Oleh: Jo Priastana
“Hidup tidak selalu mudah, tapi membebani diri dengan
penderitaan yang belum terjadi hanya akan membuatnya lebih sulit”
(Seneca, Meninggal 65 M, Filsuf Stoik Romawi”)
Kematian selalu masa depan, dia belum datang tapi manusia tahu kematian akan datang. Dilema ini menumbuhkan mekanisme psikologis tersendiri dalam diri manusia. Ada antisipasi yang dilakukannya seraya juga melupakannya karena kematian sesungguhnya tidak dikehendaki datang. Ada tindakan mewujudkannya dalam proyek keabadian seperti dalam banyak monumen yang ditinggalkan Raja dahulu kala. Ada bangunan baru didirikan di sebuah kampus, yang seakan proyek keabadian, karena diberi nama seorang donatur besar bagi para mahasiswa di perguruan tinggi agama Buddha di Nalanda India, Balaputradewa, Raja Sriwijaya. Nama yang diabadikan menjadi nama bangunan baru pada institut Nalanda Jakarta, peresmian, 2 Agustus 2026.
Tindakan Raja Balaputradewa yang namanya diabadikan oleh Institut Nalanda, dalam pandangan Ernest Becker dalam The Denial of Death, dapat menjadi cermin, simbol dari proyek abadi manusia dalam mengatasi ketakutan akan kematian. Kematian sebagai takdir yang tak terhindarkan dapat menyebabkan kecemasan dan ketakutan akan masa depan. Ketakutan akan masa depan dapat menjadi pendorong untuk terlibat dalam aktivitas yang membantu melupakan kematian dan sekaligus membangun warisan kebajikan dalam mengatasi kefanaannya dan yang akan dikenang generasi masa depan selanjutnya.
Rasa ingin tahu tentang masa depan yang mematikan itu merupakan salah satu keinginan manusia yang berasal dari kecemasan dan ketakutan akan kematian. Ini khas kemampuan yang dimiliki makhluk manusia. Manusia hidup dalam naluri dan kesadaran. Ada naluri kehidupan (bhava-tanha) dan naluri kematian (vibhava-tanha) dan ada kesadaran kematian (maranasati) yang menyertainya juga. Proyek keabadian yang menjangkau masa depan seakan menjadi cermin bawah sadar manusia dalam mengatasi kefanaan dan ketakutan akan kematian yang memberikan rasa nyaman dan kebanggaan dalam menyelesaikan hidupnya.
Ketakutan dan Kesadaran Akan Kematian
Dalam sudut pandang etika, filsafat, dan religius, manusia ada di dunia ini untuk bertindak dengan benar dan mencari makna keberadaannya. Namun, rasa takut akan kematian yang tak terhindarkan dapat begitu luar biasa sehingga seringkali menyebabkan kecemasan, kepanikan, dan rasa absurditas bagi banyak manusia.
Oleh karena itu, manusia mungkin bertanya-tanya apakah asal usul banyak keinginan dan perilaku manusia adalah pengalihan perhatian dari nasib buruknya itu, kematian. Berbagai tanda dalam perilaku manusia, terlepas dari latar belakang budaya, menyiratkan ketakutan ini, dan kita melakukan sesuatu untuk terlibat dalam aktivitas yang membantu kita melupakannya, seperti dalam kecanduan alkohol, narkoba, seks, pekerjaan dan perjudian.
Terlepas dari semua itu, manusia sering tetap penasaran tentang apa yang menantinya selanjutnya, karena kematian berkenaan dengan waktu masa depan, belum datang tapi pasti datang, dan karenanya kepastian yang akan dan belum datang itu menimbulkan tindakan-tindakan manusia yang berkenaan dengan keingintahuannya yang mendasar itu.
Manusia membaca ampas kopi, mengacak kartu tarot, dan menatap bintang-bintang, ingin tahu apa yang akan datang, sepertinya mau tahu kapan kematian datang. Bahkan ketika dia mengaku tidak percaya pada prediksi masa depan, daya tarik horoskop dan ramalan tetap memikatnya.
Lebih jauh, ini bukan sekedar rasa ingin tahu, tetapi sebuah hasrat, kebutuhan untuk mengendalikan hal yang tidak diketahui. Seekor rusa tidak takut akan musim dingin, seekor burung tidak membangun sarang untuk mengantisipasi hari esok, dan seekor tupai yang mengumpulkan biji ek tampak tidak peduli dengan masa depan. Tindakan-tindakan ini didorong oleh naluri, bukan rencana-rencana hidup yang disadari.
Namun, manusia memiliki kekhawatiran tentang masa depan karena mereka mengetahui konsep waktu dan korelasi keberadaan mereka di dalamnya. Meski mungkin ada perbedaan dalam pandangan tentang waktu antara manusia di timur dan barat, yang satu bersifat siklis dan sirkuler sedangkan satunya lagi linier, yang juga memengaruhi pandangannya tentang kehidupan sesudah mati, samsara, reinkarnasi, surga neraka atau hidup kekal abadi.
Filsuf Jerman Martin Heidegger (1889-1976), dalam bukunya yang mendalam dan kompleks, “Being and Time” atau “Sein und Zeit” (1927) memperkenalkan sebuah konsep baru yang dikenal sebagai Dasein, yang merujuk pada suatu makhluk yang secara tidak sengaja dilemparkan ke dunia. Dasein mengetahui keberadaannya di dunia dan kematiannya yang tak terelakkan.
Oleh karena itu, tampak bahwa manusia adalah entitas unik yang mampu memahami linearitas waktu, yang meliputi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Manusia yang belum mati secara linear mempunyai waktu masa kini, kematian yang pasti datang masih di masa depan. Coba bayangkan betapa cemasnya manusia bahwa seiring berjalannya waktu keberadaan dia akan tiada, dari ada ke tiada.
Lalu adakah tindakan manusia yang dilakukannya selama ini, baik sadar dan tidak sadar adalah upaya dalam mengatasi kecemasan akan kematian, dan upaya untuk mengatasinya? Beberapa bukti menunjukkan bahwa manusia ternyata bukanlah satu-satunya makhluk hidup yang memiliki kesadaran diri. Beberapa studi eksperimental menunjukkan bahwa beberapa hewan, misalnya, dapat mengenali diri mereka sendiri di cermin.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa hewan seperti gajah dan paus tertentu mungkin memahami kematian ketika itu terjadi pada anggota kelompok mereka yang lain. Namun, belum jelas apakah mereka memahami gagasan bahwa kematian adalah sesuatu yang pada akhirnya akan terjadi pada mereka juga.
Jadi, meskipun sulit untuk mengatakan bahwa kesadaran dan pemahaman tentang kematian hanya dimiliki oleh manusia, bukti saat ini menunjukkan bahwa kesadaran akan kematian yang akan datang hanya dimiliki oleh manusia. Ketakutan akan ketidakpastian dan ambiguitas, kesadaran akan kematian yang tak terhindarkan, dan keinginan untuk mengendalikan, adalah alasan utama mengapa manusia ingin mengetahui tentang masa depannya itu.
Manusia atau semua dari kita takut mati, meskipun manusia tidak selalu menyadarinya. Ia secara sadar dan tidak sadar, tahu bahwa hidupnya singkat dan tidak akan hidup selamanya. Bahkan ide fiktif tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan dapat membantunya merasa lebih tenang. Hal itu mengingatkannya bahwa dia masih bisa hidup di masa depan yang mungkin bahkan tidak nyata.
Dopamin Proyek Keabadian dan Sistem Penghargaan
Buku Ernest Becker (1924-1974) The Denial of Death, menyatakan bahwa rasa takut akan kematian yang akan datang, adalah alasan utama mengapa manusia melakukan berbagai hal, termasuk keputusan untuk memiliki anak, menciptakan karya seni, dan mengejar kekayaan atau ketenaran.
Antropolog Budaya Amerika ini mengungkapkan tentang upaya-upaya yang sering disebut sebagai proyek keabadian. Manusia ingin merasa bahwa ia dan hidupnya penting. Oleh karena itu, terlibat dalam proyek-proyek keabadian itu, dan yang akan memotivasinya untuk terus maju dalam hidup dan menghindari kecemasan akan kematian.
Proyek keabadian (immortality project) adalah segala upaya sadar dan tidak sadar yang dilakukan manusia untuk mengatasi rasa takut akan kematian dengan menciptakan, memperjuangkan, atau menjadi bagian dari sesuatu yang diyakini akan bertahan abadi dan melampaui masa hidup fisiknya di dunia. Proyek keabadian diciptakan manusia masa kini dalam mengatasi kecemasan kematian yang datang di masa depan, mengatasi waktu hidupnya yang fana.
Pemikiran filosofis Ernest Becker tentang mengatasi ketakutan akan kematian menyatakan, manusia sadar bahwa dirinya rapuh dan fana secara fisik, tetapi memiliki pikiran yang luas dan berupaya mencari makna. Upaya ini memberikan rasa signifikansi, kepahlawanan, dan tujuan hidup agar manusia merasa hidupnya tidak sia-sia. Ernest Becker juga berpendapat bahwa benturan proyek keabadian, seperti keyakinan, ideologi atau nasionalisme, sering kali menjadi akar dari kebencian, perang, dan kekerasan di dunia.
Ada beberapa macam bentuk proyek keabadian. Dalam proyek pribadi, misalnya membangun keluarga, menulis buku, menciptakan karya seni, mengejar karier, atau mencapai prestasi agar dikenang sepanjang masa. Dalam proyek sosial kultural, seperti ikut dalam sistem masyarakat, agama, bangsa, atau kelompok tertentu yang memiliki mitos dan nilai abadi.
Dalam bukunya yang memperoleh penghargaan Pulitzer tahun 1973, The Denial of Death itu, Ernest Becker meyakini bahwa karakter seseorang pada dasarnya dibentuk melalui penyangkalan terhadap kematiannya sendiri, bahwa penyangkalan ini merupakan komponen penting dalam berfungsi di dunia dan bahwa perisai karakter ini menutupi dan mengaburkan pengetahuan diri yang sejati.
Ernest Becker juga pada akhirnya sampai pada posisi bahwa penyelidikan psikologis hanya dapat membawa manusia ke ambang batas tertentu di mana sistem kepercayaan harus digunakan untuk memuaskan jiwa manusia, sebagai penghindaran atas kecemasan akan kematian. Begitu pula, secara psikologis ada hubungan erat antara proyek keabadian dengan sistem penghargaan (reward system) dopamin di otak.
Secara neurobiologis, proyek keabadian dapat dipandang sebagai mekanisme psikologis tingkat tinggi yang memanfaatkan jalur dopamin untuk meredakan kecemasan eksistensial. Penghindaran kecemasan akan kematian ini juga tercermin dalam peran sistem penghargaan dalam keinginan manusia untuk memprediksi masa depan. Otak membaca keberhasilan proyek keabadian ini sebagai sebuah hadiah (reward) besar, yang memicu rasa aman, bangga dan nyaman.
Kecemasan akan kematian juga memasuki wilayah otak manusia, dimana sistem dopaminergik di otak, yang terutama aktif di daerah seperti area tegmental vental (TVA) dan nucleus accumbens, memainkan peran penting dalam menghasilkan perasaan penghargaan, motivasi, dan antisipasi terhadap hal positif maupun negatif (Penghargaan dan Kematian Mengapa Otak Kita Mengejar Masa Depan? FB Ruang Filsafat dan Kebijaksanaan Hidup. Firdausiyahno’matul. 5/8/26).
Ada peran sistem penghargaan dalam meramalkan takdir. Ketika seseorang mengantisipasi sesuatu, misalnya, dia membaca ramalan untuk melihat apa yang akan terjadi besok, otak dalam dirinya terlibat dalam semacam permainan tebak-tebakan. Proses menebak dan mengantisipasi ini, bahkan ketika hasilnya masih belum pasti, dapat melepaskan dopamin. Mengapa? Telah terbukti bahwa dopamin lebih terkait dengan antisipasi hadiah, daripada hadiah itu sendiri.
Ketika seorang peramal membuat prediksi, seperti “Anda akan mendengar kabar baik,” otak anda memasuki keadaan antisipasi yang optimis. Antisipasi ini merangsang pelepasan dopamin, karena anda mengharapkan hasil yang positif, meskipun itu tidak nyata.
Di sisi lain, jika peramal memperingatkan, “Ada bahaya di depan.” dan Anda mengambil tindakan, misalnya berdoa atau memberi sedekah, Anda mungkin merasa seolah-olah telah menghindari bahaya tersebut. Penghindaran hasil buruk ini juga merupakan bentuk penghargaan yang mengaktifkan dopamin.
Tampaknya motivasi yang didorong oleh sistem penghargaan merupakan faktor utama yang membantu kita, manusia mengabaikan rasa takut dan kekosongan yang muncul dari mengetahui nasibnya. Berbagai perilaku dalam hidup manusia ini dapat dipahami dari perspektif ini. Perilaku-perilaku ini yang memungkinkannya untuk sejenak melupakan rasa takut akan kematian dan ketiadaan, menimbulkan rasa nyaman dan memotivasinya untuk terus hidup.
Keinginan untuk memprediksi masa depan, bersama dengan tindakan lain yang dilakukan manusia untuk menghindari rasa takut akan kematian, terutama didorong oleh stimulasi sistem penghargaan otak, yang menciptakan motivasi untuk terus maju dalam hidup, termasuk dengan membangun proyek keabadian. Proyek keabadian menjadi simbol dalam upaya mengatasi ketakutan akan kematian yang memungkinkan timbul rasa senang dan tenang menghadapinya.
Proyek Keabadian di Dunia Pendidikan
Senja itu ia berdiri di depan gedung baru yang masih berbau semen dan cat. Pilar-pilar menjulang, aula luas terbuka masih tertutup, papan nama lembaga pendidikan terpampang dengan anggun, berikut karangan bunga ucapan selamat dari segala kalangan, serta logo dari nama-nama besar sponsor dan donatur.
Di hadapannya berdiri pula para donatur dari perusahaan-perusahaan besar, para alumni, komunitas Buddhis dari segala majelis, tokoh agama dan pemerintahan serta para pengurus yayasan, para guru, dan para mahasiswa yang kelak akan mengisi ruang-ruang pengetahuan itu.
Ada rasa haru dan bangga yang sulit disembunyikan. Dulu, tempat ini hanya sebuah impian yang ditulis di atas kertas-kertas rapuh. Ketika kini ia menjadi bangunan nyata, sebuah warisan tak bernilai telah diletakkannya bagi generasi pelanjut dan masa depan yang tak terbatas.
Ia mengingat masa lalu perjalanan panjangnya sampai ia berdiri di titik ini. Bertahun-tahun lalu, sebelum ia mengenakan jubah pengabdian, sebelum namanya dikenal sebagai tokoh agama dan pejuang pendidikan, dapat dipastikan itu bermula ketika dirinya sebagai seorang anak berdiri di sisi ranjang ibunya yang sedang menghadapi kematian.
Ia menyaksikan seseorang yang paling ia cintai perlahan meninggalkan kehidupan, sementara dirinya tidak memiliki jawaban. Ia bertanya dalam kesunyian. “Apa arti semua perjuangan manusia, jika akhirnya semua berakhir pada kematian?”
Ia tidak tahu bagaimana menerima kehilangan itu, seperti Kisa Gotami kehilangan anaknya, dalam diri ia sebagai seorang anak yang telah dewasa dan makmur kehilangan ibunya. Ia tidak tahu harus berbuat apa terhadap kehilangan akan kematian orang tuanya yang tumbuh dalam dirinya, serasa ada ketakutan akan masa depan dalam wujud kematian.
Hingga di suatu hari seseorang berkata kepadanya. “Jika engkau tidak mampu mengalahkan kematian, hiduplah dengan memberikan kehidupan bagi yang lain. Berbuat baiklah. Jadikan perjalanan sisa hidupmu sebagai persembahan untuk Kebajikan.”
Kata-kata sederhana itu menyentuh hatinya dan menuntun langkahnya, lalu Ia menemukan jalan Dhamma hingga menjadi seorang rohaniwan Budddhis dengan sebutan Romo, sesuatu yang tak terbayangkan ketika ia masih menekuni kehidupan duniawi yang banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh masyarakat penting. Ia mengabdikan dirinya pada agama dan dunia Pendidikan, menyelesaikan sisa hidupnya dengan bermakna.
Ia menghidupkan lembaga pendidikan, mendampingi umat, pengurus yayasan dan operator pendidikan, memperjuangkan hadirnya pendidikan Buddhis agar generasi mendatang tidak hanya mewarisi ritual, tetapi juga kebijaksanaan, ilmu pengetahuan dan keberanian berpikir.
Dan hari ini, di depan gedung yang berdiri megah itu, ia merasakan kepuasan, kebanggaan. Mungkin inilah yang selama ini ia cari. Sebuah bukti bahwa hidupnya berarti dan bermakna. Sebuah bangunan yang akan tetap berdiri ketika tubuhnya suatu hari kembali menjadi debu.
Namun, ketika malam mulai turun, ketika para tamu telah pulang, ketika sorak keberhasilan berubah menjadi keheningan, ia mendengar sebuah suara yang sangat pelan. Bukan suara orang lain, tapi seperti suara dari kedalaman dirinya sendiri, suara manusia, suara kemanusiaan yang dalam.
“Apakah engkau sedang membangun pendidikan Buddhis, atau sedang membangun sebuah tempat perlindungan yang bersumber dari ketakutanmu terhadap kematian?” Ia terdiam dalam dan malam yang semakin kelam menghadirkan nada kalimat itu semakin menusuk rasanya dengan lembut, sakit tapi juga tidak tersangkal.
Hatinya berkata, ia sudah menyatakan berlindung kepada Buddha, “Buddhaṃ Saranaṃ Gacchami,” tapi bukankah bangunan ini bisa berdiri justru karena atas nama Buddha, sekolah tinggi Buddha dan diberi nama tokoh besar dalam sejarah pendidikan agama Buddha di Nusantara.
Tokoh pendidikan itu teringat pada pemikiran Ernest Becker dalam “The Denial of Death,” yang diulas dalam buku “Teror Kematian: dari Ada ke Tiada” yang menarik namun sukar dimengerti karena bahasanya filosofis yang terlalu dalam. Namun pada akhirnya ada saja makna yang merasuk ke sanubari, menggedor hati nurani terdalamnya seakan kematian itu memang hakiki menyatu dalam kehidupan manusia siapa saja, tak terelakkan.
Ia teringat pesan dalam buku yang menurutnya ditulis dengan bahasa yang sulit dimengerti itu, bahwa manusia sering menciptakan karya-karya besar, kebudayaan agama, institusi bahkan peradaban sebagai cara untuk menghadapi kesadaran bahwa dirinya fana. Manusia ingin meninggalkan sesuatu yang melampaui usia tubuhnya. Tidakkah pembangunan gedung baru itu adalah cerminan keberadaan dirinya dalam waktu kehidupan, “sein und zeit,” ada dan waktu, “being and Time,” seperti judul buku filsuf Jerman Martin Heidegger?
Damai Menerima Kematian
Kini di hadapan gedung baru yang diberi nama seorang donatur besar, tokoh Buddha zaman dahulu yang juga mempersembahkan gedung pendidikan sebagaimana kini ia juga turut membangunnya, ia baru mengerti dan sungguh menyadari isi buku “Teror Kematian: dari Ada ke Tiada,” sungguh mencerahkan.
Itulah contoh dari proyek-proyek keabadian yang dilakukan manusia sejak kapan pun, baik dahulu maupun sekarang dan akan datang. Ia memandang kembali gedung itu. Beberapa saat lalu ia merasa bangga. Ia merasa nyaman. Ia merasa dopamin dalam otaknya menjalari tubuh dan hidupnya. Ia merasa menemukan jawaban.
Namun kini ia melihat sesuatu yang lebih dalam, bahwa mungkin di balik semangat membangun itu masih ada seorang anak (sifat kekanakan yang ada dalam diri setiap orang meski sudah dewasa, ketergantungan akan cinta kasih orang tua, inner-child) yang dahulu berdiri di sisi ranjang ibunya, seorang anak yang sulit menerima menghadapi perpisahan terakhir.
Itulah cermin “ketakutan akan kematian” atau tidak siap menerima ditinggal, kematian ibunda seperti yang dikatakan Ernest Becker dalam bukunya “The Denial of Death” yang juga tertuang dalam buku “Teror Kematian: dari Ada ke Tiada.” Buku yang semula dipandang tidak bermanfaat dan hanya buang-buang waktu saja untuk membacanya, namun tetap saja selalu mengundang untuk membukanya kembali dan membacanya, meski harus berulang-ulang perlahan.
Ia merasa ada nyaman yang terusik, bukan karena bangunan itu salah. Bukan karena pendidikan itu sia-sia, bukan buku itu tidak bermanfaat, karena setiap buku ada jodoh pembacanya masing-masing sesuai minat dan tingkat intelektualitas, tetapi karena ia melihat bayangan dirinya sendiri di balik semua keberhasilan itu. Ia bertanya:
“Apakah aku membangun karena cinta kasih kepada kehidupan, atau karena aku masih ingin melarikan diri dari kematian?” Malam itu ia duduk sendirian di ruang aula baru yang masih kosong namun menghadirkan kedalaman jiwanya. Perlahan tumbuh rasa damai sejalan penerimaan akan kematian, sebagai realitas sebagaimaan adanya (yathambhutam), dan cermin ajaran Buddha tentang tilakkhana (dukkha, anicca, dan anatta atau derita, ketidakkekalan, dan tiada inti yang kekal).
Ia pun menembus ajaran Buddha tentang anicca, bahwa segala sesuatu yang muncul akan berlalu. Bahkan gedung yang kokoh ini suatu hari pun akan retak. Nama yayasan mungkin akan berubah. Generasi penerus akan datang dan pergi. Tidak ada monumen yang benar-benar abadi.
Mungkin keabadian bukanlah membuat sesuatu yang tidak pernah hancur. Keabadian adalah membangkitkan kebijaksanaan dan welas asih yang terus mengalir dari satu kehidupan ke kehidupan lain, bukan sebagai benda yang kekal, tetapi sebagai sebab yang melahirkan kebaikan baru.
Ia tersenyum kecil. Ia tidak lagi ingin gedung itu menjadi batu nisan bagi ketakutannya. Ia ingin gedung itu menjadi ruang kehidupan, tempat anak-anak muda belajar melihat penderitaan dunia, memahami Dharma, mengembangkan ilmu, dan membebaskan dirinya dari kebodohan.
Esok pagi ia akan kembali berdiri di depan gedung itu. Namun kali ini bukan sebagai seorang yang ingin menaklukkan kematian. Melainkan sebagai seorang yang telah berdamai dengan kenyataan bahwa kematian selalu berjalan bersamanya. Dan justru karena hidup tidak abadi, setiap tindakan kasih menjadi berharga. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: https://www.vecteezy.com/free-photos/eternity-symbol