Sense of Tridharma (3) – Kwee Tek Hoay, Bapak Tridharma Indonesia dalam Pergerakan Buddhis Nasional dan Tantangan “Sense of Tridharma” Masa Kini

Home » Artikel » Sense of Tridharma (3) – Kwee Tek Hoay, Bapak Tridharma Indonesia dalam Pergerakan Buddhis Nasional dan Tantangan “Sense of Tridharma” Masa Kini

Dilihat

Dilihat : 82 Kali

Pengunjung

  • 4
  • 107
  • 571
  • 278,634
Pic 2644

Oleh: Jo Priastana

 

Di Indonesia, spiritualitas Tridharma atau Sense of Tridharma diperkenalkan oleh Kwee Tek Hoay (31 Juli 1886 – 4 Juli 1952) yang dikenal juga sebagai Bapak Tridharma Indonesia. Kwee Tek Hoay sendiri adalah seorang sastrawan dengan buah pikirnya yang dapat terlihat di dalam karya-karya sastranya. Dia juga menulis buku-buku tentang tiga ajaran dan karenanya hari lahirnya 31 Juli diperingati sebagai Hari Tridharma.

Kwee juga juga mendirikan organisasi pergerakan Tridharma pada tahun 1932 bernama Sam Kauw Hwee. Sebelumnya, tahun 1931 di Jakarta, Kwee Tek Hoay sendiri menerbitkan majalah Mustika Dharma. Majalah ini memuat tentang pelajaran Theosofi. Baik tentang agama Islam, sari ajaran dari Yesus, ajaran Khrisnamurti, dan terutama ajaran agama Buddha, Khongucu, dan Lao Tze.

Sosok Kwee Tek Hoay sendiri sebagai Bapak Tridharma dan pelopor pergerakan Tridharma memberi andil bagi kelahiran pergerakan Buddhis Nasional. Dalam konteks nasional, namanya terpatri sebagai sastrawan dan penulis produktif yang mengetengahkan nilai-nilai kemanusiaan universal, rasa nasionalisme, akulturasi dan “sense of Tridharma” yang menjadi penghayatannya.

 

Sam Kauw Hwee

Sam Kauw Hwee yang didirikannya memiliki maksud dan tujuan untuk mempelajari ketiga ajaran Buddha, Khonghucu dan Lao Tze. Pada tahun yang sama (1932) di Jakarta berdiri pula International Buddhist Mission bagian Jawa dengan Yosias van Dienst sebagai Director General. Semasa era kolonial ini juga terdapat perhimpunan Theosofi yang di dalamnya juga mempelajari Buddhadharma.

Di zaman kolonial Belanda, agama Buddha hidup dan bersemayam, setidaknya dalam perhimpunan Theosofi yang didirikan oleh orang-orang Belanda terpelajar di Jakarta. Perkumpulan Theosofi mencitakan persaudaraan universal dimana dalam perhimpunan itu juga dipelajari inti kebijaksanaan semua agama termasuk agama Buddha, Konfusius dan Lao Tze.

Ketika bergulir pergerakan agama Buddha, juga tak lepas dari Tridharma. Kebangkitan kembali agama Buddha setelah zaman Majapahit diawali tahun 1956, dengan diadakannya “Buddha Jayanti” peringatan Waisak 2500 tahun agama Buddha di Candi Borobudur. Perayaan Waisak Nasional pertama kali ini juga tak lepas dari andil masyarakat Tridharma.

Bhikkhu Sangha Srilanka, Narada pernah datang ke Indonesia pada tahun 1934 atas undangan Yosias van Dienst, dan Kwee Tek Hoay. Bhikkhu Narada pada tahun 1959 menahbiskan dua orang putra Indonesia menjadi bhikkhu, yaitu Bhikkhu Jinapiya (I Ktut Tangkas), dan Bhikkhu Jinaputta (Ong Tiang Biauw).

Organisasi Sam Kauw Hwee sendiri memiliki majalah yang bernama Sam Kauw Gwat Po. Setelah meninggalnya Kwee Tek Hoay di tahun 1952, masuk beberapa organisasi ke dalam Sam Kauw Hwee, antara lain Thian Lie Hwee dibawah pimpinan Ong Tiang Biauw (pendiri sekolah Sariputra di Jakarta). Sam Kauw Hwee kemudian berubah menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI).

GSKI sempat diketuai oleh The Boan An, yang kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Ashin Jinarakkhita Mahasthavira, bhikkhu pertama yang juga disebut-sebut sebagai pelopor kembali kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Bhikkhu pertama Ashin Jinnarakhita ini memprakarsai kebangkitan kembali agama Buddha secara institusional dalam konteks kultur Nusantara dalam wujud Buddhadharma Nusantara atau agama Buddha Indonesia. Entah ini sudah terealisasi hasil penggalian kembali dari khasanah spiritual Nusantara yang menyimpan agama Buddha atau tetap saja masih tinggal dalam paradigmatik?

Dalam tahun 1962, di bawah pimpinan Drs. Khoe Soe Khiam, GSKI diubah namanya menjadi Gabungan Tri Dharma Indonesia atau GTI dengan majalahnya Tri Budaya. Selanjutnya GTI dipimpin oleh Drs. Aggi Tjetje SH, MA, tokoh Tridharma yang berupaya melestarikan Tridharma yang dikenal dalam tataran populis juga sebagai “Chinese Folk Religion” dan memiliki aspirasi mengembangkannya dalam tataran akademik-scholarship dengan mendirikan Institut Dibya Rajya. Aggi Tjetje atau Jauw Tjoe Gie (17 April 1950-16 Agustus 2017), pemilik 12 gelar akademi dikenal juga sebagai tokoh yang disegani di dalam pergerakan Buddhis Nasional.

 

Pergerakan Tridharma

Pergerakan Tridharma di Indonesia juga ditunjang oleh berbagai organisasi ke-tridharmaan. Ada terbentuk PTITD (Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma) di Surabaya dan Martrisia (Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia). Martrisia adalah fusi dari Majelis Rohaniwan Tridharma Indonesia dan Majelis Rohaniawan Tridharma Se Indonesia, dan di tahun 1999 berdiri Majelis Tridharma Indonesia.

PTITD atau Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Se Jawa Timur terbentuk pada tanggal 15 Mei 1967. PTITD Se Jawa Timur terbentuk sebagai hasil musyawarah antara tokoh/pengurus kelenteng di Jawa Timur yang sepakat menjadikan PTITD Se Jawa Timur sebagai wadah tunggal untuk menghimpun semua tempat-tempat ibadah yang memuja baik secara keseluruhan maupun salah dari dari ketiga unsur dalam Tridharma. Dan dengan itu pula, Pangdam VII Brawijaya dengan Surat Keputusannya No. 26/6/1967 telah mengganti istilah Kelenteng menjadi Tempat Ibadat Tri Dharma.

Pada tahun 1969, atas petunjuk Direktur Bimas Hindu dan Buddha, Depag. RI, IBP Mastra, PTITD Se Jawa Timur dikembangkan menjadi PTITD Se Indonesia. Selama lebih dari satu dasa warsa PTITD Se Indonesia dipimpin oleh Ong Kie Tjay, dan kemudian Ongkoprawiro, keduanya dari Surabaya, Jawa Timur.

PTITD di bawah kepemimpinan Ong Kie Tjay pernah menerbitkan Majalah Cahaya Tri Dharma untuk beberapa nomor, serta penataran Dharmaduta Tridharma bekerjasama dengan Pemuda Pusat Tridharma Indonesia tahun 1976.

Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia (MARTRISIA) merupakan lembaga keagamaan dalam Keluarga Besar Tridharma di Indonesia yang menjadi pembina rohani bagi umat Tridharma. Para rohaniwan Tridharma terdiri dari Pandita (Maha Pandita, Pandita Utama, Pandita Madya, Pandita Muda), Dharmaduta, Pengasuh Sekolah Minggu & Remaja, Guru Agama serta Upasaka-Upasika.

Martrisia lahir di kota Lawang, Jawa Timur pada tanggal 17 Desember 1977 sebagai hasil kebesaran tokoh Tridharma di Jawa Timur dan Jakarta. Kelahiran ini, mengingat sebelumnya baik di Jakarta dan Jawa Barat telah terbentuk Majelis Rohaniwan Tridharma Indonesia yang dipimpin oleh Sasanaputera Satyadharma, dan di Jawa Timur telah terbentuk Majelis Rohaniwan Tridharma se Indonesia yang dipimpin oleh Ong Kie Tjay.

Ketua Umum Martrisia dipegang oleh Ongkoprawiro, berasal dari Surabaya, yang dipilih pada Kongres I tahun 1980, dan Kongres II tahun 1983. Martrisia tergabung dalam Walubi, perwalian umat Buddha Indonesia yang didirikan pada tahun 1979.

 

Pergerakan Dalam Organisasi Buddhis Nasional

Sejarah Pergerakan Tridharma di Indonesia memberi andil besar bagi munculnya kembali agama Buddha di Indonesia, diawali ketika Kwee Tek Hoay mengundang Narada Mahathera pada tahun 1934. Organisasi Sam Kauw Hwee yang didirikannya yang kemudian berubah menjadi GSKI pernah diketuai oleh The Boan An, yang kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, pelopor kembali kebangkitan Agama Buddha Indonesia.

Karena itu cikal bakal sejarah pergerakan Tridharma di Indonesia yang bermula dari munculnya organisasi Sam Kauw Hwee memberi andil besar bagi kemunculan pergerakan organisasi Buddhis pelopor maupun pergerakan Buddhis Nasional, era Indonesia merdeka.  Martrisia, Tridharma ikut mendirikan Perwalian Umat Buddha Indonesia di tahun 1979.

Kesertaan Tridharma dalam Buddhadharma Nasional. Kongres umat Buddha Indonesia 1979 di Yogyakarta yang menghasilkan terbentuknya organisasi Buddhis Indonesia Nasional, Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia), dengan Sangha di dalamnya dan menempatkan tujuh Majelis Agama Buddha menjadi anggotanya, diantaranya Martrisia.

Organisasi pendukung Walubi itu, yaitu: (1) MUABI (Majelis Upasaka Pandita Agama Buddha Indonesia), (2) MAPANBUDI (Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia), (3) Majels Dharma Duta Kasogatan, yang kemudian bernama Majelis Kasogatan Tantrayana Indonesia, (4) MAPANBUMI (Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia), (5) Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, dan (7) Majelis Rohaniwan Tri Dharma Indonesia.

Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia) sejak terbentuk tahun 1979, dengan Ketua Umumnya Suparto HS, sempat mengadakan Kongres Istimewa (1982) yang memilih Soemantri MS sebagai Ketua Umum, dan Kongres 1987, dan 1992 yang menempatkan Bhikkhu Girirakkhito kembali sebagai Ketua Umum. Tokoh Tridharma, Drs Aggi Tjetje pernah menjabat sebagai wakil ketua Walubi. Setelah reformasi 1998 Walubi 1979 perlahan-lahan tak terdengar lagi. 

Pada tahun 1998 seturut munculnya Perwakilan Umat Buddha Indonesia (memakai singkatan Walubi) yang juga dimasuki oleh Majelis Rohaniwan Tridharma se Indonesia yang berpusat di Surabaya (lahir di Lawang 17 Desember 1977), namun tidak dengan Martrisia yang pernah ikut mendirikan dan menjadi anggota Walubi 1979.

Di era reformasi itu, Tridharma Jakarta dan Jawa Barat kemudian membentuk Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia (1999). Bersama-sama dengan MBI (Majelis Buddhayana Indonesia) dan turut Magabudhi (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia) mendukung pembentukan KASI (Konferensi Agung Sangha Indonesia) di tahun 1999.

Sebuah pertanyaan mungkin bisa diajukan sehubungan dengan keterlibatan pergerakan Tridharma dalam organisasi Buddhis Nasional yang nyatanya adalah beranggotakan majelis agama Buddha. Apakah keterlibatan yang panjang di dalam pergerakan Buddha Nasional Nasiona. Buddhadharma lebih memberi pengaruh besar kepada cara kehidupan dan penghayatan komunitas berkenan dengan “sense of Tridharma”? Dalam suasana kesertaan dalam pergerakan agama Buddha Nasional itu, tokoh Tridharma Sasanaputera Satyadharma merumuskan Tridharma sebagai agama Buddha yang juga memperlajari ajaran Konfusius dan Lao Tze.   

Tulisan yang bertajuk “sense of tridharma ini” muncul karena terinspirasi dan teringat kepada sosok Kwee Tek Hoay yang tanggal lahirnya, 31 Juli diperingati sebagai hari Bapak Tridharma Indonesia. Hari Tridharma mengingatkan tentang “sense of tridharma” adalah hari yang sangat baik untuk secara intens meresapi “sense of Tridharma,” terlebih lagi manakala organisi pergerakan telah bernama Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia (Magabutri).

 

Sense of Tridharma

Sehubungan dengan itu, maka majelis agama Buddha Tridharma Indonesia, dan organisasi Tridharma lainnya yang lahir di era reformasi barangkali bisa menjadi titik tolak baru pergerakan Tridharma di Indonesia seturut dengan perubahan sosial-politik dalam menebalkan kembali sense of tridharma.

Keterbukaan di era reformasi memberi peluang seluas-luasnya bagi kedalaman spiritualitas atau sense of Tridharma berkembang dengan segenap ciri-ciri khasnya seperti yang terkandung dalam unsur-unsur ritual, tradisi dan budayanya yang tidak lepas dari afinitas budaya Tionghoa yang mengakar secara populis dan dikenal juga sebagai Chinese folk religion.

Nafas reformasi di tahun 1998 yang memunculkan nama komunitas Tridharma menjadi Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia merupakan momentum yang memberi ruang besar untuk menghidupkan sehidup-hidupnya sense of Tridharma.  Sense of Tridharma yang mungkin telah terlarut atau tereduksi dapat kembali terekspresikan dalam berbagai aspeknya, seperti ajaran, ritual, adat tradisi, pemujaan historical figure, tokoh spiritiual maupun hegemoni dalam seni budaya dan beragam keterampilan lainnya.

Bisa menjadi sebuah hipotesis, apakah perjalanannya bersama di dalam organisasi Buddhis Nasional, sense of tridharma pun semakin tergerus? Sense of tridharma tidak lagi pernah dipertanyakan, atau malah tak perlu dipertanyakan, dilupakan, entah telah hilang, menguap atau memang menjadi misteri, tidak dikenal antara ada dan tiada, sebagaimana pada awalnya dalam konteks kesatuan ajaran Tridharma yang diketengahkan sesepuh Lian Chao En maupun Kwee Tek Hoay di Indonesia.

Sense of tridharma yang perlu terasa dan terbangkitkan, baik itu dalam ranah pemikiran filosofis, spiritualitas, tradisi, budaya etik maupun kearifan Tridharma. Tridharma sebagai suatu tipologi jenius spiritual dalam memaknai dan menyelesaikan persoalan-persoalan dasar kehidupan, seperti kelahiran, kehidupan, keberuntungan, kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan maupun kematian dan setelahnya.

Menyelami Tridharma sebagai spiritualitas dan nilai-nilainya yang terkristalisasi dalam adat istiadat seni budaya dan beragam kejeniusan, keterampilan khas lainnya yang mencerminkan kesatuan tiga ajaran dan formulasinya berdasarkan esensi tiga ajaran tersebut.

Esensi filsafat Tridharma yang mungkin bisa terkemuka dalam tiga kata kunci yaitu:  sadar, lurus dan selaras, yang tertuang di dalam penyampaian pembelajaran Tridharma, serta kemungkinan pengembangan, aktualitasnya sesuai dengan konteks yang juga tak luput dari teks-teksi suci.

Sebagai cara hidup spiritual yang berbudaya, Tridharma adalah cara hidup yang mengajak manusia untuk sadar akan diri dan kenyataan, berbuat baik dalam hubungan dengan sesama, serta hidup selaras dengan alam dan jalan semesta. Makna dan nilai cara hidup itu mungkin telah terdapat, tersimpan dan terpendam dalam etika, ritual dan tradisi, yang bukan tidak mungkin juga memerlukan pembaharuan penghayatannya, re-interpretasi, reaktualisasi untuk dunia masa kini.

Sedikit rumusan atau formula “sense of tridharma” yang mencerminkan ciri akademik-teoretis bisa menjadi bahan renungan, pemikiran dan pengembangan, yaitu: bahwa spiritualitas Tridharma adalah suatu sintesis etis-spiritual dari ajaran Buddha, Konghucu, dan Taoisme yang menekankan pembinaan kesadaran batin, pengamalan kebajikan sosial, dan keselarasan dengan tatanan kosmis sebagai satu kesatuan praksis hidup.

Majelis Agama Buddha Tridharma adalah ruang terbuka dalam membangkitkan “sense of tridharma.” Sense of tridharma yang kiranya menjadi cita-cita Kwee Tek Hoay, Bapak Tridharma Indonesia maupun sesepuh tokoh-tokoh Tridharma lainnya yang telah menuangkan jasa dan pengabdiannya untuk pergerakan Tridharma.

Pergerakan Tridharma yang berkembang dalam sejarah, dan tidak dapat melepaskan atau meninggalkan jasa besar dari peranan Bapak Tridharma Indonesia. Kwee Tek Hoay, tokoh yang memprakarsai berdirinya Sam Kauw Hwee, dimana hari lahirnya tanggal 31 Juli diperingati sebagai hari Tridharma Indonesia.

Sejenak mengenang dan menghormati leluhur Tridharma Indonesia, Bapak Kwee Tek Hoay yang juga adalah seorang sastrawan nasional dengan banyak-karya sastranya yang mengetengahkan nilai kemanusiaan universal dalam beragam corak kehidupan manusia dan persentuhannya dengan nasionalisme dan nilai-nilai kearifan lokal. Ada beberapa beberapa karyanya terkenal, antara lain:

“Boenga Roos dari Tjikembang”, Panorama, 1927. “Drama dari Krakatau”, Panorama, 1928. “Korbannja Yi Yong Toan, drama dalem 6 bagian”, Panorama, 1928. “Drama dari Boven Digoel”, Panorama, 1928, 1931, 1938. Selain itu ada juga tulisan “Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan tulisan-tulisan tentang Tridharma yang keluar dari penghayatannya yang dalam terhadap Tridharma, dan semuanya ini patut disimak kembali.

Dari Bapak Tridharma Indonesia ini kiranya juga bisa ditemukan pemikirannya tentang tantangan Tridharma. Tridharma yang lebih kontekstual dan adaptif dengan perkembangan zaman. Tridharma yang memasuki zaman modern yang kerap terlintas dalam pandangan Kwe Tek Hoay dengan Sam kaue Hwe yang didirikannya, dan mungkin masih penting dan berlanjut terus relevan untuk kehidupan Tridharma saat ini.

Membumikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai “sense of tridharma” di tengah tantangan kebutuhan spiritualitas di zaman modern kontemporer untuk dapat tumbuh dan berkembang. Sense of tridharma yang mewujud dalam ragam budaya kehidupan maupun budaya etik-spiritual, adat-tradisi yang selalu relevan dan aktual! (dari berbagai sumber) (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: Perkumpulan Tridharma Nusantara

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?