diawali tahun 1956, dengan diadakannya “Buddha Jayanti” peringatan Waisak 2500 tahun agama Buddha di Candi Borobudur. Pada tahun 1959 ditahbiskan tiga orang bhikkhu putra Indonesia: Jinapiya (Ktut Tangkas), Jinaputta (Ong Tiang Biauw), oleh Narada Mahathera. Sebelumnya, 1934, Bhante Narada juga pernah datang ke Indonesia atas undangan Sam Kauw Hwee dan Theosofi.

    Tokoh yang kini menjabat sebagai Dewan Pandita  Tridharma ini menyatakan bahwa PUUI (Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia) yang berdiri pada tahun 1956-an merupakan organisasi Buddhis yang mempelopori kebangkitan dan perkembangan agama Buddha di Indonesia. Seperti diketahui, PUUI kemudian berubah menajdi nama MUABI (Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia) dan selanjutnya menjadi Majelis Upasaka Pandita Buddhayana Indonesia.

    Pada tahun 1958 berdiri Perbudhi (Perhimpunan Buddhis Indonesia) dengan Ketua Umumnya Sariputra Sadono. Perbudhi kemudian melebur menjadi BUDHI (Buddha Dharma Indonesia), dan kemudian menjelma menjadi GUBSI (Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia). Sasanaputera sendiri pernah menjadi pengurus Perbudhi Cabang Jakarta, namun entah kenapa tanpa sepengetahuannya, pengurus digantikan Soemantri MS, dkk.

    Kongres umat Buddha Indonesia 1979 di Yogyakarta menghasilkan terbentuknya organisasi Buddhis Indonesia Nasional Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia). Walubi beranggotakan tiga Sangha (Sangha Agung Indonesia, Sangha Mahayana Indonesia, Sangha Theravada Indonesia) dan tujuh majelis, diantaranya Martrisia (Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia), dan majelis lainnya seperti: Majabumi (Majelis Buddha Mahayana Indonesia), Kasogatan (Majelis Dharma Duta Kasogatan), Mapanbumi (Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia), Muabi (Majelis Upasaka-Pandita Agama Buddha Indonesia), Mapanbudhi (Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia), dan NSI (Majelis Nichiren Syosyu Indonesia). 

     Sasanaputera merupakan tokoh yang berperan besar di balik berdirinya Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia yang berpusat di Surabaya (lahir di Lawang, 17 Desember 1977) itu. Martrisia merupakan fusi dari Majelis Rohaniwan Tridharma Jakarta dan Jawa Barat yang dipimpinnya dengan Majelis Rohaniwan Tridharma Jawa Timur pimpinan Ong Kie Tjay. Perkembangan terakhir Martrisia Jawa Timur bergabung dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) yang berdiri pada tahun 1998, sedangkan Tridharma Jakarta dan Jawa Barat membentuk Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia pada tahun 1999.

    Terbentuknya Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia (1999) yang lahir di era reformasi juga tidak lepas dari andil dan peran serta visi Sasanaputera dalam meletakkan Tridharma yang kini jelas-jelas menyatakan diri sebagai suatu Majelis Agama yang barangkali bisa menjadi titik tolak baru pergerakan Tridharma di Indonesia seturut dengan perubahan sosial-politik negara Indonesia. Pergerakan baru yang cikal bakalnya telah diletakkan oleh Bapak Tridharma Indonesia, Kwee Tek Hoay pada tahun 1932.

 

Keluasan Lembah Kedalaman Samudra

    Tokoh Tridharma yang rendah hati ini berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya yang disebutnya seorang Marhaen bekerja pada perusahaan paman kakeknya sebagai tata usaha. Thio sendiri sejak kecil dan muda, tidak asing pada pekerjaaan sebagai petani, seperti memotong padi. Sewaktu Jepang ke desanya, ia mengungsi ke Karawang, dan ketika kembali ke Jakarta, ia naik kereta api Linggarjati yang dirintis oleh Mr. Tan Po Gwan. Tinggal di Jatinegara, kemudian ia bekerja sebagai montir mobil selama tiga tahun.

    Meski pendidikan formalnya hanya sampai kelas 6 SD yang kemudian hanya berlanjut duduk di kelas 1 SMA, sesungguhnya ia adalah seorang otodidak yang berwawasan luas. Pemimpin dan nara sumber bagi masyarakat Tridharma ini memiliki First Certivicate in English University of Gambridge Local Examination Syndicate C – yang dikeluarkan pada Desember 1984 – Jakarta.

    Tokoh yang bershio kuda ini merupakan gambaran seorang pekerja keras yang ulet, tekun, dan setia. Selama 12,5 tahun ia menghabiskan waktunya dengan bekerja di Hongkong Bank (1951-1964). Tanpa bermodalkan ijazah, dan dengan berawal sebagai seorang klerk yang menempeli meterai Bill of Lading (import) yang akan diekspor, Thio muda ulet dan selalu merendahkan dirinya bagai lembah. Ternyata justru dengan begitu, ia menjadi penuh ‘berisi’ karena menampung berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang diserapkan dari macam-macam atasannya sehingga menghantarnya sebagai asisten supervisor.

    Selain itu, tokoh yang gemar membaca ini juga sempat bekerja sebagai manajer selama 21 tahun (1974-1996) di Jakarta Land, sebuah perusahaan property yang terletak di jantung Jakarta. Selama melakoni kerja kerasnya itu, dedikasinya terhadap agama, khususnya dalam mengembangkan Tridharma, tidak pernah ia lepaskan. Bahkan sewaktu bekerja di Hongkong Bank, ia selalu menyesuaikan waktu cutinya dengan aktivitas keagamaannya. Dengan begitu ia dapat mengikuti tour-tour keagamaan seperti perayaan Waisak di Candi Borobudur maupun aktivitas mengembangkan organisasi Sam Kauw di daerah-daerah.

    Kemampuannya berdharmaduta yang menghantarnya kini sebagai Dewan Pandita Tridharma, tidaklah diperoleh dari pendidikan atau pelatihan formal, namun hasil upaya belajar dan ketekunanannya sendiri. Diceritakannya bahwa awalnya adalah dari mengikuti Dharma Class pada setiap Kamis malam di sebuah klenteng daerah Jatinegara. Melalui Dharma Class yang selalu disertai dengan diskusi dharma itulah, pengetahuan dharmanya yang ditimba dari mendengarkan ceramah dan membaca buku semakin teruji.

    Ia mengungkapkan sedikit rahasianya atau modalnya sebagai dharmaduta. Katanya, ia sering berpegang pada angka 3. Dengan berpatokan angka tiga itulah, pelajaran-pelajaran dharma meluncur dari bibirnya, entah itu mengenai Buddha, Tao dan Kong Hu Cu, atau Buddha, Dharma dan Sangha,  Anicca, Dukkha, Anatta, Ayah, Ibu dan Anak, Rakyat, Pemimpin dan Negara, maupun kisah seputar Sam Kok atau Tiga Negara, dan lain-lainnya.

    Sasanaputera dapat diibararatkan dengan keluasan lembah dan kedalaman samudra Tridharma. Keluasan pengetahuan Tridharma dari hasil bacaannya yang luas dan kedalaman renungannya terhadap ajaran Tridharma disalurkan dan disebarluaskannya dengan menjadi wartawan atau penulis lepas pada majalah Hikmah Tridharma, serta sejumlah buletin di lingkungan Tridharma. Beliau juga sempat menghasilkan dua buah buku “Gita Tridharma,” dan “Tridharma Selayang Pandang.”

     Ketika pada tahun 1972, tokoh Tridharma lainnya, Lim Yan Po atau Pandita Ratanadhaja Nurhalim yang menjabat Komisaris Penceramah Sam Kauw memandang perlu disusunnya keseragaman kebaktian serta doa dalam bahasa Indonesia, Pandita Sasanaputera pun turut terlibat dalam menyusun buku kebaktian “Padma Widya,” cikal bakal keseragaman kebaktian Tridharma.

    Sasanaputera sangat mengagumi dan menghormati Bapak Tridharma, Alm. Kwee Tek Hoay, karena baginya tanpa tokoh ini tidak mungkin ada masyarakat Tridharma seperti sekarang ini. Diceritakannya, bahwa latar belakang berdirinya Sam Kauw Hwee karena keprihatinan Kwee Tek Hoay terhadap masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia ketika itu yang terkena serbuan dan hantaman orang-orang Kristen dengan misi penginjilannya.

    Perlawanan terhadap misi Kristen ini juga dialami oleh Thio muda. Dikisahkannya bahwa ia memiliki seorang teman wanita dan sempat dikirimi bible, namun ia tidak bisa untuk menerima pandangan kekristenan gadis tersebut yang berkenan dengan masalah Tuhan maupun penempatkan foto dan abu leluhur. Lepas dari keimanan yang berbeda, untuk masalah berbuat baik kefanatikan itu tidak berlaku bagi Thio muda. Thio juga tidak berkeberatan membantu dalam mencari dana pembangunan Gereja Kristen Gang Padang, Jatinegara tapi tegas dalam persoalan keimanan Tridharmanya.

    Kini kakek dengan empat putera dan dua puteri, serta tiga cucu di usianya yang telah 71 tahun (tahun 2001), hidup bahagia dengan ditemani istri setianya, Padmasari (64) di sebuah rumah yang nyaman dan tenang di kawasan Jaka Setia, Bekasi, Jawa Barat. Hari-harinya kini dihabiskan dengan menelaah tumpukan buku yang terdapat di ruang tamu rumahnya serta berdharmaduta maupun membimbing pelatihan-pelatihannya.

    Kedharmadutaannya yang telah mendarah daging membuat semangatnya tidak pernah luntur di dalam memberikan ceramah kemana saja sekalipun itu di daerah-daerah, maupun di dalam memberikan bimbingan, menyebarkan pandangan dan pengalamannya dalam pertemuan Dharmaduta Tridharma pada setiap Selasa sore di Vihara Buddha Dharma Bekasi. Sebuah semangat dan teladan yang bagaikan air bening tempat menimba keimanan dan tekad maupun bercermin bagi para dharmaduta generasi muda penerusnya ketika fasilitas dan kemudaan hidup saat ini telah mengelilinginya.

 

Manusia Tridharma

    Mengapa Tridharma masuk ke dalam lingkungan agama Buddha? Dalam pandangan Sasanaputera, Tridharma tidaklah mungkin dilepaskan dengan agama Buddha, bukan saja karena di dalam istilah Tiga Dharma itu terdapat Buddha Dharma, namun secara keseluruhan tiga ajaran itu merupakan suatu kesatuan dengan unsur Buddha Dharmanya yang menonjol dan dominan, tidak seperti Maitreya yang mengembangkan Sam Kauw yang murni.

    Karena itulah, di dalam salah satu tulisannya, tokoh Tridharma ini memberikan keterangan mengenai Tridharma sebagai agama Buddha Mahayana yang juga mempelajari Konfusianisme dan Taoisme. Mengapa Buddha Mahayana? Karena hanya agama Buddha Mahayana inilah yang lebih mentolerir atau memungkinkan kita mempelajari ajaran Nabi Khong Hu Cu dan Nabi Lo Cu, di samping karena faktor orang Tionghoa yang toleran yang selalu menempatkan patung Bodhisattva Avalokitesvara Kwan Im dalam setiap klentengnya.

    Menurut Sasanaputera, di samping Dewi Kwan Im setiap klenteng yang ada di Indonesia selalu terdapat ketiga patung, di antaranya Buddha, Lao Cu, dan Kong Cu. Dengan demikian bisa dikatakan Tridharma merupakan agama yang dianut oleh orang keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia. Diingatkannya bahwa klenteng-klenteng di luar negeri seperti di Cina misalnya, tidak ada yang menempatkan ketiga patung tersebut, melainkan hanya satu pada setiap klenteng.

    Dalam buku “Selayang Pandang Tridharma,” diungkapkan bahwa pertemuan ketiga ajaran kebenaran ini telah menelorkan pandangan hidup dan memupuk alam pikiran manusia Tridharma yang toleran, penuh bakti, sederhana, bebas, dan praktis dalam cara berpikir. Semua ciri-ciri dan sikap hidup tersebut tidak bertentangan dengan Jalan Tengah Buddha Dharma. Sebuah sikap hidup yang dapat disebut kingly outward, sagesly inward, lahirian kerajaan atau manusia biasa, sedangkan di bagian batin adalah kenabian atau manusia agung.

    Sosok pribadi Sasanaputera barangkali bisa mencerminkan manusia Tridharma itu atau syair Tao The Ching ini, “Walaupun dihormati, ia tetap saja merendahkan diri. Ia bagaikan lembah yang subur, memberi berkah dan kehidupan kepada siapa saja. Ia begitu polos, seperti kayu gelondongan.” Setidaknya dalam sepanjang perjalanan hidupnya, Sasanaputera telah berupaya menjadikan dirinya seperti sebuah lembah yang kosong, luas dan samudra yang dalam yang menjadikannya sebagai pribadi subur yang bermanfaat bagi lingkungan, sehingga alam maupun jalan hidupnya dengan sendirinya dapat menghujaninya dengan berbagai keberkahan hidup.

    Dan berkah itu bukan tidak jarang menghujani lembah Sasanaputera Satyadharma ini. Sebagaimana yang ia sendiri katakan, adalah suatu berkah dapat mengunjungi klenteng-kelentang Buddha, Lao Cu, dan Kong Hu Cu di negeri Cina baru-baru ini (perbincangan ini dilakukan ketika dirinya baru kembali dari Cina). Dan bukankah berkah itu datang kepadanya tidak lain karena berkat kesuburan pribadinya yang telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Tridharma maupun masyarakat luas pada umumnya.

***

(Sumber: Majalah Umum Svaha, No. 04/September/2001 dan Jo Priastana, 2004. “Permata Tridharma: Jakarta: Yasodhara Puteri)..

 

Butuh bantuan?