Sense Of Tridharma (2) – Tiga Guru Di Satu Senja

Home » Artikel » Sense Of Tridharma (2) – Tiga Guru Di Satu Senja

Dilihat

Dilihat : 141 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 105
  • 571
  • 278,632
Pic 2634 Tridharma

Oleh: Jo Priastana

 

“Hidup menderita karena melekat dan  mati menderita karena tak pernah sungguh hidup sadar.  Yang menolak gugur akan patah dan yang mengikuti musim akan abadi dalam perubahan. Hidup yang tak membina kebajikan, akan mati sebagai tubuh, bukan sebagai teladan”  (“Sense of Tridharma,” Rasa Ketridhama-an)

 

Adakah sense of Tridharma atau spiritualisme Tridharma? Sejarah memperlihatkan terbentuknya pengalaman spiritual Tiongkok yang khas, Tridharma, kesatuan Buddhadharma, Taoisme, dan Konfusianisme. Ketiganya bukan sistem ajaran yang saling meniadakan, melainkan jalan-jalan yang saling menyeberangi. Tridharma (sanjiao heyi – “tiga ajaran menjadi satu”), bukan sekedar kompromi sosial, tetapi lahir dari spiritualitas yang khas dan menarik yang tumbuh di Tiongkok dan kemudian menyebar oleh diaspora rakyat Tiongkok ke banyak negara.

Pertanyaan yang sering diajukan, atau mempertanyakan tentang Tridharma, apakah memang ada spiritualitas yang memungkinkan itu? Bagaimana menghayati tiga ajaran menjadi kesatuan spiritualitas Tridharma itu? Bagaimana rasa Ketridharma-an itu, diantara makna dan arti Tridharma serta dampak dalam etika dan kehidupan sosial, maupun perwujudan dalam ritual dan tradisi serta budaya religius?

Jawabannya bisa polemis, namun tentunya ada yang memungkinkan penyatuan itu. Ada etos batin khas peradaban Tiongkok yang memungkinkan Buddhisme (Buddhadharma), Taoisme, dan Konfusianisme tidak bertabrakan melainkan saling melengkapi. Spiritualitas itu barangkali bisa diringkas dalam tiga kata kunci, yaitu: Harmoni, Keutuhan dan Jalan Tengah. Tiga  Bersatu dan Menyatu sebagai jalan tengah yang utuh dan harmoni.

 

Sense of Tridharma

Alih-alih di antara masing-masing ketiga ajaran itu bertanya “mana yang benar?”, tradisi Tiongkok lebih sering bertanya: “apa yang menyeimbangkan hidup manusia dan semesta?” Maka muncul sikap Konfusianisme yang berfungsi mengatur hubungan sosial dan etika hidup. Taoisme yang mengalirkan keselarasan dengan alam dan Dao, serta Buddhadharma untuk membebaskan batin dari penderitaan dan kemelekatan.

Ketiganya bukan bersaing, tetapi membagi wilayah kebijaksanaan. Secara spiritual, Tridharma dapat bekerja dalam menjawab berbagai dimensi manusia, sepanjang kehidupan sampai kematian. Dimensi manusia tentang cara hidup bermasyarakat dijawab oleh Konfusianisme (ren, li). Dimensi cara manusia untuk hidup selaras alam, dijawab oleh Taoisme, tentang Tao/Dao dan “wuwei,” serta cara membebaskan batin dijawab oleh Buddhadharma dalam sunyata dan karuna.

Maka seseorang bisa beretika Konfusianisme di rumah, hidup sosial dan negara, bertubuh dan bernapas Taois dalam hidup sehari-hari, dan bermeditasi dalam Buddhis untuk membebaskan derita batin. Ketiga ajaran itu tanpa kontradiksi tetapi terasa menyatukan menumbuhkan rasa ketridharmaan, sense of tridharma, spiritualitas tridharma.

Rasa ketridharmaan menghadirkan spiritualitas yang mendasari pengalaman langsung yang jauh lebih penting ketimbang dogma dan formalisme ritual dan kekangan tradisi. Ketiganya bertemu pada satu rasa batin, yaitu: kebenaran bukan semata teori, tapi realisasi hidup yang mengalir dalam aliran fleksibilitas, mencairkan ritual yang beku, tradisi dan budaya semu yang sekedar simulakra, antik menarik namun minim spiritual.

Dalam Taoisme, Dao tak bisa dikatakan, hanya dialami, sejalan dengan Zen (Chan Buddhism) yang menekankan pencerahan terjadi di luar kata dan kitab. Sementara, Konfusianisme menekankan kebajikan, bukan doktrin, tapi perwujudkan karakter.

Semuanya, ketiga ajaran itu menekankan “cultivation of self” (xiushen). Pertumbuhan diri dan transformasi batin, bukan sekedar kepercayaan. Rasa ketridharmaan, sense of tridharma adalah spiritualitas praktis, bukan sistem teologi, namun rasa terdalam dalam menjalani kehidupan sosial-budaya, politik dan menyelami alam serta kebebasan batin mengatasi derita.

Contoh nyata dalam kehidupan Tiongkok. Seorang tua Tiongkok tradisional bisa melakukan sembahyang leluhur (Konfusianisme), pakai fengshui dan qihong (Taoisme), dan mengucapkan nama Amitabha saat menghadapi kematian (Buddhisme). Karena baginya, semua itu adalah satu jalan dalam dan untuk merawat harmoni hidup.

Rasa terdalam Tridharma, kalau diringkas dalam satu kalimat, mungkin dalam batin akan berbunyi: Konfusianisme menghaluskan perilaku, Taoisme melembutkan tubuh dan napas, dan Buddhisme membebaskan keterikatan. Ketiganya menuntun manusia kembali ke keselarasan asalnya.

Dalam refleksi dan hening dalam renungan terhadap ketiganya tercermin dalam saat perilaku tak melukai, napas tak melawan, dan pikiran tak melekat, di sanalah Tridharma hidup. Mengingat ketiganya bersentuhan, Taoisme, Konfusianisme, dan Buddhisme. Buddhis Zen yang memiliki ajaran kebijaksanaan dalam Koan, mungkin bisa memunculkan koan ala Tridharma.

Seorang murid bertanya: “Mana ajaran yang paling benar: Buddha, Laozi, atau Kongzi?” Guru menjawab: “Jika orang tuamu sakit, kamu butuh kasih, ketenangan, dan kebijaksanaan sekaligus. Mengapa memilih satu tangan saja untuk memeluk?”

 

Dialog Imajiner Ketiga Guru Bijak

Ketiga guru yang hidup hampir sezaman ini bertemu di dalam satu nafas spiritualitas dari tiga ajaran yang masing-masing diajarkannya dan terbuka satu sama lain, karenanya percakapan di antara ketiganya pun dimungkinkan. Dalam suatu kesempatan di arus waktu imajiner, mereka bertemu dan melakukan percakapan batin, mengungkap hikmat kebijaksanaan ketika berada dan berdialog di saung bambu tanpa nama.

Kita bayangkan saja. Di sebuah pedesaan kaki gunung, di tepi sawah, dalam hutan kecil yang tak tercatat di peta, berdiri sebuah saung bambu. Angin lewat tanpa maksud. Air mengalir tanpa pertanyaan dan pepohonan hijau menyaksikan. Di sanalah duduk tiga sosok Guru spiritiual.

Buddha, tenang seperti danau tanpa riak. Laozi, hadir seperti kabut pagi. Dan Kongzi (Confucius), tegak seperti pohon tua. Tak ada yang mengundang. Tak ada yang datang. Namun ketiganya ada, dan selalu ada. Dedaunan bambu berbisik, suara burung kecil melintas dan udara tipis berhembus.

Kongzi membuka percakapan: “Jika dunia kacau, manusia kehilangan tata krama. Tanpa ren (kemanusiaan) dan li (kesopanan), masyarakat runtuh seperti rumah tanpa tiang.”

Buddha menatap lembut, berkata: “Benar. Namun akar kekacauan bukan hanya pada perilaku, melainkan pada batin yang melekat dan tak sadar. Jika batin bebas, tindakan akan jernih.”

Laozi tersenyum samar, seperti daun bergerak oleh angin, ia berkata: “Kalian berdua terlalu serius. Dunia kacau karena manusia terlalu sibuk memperbaikinya. Biarkan ia kembali pada Dao. Dan segala sesuatu akan menemukan tempatnya sendiri.”

Kongzi mengernyit, berkata: “Jika dibiarkan, rakyat bisa tersesat. Manusia butuh teladan.” Laozi menyambut: “Pemimpin terbaik adalah yang nyaris tak terlihat. Ketika rakyat berkata ‘kami hidup alami’, di situlah Dao bekerja.” Buddha menyela dengan suara seperti lonceng jauh, “Baik memimpin, membiarkan, maupun mengajar, jika dilakukan tanpa kebijaksanaan, semuanya dapat melahirkan penderitaan. Jalan pembebasan selalu dimulai dari melihat hakikat diri.”

Hening panjang, angin melintas di tengah-tengah kekosongan bambu dan air menggeser bayangan awan. Kongzi berkata pelan: “Aku mengajar agar manusia menjadi luhur.” Laozi berkata tanpa suara yang jelas: “Aku menghilang agar manusia kembali sederhana.” Buddha berkata seperti gema: “Aku menunjukkan agar manusia terbangun.”

Seorang murid imajiner yang suka membaca Tripitaka, Tao Te Ching, Wu Jing dan Si Shu, muncul dari kejauhan dan bertanya gemetar, “Guru-guru agung. Jalan siapa yang harus diikuti?’ ketiganya saling memandang. Lalu, Kongzi berkata: “Berbaktilah pada orang tuamu.” Laozi berkata: “Jangan melawan aliran hidupmu.” Buddha berkata: “Lihatlah siapa yang bertanya.”

Murid itu terdiam. Dalam diam itu, ia menyadari napasnya, ia mengingat ibunya, ia merasakan aliran hidupnya dan terasa ingin cepat melihat bayangan dirinya di kolam jernih. Ketiga Guru Bijak itu tersenyum. Mereka meninggalkan saung bambu tanpa nama.

Laozi bangkit lebih dulu, seperti kabut menghilang. Kongzi berjalan turun gunung, seperti guru kembali ke masyarakat. Buddha tetap duduk, seperti kesadaran yang tak pergi ke mana pun.

Saung bambu kembali kosong, namun jalan telah terbuka. Dan spiritualitas ke tiga Guru, dalam rasa ketridharmaan tercicipi sang Murid, dari Guru Kongzi yang membentuk manusia luhur, Laozi yang meleburkan ego ke dalam Dao, dan Buddha yang membangunkan kesadaran dari ilusi. Tiga arah mewujud dalam satu transformasi batin, membiarkan kekosongan aku mewujudkan diri sepenuhnya, seutuhnya.

 

Kehidupan Menuju Kematian

Tiga Guru di Satu Senja, pada suatu senja yang tak tercatat dalam kalender dunia, tiga orang berjalan di jalan setapak yang sama. Langkah mereka berbeda, namun tanah yang mereka pijak sama: kehidupan yang menuju kematian. Tak ada murid, tak ada kitab, hanya  suara jangkrik dan bau tanah basah.

Buddha melihat lahir dan mati sebagai gelombang. Buddha berhenti di tepi sungai. Ia menatap air mengalir lama sekali. “Lihatlah,” katanya pelan, “tak ada setetes air yang tinggal. Namun sungai tetap disebut sungai.” Ia memungut daun kering, menjatuhkannya ke arus. “Begitu pula kehidupan. Apa yang kalian sebut ‘aku’ hanyalah rangkaian peristiwa: rasa muncul, lenyap; pikiran datang, pergi; tubuh tumbuh, runtuh.

Ia menoleh pada dua sahabat jalannya. “Kematian bukan musuh kehidupan. Ia hanya perubahan bentuk dari ketidaktahuan. Yang menderita bukan tubuh yang mati, tetapi batin yang melekat. Angin lewat. Tak membawa apa-apa.”

Laozi melihat hidup dan mati sebagai tarikan napas Dao. Laozi tersenyum kecil, seperti orang yang mendengar lelucon kosmik. Ia mengambil ranting, menggambar lingkaran di tanah. “Musim semi hidup. Musim gugur mati. Tapi Dao tidak pernah lahir dan tidak pernah pergi.”

Ia menghapus lingkaran itu dengan ujung sandalnya. “Manusia menderita karena ingin hidup seperti musim semi selamanya. Padahal, keindahan bunga justru karena ia gugur.” Ia memandang langit senja. “Hiduplah seperti rumput: tumbuh tanpa ambisi, layu tanpa keluhan. Maka kematian pun hanyalah pulang ke irama besar.” Tak ada kesedihan di wajahnya, tak juga kegembiraan, hanya kelapangan.

Kongzi mengingatkan hidup sebagai tanggung jawab, mati sebagai warisan kebajikan. Kongzi berjalan sedikit lebih lambat. Ia memandang rumah penduduk di kejauhan: asap dapur, suara anak-anak, anjing menggonggong. “Hidup” katanya, “adalah kesempatan membentuk manusia menjadi manusia.”

Ia menatap tangannya sendiri. Jika seseorang hidup tanpa kebajikan, maka kematiannya kosong. Tapi jika ia hidup dengan ren (cinta kasih), maka bahkan setelah tubuhnya lenyap, pengaruhnya mendidik sampai kepada generasi yang belum lahir, anak-anak di masa depan.

Kongzi berhenti, menghela napas. “Aku tak tahu apa yang terjadi setelah mati. Tapi aku tahu ini: seseorang seharusnya mati setelah ia menunaikan tanggung jawabnya kepada orang tua, anak, masyarakat, dan dunia.” Baginya, keabadian bukan berada di surga, tetapi dalam jejak moral yang ditinggalkan, dan disitulah imortalitas lahir.

Pertemuan dalam keheningan, dimana ketiganya duduk menghadap matahari yang hampir tenggelam, di satu senja yang terkenang sebagai lukisan guru tua. Buddha berkata: “Jika batin bebas dari kelekatan, hidup dan mati sama-sama sunyi.” Laozi berkata: “Jika seseorang mengikuti Dao, hidup dan mati sama-sama alami.” Kongzi berkata: “Jika seseorang menjalani kebajikan, hidup dan mati sama-sama bermakna.”

Senja semakin gelap. Tak ada yang merasa perlu menyimpulkan. Karena kebenaran bukan untuk dirumuskan, melainkan untuk dijalani. Biarlah malam menghantar rembulan naik ke angkasa menerangi segenap bumi dengan anak-anak manusianya.

Di dunia, seorang anak merawat orang tuanya yang sakit. Seorang petani membiarkan padi tumbuh menguning. Seorang pelajar menuliskan catatannya perlahan, seorang pertapa duduk mengamati napas. Dan dengan begitu secara alami, ia sedang hidup sebagai Kongzi, bernapas sebagai Laozi, dan terjaga sebagai Buddha.

Dan ketika saatnya tiba untuk mati, ia tidak pergi sebagai seorang yang kalah, melainkan sebagai seseorang yang telah menyelami spiritualitas ketiga guru, merasakan ketridharmaan, “sense of Tridharma,” yaitu: hidup dengan kebajikan, mengalir dalam alam, dan terbangun melalui kesadaran.” (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://m.sohu.com/a/441891756_120956526/?pvid=000115_3w_a

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?