Suami Istri Berebut Sepotong Kue

Home » Artikel » Suami Istri Berebut Sepotong Kue

Dilihat

Dilihat : 0 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 48
  • 70
  • 6,331

Oleh: Xie Zhen Ming 谢峥明

Editor: Majaputera K / Sia Wie Kiong 谢偉强  

Ada sebuah kisah fabel Buddhis yang merupakan fiktif belaka berjudul夫妻爭餅Fūqī zhēng bǐng, kisah ini menceritakan bagaimana sepasang suami istri berebut sepotong kue. Dahulu kala, ada sepasang suami istri yang memiliki tiga roti, masing-masing makan satu, dan mereka sepakat satu sama lain dengan mengatakan, “Siapa yang berbicara lebih dulu tidak akan memakan sisa roti itu.” Tak lama kemudian, seorang pencuri mendobrak masuk ke dalam rumah, dan semua barang berharga di dalam rumah itu dicuri, tetapi karena suami istri itu lebih dulu setuju, mereka terdiam ketika melihat pencuri itu mencuri.

Melihat keduanya terdiam, pencuri itu mulai berani menggoda istrinya di depan sang suami. Suami yang bodoh itu tidak mengeluarkan suara ketika melihat situasi seperti itu. Sang istri akhirnya tidak tahan lagi. Sang suami berkata, “Dasar bodoh! Hanya untuk sepotong roti, kamu bahkan tidak memanggil pencuri ketika kamu melihat pencuri!” Sang suami tiba-tiba bertepuk tangan dan tersenyum dan berkata, “Hei, bagus! Sekarang kue itu milikku! Kamu tidak bisa makan kue ini!

Para pembaca yang terkasih, cerita di atas singkat, padat dan bermakna dalam tidak hanya sekedar lelucon belaka. Peribahasa bahasa Inggris mengatakan: Don’t be penny wise and pound foolish. Secara sederhana peribahasa itu memberi nasehat kepada kita semua: jangan sampai demi mengejar keuntungan yang sedikit justru kehilangan lebih banyak. Dalam kehidupan sehari-hari, keuntungan di depan mata seringkali membuat kita salah dalam mengambil sebuah keputusan. Teman-teman saya dari lingkungan marketing perbankan paling seru berdiskusi tentang high risk high return. Investasi ini returnnya bisa sampai 30%, tapi resikonya bisa rugi 50%. Tanpa pemahaman yang memadai, kerugian di depan mata.

Nabi Kong Zi dalam kitab Lun Yu jilid IV. 16 mengajarkan kepada kita agar dalam kehidupan sehari-hari menjadikan kebenaran sebagai patokan. Menjadikan keuntungan sebagai patokan adalah perilaku seseorang rendah budi. Dalam cerita di atas ketika ada pencuri yang masuk ke dalam rumah, seharusnya sama-sama berteriak:” Awas, ada pencuri masuk! “.Ketika pencuri masuk, berteriak meminta pertolongan adalah sebuah kebenaran. Sayangnya, pasangan tersebut lebih memilih saling diam, ingin menjadi pemenang. Demi mendapatkan sepotong kue yang kecil, mereka rela kehilangan banyak barang berharga. Sungguh sangat disayangkan.

子曰:“君子喻于义,小人喻于利。”

zǐ yuē jūn zǐ yù yú yì xiǎo rén yù yú lì

Khonghucu bersabda: “Seorang susilawan hanya mengerti akan Kebenaran, sebaliknya seorang rendah budi hanya mengerti akan keuntungan.” (Lun Yu IV: 16)

Maka dari itu, kita perlu bersikap慧Huì. Bagi sebagian dari kita, karakter han zi: 慧Huì tidaklah asing di telinga. Menurut kamus besar tionghoa-indonesia 慧Huì diterjemahkan sebagai: cerdik, pandai, pintar. Ada juga orang menterjemahkan慧  sebagai kearifan. Cerdik, pandai, pintar lebih mengarah kepada kemampuan membandingkan satu dengan yang lain demi keuntungan pribadi/golongan kecil, sudut pandang yang sangat terbatas. Di atas altar terdapat piring sembahyang berisi 3 buah mangga, orang pandai akan mengambil yang terbesar untuk dirinya sendiri. Orang yang arif dapat memilih buah yang sudah masak-siap untuk dikonsumsi, belum tentu mengambil buah yang terbesar. Bila bersama dengan kakek/nenek, tidak akan berebut mengambil yang terbaik untuk dirinya sendiri, melainkan mengalah untuk orang lain.

Pendapat yang menterjemahkan 慧sebagai kearifan, sejalan dengan teori 说文解字. Karakter han zi 慧bila diuraikan akan menjadi 2 bagian yaitu:彗Huì & 心 Xin。彗Hui berarti membersihkan, 心 Xin artinya hati. Dengan kata lain kearifan didapatkan ketika kita memiliki hati yang bersih, dapat menekan serendah mungkin rasa egois, ingin menang/untung sendiri. Menurut kalangan Buddhist, 慧 diterjemahkan sebagai: kebijaksanaan. Dalam Sansekerta disebut sebagai: Prajñā atau paññā menurut bahasa Pāli.

Selamat belajar, semoga bermanfaat. 加油!

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).

Daftar Pustaka

http://www.fodizi.tw/fojiaogushi/625.html

Adegunawan, Suyena (陳書源 Tan Su Njan). 2018. Kompilasi 《四书》– Si Shu – Empat Kitab Klasik. Bandung. Penerbit TSA.

 

Butuh bantuan?