Teror Kematian (2) – Di Senja Penantian Lansia

Home » Artikel » Teror Kematian (2) – Di Senja Penantian Lansia

Dilihat

Dilihat : 188 Kali

Pengunjung

  • 3
  • 143
  • 571
  • 278,670
Pic 25125 Teror Kematian 2

Oleh: Jo Priastana

 

“Jika kau menangis karena mentari tenggelam, air mata itu

 akan menghalangi pandanganmu melihat segudang bintang”

(Rabindranath Tagore, 1861-1941, Pujangga India).

 

Di usianya yang sudah sangat sepuh, Bhikkhu Kanthidharo Mahathera (94 th) membagikan prinsip yang dimilikinya dalam menjalani akhir hidup dan menyikapi kematian. Beliau mengungkapkan bahwa ia “mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya kematian. Karena itu saya sudah berpesan, jaga diri, kemana-mana jaga diri, dengan apa? Jamu, Jati, dan jaran. Jamu, jaga mulut. Jati artinya jaga tingkah laku. Jaran artinya jaga pikiran. Dengan jamu, jati, dan jaran maka hidupnya kita akan tenang, tenteram, dan damai, tidak perlu bertengkar satu sama lain.”

Selain itu, beliau juga mengungkapkan prinsip dalam agama Buddha yang berkenaan dengan kematian. Katanya “Ini prinsip hidup yang secara singkat yang diajarkan oleh Sang Buddha, “vaya dhamma sankhara appamadena sampadetha.” Sadarilah tidak ada sesuatu yang kekal, karena itu berjuanglah sungguh-sungguh untuk mencapai kebebasan. Sebuah prinsip dari Buddhadharma yang sangat layak disimak bagi para lansia di senja penantiannya.

Bhikkhu Khantidharo Mahathera adalah seorang bhiksu dalam tradisi Theravada yang dikenal sebagai pendiri Vihara Dhammadipa Arama di kota Batu, Jawa Timur. Lahir dengan nama Djamal Bakir pada tahun 1931. Menjadi bhikkhu pada tahun 1987 (Vian Ekaggata, Tiktok, 27/7/25 @ medkombodhiguna). Apa yang diungkapkan oleh Bhikkhu Khantidharo yang juga menjadi lakon hidupnya itu adalah bekal sempurna dalam menghadapi kematian dan menjalani akhir-akhir hidup dengan tenang dan menyenangkan.

 

Senja Mendekati Akhir Hayat

Dalam Buddhadharma, usia tua dipandang bagian alami dari siklus kehidupan yang tidak kekal dan penuh penderitaan yang disebut dukkha. Meskipun demikian, usia tua juga merupakan kesempatan untuk mengembangkan kebijaksanaan dan kedamaian batin. Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk yang terlahir dan pada akhirnya akan menua dan mati, setiap kemunculan akan menemui kelenyapan.

Ibarat waktu yang bergulir sehari-hari, lansia sedang berada di sore hari atau di senja hari. Menanti malam yang datang sambil berbisik, adakah besok fajar akan datang? Senja lansia mendekati akhir hayat hidupnya dan dalam penantian datangnya kematian. Di fase di senja hidupnya, lansia mengalami penurunan dalam banyak segi, baik fisik, mental, psikologis, sehingga banyak yang menganggap lansia perlu memperoleh dukungan, baik sosial, emosional dan spiritual.

Perlu selalu mencermati perubahan keadaan fisik lansia. Lansia yang mendekati akhir hayat mengalami kelelahan fisik ekstrem. Kerap datang kantuk, penurunan minat makan dan minum, perubahan pola pernapasan tidak teratur (pernapasan Cheyne-Stokes) dengan suara napas berderak. Anggota badan seperti kaki dan tangan yang dingin, kulit pucat atau berbintik. Terjadi juga perubahan kesadaran seperti kebingungan atau halusinasi, serta menarik diri dari interaksi sosial.

Pada perubahan fisik seperti kelelahan dan kantuk, lansia akan merasa sangat lelah dan banyak tidur, karena tubuh mulai mengurangi aktivitas. Terjadi penurunan nafsu makan dan minum, dan seseorang yang akan meninggal akan kehilangan minat untuk makan dan minum. Begitu pula dengan perubahan pada pernapasan, dimana pernapasan menjadi kurang terarur. Kerap bernapas dengan napas dangkal atau jeda yang panjang, dan terkadang terdengar suara berderak karena penumpukan lendir atau yang disebut “death rattle”.

Ciri yang juga tampak adalah kulit pucat dan dingin. Sirkulasi darah melambat, menyebabkan tangan kaki, atau bahkan kulit menjadi dingin, pucat, atau muncul bercak kebiruan atau keunguan. Timbul masalah kandung kemih dan usus dimana sering terjadi inkontinensia (sulit mengendalikan buang air kecil) atau penurunan frekuensi buang air besar dan kecil karena asupan makanan dan cairan yang berkurang.

Dalam segi kognitif terjadi perubahan yang berakibat pada perilaku. Kerap terjadi halusinasi dan kebingungan. Lansia mungkin mengalami kebingungan disorientasi, atau halusinasi yang tidak sesuai dengan realitas. Lansia kerap menarik diri secara sosial karena kelelahan dan perubahan kondisi. Lansia yang cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan jarang berinteraksi karena kelelahan fisik perlu  mendapat support kunjungan.

Berlangsung pula perubahan kesadaran. Kesadaran lansia bisa menurun, bahkan mungkin tidak lagi responsif terhadap percakapan atau rangsangan dari luar. Di sinilah pentingnya dukungan, fase ini, penting untuk memberikan dukungan emosional dan spiritual agar lansia merasa nyaman dan tidak sendirian (Respon AI).

Orang tua perlu mendapat dukungan terutama dari kaum yang masih berdaya, anak-anaknya. Membantu orang tua untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan mental dalam menapaki masa depannya dan menyongsong kematian. Biarkan orang tua dapat menghadapi akhir hayat dengan senyuman dan kedamaian, seperti cita-cita mulia pendiri  “Pondok Batin Senyum,” tempat singgah lansia yang asri di desa Cilaku, Tenjo, Bogor, Jawa Barat.  

Siapa pun yang terlahir sebagai manusia pasti memiliki orang tua. Buddhadharma mengajarkan kebajikan “kataññu-katavedi”, yakni menyadari hutang budi kepada orang tua dan berupaya membalasnya dengan membantu mereka saat membutuhkan. Ini adalah kebajikan yang juga akan menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarga.

Lansia ibarat di senja sore, entah esok pagi apakah masih dapat menikmati fajar. Malam hari yang gelap adalah kabut hitam yang menyimpan kematian. Adakah fajar terang esok akan menjelang? Kematian merupakan penghentian secara permanen semua fungsi tubuh yang vital atau akhir dari kehidupan manusia. Masa hidup lansia adalah menyongsong kematian dan hari-hari yang dilaluinya sepantasnya sarat dengan kesadaran akan kematian (marana sati).

Hampir bisa dipastikan bahwa peningkatan kesadaran mengenai kematian timbul saat individu beranjak tua dan biasanya juga juga terjadi peningkatan pada masa dewasa menengah. Ini menandakan bahwa usia paruh baya merupakan saat orang dewasa berpikir lebih jauh mengenai beberapa waktu lagi yang tersisa dalam hidupnya. Mungkin bingkai foto diri itu telah disiapkan.

Sisa hidup yang dijalani lansia bisa menjadi sangat berarti, sebagaimana menjalani hidup sesuai saran Bhikkhu Khantidharo, yaitu: “Jamu, Jati dan, jaran. Menjaga mulut, menjaga tingkah laku, dan menjaga pikiran.”

 

Kecemasan dan Kesiapan Lansia

Kematian yang tidak dapat ditolak meski tak tahu kapan persisnya datang kerap menimbulkan rasa cemas. Rasa cemas terhadap kematian dapat disebabkan oleh kematian itu sendiri dan apa yang akan terjadi sesudah kematian. Sanak dan keluarga yang ditinggalkan, atau merasa bahwa tempat yang akan dikunjungi setelah kematian sangat buruk, bukan di surga Sukhavati.

Kecemasan dalam menghadapi kematian hendaknya dapat diminimalisir karena akan semakin membuat para lansia tidak siap dalam mengadapi kematian. Kesiapan merupakan keseluruhan kondisi yang membuat seseorang siap untuk memberi respon terhadap suatu situasi. Keadaan lansia yang telah siap untuk menghadapi dan menerima kematian tidak menimbulkan penyesalan maupun ketakutan apapun ketika kematian terjadi.

Siap atau tidak siapnya lansia dilatarbelakangi oleh usia yang sudah menua dan pemahaman bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Kesiapan lansia yang dipengaruhi oleh usia menunjukkan bahwa variabel usia berhubungan dengan ketakutan pada kematian. Lansia memiliki rasa takut dan cemas terhadap kematian dibandingan dengan individu pada usia dewasa awal.

Selain itu, pengertian bahwa kematian tidak dapat ditolak membuat lansia merasa sewaktu-waktu akan meninggal, bahwa kematian dipandang sebagai sesuatu yang tak terelakkan dan dapat terjadi kapan saja, dimana kepastian yang masih ditunggu ini dapat menimbulkan kecemasan pada lansia.

Bisa saja terjadi ketidaksiapan lansia dalam menghadapi kematian yang mungkin dipengaruhi dan dibayangi oleh perbuatannya di masa lalu maupun keinginannya untuk terus memelihara anak dan cucunya. Lansia yang tidak siap dikarenakan ingin terus hidup bersama keluarga mengalami kekhawatiran, karena merasa tidak dapat kembali ke dunia dan berkumpul bersama dengan orang-orang yang dicintai.

Tidak dipungkiri ada rasa cemas dan takut terhadap kematian ketika lansia berada di senja penantian. Rasa cemas dan takut akan kematian itu sendiri dan juga kecemasan dan ketakutan terhadap misteri yang akan terjadi sesudah kematian. Adakah keadaan sesudah kematian itu baik atau buruk, atau bagaimana?

Pandangan lansia tentang kematian memengaruhi kesiapan lansia menghadapi kematian. Lansia yang memiliki keyakinan dan kesadaran akan hukum ketidakkekalan, bahwa kematian akan membawa mereka kembali kepada semesta alam atau Tuhan, akan membuatnya siap menerima kematian dengan tenang. Lansia yang memiliki keyakinan kuat terhadap Tuhan dan hukum kesunyataan anicca (tidak kekal) akan memiliki keberanian ketika berhadapan dengan kematian dan kesakitan.

Usia tua adalah waktu untuk fokus pada kedamaian batin, energi harus digunakan untuk pengembangan spiritualitas, dan bukan lagi untuk mengejar hal-hal duniawi. Menerima perubahan fisik dengan penuh kesadaran dan kelembutan. Tubuh yang menua harus diperlakukan dengan kebaikan dan perhatian serta fokus pada kesehatan, kedamaian batin, melalui meditasi dan kesadaran dimana seseorang dapat melampaui penderitaan dan menemukan kedamaian.

Isi hari-hari yang tersisa ini dengan apa yang menjadi saran Bhikkhu Khantidharo, sepuh yang berusia 94 tahun di tahun 2025 ini. Sesepuh umat Buddha yang telah banyak jasanya bagi perkembangan agama Buddha khususnya dalam dunia pendidikan Buddhis. Bhikkhu sepuh yang juga menebarkan saran kebajikan melalui prinsip yang diajarkan oleh Sang Buddha, “vaya dhamma sankhara appamadena sampadetha.” Sadarilah tidak ada sesuatu yang kekal karena itu berjuanglah sungguh-sungguh untuk mencapai kebebasan.

Di senja penantian lansia adalah masa persiapan intensif dalam menghadapi kematian dan perjuangan pembebasan melalui kesadaran dan penerimaan penuh atas hukum kesunyataan ketidakkekalan “anicca vata sankhara.” Di sinilah masanya, di usia tua, masa senja untuk dapat menjadikannya masa yang sangat berharga, masa emas dan bukan cemas untuk mengembangkan spiritualitas dan kebijaksanaan.

Maha Bhiksu Hsu Yun yang mencapai pencerahan pada usia lanjut membuktikan bahwa tidak ada batasan usia untuk berlatih dharma. Masih dapat melakukan meditasi dan kesadaran, kebijaksanaan dan cinta kasih adalah permata paling berharga di usia tua. Optimis di senja penantian, dimana malam akan menghantar hening dalam terang bulan purnama dan dalam damai kesenyapan semesta!  (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://res.cloudinary.com/dk0z4ums3/image/upload/v1589536387/attached_image/covid-19-lebih-berbahaya-bagi-lansia-di-atas-70-tahun.jpg

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?