Oleh: Jo Priastana
“Topi Taois, Sepatu Konfusianis, Jubah Buddhis. Tiga keluarga menjadi satu keluarga, tinggalkan kehidupan Tusita, duduk di Shuanglin menunggu Nagapuspa”.
(Syair Master Zen Foyin, pada lukisan Acharya Fudashi)
Masyarakat atau komunitas Tridharma dimana pun berada pastinya akan menempatkan gambar atau foto Lin Chao En pada altar pemujaannya sebagai wujud rasa bakti kepada orang tua dan leluhur. Lin Chao En (1517-1598) adalah tokoh yang dianggap sebagai kongconya orang Tridharma. Ia dikenal sebagai seorang intelektual dan sekaligus pendiri Tridharma, gabungan atau sinkretisme tiga ajaran yaitu: Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha.
Lin Chao En adalah pelopor paling terkenal dari sinkretisme agama dan filsafat Tridharma semasa Dinasti Ming (1368-1644) di China. Di China, pada abad ke 16, terjadi kecenderungan untuk menggabungkan agama dan filsafat. Masyarakat pada saat itu melakukan pencampuran Konfusianisme, Taoisme, baik ide-ide maupun praktik dengan Buddhisme dalam keyakinan dan praktik keagamaannya.
Sinkretisme ini mendasari penyebaran “buku moralitas” (shanshu) dan novel seperti Xiyouji (Journey to the West atau Cerita Tong Sam Cong pergi mengambil kitab suci ke Barat). Kisah yang juga memperlihatkan adanya unsur-unsur Tridharma seperti dewa dewi dari ketiga ajaran tersebut. Tentang Lin Chao En dan Tridharma terdapat buku Judith Berling A., “The Syncretic Religion of Lin Chao En, maupun Kenneth Dean “Lord in Three in One: The Spread of a Cult in Southeast China,” 1998, Princeton University Press.
Pendiri Tridharma Lin Chao En
Selain buku yang yang menarik tentang Lin Chao En itu, terdapat juga sejumlah karya tulis, lembaga-lembaga dan universitas yang melakukan riset tentang peran Lin Chao En dan Tridharma. Lin Chao En yang dikenal sebagai tokoh pendiri dan tokoh utama Tridharma, sepantasnya patut disimak kisahnya, selain dikenang di waktu-waktu tertentu.
Lin Chao En lahir pada tahun 1517 dalam sebuah keluarga akademisi di Pu-Tien provinsi Fukien. Beliau terlahir di keluarga akademis sehingga Lin dapat melanjutkan studinya dengan beasiswa. Setelah mencapai gelar akademis pertamanya pada tahun 1534, Lin menyadari bahwa sistem pendidikan pada saat itu tidak lagi relevan dan cenderung diarahkan semata-mata untuk penyediaan pejabat administrasi kekaisaran.
Pada 1546, ia meninggalkan studi formalnya dan melakukan pencarian untuk menemukan jalan spiritual bagi dirinya sendiri. Setelah mendapatkan banyak ilmu, pada tahun 1551 ia pun memulai karirnya sebagai guru. Lin mengajar pemikiran-pemikiran yang diambil dari tiga ajaran. Jika dilihat dari beberapa cerita, Lin Chao En mengambil “saripati” dari ketiga ajaran dan menggabungkannya sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat yang memang cenderung berjiwa sinkretis.
Fokus Lin adalah pada budi daya pikiran umum Konfusius, Lao Zi, dan Buddha. Reputasi Lin kemudian tumbuh cepat dan dianggap memiliki jasa besar oleh murid-muridnya pada periode 1556 – 1563, terutama ketika P’u-t’ien menderita serangan berdarah dari pihak penjajah bajak laut Jepang. Disamping sebagai seorang intelektual, pemimpin agama, Lin Chao En juga seorang yang terlibat dalam aktivitas sosial-kemanusiaan.
Lin Chao En yang berjiwa sosial kerap membantu masyarakat setempat dengan membagikan makanan dan obat-obatan, dan juga ditujukan bagi para pengungsi. Ia juga membantu menguburkan banyak mayat yang tersebar di pedesaan. Lin menjadi tokoh publik yang dihormati dan pembelajaran atau sekolah Tridharma-nya menarik semakin banyak siswa. Di sekolah itu, Lin mengajarkan Tridharma secara pemikiran dan praktik kepada murid-muridnya.
Selama lebih dari 25 tahun, beliau mengajar Tridharma untuk banyak orang. Beliau meninggal pada tahun 1598. Masyarakat umum mengakui jasa besarnya dalam menyebarkan ajaran Tridharma. Kuil-kuil dibangun untuk menghormatinya, karya-karyanya dicetak ulang dan menjadi teks-teks suci Tridharma.
Namun, pada akhir Dinasti Ming, Kaisar mengeluarkan fatwa melarang ajaran Lin dengan maksud untuk tidak berkembang. Akhirnya pada zaman itu, buku-buku dan kitab suci Tridharma dibakar. Meski demikian, agama Tridharma tetap mengakar di kalangan rakyat jelata.
Kekuatan ajaran Tridharma ini dikarenakan juga oleh cara Lin mengajar yang lebih menekankan kepada praktik sehari-hari agar manusia dapat sehat jasmani rohani dan dapat hidup bahagia. Lin Chao En sendiri belajar dari banyak guru-guru spiritual yang mengajarkan ketiga ajaran (Tridharma). Beliau belajar Alkimia Tao, Neo Confucianisme dan Chan Buddhism.
Ajaran yang dipelopori Lin Chao En ini mendapatkan respon positif dari banyak orang sehingga terus berkembang. Setelah belajar dan memahami, menghayati ketiganya dan giat menyebarkan paham tiga ajaran besar ini yang dikenal sebagai “Sam Kauw It Li”, Lin Zhao En pun kemudian mendirikan San Jiao (Tridharma) sebagai contoh dari sinkretisme yang sempurna.
Lin Chao En, (1517-1598) merupakan tokoh intelektual dan spiritual Tiongkok yang hidup semasa Dinasti Ming. Ia tokoh yang sangat berjasa dalam upaya mengembangkan dan mendirikan aliran sinkretis bernama Tridharma atau “Three-in-One,” menggabungkan nilai-nilai Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme secara integratif dan menemukan rasa Ketridharmaan, sense of Tridharma.
Pendekatan Integratif dan Sinkretis
Pada awalnya, Lin Chao En disebut-sebut menekuni ilmu hati-raga setelah gagalnya dalam ujian kekaisaran, lalu mendalami ketiga ajaran besar Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme. Ia melakukan pendekatan integratif terhadap tiga agama dengan merumuskan konsep “One Tao, Three Religions,” bahwa sebelum munculnya agama-agama formal, ada Tao universal dan Konfusianisme. Buddhisme maupun Taoisme hanyalah manifestasi cabang dari Tao yang sama.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pendekatan integratif Lin Chao En itu berbasis pada Taoisme sebagai Tao Universal. Dari gabungan dan sinkretisme Tridharma itu, ia sendiri tidak mengklaim bahwa ketiga agama Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme itu “semuanya sama.” Ia mengutamakan Konfusianisme sebagai basis etika dan struktur sosial, kemudian mengolah bagian spiritual dari Taoisme dan Buddhisme untuk membentuk sebuah jalan hidup terpadu.
Semasa hidupnya, Lin Chao En mengalami tiga fase perkembangan Tridharma. Pertama fase awal yang bersifat akademik. Pada sekitar 1551, ia mulai mengajar murid-muridnya tentang integrasi ketiga ajaran sebagai kelompok intelektual. Pada fase kedua adalah transformasi religus. Pada 1567 ia berpindah dari sekedar diskusi akademik bertransformasi menjadi kegiatan religius. Murid-muridnya mendirikan “Temple of the Three Religions” dan ia semakin dipandang sebagai tokoh spiritual Tridharma.
Lalu, pada fase ketiga, menjelang wafatnya terjadi pengakuan dan penyebaran resmi Tridharma, dan ketika wafat sudah terdapat puluhan ribu murid, tersebar di Fujian, Taiwan, Asia Tenggara. Tridharma diakui oleh pemerintah di Putian sebagai agama regional, meski dalam sejarahnya sinkretisme tiga ajaran ini juga tidak luput dari pelarangan di akhir Dinasti Ming.
Pendekatan integratif menjadikan sinkretisme ketiga aliran dalam suatu kesatuan menjadi jalan hidup terpadu. Jalan kesatuan Tridharma yang intisarinya berisikan pemikiran filosofis Lin Chao En yaitu bahwa semua berawal dari Tao. Tao adalah satu-satunya sumber utama dari ketiga aliran. Posisi Konfusianisme adalah sebagai pondasi sosial dan moral; “semua agama kembali pada Kongzi”, dan peran Taoisme dan Buddhisme adalah melengkapi spiritual dan mentalitas Tridharma. Taoisme untuk pembentukan diri, Buddhisme untuk pemurnian batin.
Pendekatan integratif yang dilakukan Lin Cao En dalam merumuskan Tridharma adalah dengan memilih ajaran terbaik dari masing-masing agama. Pendekatan ini dipandang layaknya menanam pohon buah campuran: satu batang banyak bunga. Sejarah mencatat bahwa Lin Chao En adalah pionir aliran Tridharma dan sangat berjasa besar bagi para pemeluk Tridharma karena menemukan dan merasakan “sense of tridharma” atau rasa ketridharmaan yang berbasis pada Taoisme.
Ia membawa gagasan bahwa Tao universal adalah akar Konfusianisme, Taoisme dan Buddhisme. Ia menyusun sistem filsafat-religius yang menyatukan norma sosial melalui ajaran Konfusianisme dan praktik spiritual maupun filosofi dari Taoisme dan Buddhisme. Inti ajarannya mendalam dan luas, sehingga menarik perhatian ilmuwan kontemporer, terus dipelajari dan tumbuh hingga sekarang.
Dua karya utama yang mengungkapkan tokoh pendiri Tridharma ini yaitu: Judith Berling A., “The Syncretic Religion of Lin Chao En”, maupun Kenneth Dean “Lord of the Three in One” yang mencerminkan riset klasik mengenai Tridharma di Fujian. Selain itu ada juga karya Hubert Seiwert, “China’s Popular Religious Movements and Heterodox Sects,” membahas yang bersifat kategori aliran sinkretis, dan Tang, “From Three-in-One Doctrine,” yang mengemukakan analisis filosofis mendalam.
Ada pula makalah “From Three-in-One Doctrine to the Religion of Three-in-One: Lin Chaoen’s Syncretic Religion” oleh Tang (HTS Theologies Studied), menjelaskan pengembangan doktrin Tao vs tiga agama. Selain itu, Universitas Fukui Chang Sun-dong dan He Shan-meng memiliki riset mendalam mengenai pemikiran Lin Chao En.
Di China dahulu kala, selain Lin Chao En, terdapat tokoh lainnya yang dianggap sebagai penggagas Tridharma yaitu Acharya Fudashi. Dalam pandangan tokoh legendaris ini terdapat kaitan antara falsafah Tiga Ajaran, Tridharma: Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme.
Acarya Fudashi dikenal juga sebagai penggagas Tridharma yang digambarkan mengenakan topi Taois, jubah Buddha dan sepatu Konfusius, dan sangat kuat mempengaruhi para penganutnya yang kini menjelma dan dipuja dalam aliran Buddha Maitreya. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: http://www.dzyfx.com/p/3009.html