Oleh: Jo Priastana
“Manusia mengalami waktu sebagai sesuatu yang linear dan membatasi. Namun, bayi dan mistikus dalam pengalaman ekstasis bisa mengalami “waktu abadi” (timelessness) mirip keadaan sebelum kematian atau setelahnya. Kematian sepertinya pelepas kerinduan untuk kembali ke pra-kelahiran, kondisi pra-individu, sebelum represi, sebelum waktu, sebelum ego dan identitas terbentuk”
(Norman O. Brown, 1913-2002, Penulis, Filsuf Amerika)
Beranjak usia, setiap menjumpai hari kelahiran di 29 Desember (1958-2025) justru yang terbayang adalah kematian. Manusia ada ternyata untuk tiada, setiap kelahiran sudah terkandung kematian, happy birthday adalah happy dead-day. Pangeran Siddharta pun akhirnya melihat fenomena kematian dalam mayat yang sedang diusung, dan begitu menggetarkan kesadarannya. Kematian, salah satu dari empat peristiwa agung, selain orang sakit, orang tua, kematian dan pertapa, yang dilihat Siddharta, membuka cakrawala kesadaran dan mata batinnya yang selama ini selalu ditutupi di dalam kesemuan hidup istananya.
Raja Suddhodana menghendaki Siddharta untuk menjadi pewaris takhtanya dan menjauhkannya dari penglihatan akan derita eksistensial manusia. Raja tidak menghendaki ramalan pertapa Asita Kaladewala satu diantaranya Siddharta akan menjadi pertapa terjadi. Raja menghendaki ramalan Siddharta akan menjadi Raja diraja kalau tidak melihat empat peristiwa itu. Berbagai cara ditempuh sang Raja untuk menjauhkan Siddharta dari fenomena dan tanda-tanda yang memungkinkannya menjadi pertapa.
Tanda-tanda alam dan eksistensi kehidupan yang sesungguhnya menyertai keberadaan manusia itu tetap saja menghampiri Siddharta. Hukum alam tidak pernah berdusta dan tidak bisa dicegah. Empat peristiwa cermin dari hukum alam yang disaksikannya, membuka kesadarannya bahwa keberadaan manusia akan berakhir dengan kematian. Sejak peristiwa melihat orang mati itu, Siddharta menjadi sering merenung, menjadi filsuf yang bertanya-tanya akan eksistensi kehidupan manusia dan keberadaan manusia (Dasein) dari ada ke tiada.
Kecemasan akan Ketiadaan
Siddharta memikirkan peristiwa yang tak terkendalikan itu secara mendalam, batinnya terguncang akan fakta bahwa keberadaan manusia akan berakhir pada kematian. “Akankah kematian juga terjadi pada diriku?” demikian ia bertanya kepada kusirnya, Channa. “Benar, Tuanku,” jawab Channa, semua manusia akan mengalami kematian termasuk Tuanku, saya dan siapa saja. Siddharta muda tercekam, kematian itu mencemaskannya. Teror kematian menghantui Siddharta.
Antropolog Amerika Ernest Becker (1924-1974), penulis buku “The Denial of Death,” (1973) menyatakan bahwa motivasi dasar perilaku manusia adalah berkenaan dengan kebutuhan biologisnya untuk mengendalikan kecemasan dasarnya, untuk menyangkal teror kematian. Manusia pada dasarnya merasa cemas karena pada akhirnya dia tidak berdaya karena ditakdirkan untuk mati, dan inilah terornya.
Kita telah muncul dari ketiadaan, memperoleh nama, sadar diri, punya perasaan mendalam, memiliki kerinduan yang menyiksa akan kehidupan dan ekspresi diri, dan dengan semuanya itu kita toh harus mati. Namun, Ernest Becker mengajarkan kepada kita bahwa kekaguman, ketakutan dan kecemasan ontologis akan kematian itu merupakan hal yang wajar yang mestinya menyertai kontemplasi kita terhadap fakta kematian (“The Denial of Death,” 2024: xxi, kata pengantar Sam Keen).
Teror kematian itu begitu dahsyat dan membuat kita kewalahan, sehingga kita kerap bersekongkol untuk menyembunyikannya. Haruskah menyembunyikannya? Teror kematian atau ketakutan terhadap kematian ada karena kematian merupakan unsur sentral Dasein atau keberadaan manusia. Menurut filsuf Heidegger (1889-1976), Dasein atau keberadaan manusia adalah “ada-menuju-kematian” (Sein-zum-Tode), dari ada ke tiada.
Heidegger sendiri membedakan kematian antara hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia. Antara kematian sebagai peristiwa biologis dan kematian sebagai peristiwa ontis. Kematian adalah ontologis manusia. Peristiwa ontis yang memungkinkan manusia mengalami kecemasan akan kematian, sedangkan hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak memiliki kecemasan akan kematiannya.
Siddharta cemas dihadapkan dengan kematian manusia. Kecemasan eksistensial karena menyadari bahwa dirinya adalah manusia. Bukan sekedar akanz mengalami kematian sebagaimana hewan dan tumbuhan namun memiliki kecemasan akan kematian karena tahu kehidupan manusia bukan sekedar peristiwa biologis. Kematian adalah ontologis berkenaan keberadaan manusia, dan peristiwa yang tidak bisa dikendalikan sebagaimana pandangan Stoikisme.
Kematian memberikan kecemasan bagi manusia karena melebihi sebagai peristiwa biologis. Berlawanan dengan filsuf Epikuros (341 SM-270 SM) yang mengatakan, kematian tidak berarti apa-apa bagi kita (death is nothing to us) “ketika saya ada, kematian tidak ada, dan ketika kematian ada, saya tidak ada,” (when I am death is not, and when death is, I am not).
Bagi Epikuros tidak perlu cemas karena kematian terpisah dari Dasein, ketika kematian datang, kita tidak ada. Ketika saya ada, kematian tidak ada. Pandangan Epikuros ini lebih terkait pada kematian fisik, tak ada makna lagi. Berlainan dengan kematian yang dimaksud Heidegger dalam “Being and Time,” “ada dan waktu” yang mengandung makna ontologis.
Kematian yang dimaksud Heidegger dibedakan dari kematian sebagai satu peristiwa biologis (demise). Dalam filsafat Heidegger, kematian dipahami sebagai kesadaran eksistensial bahwa secara ontologis eksistensi Dasein bersifat mortal atau tidak kekal.
Heidegger tidak menyangkal kematian sebagai satu peristiwa (biologis), hanya saja kematian secara lebih mendalam merupakan struktur ontologis kita. Bahwa sebelum kematian menjadi konkret dalam satu peristiwa, kematian secara primordial telah membayangi seluruh perjalanan Dasein.
Kematian sebagai ‘demise’ sebagaimana pada hewan dan tumbuh-tumbuhan dan kematian sebagai “process of dying” pada Dasein atau keberadaan manusia. Kematian pada manusia sebagai process of dying yakni kematian sebagai sikap (comportment) Dasein dalam menanggapi determinisme ontologisnya bahwa ekstensinya bersifat mortal (tidak kekal).
Cakrawala Batas dan Makna
Kematian merupakan cakrawala Dasein akan “batas” dari segala kemungkinan-kemungkinan. Kematian merupakan ketidakmungkinannya segala kemungkinan Dasein, layaknya parinibbana di dalam arus putaran samsara. Cakrawala akan batas itu menyingkap makna keberadaan Dasein di dunia.
Dengan kata lain, kematian turut membentuk (co-constitutes) makna eksistensi Dasein. Kematian mendekatkan Dasein pada Ada. Karena itu, keterbukaan pada kematian merupakan sikap otentik, sebagai keterbukaan Dasein pada struktur ontologisnya, pada hakekat keberadaan sesungguhnya.
Dalam hal ini “para dewa cemburu bahwa kita dapat mati”, demikian kata Archilles. Dalam Filsafat, kematian merupakan salah satu tema penting seperti dilakukan filsuf eksistensialis Albert Camus (1913-1960) atau Jean Paul Sartre (1905-1980), maupun Martin Heidegger sendiri. Kematian merupakan titik absurd realitas. Menurut mereka, tidak ada yang lebih absurd daripada “ada-untuk-mati.”
Di luar filsafat, terdapat begitu banyak sudut pandang untuk mendalami fenomena kematian, seperti: psikologis, teologis, biologis, neurologi dan sebagainya. Namun sebagaimana Heidegger hanya dalam konteks filsafat, kematian itu dipandang secara mendalam sebagai peristiwa ontologis, kematian sebagai hakikat manusia.
Melalui pendekatan filsafat fenomenologi eksistensialis, kematian menurut Heidegger merupakan struktur ontologis Dasein. Dasein bisa dipahami sebagai keberadaan manusia, jadi kematian melekat dalam keberadaan kehidupan manusia. Namun begitu, Heidegger melihat kematian sebagai kondisi atau syarat bagi lahirnya makna dalam kehidupan Dasein.
Bahwa, secara eksistensial, makna keberadaan Dasein ditopang oleh satu cakrawala akan “batas,” yakni kematian. Keterbukaan akan kematian sebagai struktur ontologis itulah yang membawa pesan Dasein pada Ada-nya. Sikap ini disebut “keotentikan” (authencity). Keberadaan manusia yang dihadapkan dengan kematian justru sepantasnya menyingkapkan keotentikan dirinya dalam pemenuhan makna hidupnya, ketiadaan menunjukkan adanya.
Kecemasan eksistensial merupakan pengalaman ontologis ketika ketiadaan (inexistence) muncul pada seseorang. Kalau ketika seseorang menarik diri dari kesibukan harian karena menyadari bahwa pada dasarnya eksistensi ditopang oleh ketiadaan (inexistence). Siddharta melakukan kehidupannya sebagai pangeran, putra mahkota yang akan sibuk dengan urusan dunia lalu ia masuk ke hutan menjadi pertapa karena menyadari akan ketiadaan yang menopang adanya.
Di hadapan kematian, manusia terarah pada ketiadaan yang merupakan basis adanya, dan sebab kematian yang tidak tertampung dalam konsep-konsep. Bacaan tentang kematian dalam makna ontologis dari filsuf Martin Heidegger ini dapat ditelusuri melalui beberapa buku seperti: Heidegger, Martin. “Being and Time.” Trans. By John Macquairrie & Edward Robinson. London: Blackwell Publishing, 2001. Niderhauser, Johannes Achill. “Heidegger on Death and Being: An Answer to the Seinsfrage.” London: Sringer, 2021. Sambera, Richard. “Rephrasing Heidegger: A Companion to Being and Time.” Ottawa: The University of Ottawa Press, 2007.
Ada dan Tiada
Filsafat Heidegger diawali dengan pertanyaan eksistensial mengenai mengapa segala sesuatu ada daripada tidak ada? Padahal “ketiadaan” (non-being) juga menyertai eksistensi. Seluruh realitas (Ada) menurut Heidegger tidak dapat seluruhnya tertampung dalam konsep, sebab karakter Ada ialah sekaligus tampak dan tersembunyi. Heidegger mengkritik metafisika Barat sebagai “kelupaan akan Ada,” yakni yang tersembunyi itu (non-being), tiada.
Kebenaran dalam metafisika seperti tentang kematian menurutnya adalah “sejauh tersingkap” (a-letheia). Artinya, realitas hanya seluas penangkapan kita atasnya. Heidegger menekankan keberadaan “sisi ketaktersingkapan” Ada itu yang ia sebut dengan istilah Syn (dasein). Heidegger kadang menyebut Ada yang tersembunyi itu sebagai “ketiadaan” atau “bukan-apa-apa” (Nothing).
Ketiadaan (nothingness) menurut Heidegger tidak berlawanan dengan eksistensi atau realitas. Ketiadaan yang dimaksud di sini bukan suatu abstraksi atau konsep. Ketiadaan, sebaliknya merupakan bagian dari eksistensi. Heidegger sendiri menulis bahwa ketiadaan itu lebih primordial daripada ketiadaan sebagai negasi.
“We assert that the nothing is more originary than the ‘not’ and negation” (Heidegger, 1998). Ada dan tiada yang layaknya filsafat Nagarjuna mengungkapnya dengan isi itu kosong, kosong itu isi atau “form is empty, empty is form.” tak terpisahkan satu sama lain.
Ketiadaan merupakan pra-eksistensi segala sesuatu. Karena itu pantaslah filsafat Barat tidak pernah menyentuh Being (nothing) yang dimaksud Heidegger, sebab mereka berkutat pada pemahaman (understanding) atau abstraksi, bukan pada eksistensi itu sendiri.
Padahal, ketiadaan justru tampak melalui pengalaman langsung tanpa perantara atau bingkai-bingkai epistemik apa pun. Ia dialami melalui satu cara berpikir meditatif yang menuntun pada keterbukaan (openness). Channa memberitahu sang pangeran Siddharta yang bertanya-tanya secara ontologis, bahwa keberadaan manusia akan menuju tiada, bahwa tiada mendasari keberadaan manusia.
Ada dan tiada, being dan nothingness. Ada menuju kematian atau ketiadaan, dan ketiadaan tersingkap karena adanya kecemasan (angst). Menurut Heidegger, pengalaman kecemasan fundamental (angst) menyingkapkan (adanya) ketiadaan.
Pengalaman Siddharta melihat fenomena kematian dalam makna eksistensial seakan menegaskan filsafat dari filsuf eksistensialis Heidegger tentang kematian yang inheren dalam hidup manusia. Heideger menganalisis tentang Dasein atau keberadaan manusia yang pada dirinya sendiri telah mengandung kematian. Dalam bahasa Buddhadharma bisa disepadankan bahwa manusia yang terdiri dari kesatuan pancakkhandha itu adalah tidak kekal.
Bagi Siddharta, teror kematian yang menungkap ketidakkekalan manusia dan mendatangkan kecemasan eksistensial ini dihadapinya untuk melangkah dalam penemuan diri yang otentik dalam hidup yang berkualitas. Dan bukan melupakannya atau menyangkalnya sebagaimana banyak manusia yang menyembunyikan dalam kesemuan hidup duniawi dalam ragam kuantitas materialistis, atau dalam proyek-proyek keakuan yang sesungguhnya mencerminkan keabadian semu (ersatz immortality).
Kecemasan akan teror kematian yang dilihat Siddharta sebagai satu dari empat peristiwa agung mencekam batinnya dan membuka wawasan kesadaran tentang diri dan dunianya. Beranjak atas kesadaran yang mendalam bahwa kematian bagian dari eksistensi manusia atau struktur ontologis keberadaan manusia, kita bisa berpaling ke dalam pertanyaan dan menjalani hidup yang otentik dan bermakna.
Siddharta kemudian mencari jalan keluar dalam menjalani pemenuhan akan batas kehidupan dalam kehidupan yang otentik bermakna sebagai pertapa hingga akhirnya menjadi Buddha, sadar sepenuhnya. Ia mendekonstruksi segala ketidaksadaran yang menutupi keberadaan. Sekarang juga, kematian itu ditaklukkan dalam hidup berkesadaran Buddha. Sebagai mistikus, Buddha adalah orang yang bangkit, sadar, bebas dan tercerahkan akan misteri ada dan tiada! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: meta AI