Teladan Kesempurnaan Kesetaraan Perempuan dan Lelaki

Home » Artikel » Teladan Kesempurnaan Kesetaraan Perempuan dan Lelaki

Dilihat

Dilihat : 2 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
IMG-Goddes of Mercy

Oleh: Jo Priastana

    Di awal film The Goddess of Mercy, terdengar suara sebagai Hyang Buddha yang menyatakan Bodhisattva Avalokitesvara yang akan menitis ke dalam jasad perempuan di negeri Mi Chuang bukanlah suatu persoalan.

    Ditegaskannya, bukankah penderitaan perempuan itu lebih besar ketimbang lelaki. Bodhisattva Avalokitesvara sendiri lalu menyatakan, biarkan Aku menjadi perempuan demi melepaskan penderitaan orang, dan menjadi teladan bagi kaum perempuan yang sama setaranya dengan kaum lelaki.

    Ia datang sebagai perempuan, justru ketika kerajaan Mi Chuang membutuhkan seorang putra mahkota. Kedatangannya ini, bukankah memperlihatkan bahwa kelahiran seorang anak sebagai perempuan itu adalah setara dengan lelaki bahkan lelaki yang sebagai putra mahkota sekalipun.

    Bahkan puteri Miao Shan sebagai puteri ke tiga kerajaan Miao Chang itu bebas menentukan jalan hidupnya sendiri, tidak mau dijodohkan seperti kebanyakan perempuan pada umumnya masa itu. Puteri Miao Shan mengambil jalan kehidupan sebagai rahib-bhiksuni dan bahkan mencapai pencerahan dan  berjuang untuk pembebasan bagi banyak makhluk yang menderita.

    Memang kisah The Goddess of Mercy atau Dewi Welas Asih yang menitis sebagai perempuan ini bagi masyarakat yang masih dikungkung oleh nilai-nilai patriarkhi (lelaki yang utama dan yang berkuasa) bukanlah  dapat diterima begitu saja kehadirannya. Namun justru disitulah membuktikan bahwa perempuan sebagai perwujudan kepangeranan permata hati-dharma itu jauh lebih berkuasa ketimbang kepangeranan sebagai putra mahkota kerajaan duniawi.

    Karena itu, hati siapa yang tidak tergetar bila menyebut nama Avalokitesvara? Bodhisattva yang diwujudkan dalam figur perempuan dan sangat popular dipuja umat Buddha di berbagai kebudayaan karena welas asih dan kasih sayangnya ini. Avalokitesvara yang akrab terdengar dengan sebutan Dewi Guan Yin dan sungguh hidup di hati umat Buddha dimana saja.

    Melalui pemujaan terhadap Bodhisattva Avalokitesvara inilah, membuktikan agama Buddha dapat tumbuh subur dan berkembang di berbagai negara dan budaya. Melalui legenda negeri Cina, Bodhisattva Avalokitesvara ini  dikenal juga sebagai Puteri Miao Shan, perwujudan dari The Goddess of Mercy, dewi welas asih, Bodhisattva Avalokitesvara, yang berwujud feminin dan memperlihatkan bahwa kesetaraan gender itu bukanlah sesuatu yang  tidak ada di dalam agama Buddha.

 

Kebijaksanaan dan Welas Asih

    Dewi Welas Asih ini merupakan perwujudan sempurna kesetaraan kaum perempuan dengan lelaki. Karenanya amat pantas, Dewi Guan Yin ini menjadi teladan bagi segenap kaum perempuan dalam mewujudkan welas asihnya dan menolong sesama manusia yang diliputi kabut penderitaan.

    Begitu pula bagi kaum lelaki yang mau bebas dari kemelekatannya terhadap stereotipe egoisme kelelakiannya, dapat belajar banyak dari sifat-sifat welas asih, kelembutan, tanpa kekerasan yang diwujudkan Bodhisattva Avalokitesvara ini. Ia tidak hanya menjembatani perbedaan antara perempuan dan lelaki, namun juga perbedaan aliran di dalam agama Buddha. Karena ia adalah Bodhisattva satu-satunya yang dapat diterima dan dipuja oleh semua aliran agama Buddha: Mahayana dan Tantrayana, dan sekaligus menegaskan untuk tumbuhnya kesadaran non-dualisme, yang tidak diskriminatif sebagaimana dengan kesadaran pembebasan dan pencerahan itu sendiri yang tidak ada lagi pembedaan.

    Betapa mulianya pemujaan terhadap Dewi Welas Asih yang penolong ini. Kemuliaan dan keluhurannya dengan welas asih dan karunanya itu menyimbolkan kesejatian agama Buddha yakni hati Buddha yang mewujud dalam dunia nyata dan memandang semua makhluk memiliki kesamaan, keutamaan keluhuran yang sama.

    Dalam film The Goddess of Mercy, dapat kita saksikan ujar-ujar bijak nan cerdas yang mencerminkan keluhuran Buddhadharma sebagai ajaran kasih yang tanpa batas, kasih sayang melawan diskriminatif, kasih sayang yang satu adanya mengatasi segala dikotomi gender dan perbedaan yang ada. Bahwa pencerahan seseorang adalah juga karya pembebasan di dalam menolong makhluk lain yang menderita.

    Karenanya, sebagai perwujudan konsep Sambhogakaya (tubuh cahaya, tubuh rakhmat), satu dari ajaran Trikaya (Tiga Tubuh Buddha) dalam Mahayana, prajna (kebijaksanaan pencerahan) dan karuna (welas asih dalam pembebasan) itu tiada saling terpisahkan. Pencerahan dan kasih sayang, pandangan terang dan pembebasan adalah  dimensi-dimensi luhur dari sunyata (kekosongan).

    Dalam film The Goddess of Mercy yang mengisahkan satu dari sekian versi legendanya sebagai puteri Miao Shan, penjelmaan Bodhisattva Avalokitesvara di dunia, memperlihatkan keindahan dari kesempurnaan perwujudan prajna (kebijaksanaan, kecerdasan spiritual) dan karuna (kasih sayang), dan kesetaraan perempuan dengan lelaki di bidang spiritual.

    Bagaimana puteri yang kelahirannya tidak diharapkan lantaran ia bukan seorang putra itu memberi pelajaran tentang kebijaksaan dan kasih sayang kepada para lelaki yang berlumur kekuasaaan dan kekuatan duniawi. Bahwa kasih sayang, perdamaian, sikap non-kekerasan adalah kekuatan dan puncak dari keberhasilan.

    Melalui hasil pencerahannya sebagai Phusat (Bodhisattva) puteri simbol welas asih ini juga memberi pelajaran tentang hakekat kehidupan, makna penderitaan manusia serta peluang mencapai pencerahan dan pembebasan dari lorong penderitaan.

    Dengan begitu, memperlihatkan bahwa perempuan juga mampu berperan sebagai guru spiritual yang memberi bimbingan dan teladan bagi orang banyak untuk mencapai pencerahan dan pembebasan, dan sekaligus memperlihatkan keadilan kasih sayang semesta yang mengatasi perbedaan gender.

 

Pencerahan dan Pembebasan

    Bahwa manusia dilahirkan dalam dunia yang penuh penderitaan. Untuk itulah sudah menjadi tugas Bodhisattva Avalokitesvara untuk membebaskan derita manusia itu, karena dia memiliki karakter welas asih dan murah hati.

    Dengan melepaskan umat manusia dari segala kesusahan dan penderitaan, maka puteri Miao Shan ini sekaligus mencapai kekosongan pencerahan sejati. Kesadaran kekosongan itu (sunyata) tanpa batas, tanpa keterikatan, dan semata wujud dari ketenangan murni bebas dari segala keterikatan duniawi atau dikotomi, dualisme pikiran ini dan pikiran itu.

    Legenda Bodhisattva Avalokitesvara dalam puteri Miao Shan itu juga mengajarkan sesuatu yang sederhana namun sangat kaya makna. Khususnya bagi tahapan kehidupan sebagai remaja, atau remaja puteri, serta kaum perempuan pada umumnya.

     Diantaranya, ia mengajarkan bahwa masalah manusia di dunia ini semuanya tidak dapat lepas atau tergantung pada perasaan, ibarat memakai baju bagus atau jelek yang pemakaiannya tergantung pada diri kita sendiri.

    Bila dipakainya enak meski jelek tentu merasa puas sekali. Tetapi andai orang tidak pernah puas dia akan merasa baju orang lain, warna baju orang lain selalu dipandang lebih bagus ketimbang baju sutera bagus yang dikenakannya. Perasaan mengombang-ambingkan ke dalam perbedaan, tiada pendirian karena tidak melihat hakekatnya yang terdalam.

    Bila mata batin telah tercerahkan, maka kelahiran baik sebagai raja dan rakyat itu sama saja, sebagaimana tak ada kebahagiaan tanpa adanya penderitaan. Kalau kita menghayati ajaran Buddha maka di dalam penderitaan pun kita akan memperoleh kebahagiaan.

    Kerja keras itu bukanlah sesuatu yang hina atau sebagai penderitaan, karena derita dan susah, serta kehinaan manusia itu baru muncul jika orang tak bisa mengontrol nafsunya, pikirannya tidak benar, dan hatinya tidak pernah puas.

    Masalah hidup yang beruntun adalah derita manusia yang harus dilalui, dan menjadi Buddha itu adalah visi dari orang yang mau mencari. Pada hati Buddha yang mekar, jangan khawatir tidak berjodoh dengan Hyang Buddha, karena Hyang Buddha senantiasa akan datang dan selalu mendampingi. Om Mani Padme Hum!.

*****

(Sumber: Jo Priastana.2004., “Budddharma dan Kesetaraan Gender,” Yasodhara Puteri, Jakarta: Bab: 14/ 175:181)

Butuh bantuan?