Surga – Neraka Versi Konotatif

Home » Artikel » Surga – Neraka Versi Konotatif

Dilihat

Dilihat : 67 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 5
  • 31
  • 25,991
aprl 4

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd (Sia Wie Kiong 謝偉强)

 

A. Surga Neraka Dalam Realita Hidup

Pernah di suatu hari setelah saya memberikan Dharmadesana (Pembabaran Dharma, ceramah keagamaan Buddha dalam makna yang lebih umum) di salah satu Vihara besar di kabupaten Banten, kala itu saya beramah tamah dengan semua umat yang ada. Kemudian masuklah seorang pemuda yang bukan umat Vihara tersebut. Pemuda ini berkeyakinan lain (Bukan umat Buddha) dan meminta semua yang ada di sana untuk mengikuti keyakinannya, ia mengatakan hanya keyakinannya yang dapat membawa kepada Surga dan kebahagiaan abadi, jika tidak mengikuti apa yang diyakininya, sebagai konsekuensi setelah kematian akan lahir ke neraka.

Saya pribadi hanya mengamati saja dengan berpura-pura lugu, saya melihat respon dari umat-umat lain yang ditawarinya. Ada yang berkata ‘Tidak apa-apa deh nanti saya di neraka’; ‘Itu urusan saya, bukan urusan kamu (Dengan nada jengkel)dan sebagainya. Sampai tibalah pada giliran saya ditanya apakah kamu mau ‘Diselamatkan’? Saya menjawab: ‘Saya masih senang menjadi orang biasa’. Lalu ditanya ‘Nanti kalau kamu masuk neraka bagaimana?’

Dengan sedikit menghela nafas, saya menjelaskan konsep Surga Neraka menurut pandangan filsafat agama timur (Meski hanya secara sederhana, tidak sekompleks apa yang saya tulis dalam artikel ini). Perlu kita garis bawahi bersama, ajaran filsafat timur pada umumnya tidak hanya menganggap surga dan neraka sebagai alam tujuan setelah kematian semata, ada kalanya surga dan neraka disebut sebagai suatu keadaan yang mencerminkan pengendalian diri seseorang. Surga dan neraka seperti ini bisa disebut sebagai versi Konotatif (Makna kiasan, bukan makna sebenarnya)

Misalnya pada Anguttara Nikaya 4 dan 5 ada banyak sekali sutta yang menyatakan bahwa dengan menjalankan perbuatan-perbuatan buruk maka seseorang akan merasakan menderita seperti ada di alam neraka, sedangkan jika melaksanakan perbuatan-perbuatan baik seseorang akan merasa  bahagia seperti berada di surga. Ambil contoh pada Anguttara Nikaya 5.286-5.292 menjelaskan bahwa sebagai apapun dia, baik seorang Bhikkhu-Bhikkhuni; Samanera-Samaneri (Calon bhikkhu-Calon bhikkhuni); Sikkhamana (Orang yang dalam proses latihan sebelum menjadi Bhikkhuni); maupun Upasaka-Upasika (Umat awam pria-wanita) apabila ia melakukan hal-hal yang melanggar 5 Latihan moral dasar Buddhis (Membunuh, mencuri, berbuat asusila/melakukan hubungan intim bagi pertapa, berbohong, dan mengkonsumsi zat memabukan untuk melemahkan kesadaran). Sebaliknya apabila ia mematuhinya, hidup orang tersebut akan menjadi bahagia seperti ia berada di Surga.

Bandingkan konsep ini dengan filsafat hindu (Jawa Kuno) dalam kitab Sarasamuccaya sloka ke 77:

“Indriya ikang sinanggah swarganaraka, kramanya, yan kawasa kahretanya, ya ika saksat swarga ngaranya, yapwan tan kawasa kahretanya saksat naraka ika 

Hawa nafsu indriya itu dianggap sebagai sorga-neraka. Perihalnya adalah: Bila mampu mengendalikannya, ya itu sama dengan sorga namanya. Bila tidak mampu mengendalikannya, itu sama dengan neraka.”

Ini membuktikan apa? Bahwa ajaran agama dan budaya ketimuran mengajarkan konsep surga-neraka bukan selalu dalam dimensi yang vertikal (antara pencipta dan ciptaannya) yang baru dapat dirasakan pada kehidupan setelah kematian, namun juga pada kehidupan saat ini dalam dimensi horizontal (sebagai manusia kepada sesama manusia). Surga dipandang adalah tempat sekaligus keadaan bagi orang-orang baik-bijaksana yang mampu mengendalikan dirinya secara luhur, sebaliknya neraka adalah bagi orang-orang yang tidak mampu berpengendalian diri.

 

B. Ingat Berketuhanan, Lupa Berkemanusiaan

Saya sempat membahas konsep ‘Agama sebagai candu’ pada pemuda tersebut, konsep ini dipopulerkan oleh seorang filsuf jerman bernama Karl Marx. Ia menuliskan sebuah kalimat ‘Die Religion ist der Seufzer der bedrängten Kreatur, das Gemüth einer herzlosen Welt, wie sie der Geist geistloser Zustände ist. Sie ist das Opium des Volks (Agama adalah desah napas keluhan dari makhluk yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, dan jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Ia adalah opium/candu bagi masyarakat). Hanya saya tidak langsung saya jelaskan secara terang-terangan, sebelumnya saya sempat menanyakan kepada dia apakah ia merasa keyakinan yang dianutnya membuatnya merasa lebih baik? dan tentu saja pemuda itu menjawab ‘iya’.

Sayapun memberanikan diri bertanya lebih lanjut apakah ia sudah memahami berbagai tujuan agama-agama di Indonesia? ia menjawab ‘Ya’ dan mulai menjelaskan secara rinci tujuan masing-masing agama tersebut. Ia sampai pada kesimpulan bahwa tujuan setiap agama berbeda-beda, ada yang bertujuan pada surga, moksa, nibbana, baitullah, kembali pada Thian, dan sebagainya.

Saya langsung menanyakan apa persamaan dari agama-agama itu? Ia pun sedikit kebingungan menjelaskannya. Akhirnya saya membantu dia dengan memberitahu bahwa ada konsepsi kemanusiaan dalam setiap agama. Hanya saja dimensi kemanusiaan ini seringkali dilupakan oleh manusia beragama. Agama yang diyakininya membuatnya merasa nyaman dan damai sehingga ia menganggapnya sebagai kebajikan. Hanya saja ini akan menjadi masalah ketika ia mulai memaksakan keyakinannya pada orang lain atau mengganggu keyakinan orang lain.

Berapa banyak kebencian dan perang yang diselenggarakan atas nama agama? Belum lagi kalau konflik keyakinan dimanfaatkan oknum tertentu untuk mendulang keuntungan dari adanya konflik. Ya, inilah realitanya. Agama disalah gunakan sebagai ‘candu’ yang bisa membuat seseorang kecanduan sehingga melupakan kemanusiaan. Maka antara berketuhanan dan kemanusiaan sebenarnya adalah sesuatu yang ‘Sepaket’ dan tidak bisa hanya satu saja. Jangan lupa kita hidup di dunia sebagai sesama manusia yang juga semuanya mau bahagia.

 

C. Kemanusiaan Yang Universal

Dengan menghargai niat mulia dia, saya pun meminta dia mengambil kuliah filsafat agama (diketahui dia lulusan SMA) sesuai agama yang dianutnya. Hal ini akan mengubah sudut pandang dia tentang agama dan penerapannya, saya juga mengatakan kepadanya dalam agama ada nilai-nilai universal, yang apabila dipraktikan bisa membawa keindahan yang rill dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya nilai cinta kasih, kasih sayang, moralitas, kebajikan, kebijaksanaan, dan sebagainya. Kamu pun bisa mengetahui nilai apa saja yang bersifat universal atau tidak.

Misi orang-orang misionari agama adalah ketika dia mampu untuk membawa sebanyak-banyaknya orang menuju kebahagiaan, maka dalam rangka mengejar kebahagiaan itu, saya ajarkan caranya: Jangan memaksakan apa yang diyakini oleh diri sendiri, biarkan setiap orang menentukan pilihan keyakinannya sendiri. Apabila mau membantu, kamu bisa mendorong mereka dalam nilai-nilai keagamaan yang kamu anut walau tidak sepenuhnya.

Misalnya: Agamamu meyakini 10 nilai dan 6 di antaranya nilai universal seperti ajaran moralitas dan ajaran-ajaran berkemanusiaan yang bisa dipraktikan siapa saja, kamu tidak perlu memaksa semua orang mengadopsi 10 nilai tersebut karena tidak bisa semua menerimanya dengan baik. Doronglah pada yang 6 karena semuanya bisa menerima apapun latar belakang agamanya. Ini sama dengan konsep memperlakukan orang lain selayaknya kepada diri sendiri (Tatwam Asi) dalam filsafat hindu dan konsep tidak melakukan hal yang diri sendiri tidak inginkan/tepasalira (Shu 恕) dalam Konfusianisme. Dari sinilah dimensi kemanusiaan dalam beragama bisa dipenuhi, sehingga ‘Surga dalam makna konotatif’ bisa ditarik menuju realita kehidupan, dinikmati bersama-sama sesama manusia dalam hidup ini.

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA)

 

Daftar Pustaka:

Suttacentral (Online Legacy Version). 2016. Anguttara Nikaya. http://legacy.suttacentral.net/an. Diakses 21 Maret 2023. 

DIRJEN BIMAS Hindu. 2021. Sārasamuccaya dan Terjemahannya. Jakarta. DIRJEN BIMAS Hindu Kementerian Agama RI. 

Wikipedia. 2021. Agama adalah candu. October 31, In Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Agama_adalah_candu

https://www.freepik.com/free-photo/man-climbing-stairs-heaven_916492.htm. Diakses 21 Mar 2023.

 

Butuh bantuan?