Simulakra Hiperrealitas dan Tontonan Pindapatta Akbar Para Bhikkhu di Kota

Home » Artikel » Simulakra Hiperrealitas dan Tontonan Pindapatta Akbar Para Bhikkhu di Kota

Dilihat

Dilihat : 59 Kali

Pengunjung

  • 3
  • 106
  • 571
  • 278,633
Pic 2661

Oleh: Jo Priastana

 

“Seseorang yang hidup di tempat sederhana, mengendalikan indrianya,

Makan secukupnya, penuh dengan keyakinan, bersemangat,

maka nafsu jahat tidak dapat menguasai dirinya,

seperti angin tidak dapat merobohkan gunung-gunung.”

(Dhammapada I:8)

 

Dalam tradisi Buddhis, pindapatta pada masa Buddha Gautama awalnya adalah praktik sangat sederhana, dimana para bhikkhu berjalan kaki dari rumah ke rumah, menerima makanan apa adanya, dan tanpa menjadikannya tontonan. Intinya, bukan “acara”, melainkan latihan batin kerendahan hati bagi bhikkhu, kemurahan hati bagi umat, dan perjumpaan sunyi antara kehidupan spiritual dengan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketika di kota modern muncul acara “Pindapatta Akbar” dengan ribuan peserta, panggung, publikasi besar, jalan ditutup, bahkan kadang menjadi atraksi visual, kerap banyak muncul pertanyaan yang tak berani diungkapkan: “apakah ini masih sejalan dengan semangat awal?” Jawabannya, bisa dilihat dari dua sisi.

Di satu sisi, ada yang mengkritik bahwa ketika pindapatta menjadi terlalu seremonial, terlalu megah, atau terlalu dekat dengan pencitraan sosial dan keramaian festival, maka esensi sederhananya bisa memudar. Dalam Vinaya, kehidupan bhikkhu diarahkan untuk tidak mencari kemegahan, popularitas, atau kemelekatan pada penghormatan duniawi. Jika perhatian lebih tertuju pada kemeriahan daripada latihan batin, maka spirit awal pindapatta bisa bergeser.

Namun di sisi lain, banyak komunitas Buddhis kota mengadakan pindapatta akbar bukan semata untuk pertunjukan, melainkan sebagai adaptasi zaman. Pindapatta akbar dimaksudkan untuk mempertemukan umat perkotaan dengan Sangha, menghidupkan dana, memperkenalkan nilai welas asih dan kesederhanaan di tengah budaya konsumtif, dan menciptakan ruang spiritual kolektif di kota yang sibuk. Dalam konteks itu, bentuknya berubah, tetapi niatnya bisa tetap selaras dengan Dharma bila dijalankan dengan rendah hati dan tidak berlebihan.

 

Spiritualitas atau Seremoni

Mungkin pertanyaan terdalamnya bukan “besar atau kecil acaranya”, melainkan, apakah para bhikkhu tetap menjaga kesederhanaan, apakah umat memberi dengan tulus, dan apakah acara itu mengurangi keserakahan, ego, serta kemelekatan. Jauh dari kesombongan, pamer diri dalam berdana dan memupuk keserakahan, tinggi hati karena pemberian makanan begitu berlimpah, atau bahkan menimbulkan iri hati kecemburuan sosial dari mereka yang hidupnya kekurangan yang justru kerap mengais sampah di jalan kota yang dipergunakan pindapatta akbar itu.

Jika pindapatta berubah menjadi ajang status sosial, konten media, atau kompetisi religius, maka bukankah acara pindapatta seperti jadi menjauh dari makna yang diajarkan Buddha? Tetapi jika bahkan acara itu dilakukan di tengah kota modern ia masih menghadirkan keheningan batin, rasa hormat, dan kesadaran akan ketidakkekalan, maka semangatnya mungkin masih hidup-meski bentuknya telah berubah mengikuti zaman.

Ada nuansa menarik dalam Buddhadharma, dimana Dharma sering bertahan bukan dengan membeku, tetapi dengan beradaptasi tanpa kehilangan inti. Seperti teratai yang tumbuh di air berbeda-beda, namun tetap menuju cahaya. Tetapi, timbul juga pertanyaan, bagaimana kalau jadinya “pindapatta akbar” itu terus tumbuh mewarnai kehidupan modern?

Jawaban yang mungkin akan mengemuka adalah, kalau “pindapatta akbar” terus tumbuh besar di kota-kota modern, maka ia akan selalu berada di antara dua arus, yaitu: antara spiritualitas dan seremoni sosial.

Di satu sisi, pertumbuhan itu bisa menjadi tanda bahwa masyarakat masih merindukan ruang hening di tengah dunia yang hiruk pikuk. Melihat barisan bhikkhu berjalan tanpa membawa apa pun selain mangkuk, di tengah gedung, kendaraan, dan budaya konsumsi, bisa menjadi simbol kuat tentang kesederhanaan. Banyak orang yang mungkin tidak pernah datang ke vihara justru tersentuh lewat perjumpaan singkat di jalan raya.

Tetapi patut pula dicamkan bahwa semakin besar sebuah peristiwa keagamaan, maka semakin besar pula risiko kehilangan inti batinnya. Ada kemungkinan pindapatta akbar menjadi festival visual, spiritualitas berubah menjadi identitas massa, umat datang demi keramaian, dokumentasi dan citra lebih dominan daripada kontemplasi, dan kesunyian berubah menjadi pertunjukan.

Lihatlah penyelenggara atau panitia yang dengan mikrofon bermobil mensuarakan secara keras kepada umat untuk berdana yang terdengar layaknya tukang obat atau pedagang yang mengobral barang dagangannya, mengundang datang untuk membelinya dan memancing sifat konsumerisme jauh dari makna keheningan dan spiritualitas. Sejak kapan berdana seperti komoditi atau barang dagangan?

Begitu pula dengan para fotografer yang turut mengabadikan sebuah peristiwa berdana dengan gaya-gayanya. Bukankah peristiwa berdana yang sesungguhnya dan sepantasnya itu adalah sebagai peristiwa melepas yang tak sepantasnya bergaya.

Dalam sejarah agama-agama, hal seperti ini hampir selalu terjadi. Ritual lahir dari keheningan perlahan menjadi institusi sosial dan budaya publik. Memang ini bukan berarti otomatis salah, tetapi membutuhkan kewaspadaan batin terus menerus, dan dalam menyikapinya dengan hati-hati untuk tidak tenggelam dalam kepongahan.

Barangkali tantangan terbesar Buddhadharma perkotaan bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan menjaga “roh kesederhanaan” di tengah dunia modern yang menyukai spektakel. Bhiksu, penulis, penyair dan aktivis HAM Thich Nhat Hanh (1926-2022) sering menekankan bahwa praktik sejati tidak bergantung pada kemegahan bentuk, melainkan pada kualitas kesadaran saat menjalaninya. Bahkan berjalan pun bisa menjadi meditasi.

Maka untuk acara pindapatta besar ataupun kecil, pertanyaannya tetap sama, yakni: apakah masih ada keheningan di dalam langkah-langkah itu? Sementara jalan kaki para bhikkhu kerap disemangati oleh drum band atau atraksi barongsai yang memeriahkan acara dan mengundang datang banyak orang dari berbagai kalangan, menjadi atraksi tontontan jalanan.  

Bisa jadi suatu hari nanti pindapatta akbar berkembang seperti festival budaya kota, masuk dalam agenda budaya pemerintahan kota. Bisa juga justru menjadi jembatan spiritual baru bagi masyarakat modern. Semuanya tergantung apakah komunitas Buddhis mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan sosial dan kesederhanaan yang dahulu diajarkan Buddha Gautama.

 

Simulakra Hiperrealitas dan Tontonan

Pandangan filsuf Jean Baudrillard (1929-2007), tentang simulakra atau hiperrealitas sangat menarik jika dipakai membaca fenomena “pindapatta akbar” di kota modern. Baudrillard mengatakan bahwa dalam masyarakat modern, simbol sering perlahan terlepas dari realitas asalnya. Sesuatu tidak lagi hidup terutama karena makna aslinya, tetapi karena citra, reproduksi media, dan konsumsi simboliknya. Pada tahap tertentu, representasi menjadi “lebih nyata daripada kenyataan” – itulah hiperrealitas.

Secara filosofis, pindapatta pada masa awal Buddhadharma adalah praktik eksistensial yang sangat sederhana. Bhikkhu hidup tanpa kepemilikan, bergantung penuh pada kemurahan hati, berjalan sunyi, tinggal di gubuk sederhana, dan mengikis ego.

Namun, ketika pindapatta dipindahkan ke ruang urban modern, dan ia diumumkan besar-besaran, diatur seperti event lengkap dengan organizing committenya, dipotret drone, menjadi konten media sosial, bahkan terkadang menjadi simbol identitas komunitas, dan karenanya praktik itu mulai memasuki logika representasi budaya modern.

Dalam pembacaan Filsuf dan pakar teori kebudayaan Jean Baudrillard (1929-2007), ada kemungkinan pindapatta tidak lagi dialami terutama sebagai latihan kemiskinan dalam hidup spiritual, tetapi sebagai “citra spiritualitas”. Orang merasa telah menyentuh kesucian melalui visual, suasana massal, dan simbol-simbol religius yang diproduksi secara publik. Di titik inilah ia bisa disebut simulakra: yaitu sebuah bentuk yang masih menyerupai praktik asli, tetapi hubungannya dengan konteks historis dan pengalaman eksistensial mulai longgar.

Secara sosiologis, fenomena ini bisa dibaca melalui masyarakat tontonan (society of the spectacle) seperti diungkap filsuf, pemikir budaya, sineas Guy-Ernest Debord (1931-1994). Dalam masyarakat modern, pengalaman manusia makin dimediasi oleh pertunjukan visual dan konsumsi simbol. Bahkan spiritualitas pun dapat berubah menjadi pengalaman kolektif yang dikonsumsi, seperti dengan hadir, memotret, mengunggah, merasakan atmosfer, lalu selesai sebagai  pengalaman citra.

Tetapi di sisi lain, analisis Baudrillard tidak otomatis berarti pindapatta akbar “palsu” atau tidak bernilai. Ini lebih merupakan kritik bahwa modernitas cenderung mengubah segala hal – termasuk agama – menjadi simbol yang beredar dalam media, identitas sosial, dan budaya massa.

Menariknya, Buddhadharma sendiri sebenarnya punya semacam kritik internal terhadap hal-hal itu. Dalam banyak ajaran, bentuk ritual memang dianggap kosong bila tidak disertai kesadaran batin. Jadi ada semacam ironi. Baudrillard mengkritik masyarakat modern karena tenggelam dalam simulasi, sementara Buddhadharma sejak lama sudah mengingatkan akan bahaya keterikatan pada bentuk dan penampakan sebagai tak bernilai.

Mungkin karena itu, pertanyaan pentingnya bukan: “apakah pindapatta akbar asli atau simulasi?” tetapi, “apakah di tengah hiperrealitas modern masih mungkin ada keheningan yang sungguh dialami?” Karena bisa saja di tengah keramaian dan kamera, seorang bhikkhu tetap melangkah dengan hening, dan bisa saja di tengah acara sederhana, ego tetap sangat besar. Dalam perspektif Buddhis, kualitas batin akhirnya lebih menentukan daripada ukuran peristiwanya.

 

Kekosongan Eksistensial dan Kebutuhan Simbol

Penting untuk mencermati akar psikologis komunitas yang memungkinkan terjadinya peristiwa acara “pindapatta akbar” menjadi simulakra dan tontonan. Secara psikologis bisa menjelaskan mengapa praktik spiritual seperti pindapatta dapat berubah menjadi simulakra dan tontonan publik. Hal ini bukan hanya terjadi dalam komunitas Buddhis saja, tetapi hampir di semua tradisi agama ketika masuk ke masyarakat modern dan budaya massa.

Salah satu akarnya adalah kebutuhan manusia akan pengalaman kolektif. Kebutuhan yang sekaligus mencerminkan akar psikologis sosiologis dan spiritualitas. Manusia bukan hanya makhluk rasional, tetapi juga makhluk simbolik dan emosional. Ketika ribuan orang berkumpul dalam ritual bersama, muncul rasa identitas, kebersamaan, keterhubungan, bahkan rasa “sakral” yang diperkuat massa.

Sosiolog Emile Durkheim (1858-1917) menyebutnya sebagai “collective effervescene,” semacam energi emosional bersama yang muncul  dalam ritual kolektif. Dalam keadaan itu, orang merasa dirinya bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri pribadi. Maka pindapatta akbar bukan hanya soal memberi makanan, tetapi juga pengalaman pribadi “komunitas Buddhis” secara bersama-sama.

Secara psikologis modern, ada juga kebutuhan akan visibilitas. Orang ingin terlihat ikut, ingin menjadi bagian dari peristiwa penting, ingin membagikan pengalaman spiritual, atau mencari validasi sosial.

Di era media sosial, pengalaman religius tidak lagi hanya dihayati, tetapi juga dipresentasikan. Kamera, unggahan, dokumentasi, dan simbol visual perlahan menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Di sinilah makna ritual mulai bergerak dari kontemplasi spiritual menuju performativitas sosial, pertunjukan atau budaya tontonan.

Filsuf dan sosiolog Erving Goffman (1922-1982) melihat kehidupan sosial seperti panggung pertunjukan. Manusia  selalu menampilkan diri di depan orang lain. Dalam konteks itu, ritual keagamaan pun dapat menjadi ruang “penampilan identitas moral dan spiritual”. Orang mungkin secara tidak sadar ingin dilihat sebagai orang yang religius, dermawan, dekat dengan Sangha, atau bagian dari komunitas suci.

Namun ada akar yang lebih dalam lagi, yaitu bahwa manusia takut pada kekosongan eksistensial. Dunia modern sering terasa individualistis, mekanis, dan terfragmentasi. Ritual besar memberi rasa makna dan keterikatan emosional. Karena itu, masyarakat modern cenderung menciptakan “momen sakral massal” untuk mengisi kehampaan batin kolektif.

Menariknya, Buddhadharma sendiri sebenarnya sangat sadar terhadap kecenderungan psikologis ini. Banyak ajaran awal menekankan mengenai kesunyian, pelepasan identitas, praktik tanpa pencitraan, dan kewaspadaan terhadap ego spiritual.

Karena itu, dalam peristiwa pindapatta akbar akan selalu ada ketegangan abadi. Ketegangan antara kebutuhan komunitas manusia akan simbol dan perayaan dengan dorongan spiritual menuju keheningan dan tanpa-aku.

Pindapatta akbar mungkin berdiri tepat  di tengah ketegangan itu. Ia bisa menjadi jembatan welas asih dan kebersamaan. Tetapi ia juga bisa tergelincir menjadi konsumsi spiritual dan tontonan identitas. Secara filosofis, keduanya mungkin hadir bersamaan dalam satu peristiwa yang sama, atau jatuh menjadi sekedar festival jalanan.

 

Pindapatta Bhiksu Tua di Pinggir Desa.

Masih ada bhikkhu di zaman modern yang berpindapatta dengan semangat pindapatta zaman Buddha dan para siswanya, bahkan pindapatta seperti zaman dahulu ini tak akan luntur oleh zaman. Sederhana itu universal, berlaku melintas zaman, ruang dan waktu, karena sederhana itu bahagia, dan bahagia sederhana. Bhikkhu dan pindapatta adalah realitas kesederhanaan dan kebahagiaan.

Di pagi yang masih basah oleh embun, ketika kota di kejauhan baru mulai menggeram dengan mesin dan klaksonnya, seorang bhikkhu tua melangkah perlahan keluar dari vihara kecil di pinggiran desa. Jubah coklatnya sederhana, sedikit pudar dimakan musim, dan di tangannya hanya sebuah mangkuk hitam yang telah lama mengkilap oleh waktu karena selalu diajak berkeliling setiap hari.

Jalan yang dilaluinya bukan boulevard besar penuh spanduk acara keagamaan. Hanya jalan desa sempit di antara pagar bambu, sawah hijau, dan parit kecil yang memantulkan cahaya matahari muda. Anak-anak desa dengan arit dan cangkulnya memandang diam. Seorang petani yang baru pulang dari sawahnya menundukkan kepala singkat. Seekor anjing tua berjalan malas mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Tak ada pengeras suara. Tak ada kamera. Tak ada panggung. Hanya sunyi sandal yang menyentuh tanah lembab pagi hari. Di depan rumah-rumah sederhana, orang-orang desa keluar perlahan membawa nasi hangat, singkong rebus, atau kadang hanya segenggam pisang dari kebun belakang. Sang bhikkhu menerima semuanya dengan wajah tenang, tanpa memilih, tanpa meminta lebih, dan tanpa membawa asisten untuk menampungnya.

Di dalam keheningan langkah itu, ia kadang membayangkan masa yang sangat jauh, imajinasi akan gurunya Sang Buddha dan siswanya dahulu kala berpindapatta. Zaman dahulu kala ketika Buddha berjalan bersama para siswa-Nya di jalan-jalan berdebu India kuno. Ia membayangkan para bhikku dahulu berjalan tanpa nama besar, tanpa kehormatan dunia, hanya membawa tubuh renta dan kesadaran akan ketidakkekalan.

Dari pintu ke pintu mereka belajar bahwa hidup bergantung satu sama lain. Ada yang memberi makanan, ada yang memberi dharma, dan keduanya sama-sama sebanding tiada lebih rendah atau tinggi tidak ada hirarki sosial dan spiritual, karena keduanya sadar sama-sama sedang berlatih melepaskan keterikatan.

Bhikkhu tua itu menatap sawah yang digerakkan oleh angin pagi. Burung-burung kecil melintas rendah di atas padi muda. Kota tumbuh semakin dekat dari tahun ke tahun, dan  gedung, iklan, jalan beton perlahan merayap menuju desa. Tetapi pagi itu ia merasa masih ada sesuatu yang belum hilang dari dunia. Pindapatta ala Buddha dan siswa-siswanya dahulu masih bisa dilakukan tak lekang oleh waktu dan keadaan zaman.

Mungkin dirinya adalah penghubung makna esensial dari pindapatta itu, spiritualitas kesederhanaan dari waktu ke waktu, dan dari zaman ke zaman. Mungkin itu bukan sekedar bentuk ritualnya, bukan semata karena jubahnya, atau bukan sebentuk mangkuknya yang kecil, melainkan langkah sunyi manusia yang berjalan tanpa ingin menjadi pusat perhatian.

Dan di antara aroma tanah basah serta asap kayu dapur rumah-rumah desa, ia merasa seperti mendengar gema sangat tua, yaitu langkah seorang siswa Buddha di masa lampau, yang berjalan di bawah matahari, membawa mangkuk kosong, agar batinnya juga tetap kosong. Adakah bhiksu tua itu tumimbal lahir dari salah satu siswa Buddha dahulu? Siswa yang ingin mengabarkan bahwa pindapatta adalah peristiwa sederhana dan karenanya akan tetap bisa dipraktikkan dan tetap hidup seperti dahulu sampai zaman apa pun dan kapan pun. Bukankah kesederhanaan itu langkah dharma yang universal? (JP) *** 

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS66ar6CByQjH2GqCrGhI0kQoOp3j9Ehn4oWFWlsERZOA&s=10

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?