Tahun Baru Dalam Kuasa Kalachakra: Roda Waktu Terus Berputar

Home » Artikel » Tahun Baru Dalam Kuasa Kalachakra: Roda Waktu Terus Berputar

Dilihat

Dilihat : 1 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
IMG-20211231-WA0019

Oleh: Jo Priastana

Waktu yang kamu nikmati untuk dihabiskan bukanlah waktu yang terbuang

(Filsuf Bertrand Russell)

 

Pergantian tahun kembali datang.  Betapa cepatnya waktu berputar. Seakan baru saja kembang api yang malu-malu menyambut tahun 2021 dalam kemuraman dunia karena pandemi covid 19 lalu, bercahaya kecil di kaki langit, kini dunia pun kembali menanti cahaya kembang api menyambut 2022, meski pandemi covid 19 belum juga tuntas berlalu. Pergantian tahun kembali datang mengingatkan kita akan berputarnya waktu, dan merasakan betapa waktu memiliki kuasa yang begitu perkasa dalam meninggalkan apa saja. 

Segalanya segera akan berlalu dalam putaran waktu. Dalam Tantrayana dikenal istilah Kalachakra yang menunjuk pada berputarnya waktu. Kala berarti waktu dan Chakra berarti siklus. Tradisi Tantrayana mengenal upacara kalachakra yang menghayati bekerjanya siklus waktu atau berputarnya waktu.

Waktu seperti roda yang terus berputar dan menandakan siklus-siklus tertentu. Ada siklus yang tercemin dalam musim seperti musim hujan, musim panas, musim dingin, musim semi. Ada siklus yang menunjukkan beredarnya planet-planet: bulan yang berputar  mengitari matahari, mengganti hari menerbitkan pagi, siang dan malam hari.

 

Siklus Waktu Kalachakra

Ada siklus yang berlaku dalam pernapasan manusia. Napas keluar masuk yang mengajarkan praktek bekerjanya energi yang paling halus dalam tubuh seseorang pada jalan menuju pencerahan. Segala yang tampak di dunia dan di muka bumi ini tidak luput dari waktu.

Waktu terasa begitu berkuasa atas segala yang ada, timbul tenggelam, muncul lenyap dan termasuk hidup-mati manusia. Tak terasa rambut yang memiliki warna asli hitam ini telah memutih dan rontok disana-sini dengan kulit yang semakin mengkeriput. Manusia lahir mengalami ketuaan dan akhirnya mati dalam kuasa sang waktu.

Begitu vital dan berkuasanya waktu, sehingga waktu pun mendapat tempat dalam personifikasi religiusitas manusia. Dalam Tantrayana penghayatan akan kuasanya waktu begitu mendalam, sehingga terwujudkan sebagai Dewa (Tibet Yidam). Penghayatan ini tercermin dalam puja khusus dalam upacara Kalachakra yang merupakan praktek relijius terkemuka dalam Buddhisme Vajrayana.

Begitu berkuasanya waktu sehingga segala apa pun, termasuk manusia sangat amat ditentukan dan tergantung oleh waktu. Perencanaan boleh bagus, semangat boleh membara, doa-doa boleh dipanjatkan dengan begitu sangat serius, namun bila waktu belum berkenan, maka segalanya pun tidak akan terwujud. Kita mungkin mendambakan umur panjang, namun bila waktu menghendaki napas kita berhenti sekarang juga, maka dewa Yama pun akan menyertai kita sekarang juga.

Waktu selain berkuasa jadinya juga maha tahu. Dialah yang mengetahui kapan sesuatu terjadi, kapan kita berhasil atau gagal, mati atau hidup, tumbuh atau tenggelam, untung atau rugi, berteman atau bermusuhan. Waktu pula lah yang menentukan padi menguning, beras berubah menjadi nasi,dan nasi menumbuhkan tubuh kita untuk hidup.

Kalachakra merupakan maha tahu dan maha kuasa dimana segalanya berada dibawah pengaruhnya. Untuk itu berikanlah waktu kehidupan kita yang juga miliknya ini untuk melakukan puja bakti kepadanya dengan mengikuti dan mengadakan serta larut dalam upacara Kalachakra. Dalam berputarnya waktu, karma kehidupan kita terus berputar di dalam jentera samsara, dalam pusaran lingkaran kelahiran dan kematian yang tak putus-putusnya.

Akankah kita akan terus demikian, terus berputar dalam lingkaran lahir kembali yang tak terhingga? Tidakkah kita tidak berkeinginan terbebas dari tumimbal lahir? Kalachakra menguasai dan mengetahui jentera hidup kita, dan karenanya dalam pasangannya spiritualnya yakni Kalachakri kita pun pada akhirnya akan menyadari bahwa segalanya pun akan mungkin berakhir, berhenti, terbebas, berada dalam keabadian, keluar dari wilayah waktu menuju hidup kekal.

Dalam Tantrayana segalanya dipahami secara berpasangan, ada Yab, dan ada Yum. Adalah waktu yang juga berpasangan, ada temporalitas dan ada atemporalitas, roda yang berputar adalah tanpa awal dan akhir. Roda merupakan alat pelajaran terbaik bagi kita untuk memahami kehidupan dalam bentuk metafora, sebagaimana roda dharma (dharmacakra) maupun roda samsara untuk memahami hukum kesunyataan.

Begitu berkuasanya dan mata tahunya waktu, sehingga kita pun harus dapat mengenali, memahaminya serta memaknai hidup kita bersama waktu. Sang Buddha pun mengajarkan Dharmanya tidak luput dari waktu. Beliau mengajar selama 45 tahun setelah sang waktu pula yang sebelumnya menunjuk beliau menjadi Buddha.

 

Waktu Saat Ini

Kita hidup terentang dalam waktu, namun yang perlu dipahami adalah waktu saat ini, karena waktu yang ada adalah saat ini juga. Kita harus tetap menginjak tanah, hidup saat ini dan tak perlu meramalkan masa depan yang belum terjadi maupun menyesali masa lalu. Kita mencelupkan diri ke dalam ruang waktu sungguh-sungguh meresapi kehidupan kita dimana kita berada dalam setiap helai tarikan dan hembusan napas kita.

Napas kita menyiratkan waktu. Sepanjang ada napas kita, sepanjang itu pula hidup kita. Karena itu kehidupan ada pada napas kita saat ini. Tak perlu merisaukan masa depan seperti orang yang menggantungkan nasib baiknya pada bintang-bintang. Tapi apa yang bisa diberikan bintang-bintang, bila kita sendiri tanpa usaha.

Sang Buddha pernah berkata: “kepandaian benar-benar merupakan bintang keberuntungan kita.  Kita jangan menghabiskan banyak waktu dengan kegiatan ramal meramal dan memilih hari keberuntungan untuk melaksanakan suatu harapan. Kita adalah tuan untuk diri kita sendiri. Melakukan yang terbaik untuk berkonsentrasi pada masa sekarang adalah tanda-tanda datangnya bintang keberuntungan”.

Manusia ingin memenuhi khayalannya dan mengorbankan saat sekarang untuk tujuan yang akan datang. Pada kenyataannya, bagaimana kita bisa mengendalikan sang masa depan? Arti kehidupan itu selalu berkonotasi sekarang, di tempat ini sekarang juga. Itulah kita dengan kehidupan.

Waktu juga menyadari kita akan fenomena kehidupan tidak kekal. Setiap kata yang ditulis, setiap batu yang dipahat, setiap lukisan artistic, setiap stuktur kebudayaan, setiap generasi manusia pada akhirnya akan hilang. Para pemimpin perkasa juga akan terlupakan, kerajaan besar pun selalu tumbang, seperti halnya daun gugur di musim semi yang akhirnya akan dilupakan. Dimana saja ada keberadaan maka disitu ada perubahan.

Dalam kehidupan manusia, kita semua mengalami banyak lingkaran penderitaan berulang-ulang. Penderitaan datang dan pergi, kemudian datang lagi. Waktu ke waktu, tak pernah berakhir. Siapakah yang menciptakan penderitaan seperti itu? Dari mana datangnya semua penderitaan? Kita berpikir dan terheran-heran, melihat dan mencari. Sementara sang penderitaan melingkari kita terus menerus dan tidak pernah meninggalkan kita.

Bagi yang tidak bisa tidur, malam terasa panjang. Bagi pengembara yang sudah lelah, jalan sepertinya sangat panjang. Orang bodoh yang tidak mengenal Dharma yang tepat selalu memutar roda yang sama dalam hidupnya  sampai akhir hayatnya.

Berapa tahun kita ingin hidup? Sepanjang hayat dikandung badan, sepanjang napas belum berhenti. Ada orang yang ingin hidup seratus tahun, tapi apalah artinya hidup seratus tahun tanpa berkebajikan, lebih baik hidup sehari tapi full-day kebajikan. Apakah hidup kita ini panjang atau pendek nilainya tergantung pada bagaimana kita menggunakan hidup kita ini.

Hanya mereka yang dapat melakukan disiplin pribadilah yang bisa menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Saat kita dikendalikan oleh nafsu dalam diri kita dan oleh perubahan lingkungan, nilai keseluruhan hidup kita lebih rendah daripada sehari yang penuh kewaspadaan.

 

Waktu Dharma

Waktu juga menyimpan kesempatan. Kesempatan kelahiran kita sekarang ini sangat begitu beruntung dan berharga. Kelahiran kita sekarang memungkinkan kita mengenal Dharma, dan memahami waktu kehidupan kita. Adalah sangat jarang seseorang bisa mendengarkan Dharma yang menakjubkan.

Sangat jarang untuk bisa tampil di era yang sama dengan Buddha. Bisa dilahirkan di dunia ini, sangat berharga, sementara tetap dapat melanjutkan kehidupan di dunia ini lebih berharga. Mampu mendengar kebenaran yang tertinggi adalah berharga,  sementara hadir di era yang sama dengan Sang Buddha, semasa Buddha hidup (living Buddha)  bahkan lebih jarang lagi.

Waktu pun bukan hanya yang terulang dalam perhitungan kalender atau detik jam dinding. Waktu dalam Buddhisme begitu jauh dalam terentang. Waktu di dalam Buddhisme itu bersifat relatif, tergantung pada kondisi mental atau spiritual makhluk tersebut.

Dalam Sutra Vimalakirti bab 6 dikatakan: “.. Bodhisattva ini akan memperpanjang satu minggu menjadi satu kalpa …; Bodhisattva ini akan memperpendek satu kalpa menjadi satu minggu …’

Waktu itu tak terbatas, baik lama maupun pendeknya sebagaimana tercermin dalam istilah Amitabha (Buddha yang masa waktunya tak terbatas) atau Amitayus, waktu yang tak terbatas. Waktu itu tak terbatas karena baik yang begitu panjang seperti di alam Brahma berkalpa-kalpa maupun yang sangat pendek seperti partikel materi yang satu per 26 milyar detik masa hidupnya – dan juga masih dapat diperpendek lagi,  tergantung pada alat pengukurnya -, adalah sama-sama satu masa kehidupan. 

Karenanya waktu itu relatif, perbandingannya tergantung dari sudut mana memandang atau diukur, dan tergantung bagaimana kita menghayatinya. Waktu adalah kesaatan. momentariness atau Tathatata. Kesaatan yang terus bergerak, berputar dan mengubah segalanya.

Dalam roda waktu yang berputar (kalachakra) segalanya berjalan, berlangsung terus. Kita bertransformasi, berganti wujud, meninggalkan yang lama berganti yang baru, mengembara, berkelana dalam waktu. Selamat datang waktu-waktu yang selalu baru! (JP).      

***

Butuh bantuan?