Senjata Cakra Di Atap Wihara: Komunitas Budhojawi/Wisnu di Pinggir Hutan

Home » Artikel » Senjata Cakra Di Atap Wihara: Komunitas Budhojawi/Wisnu di Pinggir Hutan

Dilihat

Dilihat : 87 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035
Picture1 Senjata Cakra di Atap Wihara

 Oleh: Jo Priastana

 

“Hong Wilaheng –

Kosong namun Sejatinya Ada”

(Mantra Budhojawi/Wisnu)

 

Peristiwa 1965, telah mengubah banyak hal bagi negeri ini, termasuk wajah sosial budaya spiritual di Indonesia. Suasana keberagaman dan keberagamaan berubah. Orang Jawa yang pada umumnya menganut Agami Jawi atau Kejawen, yang menganggap agama adalah ageman, dan merupakan urusan pribadi, tiba-tiba harus menyesuakan diri memilih agama yang diakui negara.

Agama masuk ranah politik dan menjadi bagian kebijakan Negara. Itulah yang dialami Komunitas Budhojawi/Wisnu Mbah Kerto yang berada di sebuah dusun, di dalam wilayah buffer zone taman nasional di Jawa Timur. Komunitas ini terdiri dari 16 keluarga penganut agama Buddha yang berada di tepi hutan. Komunitas Buddha di bawah pimpinan sesepuh Mbah Kerto ini sangat menarik dan tengah berjuang mempertahankan identitas sinkretismenya, Budhojawi/Wisnu.

Komunitas inilah yang menjadi subjek riset tesis Nusya Kuswantin, mahasiswa S2 Antropologi FIB UGM Yogyakarta. Hasilnya dituangkan menjadi buku dengan judul “Senjata Cakra di Atap Wihara,” Wiwara, Yogyakarta, 2017, dengan tebal 287 halaman. Sebuah buku hasil riset yang mengambarkan secara etnografis tentang komunitas Buddha pimpinan Mbah Kerto. Secara legal beragama Buddha dengan mainstream Theravada namun tetap menjalankan sinkretisme Budhojawi/Wisnu.

 

Cakra Manggilingan

Dengan mengenakan penutup kepala khas Jawa yang disebut blangkon, begitulah ciri khas Mbah Kerto, pria berusia sekitar 70-an dengan perawakan kurus agak tinggi. Di pojok depan halaman rumahnya terpasang papan kayu bercat putih yang sudah usang bertuliskan Vihara Damaloka, dimana di atap wiharanya terpasang senjata cakra. Meski berlindung dalam agama Buddha, Komunitas Mbah Kerto dikenal sebagai penganut Budhojawi/Wisnu.

Simbol senjata cakra di atap wihara bukanlah sekedar hiasan, melainkan simbol yang dianggap esensial dan penting. Mbah Kerto menyebut wihara dengan istilah sanggar pamujan. Sanggar yang dibangunnya dengan mensyaratkan laku, dimana seluruh anggota komunitas yang mengerjakannya harus menjalankan laku tapa mbisu atau puasa wicara. Tidak boleh bicara barang sedikit pun, kecuali pimpinan yang memberikan arahan.

Senjata cakra yang tertera di atap wihara itu bukanlah simbol yang ada kaitannya dengan ajaran Buddha Gautama, melainkan sebagai senjata cakra yang dikenal dari kisah-kisah mitos pewayangan. Disebut cakra manggilingan, yaitu suatu simbol adanya hukum sebab-akibat yang akan mengejar siapa pun juga, tak peduli masih hidup ataukah sudah mati. Dikisahkan bahwa senjata ini dianugerahkan oleh Dewa kepada titisan Hyang Wisnu.

Tesis Nusya Kuswantin membahas komunitas Buddha Mbah Kerto yang masih menjalani sinkretisme Budhojawi/Wisnu plus Buddha Theravada. Komunitas ini merupakan eks-penganut Budhojawi/Wisnu – yaitu agama yang dilarang pemerintah pasca pembersihan komunis tahun 1965-1966 –  dan  kemudian berlindung di bawah naungan agama Buddha tradisi Theravada.

Kisahnya, setelah Budhojawi/Wisnu dilarang, banyak penganutnya yang masuk Hindu dan Buddha. Mereka adalah umat Buddha dari 18 wihara lainnya di seluruh kabupaten. Generasi pertamanya adalah penganut Budhojawi/Wisnu, dan kini telah mengalami Theravadic mainstreaming.

Komunitas Buddha Mbah Kerto yang tinggal di tepi hutan dan jauh dari kota hingga saat ini tetap mempertahankan ciri-ciri asalnya sebagai penganut Budhojawi/Wisnu. Mereka memasang simbol senjata cakra di atas wihara dan dengan pengeras suara di bawahnya. Mereka juga masih setia menjalankan berbagai jenis ritual spiritual Budhojawi/Wisnu.

Kaum pria komunitas ini mempertahakan identitas blangkon (yang ternyata identik dengan tidak sunat), dan secara internal tetap mendaraskan mantra Hong Wilaheng (dalam bahasa Jawa), walaupun secara sosial berdoa ala Theravada (dalam Bahasa Pali). Berdoa ala Theravada yang diawali dengan salam pembuka berbunyi: “Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa.”

 

Sinkretisasi

Dengan pendekatan participant observation, Nusya Kuswantin mengeksplorasi bekerjanya proses sinkretisasi keyakinan yang terjadi di komunitas spiritual Mbah Kerto ini, baik dalam segi internal penghayatan batin maupun eksternal dalam ritual dan laku sinkretis. Terjadinya fenomena sinkretisasi dalam komunitas ini semata dilakukan sebagai bentuk “penyesuaian-diri-secara-damai” terhadap politik standarisasi agama yang diterapkan oleh negara menyusul prahara politik di tahun 1965.

Mengapa memilih agama Buddha? Bagi Mbah Kerto dan komunitasnya, menganggap Buddha Dharma dan Buddhojawi/Wisnu adalah dua ajaran yang saling melengkapi.  Menurutnya, “Buddha itu wadah, Wisnu itu isi. Wisnu itu wis nunggal,” ujarnya. Wis nunggal terjemahan harafiahnya adalah sudah menyatu, menyatu dengan Gusti atau Guru Sejati.

Budhojawi/Wisnu sendiri menyiratkan sebagai sebuah agama sinkretis yang menggabungkan tiga ajaran, yaitu Buddha, Kejawen, dan Hindu aliran Waisnawa (Wisnu). Kini dengan secara legal beragama Buddha dan bernaung dalam Buddha Theravada, komunitas Buddha di pinggir hutan ini menambahkan ciri sinkretisme dengan Theravadic Mainstreaming. Bahkan ajaran yang keempat inilah yang kini menjadi dominan yang dilakoni generasi selanjutnya dan menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan Budhojawi/Wisnu.

Sinkretisasi memang selalu terjadi dan dimungkinkan dengan beragam latar belakang faktor pengaruh dan penyebabnya. Sinkretisme atau penggabungan beberapa nilai dari ideologi yang berbeda, adalah fenomena yang umum terjadi dalam aliran-aliran keagamaan di Jawa. Paul Stange dalam Kejawen Modern (2009: 34-35) mengungkapkan, bahwa guru-guru spiritual Jawa pada umumnya belajar ilmu kebatinan dari beberapa perguruan yang berbeda, dan kemudian mendirikan alirannya sendiri.

Ada tiga Unsur Budhojawi/Wisnu, yaitu Tantra Vajrayana, Kejawen, dan Hindu Waisnawa/Wisnu. Unsur Tantra Vajrayana (Tantrayana) tampak dalam bacaan mantra-mantranya yang semuanya diawali dengan ucapan Hong Wilaheng.

Unsur Kejawen tampak dalam praktik-praktik budaya yang diturunkan sejak sebelum pengaruh Islam puritan menjadi kuat di Jawa. Seperti misalnya selamatan, kepatuhan terhadap numerologi kalender Jawa, dan keyakinan terhadap Sedulur Papat.

Unsur Hindu aliran Waisnawa (Wisnu) tampak dalam praktik pemujaan terhadap Dewi Sri (dewi padi atau dewi kesuburan tanah) dan Ibu Bumi sebagai sumber kehidupan. Diwujudkan dalam selamatan Sedekah Bumi, yang dianggap sebagai selamatan atau kurbanan terpenting di dalam tradisi Budhojawi/Wisnu.

Setelah peristiwa 1965 dimana setiap orang diberlakukan untuk memiliki agama yang diakui pemerintah, bisa dikatakan komunitas Mbah Kerto di tepi hutan ini mengadopsi agama ganda, yaitu Budhojawi/Wisnu dan Buddha Theravada. Hal ini tampak dari praktik ritualnya, serta pelaksanaan hari raya yang mereka peringati, yang terdiri dua macam, yaitu 1 Sura dan Waisak. Musyawarah Nasional 1 Aliran Kepercayaan pada tahun 1970 di Yogyakarta telah menetapkan 1 Sura sebagai Hari Besar Kepercayaan.

Sinkretisasi yang dialami komunitas Mbah Kerto ini merupakan sebuah eklektisisme paradoksal. Sebagai manifestasi dari beberapa sikap sekaligus, antara lain upaya melakukan integrasi sosial, komitmen menjaga tradisi, serta resistensi terhadap kebijakan negara.

 

Theravada Mainstreaming

Sinkretisasi, termasuk dalam bentuk-bentuk simbolik yang eklektik, adalah upaya (sekelompok masyarakat) untuk mencapai salvation (keselamatan) yang merupakan hakikat agama itu sendiri. Sinkretisasi terjadi di dalam masyarakat hibrida, seperti masyarakat Jawa yang sejak dulu kala telah mengalami interaksi sosial-budaya dengan berbagai kalangan pendatang dari berbagai belahan dunia dan dengan nilai-nilai yang beraneka ragam.

Dalam kehidupan yang pluralistik seperti itu, sinkretisasi adalah hal yang tak terelakkan. Demi keberlangsungan hidup masyarakat dan demi perdamaian batin. Sinkretisasi merupakan keniscayaan sejarah peradaban manusia yang kerap terjadi dalam komunitas spiritual.

Begitulah dengan komunitas Budhojawi/Wisnu Mbah Kerto. Dengan mengadopsi tradisi Theravada, bisa dikatakan bahwa komunitas Mbah Kerto memperoleh perlindungan eksistensialnya sebagai dampak kebijakan Negara. Dan dengan begitu, komunitas ini menganut sinkretisme yang terdiri dari empat unsur: Budhojawi/Wisnu dan Buddha Theravada.

Budhojawi/Wisnu adalah sinkretisme dari tiga unsur (Tantra Vajrayana, Kejawen dan Hindu aliran Waisnawa). Ditambah dengan Buddha Theravada, sinkretisasi komunitas Buddha yang berada di tepi hutan ini adalah sebuah bentuk dari proses yang tak terelakkan cerminan tindakan yang rasional demi mempertahankan keberlangsungan hidup.

Lalu bagaimana perjalanan keberlangsungannya? Tampaknya, dalam perjalanannya kini, Budhojawi/Wisnu yang menjadi ciri khas dari komunitas Mbah Kerto sedang menghadapi tantangannya tersendiri. Di dalam komunitas yang tinggal 16 keluarga ini, kini tidak lagi ada pengajaran Budhojawi/Wisnu secara terbuka ataupun secara sistematis.  

Sementara generasi mudanya mendapatkan pendidikan agama ala Theravada di sekolah. Dengan gencarnya Theravadic mainstreaming, generasi baru komunitas Mbah Kerto akan semakin menjadi lebih Theravada, dan itu artinya, berhentinya regenerasi Budhojawi/Wisnu dalam komunitas Mbah Kerto.

Kendati gigih dalam upaya resistensi, namun nyatanya pada tahun 2015, komunitas ini menunjukkan aktivitas keagamaan yang lebih Theravada. Doa Theravada dalam Bahasa Pali, dalam kebaktian keliling di rumah-rumah anggota komunitas tiap malam Rabu dan malam Sabtu di wihara, lebih banyak dilakukan dibandingkan Hong Wilaheng.

Bisa diprediksi, ajaran Budhojawi/Wisnu kemungkinan akan sirna dalam satu generasi, ketika generasi Mbah Kerto sudah tidak ada lagi. Begitulah kiranya, akhir kesimpulan dan pesan yang hendak disampaikan penulis, Nusya Kuswantin tentang komunitas agama Buddha yang tinggal di tepi hutan ini.

 

Penemuan Diri Nusya Kuswantin

Penulisan tesis berjudul “Senjata Cakra di Atap Wihara Theravada: Proses Sinkretisasi Pasca 1965 di Tirtoarum”, oleh Nusya Kuswatin sebagai mahasiswa S2 Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta dilakukan dengan sangat menarik dan baik, dan hasil risetnya yang ditulis dalam bentuk etnografi merupakan cermin dari karya seorang antropolog.

Etnografi adalah ekspresi karya dari pengenalan yang sangat detail atas budaya liyan, dan bersifat holistik. Dalam Reading Etnography (1991:1), David Jacobson menulis bahwa: Etnografi adalah penjabaran perilaku budaya yang partikular, khususnya yang dihasilkan dari kerja lapangan.

Nusya Kuswantin menyelami komunitas Mbah Kerto di tepi hutan dengan tinggal bersama.  Dalam risetnya itu, ia memahami akan daya ‘kreativitas’ komunitas Mbah Kerto dalam mempertahankan keyakinan lamanya demi melawan gelombang besar pengarus-utamaan (mainstreaming).

Perlawanannya itu diperlihatkan melalui simbol cakra yang dipasang di atap wihara mereka, “Senjata Cakra di Atap Vihara.” Juga dalam identitas blangkon yang dikenakan para pria dewasa serta dalam mantra-mantra yang mereka tebus dengan laku asketis.

Menetap dan tinggal bersama dalam komunitas dimana di atas viharanya terdapat senjata cakra, bagi Nusya Kuswantin sendiri seperti menemukan dirinya berada di dalamnya. Mengamati dari dekat praktik-praktik keagamaan yang dijalankan, mengetahui berbagai alasan dibalik resistensi yang harus diadopsi komunitas, dia menemukan berbagai persamaan antara komunitas Mbah Kerto dan kehidupan keluarganya, baik dari pihak ibu maupun pihak ayah yang sama-sama dari keluarga Jawa dan sama-sama mengalami era tragis tahun 1965-1966.

Bagi Nusya Kuswantin, menulis etnografi “Senjata Cakra di Atap Wihara,” – yang dikatakannya juga sebagai belajar antropologi, – adalah lebih sebatas kerja seorang antropolog namun juga sebagai proses penemuan diri dan proses pendewasaan dirinya.

Buku “Senjata Cakra di Atap Vihara,” sangat menarik, melukiskan secara detail seluk beluk budaya spiritual komunitas Budhojawi/Wisnu. Buku ini bisa menjadi contoh yang sangat baik untuk sebuah karya penelitian tentang komunitas Buddha lainnya yang pantas dilakukan civitas akademika STAB. Komunitas Buddha di Nusantara pun dapat belajar banyak dari buku ini untuk menemukan jati-dirinya! Selamat! (JP).

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

Butuh bantuan?