Sindrom Kecina-cinaan

Home » Artikel » Sindrom Kecina-cinaan

Dilihat

Dilihat : 83 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 3
  • 38
  • 33,967
sindrom kecina-cinaan

Ditulis oleh: Gifari Andika Ferisqo ()

 

Umumnya kita sangat terbiasa mendengar istilah kebarat-baratan (westernization) di Indonesia, namun kali ini kita akan mengenal istilah baru, yaitu sindrom kecina-cinaan. Sebelumnya kita juga mengenal istilah kejepang-jepangan (wibu/おたく) atau kekorea-koreaan (Korean wave) untuk mereka yang sangat addict/junkies terhadap kedua fenomena tersebut di Indonesia.

Ini sebenarnya masih termasuk ke dalam easternization syndrome yang mana istilah ini kurang populer di Indonesia, namun cukup populer di negara-negara Barat terutama mereka yang menggemari nilai-nilai spiritualist dari India dengan mempraktikkan yoga atau ayurvedic (traditional Indian medicine).

Memang sebenarnya kebudayaan adalah produk yang dibuat oleh manusia, sedangkan kebudayaan juga membentuk manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks budaya, manusia dipandang sebagai makhluk yang penuh dengan simbol dan juga makhluk kehidupannya dibentuk oleh produk budaya.

Terlebih kebudayaan tidak diwariskan melalui kode genetik, melainkan melalui proses enkulturasi, yaitu proses interaksi manusia di mana seseorang belajar dan menerima kebudayaannya. Manusia memperoleh budaya mereka baik secara sadar melalui pembelajaran langsung dan secara tidak sadar melalui interaksi. 

Pengaruh budaya ini tidak dapat dihindari di era yang semakin canggih ini, proses interaksi antar bangsa di dunia melalui pertukaran pelajar atau kunjungan pelajar, wisata kunjungan dan program lainnya semakin hari semakin meningkat. Suatu proses sosial yang terjadi ketika suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan bertemu dengan unsur-unsur kebudayaan lain sedemikian rupa sehingga unsur- unsur kebudayaan tersebut lambat laun diterima dan ditransformasikan ke dalam masyarakatnya sendiri. 

Mulai populernya easternization di Indonesia bermula ketika industri Jepang membanjiri Indonesia di tahun 1970-an, sejak saat itu berbagai produk dan hiburan Jepang di berbagai media di Indonesia mendominasi berdampingan dengan produk dan hiburan Barat sampai pada periode permulaan tahun 2000-an.

Ketika di tahun 2010-an produk dan hiburan Korea Selatan mulai populer di Indonesia dan menggeser popularitas produk dan hiburan Jepang dan Barat. Kata easternization secara literal berarti “ketimur-timuran” dan berasal dari kata easternize. Kondisinya mirip dengan yang ada di dunia timur atau dengan kata lain easternization menjadikan kita orang timur dengan budaya timur yang lebih timur daripada asalnya dan berupaya meniru cara hidup timur secara berlebihan, meniru segala aspek kehidupan, baik itu fashion, perilaku, budaya dan lain-lain. 

 

Fenomena Kecina-cinaan di Indonesia

Penganut budaya easternization di Indonesia sebenarnya memiliki segment masing-masing, ada yang kejepang-jepangan (wibu/おたく), kekorea-koreaan (Korean wave) dan kecina-cinaan. Umumnya fenomena kecina-cinaan hanya populer di kalangan Tionghoa Indonesia atau Chindo (Chinese Indonesian).

Sebenarnya tidak ada masalah besar dalam fenomena kecina-cinaan tersebut terlebih bagi kita yang keturunan Tionghoa patut melestarikan tradisi dan budaya leluhur kita sebagai bentuk penghormatan dan mengingat jasa-jasa para leluhur bagi kita dan sangat menjunjung tinggi ikatan kekeluargaan serta kekerabatan.

Hanya saja yang jadi permasalahan adalah ketika banyak Chindo yang ingin kembali melestarikan tradisi dan budaya leluhur setelah dicabutnya Inpres Nomor 14 tahun 1967 tentang pelarangan tradisi dan budaya Tionghoa di muka umum, dan diganti dengan Keppres nomor 6 tahun 2000 tentang kebebasan ekspresi tradisi dan budaya Tionghoa di muka umum, menjadi terlalu ‘kecina-cinaan’ atau bahkan menjadi lebih Tionghoa daripada orang Tionghoa di tanah Tiongkok. 

Perubahan sosial dan budaya dengan tujuan recovery ini dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang dapat terjadi sebagai akibat ketidaksesuaian antara berbagai unsur yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di kalangan Chindo itu sendiri sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak selaras dengan fungsinya bagi masyarakat yang terlibat, bahkan sesama Chindo pun kadang menjadi tidak relate.

Ini terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa umumnya Chinese overseas ketika merantau akan mengembangkan sendiri tradisi dan budaya menjadi lebih variatif di tanah rantauan dengan tetap memegang dasar nilai-nilai Konfusianisme (儒教), Taoisme (道教) dan Buddhisme (), yang tentunya setiap Chinese overseas akan memiliki kebudayaan dan tradisi yang sedikit berbeda satu sama lain di berbeda tempat di belahan dunia manapun.

Sering kali ini terjadi pada golongan muda Chindo yang berkuliah di Tiongkok dan baru saja pulang ke Indonesia. Mereka umumnya sering membanding-bandingkan antara Tiongkok dengan Indonesia terutama di sektor kecanggihan, baik transportasi, teknologi, perbankan, dan lainnya atau bahkan juga terkadang kuliner dengan membandingkan Chinese food di Indonesia dengan Chinese food di tanah leluhur yang tentu saja bisa kita tebak sudah pasti akan berbeda. 

Sebenarnya wajar saja jika ada yang membandingkan seperti itu untuk memicu kita menjadi lebih baik namun lama-kelamaan akan jadi memuakkan jika itu terus dibahas dan terkesan merendahkan negara sendiri atau bahkan terkadang menilai Chindo ‘kurang Tionghoa’. Ini bisa berdampak pada perubahan kepribadian yang menjadi sepenuhnya terkesan ingin meniru Tiongkok secara penuh, misalkan seperti banyak wanita Chindo yang menginginkan acara sangjit (送日頭) dan tingjing () secara lebih mewah dan lebih eksklusif, sebenarnya kedua acara tersebut sangat bagus dan intim secara makna, namun makna dari acara tersebut seolah sirna oleh keinginan tambahan (exclusive additional option) yang sebenarnya tidak diperlukan dan sering kali dikompori oleh para wedding organizer

Padahal di Tiongkok sendiri sudah banyak yang tidak melakukan sangjit (送日頭) dan tingjing () terutama di kota-kota besar, kalaupun masih melakukannya biasanya tidak semewah yang biasa diadakan di Indonesia belakangan ini. Bahkan orang Tionghoa di Tiongkok juga sudah tidak terlalu peduli jika yang menikah masih satu marga asalkan bukan keluarga inti dan pemerintah sana juga tidak melarang pernikahan yang satu marga, tetapi di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya.

Atau mungkin yang lebih menjengkelkan adalah terkadang pria Chindo yang sering dibandingkan dengan pria Tionghoa di Tiongkok perlakuannya terhadap wanita yang dinilai memiliki banyak nilai plus dibandingkan cowok Chindo, tetapi banyak wanita Chindo yang lupa bahwa mereka juga harus memberikan value yang setara jika ingin mendapat perlakuan yang sangat istimewa. 

Bentuk overproud atau kecina-cinaan lainnya yang pernah saya dengar terhadap negara Tiongkok adalah saat beberapa teman saya yang selesai kuliah di Tiongkok dan hendak akan kembali Indonesia terlalu melebih-lebihkan Tiongkok sampai menyempatkan bersujud di depan Patung Mao Zedong (泽东) yang berada di Shenzhen (深圳) sebelum kembali ke Indonesia dengan alasan bersyukur ke tanah leluhur.

Terlepas dari kontroversinya sosok Mao Zedong (泽东), menurut saya itu terlalu berlebihan dan jika memang bersyukur terhadap leluhur dan tanahnya padahal cukup dengan bersembahyang di altar leluhur kita. 

Ada lagi mungkin yang lebih menyebalkan ketika Chindo yang terlalu kecina-cinaan justru menciptakan konflik yang senyap dengan Chindo yang sudah beragama Kristen/Katolik yang sering kali pula dituduh sudah tidak mewarisi nilai-nilai adat dan budaya Tionghoa dan dikritik sebagai ancaman terhadap identitas budaya yang diwarisi oleh leluhur, yang semestinya praktik-praktik dari tradisi Tionghoa hendaknya dipahami dalam perspektif fenomenologis, yakni dengan menyerap makna dan membangun pemaknaan secara intersubyektif dan lintas budaya (cross cultural) antara budaya Tionghoa sebagai interpretasi dan budaya Tionghoa dalam sudut pandang praktisi budaya itu sendiri. 

 

Konklusi

Sering kali alasan, ‘kita ini kan orang Tionghoa/Chindo’ selalu dikemukakan, dan alasan seperti ini di era sekarang menurut saya sangat klise. Memangnya apa yang menjadi standar dari Timur dan Barat, dan apa yang bisa membedakan serta membuat salah satu pihak lebih unggul dari pihak lainnya?

Standar-standar yang dibuat ternyata sangat absurd, atau terkadang menjadi batas-batas yang tidak jelas karena sengaja dibuat aturan ketat oleh sekelompok orang yang mengangkanginya. Easternization yang kecina-cinaan oleh sekelompok orang Tionghoa/Chindo sendiri terutama mereka yang baru saja pulang dan selesai kuliah dari Tiongkok, merupakan upaya untuk mengubah sikap dan pandangan orang Tionghoa/Chindo sesuai dengan keinginan atau bayangan yang mereka harapkan.

Pengaruh easternization yang kecina-cinaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecina-cinaan di kalangan Chindo umumnya disebabkan oleh faktor informasi dan penyebarannya, serta kontak sosial, terutama di pusat-pusat industri, pariwisata dan terutama pendidikan.

Kemajuan besar-besaran dalam komunikasi untuk mengakomodasi kebangkitan era informasi global berarti tidak ada negara di dunia yang tertutup untuk era informasi. Dari sana, tuntutan zaman yang menuntut cara hidup yang lebih maju dalam segala aspek kehidupan dengan berporos pada Tiongkok sebagai patokan, membawa perubahan dalam perekonomian dan sistem sosial budaya masyarakat terutama di kalangan Chindo itu sendiri agar terasa lebih Tionghoa dan lebih merasa terikat dengan tanah leluhur.

Padahal Konfusius (孔子) sendiri dalam ajaran moralnya yang mengandung unsur-unsur sifat bijak manusia salah satunya menekankan pada nilai ‘menyesuaikan diri (zhengming/)’ yang mana itu sudah diterapkan oleh para leluhur kita ketika merantau ke tanah rantauan yang kita pijak saat ini, Indonesia.

Kita memang harus mewariskan ajaran, budaya dan adat istiadat dari para leluhur tetapi dengan penyesuaian dan adaptasi dengan lingkungan sekitar di tempat baru, atau istilah populernya adalah ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’.

Maka sebagai contoh bisa kita saksikan seperti antara Chinese Singaporean, Chinese Malaysian dan Chinese Indonesian memiliki karakteristik, bahasa dan budaya yang sedikit berbeda satu sama lain dan tidak perlu untuk terlalu mengikuti standar yang dibakukan oleh Tiongkok karena juga belum tentu cocok jika diterapkan oleh para Chinese overseas di seluruh dunia. Kita memang huá rén (华人) tetapi kita bukan huá qiáo (华侨), namun kita adalah huá yì (华裔) maka itu bersikap respect lah kita terhadap tanah yang kita pijak saat ini dan keharmonisan yang telah leluhur kita ciptakan sejak mereka merantau.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka

  • Appadurai, A. 1996. Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization. Minneapolis: University of Minnesota Press.
  • Koentjaraningrat. 1982. Pengantar Antropologi. Jakarta: Penerbit Aksara Baru.
  • McVey, R. T. 1978. Southeast Asian Transitions. Approaches Through Social History. Yale University Press.

 

Butuh bantuan?