Teror Kematian (10) – Rencana Besar Encek Mati dengan Tenang

Home » Artikel » Teror Kematian (10) – Rencana Besar Encek Mati dengan Tenang

Dilihat

Dilihat : 19 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 105
  • 571
  • 278,632
Pic 2685 Rencana Mati poster JPG

Oleh: Jo Priastana

 

“Inilah penderitaan yang kualami. Pahamilah,

 tetapi jangan jadikan penderitaan ini identitasmu.”

(Film “Rencana Besar Mati Dengan Tenang,” (2026) Sutradari Ismail Basbeth)

 

“Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang” adalah judul sebuah film drama Indonesia karya Ismail Basbeth (lahir 1985) yang mengangkat tema kematian, keluarga, memori, dan rekonsiliasi. Meski judulnya terdengar kelam, film ini bukan mengagungkan tentang bunuh diri, melainkan lebih merupakan perenungan tentang bagaimana seseorang ingin menutup hidupnya dengan damai setelah memikul luka dan kehilangan selama bertahun-tahun. Tokoh utamanya adalah Encek, duda Tionghoa berusia 76 tahun.

Encek memiliki rencana besar untuk mati dengan tenang. Ia mengumpulkan anak-anaknya untuk sebuah makan malam terakhir. Dalam perjamuan itu, ia berbagi rahasia keluarga, luka antar generasi, cinta, kehilangan, dan trauma sejarah yang perlahan terungkap. Encek ingin berdamai dengan masa lalunya sebelum memilih laut sebagai tempat simbolis untuk “bertemu kembali” dengan mendiang istrinya.

Film ini menyoroti pengalaman keluarga Tionghoa Indonesia dan dampak sejarah yang menyertai kehidupannya. Film tidak hanya berbicara tentang kematian, tetapi juga tentang identitas, ingatan, dan pengampunan. Dalam perspektif Buddhis, “mati dengan tenang” dapat dimaknai bukan sebagai mencari kematian, melainkan mempersiapkan batin agar bebas dari penyesalan, kebencian, dan kemelekatan ketika kematian tiba. Rencana besar dimaksudkan untuk mencapai kedamaian dari rekonsiliasi batin, bukan sekadar mengakhiri hidup.

 

Rekonsiliasai Batin Encek

Film bertema filsafat ini tampaknya menawarkan refleksi yang cukup dalam mengenai bagaimana seseorang menyelesaikan kisah hidupnya sebelum ajal datang. Melepas segala trauma batin yang selama ini terpendam dari peristiwa kelam sejarah yang menimpa kehidupannya, dan yang mewujud dalam sikap keras pemarah pribadi Encek dalam berjuang mempertahankan dan merawat hidup keluarganya.

Mengingat tema yang bersifat psikologis filosofis berbalur sejarah politik dan kematian, gaya penyutradaraan Ismail Basbeth cenderung artistik dan reflektif. Film reflektif yang dibintangi oleh aktor Fery Salim sebagai Encek ini terasa lebih dekat dengan sinema festival daripada film komersial arus utama. Film “Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang” lebih dulu menjalani “world premiere” di ajang festival internasional, yaitu Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026.

Politik identitas menjadi latar sejarah yang membentuk kehidupan sebuah keluarga. Seperti diketahui, banyak keluarga Tionghoa Indonesia, terutama generasi yang hidup pada masa 1960-an hingga akhir Orde Baru, memiliki pengalaman sejarah yang meninggalkan jejak mendalam. Misalnya, peristiwa 1965 berserta dampak sosial-politiknya.

Kebijakan asimiliasi pada masa Soeharto dimana warga Tionghoa didorong atau dipaksa mengganti nama, membatasi ekspresi budaya, dan menyembunyikan identitas. Begitu pula trauma akibat kerusuhan Mei 1998, yang bagi banyak keluarga Tionghoa menjadi pengalaman kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian.

Trauma seperti itu sering kali tidak dibicarakan secara terbuka, tetapi diwariskan dalam bentuk keheningan, kecemasan, atau hubungan keluarga yang rumit.  Film ini mengangkat tema seorang ayah tua yang ingin berdamai dengan sejarah yang dialaminya sebelum meninggal, dimana sejarah tersebut menjadi bagian dari beban batin yang ingin ia selesaikan. Ia ingin lepaskan dengan mengungkapkan kepada anak-anaknya apa yang selama ini mengendap menjadi sikap hidupnya yang keras agar tidak terwarisi kepada generasi berikutnya.

Dari sudut pandang Buddhis, hal ini menarik karena penderitaan (dukkha) tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dapat lahir dari kondisi sosial dan sejarah. Luka yang belum dipulihkan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berdamai bukan berarti melupakan sejarah, melainkan melihatnya dengan jernih, dan tidak membiarkan kebencian terus menentukan masa depan.

Karena itu, jika film, ini memang mengaitkan kematian dengan sejarah keluarga Tionghoa Indonesia, “mati dengan tenang” dapat dimaknai sebagai usaha terakhir seseorang untuk melepaskan penyesalan, memulihkan hubungan dengan anak-anaknya, dan berdamai dengan sejarah yang telah membentuk hidupnya. Ini bukan sekadar kisah tentang kematian, melainkan tentang bagaimana seseorang ingin mengakhiri hidup setelah berusaha menyelesaikan luka-luka yang telah lama dipendam.

 

Perjamuan Terakhir Encek

Encek mengundang anak-anaknya ke sebuah “perjamuan terakhir” untuk membuka rahasia hidupnya, termasuk trauma psikologis dan politik sebagai pria Tionghoa Indonesia. Encek tampaknya tidak ingin berdamai dengan sejarah dengan cara melupakan atau memaafkan secara dangkal.

Ia justru memilih menceritakan kembali hidupnya: Bagaimana ia menjadi yatim miskin, hidup di masa-masa genting setelah 1965, mengalami diskriminasi karena identitas Tionghoa, kehilangan rasa aman, lalu kehilangan istrinya, satu-satunya tempat ia merasa diterima.

Ia ingin anak-anaknya mengetahui bahwa ayah mereka bukan sekadar orang tua yang keras atau pemarah, tetapi seseorang yang membawa luka sejarah yang tak pernah benar-benar sembuh. Warisan yang ingin ia tinggalkan bukan terutama rumah atau harta, melainkan kesaksian. Seolah ia berkata: “Kalian boleh mewarisi hartaku, tetapi jangan mewarisi kebencianku. Ketahuilah mengapa aku menjadi seperti ini.”

Dalam arti itu, ia berusaha memutus trauma antar-generasi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa trauma sejarah sering diwariskan bukan melalui gen, melainkan melalui sikap dan cara orang tua diam, takut, marah, atau terlalu protektif terhadap anak-anaknya. Film ini tampaknya ingin memperlihatkan bahwa keberanian untuk menceritakan luka adalah langkah awal agar luka itu tidak terus diwariskan hingga ajal menjelang.

Dari perspektif Buddhis, ini menarik. Berdamai dengan sejarah bukan berarti menyangkal bahwa ketidakadilan pernah terjadi, melainkan berhenti membiarkan masa lalu menjadi penjara batin. Seorang ayah dapat berkata kepada anak-anaknya, “Inilah penderitaan yang kualami. Pahamilah, tetapi jangan jadikan penderitaan ini identitasmu.” Dengan begitu, yang diwariskan bukan dendam, melainkan kebijaksanaan.

Itulah sebabnya judul “mati dengan tenang” menjadi sangat bermakna. Ketenangan itu bukan karena sejarah berubah, melainkan karena sebelum meninggal, Encek berusaha memastikan bahwa sejarah yang melukai dirinya tidak lagi menguasai kehidupan generasi sesudahnya, dan inilah salah satu kekuatan cerita dari film yang berdasarkan novel dengan judul yang sama. Anak-anak Encek tidak mengalami langsung kekerasan politik tahun 1965, tetapi mereka tetap hidup di bawah bayang-bayang ayah yang tidak pernah benar-benar pulih.

Yang diwariskan bukan trauma peristiwa sejarahnya, melainkan cara trauma itu membentuk kepribadian Encek. Ia menjadi keras, sinis, tertutup, dan emosional. Setelah istrinya meninggal, jarak dengan anak-anak semakin lebar. Di sisi lain, anak-anak digambarkan lebih sibuk memikirkan warisan dan tidak mampu memahami penderitaan ayah mereka. Mereka melihat Encek sebagai ayah yang sulit dicintai, sementara Encek merasa seluruh pengorbanannya tidak pernah dimengerti.

Kisah Encek dengan persoalan trauma dan keluarganya ini merupakan gambaran yang dikenal dalam psikologi sebagai trauma antargenerasi (intergenerational trauma). Anak-anak tidak mewarisi pengalaman sejarah secara langsung, tetapi mewarisi dampaknya melalui pola relasi keluarga. Ayah yang sulit mengungkapkan kasih sayang, keheningan mengenai masa lalu, kemarahan yang tampak tanpa penjelasan, dan hubungan yang dipenuhi salah paham.

Akibatnya, generasi kedua sering membawa luka yang berbeda. Mereka mungkin berkata, “Ayah selalu keras,” tetapi tidak pernah tahu mengapa ayah menjadi demikian. Menariknya, Encek kemudian menyiapkan semacam eulogi yang berisi pengakuan, termasuk kalimat yang sangat menyentuh: “Aku adalah ayah kalian yang tak pernah pulih rasa sakitnya.” Eulogi adalah pidato atau tulisan penghormatan yang bertujuan untuk memuji dan mengenang kehidupan, jasa, serta kebaikan seseorang yang telah meninggal.

Kalimat itu seolah menjadi kunci seluruh cerita. Ia bukan meminta anak-anaknya ikut memikul traumanya, melainkan berharap mereka akhirnya memahami bahwa sifat keras dan pemarahnya bukan muncul begitu saja. Dengan mengetahui sejarah ayahnya, mereka memiliki kesempatan untuk mengakhiri mata rantai luka, bukan menjadi meneruskannya terus menerus kepada generasi berikutnya.

Dari sudut pandang Buddhis, ini memiliki resonansi yang dalam. Ajaran tentang sebab-akibat (pratityasamutpada) menunjukkan bahwa penderitaan tidak muncul tanpa kondisi. Kebencian, ketakutan, atau kekerasan seseorang sering merupakan buah dari penderitaan sebelumnya.

Memahami sebab-sebab itu bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakitkan, tetapi membuka kemungkinan berdamai dengan masa lalu, menumbuhkan karuna (welas asih) dan menghentikan rantai penderitaan agar tidak terus diwariskan.

 

Warisan Pelepasan Encek

Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama, yaitu “Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang” karya Wisnu Suryaning Adji, penerbit Bentang Pustaka, Desember 2022, tebal 280 halaman. Novel yang menjadi sumber film dan berbagai ulasan, kiranya dapat lebih menangkap makna kisahnya lebih jelas, ketimbang mungkin film yang lebih banyak mengandalkan visual dan dialog. Novel memungkinkan pembaca mengikuti pergulatan batin Encek secara lebih mendalam.

Novel tampaknya lebih kaya dari filmnya, memberi ruang lebih luas untuk memasuki monolog batin Encek. Bagaimana pengalaman sebagai warga Tionghoa yang melewati perubahan politik Indonesia membentuk wataknya untuk “mati dengan tenang,” melalui pengakuan kepada anak-anaknya dan sekaligus pelepasan trauma masa lalu yang membentuk watak kerasnya.

Pengakuan Encek disini bukanlah pembelaan diri. Ia tahu usia tak lagi memberinya banyak hari. Maka ia memilih satu keberanian terakhir: membuka pintu masa lalu yang selama puluhan tahun dikuncinya rapat.

Encek tua menggelar perjamuan terahir, bukan untuk membagi warisan, melainkan untuk membagikan sejarah yang selama ini berdiam di balik wajahnya. Anak-anak yang mengenalnya sebagai ayah yang keras, pendiam, dan sukar dipahami. Anak-anak yang tak pernah melihat ketakutan yang bertahun-tahun bersembunyi di balik tatapannya, atau luka yang diam-diam membentuk setiap nada suaranya.

“Aku bukan dilahirkan menjadi ayah yang dingin.” Katanya lirih. “Aku hanya terlalu lama hidup bersama masa lalu yang tak pernah selesai.”

Ia pun membuka lembar demi lembar kenangan: tentang identitas yang dipendam, kehilangan yang tak sempat ditangisi, dan zaman yang mengajarkan bahwa diam lebih aman daripada jujur. Sedikit demi sedikit, anak-anaknya mulai mengerti bahwa yang selama ini mereka anggap sebagai watak, ternyata adalah bekas luka yang tak pernah sembuh.

Rencana besar itu bukanlah merencanakan kematian. Rencana besarnya adalah memastikan bahwa ketika ia pergi, yang dikuburkan bersama tubuhnya adalah beban sejarah, bukan kasih sayang yang gagal disampaikan; agar yang diwariskan kepada anak-anaknya bukan ketakutan, bukan dendam, melainkan pengertian.

Sebab hanya orang yang berani menceritakan lukanya dapat memutus rantai luka itu sendiri. dan hanya setelah dipahami, hati yang selama ini dipenjara oleh masa lalu perlahan menemukan keluasan untuk melepaskan.

Di penghujung hidupnya, Encek tidak lagi meminta dikenang sebagai ayah yang benar. Ia hanya berharap dikenang sebagai manusia yang terluka, yang akhirnya memiliki keberanian untuk berkata, “Sekarang kalian tahu mengapa aku menjadi seperti ini. Jangan teruskan lukaku. Teruskanlah kebijaksanaan yang lahir darinya.” Barangkali, itulah cara paling sunyi untuk mati dengan tenang.

Lalu Encek menatap anak-anaknya dengan senyum yang tak lagi menyembunyikan apa pun. “Ayah tak ingin kalian memikul abu masa lalu. Abu biarlah kembali kepada angin. Yang ingin ayah tinggalkan hanyalah api kebijaksanaan.”

Dalam usianya yang renta, Ia akhirnya mengerti bahwa dendam tidak pernah benar-benar diwariskan oleh sejarah, melainkan oleh hati yang enggan melepaskannya. Sejarah memang tak dapat diubah, tetapi batin yang memandang sejarah selalu dapat dilatih untuk menjadi lebih lapang.

Seperti bambu yang tetap tegak setelah diterpa badai, manusia tidak menjadi kuat karena tak pernah terluka, melainkan karena belajar tidak hidup sebagai lukanya sendiri.

Ia teringat petuah lama: keluarga bukan sekadar tempat darah mengalir, tetapi tempat kebijaksanaan diteruskan. Maka warisan terbesar bukanlah nama marga, rumah, atau harta, melainkan hati yang tidak lagi diperbudak oleh ketakutan.

Dalam keheningan, Encek mempraktikkan Dharma yang tak pernah banyak diucapkannnya. Ia melihat bahwa kemarahan hanyalah penderitaan yang belum dipahami, dan belas kasih lahir ketika seseorang berani melihat sebab-sebab penderitaan itu tanpa membencinya.

“Jika kalian mengingat ayah,” katanya perlahan, “jangan ingat lukaku. Ingatlah keberanian untuk melepaskannya.”

Malam itu, tak ada sejarah yang dihapus. Tak ada air mata yang sia-sia. Yang terjadi hanyalah sebuah pelepasan: seorang ayah mengembalikan masa lalunya kepada waktu, mengembalikan kemarahannya kepada keheningan, dan mengembalikan dirinya kepada kenyataan bahwa segala yang berkondisi pada akhirnya akan berlalu.

Di situlah ia menemukan kedamaian yang selama ini dicarinya. Bukan karena hidup telah berlaku adil, melainkan karena batinnya telah berhenti menuntut dunia mengubah apa yang telah terjadi. Dan ketika fajar kelak menyambut kepergiannya, ia tahu bahwa anak-anaknya tidak lagi mewarisi rantai penderitaan, melainkan jalan untuk memutuskannya. Itulah warisan seorang ayah yang akhirnya memahami Dharma bukan mati tanpa sejarah, melainkan meninggalkan sejarah tanpa lagi diperbudak olehnya. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://www.kompas.id/artikel/rencana-besar-untuk-mati-dengan-tenang-unjuk-gigi-di-festival-film-shanghai

PEMAKAMAN TIONGHOA DI KOTA MAGELANG JAMAN BELANDA

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?