Tahun Toleransi dan Moderasi Beragama Teladan Raja Dharma Asoka

Home » Artikel » Tahun Toleransi dan Moderasi Beragama Teladan Raja Dharma Asoka

Dilihat

Dilihat : 56 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 22
  • 70
  • 6,305

Oleh: Jo Priastana

 

“Barang siapa menghormati agamanya sendiri, tetapi menghina agama lainnya dengan berpikir bahwa berbuat demikian adalah telah melakukan sesuatu yang baik sebagai pemeluk agama yang taat, maka ini malah akan berakibat sebaliknya, yaitu akan memukul kepada agamanya sendiri.” (Asoka).

 

Tahun 2022 telah dicanangkan sebagai tahun Toleransi. Dalam Buddhadharma kita kenal piagam Toleransi yang didirikan oleh Raja Asoka. Asoka, raja besar yang terlibat dalam berbagai peperangan sebagai kompensasi cintanya yang tak terwujud terhadap seorang perempuan satria. Namun ketika cinta itu diketemukannya kembali, Raja itu kembali menjadi besar, bukan besar karena peperangan, tapi sebaliknya besar karena kasihnya.

Asoka telah belajar dari peperangan dan pertempuran yang dijalaninya, serta dari kekuatan cinta kasih. Bahwa kekerasan dan peperangan adalah lantaran tak ada cinta di hati seseorang. Ketika cinta itu datang, maka kekerasan pun sirna. Memang semua membutuhkan cinta dan cinta pula yang menyembuhkan semua. Asoka pun dikenal sebagai Raja Dharma yang mewariskan pasifisme (perdamaian) dan toleransi.

 Daisaku Ikeda dalam bukunya, “Buddhism, The First Millenium,” (1977), menilai Raja Asoka memainkan peranan menentukan dalam penyebaran Buddhisme yang penuh kasih sayang. Ia telah melempar pedang alat penaklukkannya dan menjadi penyebar cinta kasih melalui Buddhadharma. Ia pun menjadi Raja yang mencintai perdamaian dan mencanangkan toleransi melalui piagamnya yang terkenal, “piagam piyadassi.”

 

Raja Dharma Asoka

Tidak jauh berbeda dengan Ikeda, penulis dan sejarahwan dunia HG Wells (1866-1946) juga menyatakan tentang Asoka sebagai “salah seorang penguasa yang terbesar yang pernah dilihat dunia.” Asoka adalah raja pertama yang menghapuskan perang. Ia memberlakukan politik pasifisme (politik perdamaian) mutlak berdasarkan cita-cita Buddhisme dan mengadakan tindakan-tindakan tegas untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan warga negaranya.

Raja yang pernah menghancurkan kehidupan dalam berbagai peperangan ini akhirnya menjadi raja yang mendorong kehidupan. Asoka yang beriman Buddhis ini kemudian memerintah dengan meniadakan pembunuhan atas makhluk hidup dan mengambil kebijakan untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Asoka mewujudkan negara kesejahteraan, diantaranya dengan menganjurkan untuk menanam pepohonan di sepanjang jalan, menggali sumur-sumur dengan jarak-jarak tertentu. Ia juga mendirikan rumah-rumah istirahat bagi para musafir, serta membagikan jamu dan obat-obatan kepada warganya.

Raja Asoka naik takhta sekitar tahun 268 SM. Tujuh tahun setelah naik takhta, Asoka memeluk agama Buddha. Dalam tahun kesembilan pemerintahannya, ia menyerang negeri Kalingga, membunuh sekitar seratus ribu orang. Setelah melihat penderitaan dan kematian dari perang tersebut, Asoka mengalami kesedihan yang mendalam. Maka, ia pun berikrar tidak akan berperang lagi.

Sebelum ikrarnya itu berkumandang, Asoka dikenal sebagai raja yang kejam. Sebelum naik takhta saja ia telah membunuh sembilan puluh sembilan kerabat pria, dan setelah penobatannya ia melenyapkan lima ratus pejabat tinggi. Tetapi, sesudah serbuannya ke Kalingga, pemerintahannya yang berdasarkan kekuasaan kekuatan disingkirkannya dan diganti dengan peraturan berdasarkan dharma.

Sejak itulah sebutan kepada dirinya beralih dari sang raja terkenal sebagai “Asoka Durjana” berarti menjadi “Asoka pendukung Dharma.” Kehidupan yang didasari kekerasan ditinggalkan dan dikalahkan dengan kehidupan rasional yang didasari kasih sayang dan cinta kasih, memenuhi anjuran dalam Buddhadharma, “Loka Patthambika Metta. Hanya cinta kasihlah yang menyelamatkan dunia.”

Dalam menyelamatkan dunia, Raja Dharma Asoka yang sudah muak dengan kekerasan dan peperangan memiliki misi mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dan menciptakan perdamaian. Perdamaian merupakan antitesa dari kekerasan, sebuah tindakan yang tidak mencerminkan nilai moralitas. Eric Weil, filsuf tentang filsafat perdamaian mengungkapkan, bahwa tindakan kekerasan menimbulkam amoralitas atau menghantam nilai-nilai moralitas, dan pada dasarnya manusia itu takut pada kekerasan, mencintai perdamaian.

Asoka merupakan penerus dari dinasti Maurya yang didirikan oleh Chandragupta, kakek Asoka. Pada tahun 327 SM Iskandar Agung menyerbu India, tetapi pasukannya dapat dipukul oleh Chandragupta. Bindusara, putra Chandagupta menggantikannya sebagai penguasa. Bindusara termasyhur karena mempunyai enam belas isteri dan sebagai hasilnya Asoka yang konon mempunyai 101 saudara.

Setelah menjadi penganut Buddha, Asoka semakin percaya memiliki kemampuan memerintah melalui Dharma. Kerajaan Maurya yang diperintahnya meliputi seluruh India, termasuk ke Sri Lanka dan negara-negara Yunani. Kabarnya pada masa Asoka ini banyak pula bhiksu-bhiksu India yang masuk ke Yunani, dan Asoka pun dikenal sebagai Raja Dharma yang mengembangkan misi Buddhis ke manca negara.

 

Pasifisme dan Toleransi

Sejarah akhirnya mencatat Asoka menjadi raja terbesar dalam seluruh jagad India. Karena itulah negara India telah memilih sebagai lambang untuk cap resmi negaranya, yaitu tonggak kepala bermahkota singa. Tonggak yang diambil dari salah satu tonggak yang didirikan oleh Raja Asoka.

Asoka mengamalkan politik pasifisme mutlak, dan menganggap semua orang yang terdiri dari beragam suku-suku yang terdapat di India itu adalah putranya. Sebagai penganut Buddhisme yang bersemangat, ia tidak melakukan penindasan terhadap golongan agama lainnya. Sebaliknya, ia memberi bantuan dan semangat yang positif bagi berbagai golongan itu.

Sebagai kepala negara besar, Asoka mendasarkan tindakan-tindakannya pada jiwa cinta kasih Buddhisme dan menerjemahkan jiwa itu ke dalam kebijaksanaan pemerintahannya. Raja Dharma Asoka dikenal sebagai raja yang mencintai perdamaian dan mengembangkan kehidupan beragama yang penuh toleransi.

Meski berjiwa misionaris, Raja Asoka tidak mencoba memaksakan cita-cita Buddhisme kepada khalayak ramai sebagai dogma agama yang harus dipeluk. Sebaliknya dia menyajikan cita-cita dharma, kebenaran atau jalan kebajikan yang dapat dipahami secara mudah melalui kenyataan manusiawi. Konsep-konsep kunci Dharma sebagaimana diungkapkan dalam kebijaksanaan merupakan cita-cita universal berupa pasifisme mutlak dan rasa hormat terhadap kehidupan. Sebuah cita-cita yang dapat diterima oleh orang-orang Buddhis maupun non-Buddhis.

Semasa pemerintahannya, Asoka mendirikan 84.000 ribu vihara dan 84.000 ribu stupa untuk menyucikan peninggalan-peninggalan Sang Buddha. Ia juga berziarah ke tempat-tempat suci Buddha dan meletakkan pembangunan tempat-tempat ziarah, dan kini banyak dikunjungi umat Buddha dari seluruh dunia dalam berdharmayatra.

Selama pemerintahannya, untuk pertama kali Buddhisme menjadi salah satu di antara agama-agama nasional di India. Asoka juga mengutus beberapa rombongan bhiksu Buddhis ke berbagai daerah, seperti putranya sendiri, pangeran Mahinda ke Sri Lanka. Misi yang didukung Asoka ini menjadikan sumber Buddhisme Theravada berpengaruh di Asia Tengah.

Raja Asoka bertakhta secara keseluruhan sampai 37 tahun lamanya. Kabarnya ia juga menolak menyebut dirinya dengan gelar “Maharaja” atau “Kaisar”. Sebaliknya, ia lebih suka membayangkan dirinya sebagai “Raja Magada,” sebuah kerajaan yang sarat dengan nilai historis semenjak semasa Sang Buddha.

Diantara berbagai tindakan politik pasifismenya yang fenomenal, Asoka mewariskan stupa atau tonggak toleransi besar dunia. Sebuah tonggak yang sangat terasa relevansinya dalam kehidupan globalisasi saat ini dimana banyak orang berlainan agama dapat bertemu, hidup berdampingan, serta dalam menguatkan kehidupan kebangsaan yang bersifat pluralisme. Piagam toleransi Asoka disebut “Piagam Piyadassi”, berbunyi:

“Dalam memberikan penghormatan kepada agamanya sendiri, janganlah sekali-kali mencemohkan atau menghina agama-agama lainnya. Dengan berbuat demikian selain membuat agamanya sendiri berkembang, juga akan memberikan bantuan kepada agama-agama lainnya. Jika berbuat kebalikannya, maka berarti menggali lubang kubur untuk agamanya sendiri disamping mencelakakan agama lain. Barang siapa menghormati agamanya sendiri, tetapi menghina agama lainnya dengan berpikir bahwa berbuat demikian adalah telah melakukan sesuatu yang baik sebagai pemeluk agama yang taat, maka ini malah akan berakibat sebaliknya, yaitu akan memukul kepada agamanya sendiri.”

 

Tahun Toleransi dan Moderasi Beragama

Sebuah warisan tak ternilai dari Raja Dharma Asoka. Komunitas Buddha di Indonesia telah memiliki pedoman dan prinsip toleransi, warisan dari Asoka. Piagam Toleransi yang sangat relevan bagi kehidupan dan pergaulan sosial antara umat beragama, baik dalam konteks pergaulan internasional dan terlebih dalam memperkokoh kehidupan kebangsaan.

Prinsip toleransi Asoka sangat berperan penting untuk memasuki tahun 2022 sebagai tahun toleransi. Seperti kitaketahui, Menteri Agama mencanangkan 2022 sebagai Tahun Toleransi. Pencanangan Tahun Toleransi ini salah satu wujud komitmen kuat dalam merawat toleransi, baik toleransi sosial, agama, maupun politik sebagai modal sosial yang sangat penting untuk membangun bangsa. (Kompas 11/2/22).

Rumadi Ahmad mengungkapkan, pencanangan 2022 sebagai tahun toleransi itu sekaligus menunjukkan keseriusan pemerintah mengimplementasikan moderasi beragama sebagaimana dirancang dalam RPJM 2020-2024. Salah satu pilar penting moderasi beragama adalah toleransi, yaitu kesiapan untuk hidup bersama dengan orang berbeda.

Era demokrasi yang dimasuki Indonesia sejak reformasi juga mendatangkan problematika kebangsaan terkait hadirnya berbagai ekspresi kebangkitan primordialisme dan fanatisme agama. Dalam kaitan ini, Tahun Toleransi punya makna strategis. Merawat toleransi sangat penting sebagai pilar membangun Bangsa Indonesia yang kokoh.

Toleransi sesungguhnya telah menjadi jati diri bangsa yang telah tertanam dalam sejarah kehidupan beragama di Nusantara, sebagaimana yang berkembang semasa kearajaan Majapahit dengan semboyan Bhinneka Tungga Ika-nya. Buddhadharma universal melahirkan piagam toleransi Asoka.

Dengan berteladan pada Raja Dharma Asoka akan memungkinkan umat Buddha sebagai salah satu komponen bangsa yang mampu mengisi tahun toleransi 2022 ini dengan mewujudkan dan merawat kehidupan toleransi dan moderasi beragama. Moderasi beragama sebagai implementasi toleransi sikap hidup dalam beragama pastinya memperkokoh kehidupan bangsa yang bersatu dan maju. (JP).***

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).

 

Monumen pilar Asoka batu Candi

Butuh bantuan?