Oleh: Jo Priastana
“Tidak ada yang bisa menghindari kematian; itu tak terhindarkan.
Oleh karena itu, saya harus menciptakan semacam kesediaan dan penerimaan
dalam pikiran saya untuk peristiwa itu tanpa rasa takut”
(Lobsang Tenzin, Lahir 1937, Bhiksu Tibet, PM Pemerintahan Tibet di Pengasingan)
Seniman Epy Kusnandar meninggal dunia pada Rabu (3/12/25) pukul 14.24 WIB. Kabar duka ini disampaikan istrinya, Karina Ranau yang setia dan selalu menemani almarhum dimasa-masa sulit. Jenazah Epy Kusnandar disemayamkan di Harmony Residence 88, Jakarta Selatan, dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada Kamis (4/12) pukul 08.00 WIB. Epy Kusnandar dikenal luas lewat perannya sebagai Kang Mus di sinetron fenomenal “Preman Pensiun,” dan juga banyak sinetron serta film lainnya sejak memulai karier di film dan dan teater.
Di balik kariernya yang Panjang, Epy pernah divonis tumor otak pada 2010 dan disebut hanya memiliki waktu hidup empat bulan. Namun semangatnya untuk sembuh membuat ia kembali berkarya lebih dari satu dekade hingga berpulang di akhir tahun 2025 ini. Selama lima belas tahun, ia menerima vonis sisa hidup empat bulan di tahun 2010 itu dalam kepasrahan namun tetap semangat, hingga sisa 4 bulan vonis medis itu menjadi 15 tahun.
Epy Kusnandar meninggal saat dirawat di rumah sakit. Ia meninggalkan duka bagi dunia hiburan. Epy Kusnandar yang pernah mengatakan akan berpulang di usia 61 tahun, juga sempat melontarkan celetukan saat Mpok Atiek curhat mimpi meninggal. Suami Karina Ranau ini kepo bagaimana caranya bisa mimpi meninggal (YouTube Trans 7). Epy Kusnandar saat Mpok Atiek cerita mimpi meninggal mengatakan, “Pengen kayak gitu.” Celetukan ini mungkin mencerminkan keinginan-tahuan Epy Kusnandar tentang apa itu mati sekalipun dalam memimpi melihat dirinya meninggal.
Kematian Tak Terkendali
Mati Tak Terkendalikan dan misteri ini selalu menimbulkan keinginan-tahuan, apalagi ketika seseorang mengalami mimpi tentang hal itu. Berpikir tentang kematian memang tak akan ada habisnya dan sering membuat seseorang merasa tak berdaya. Karena kematian adalah satu-satunya kepastian yang tidak bisa dikendalikan. Dalam filsafat, ada beberapa pandangan untuk memahami posisi “pasrah” tanpa kehilangan semangat hidup, seperti yang dilakoni Epy Kusnandar.
Banyak orang kini setelah kematiannya membukan balik sisi-sisi kehidupan Epy Kusnandar yang begitu tabah, penuh semangat dalam meniti karier dan menjalani kehidupannya yang berliku naik turun, menjadi bintang dan juga berada di dalam dasar perjuangan hidup dengan membuka usaha kuliner warung makan bersama istri setianya di akhir kehidupan sambil menanggung vonis kematian medis.
Kematian sebagai hal yang tak bisa dikendalikan. Banyak filsuf sepakat bahwa kematian adalah bagian dari kondisi manusia atau “human condition.” Kematian bukan sesuatu yang bisa dipilih seseorang atau dihentikan sepenuhnya.
Filsafat Stoikisme (abad ke-3 SM) dengan tokohnya seperti Epictetus (-135 M), Marcus Aurelius (121-180 M) membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan. Kematian adalah tidak bisa dikendalikan, karenanya pantas diterima dan bukan untuk ditakuti. Terhadap kematian yang tidak bisa dikendalikan dan vonis mati medis yang diterimanya, Epy Kusnandar, sang preman pensiun melakoninya dengan pasrah dan penuh semangat.
Stoikisme mengungkapkan juga tentang kepasrahan dalam menerima kematian. Pasrah dalam pandangan filsafat Stoik ini adalah sebuah bentuk penerimaan aktif, bukan tanda menyerah. Pasrah disini bukanlah hilang semangat, tetapi fokus pada nilai dan tindakan yang masih bisa dilakukan. Tetap menjalani hidup dengan penuh semangat dan bermakna.
Filsuf Epikuros (341 SM-270 SM) atau alirannya yang disebut Epikureanisme menyatakan, “kematian tidak ada untuk kita.” Ketika kita hidup, kematian belum ada, dan saat ada kematian, kita sudah tidak hidup lagi untuk merasakannya. Tidak ada rasa mati, karena setelah mati tidak ada rasa lagi. Maka ketakutan terhadap kematian adalah ilusi pikiran, dan untuk itu pantas berfokus pada mengurangi penderitaan dan memperbanyak ketenangan.
Bagaimana filsuf menyikapi “vonis kematian” medis? Epy Kusnandar divonis medis dengan sisa hidup empat bulan, namun sang pemeran Preman Pensiun ini justru baru meninggal setelah lima belas tahun kemudian. Seperti yang dikatakannya, Epy Kusnandar menghadapinya dengan sikap pasrah namun semangat. Menghadapi prognosis terminal oleh dokter, yang dilakoni Epy Kusnandar dengan pasrah namun semangat, tampaknya juga relevan dengan pandangan beberapa filsuf, ada Stoik, Eksistensialisme, maupun Buddhisme.
Stoikisme menganggap vonis medis sebagai bagian dari takdir alam. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjalani sisa waktu dengan kebajikan, ketenangan, dan bermartabat. Bukan menyangkal, melainkan mengisi waktu yang tersisa dengan semangat yang bermakna.
Filsuf eksistensialisme asal Jerman Martin Heidegger (1889-1976) mengungkapkan bahwa kesadaran akan kematian membuat manusia hidup lebih otentik. Vonis kematian bisa menjadi momen untuk memurnikan pilihan hidup, karena waktu menjadi jelas terbatas.
Sedangkan Filsuf Prancis Jean Paul Sartre (1905-1980) menyatakan, bahkan saat diberi vonis, kita tetap punya kebebasan memilih sikap terhadapnya. Kita tidak bisa memilih akhir, tetapi bisa memilih makna.
Albert Camus (1913-1960), filsuf eksitensialis yang terkenal dengan absurditas menyatakan bawah hidup itu pada dasarnya absurd, dimana manusia mencari makna, namun dunia tidak memberikannya. Vonis kematian menegaskan absurditas itu. Namun sikap yang dianjurkan Camus bukan menyerah, melainkan “pemberontakan,” yaitu tetap hidup dengan intensitas dan kejujuran meskipun tahu akhirnya mati tak terhindarkan.
Pasrah, Semangat dan Ikhtiar
Jadi, apakah boleh “pasrah”? Boleh, asal pasrah yang dimaksud adalah menerima kenyataan bahwa ada batas-batas yang tidak bisa kita kendalikan, dan memilih cara hidup yang bernilai. Tidak menyerah pada putus asa. Justru banyak filsuf melihat damai dengan kematian sebagai langkah menuju kebijaksanaan dan kehidupan yang lebih penuh.
Apakah pasrah bertentangan dengan semangat hidup? Tidak selalu. Ada dua macam “pasrah.” Pasrah pasif dan pasrah aktif (acceptance). Pasrah pasif merasa tidak punya daya, sehingga berhenti berusaha, menjadikan semangat hidup hilang. Pasrah macam Ini yang biasanya dipandang negatif.
Sementara pasrah aktif adalah penerimaan. Mengakui batasan, sehingga tetap bisa memilih yang terbaik. Pasrah aktif ini justru menumbuhkan ketenangan dan kejelasan tujuan. Banyak filsuf menganggap pasrah aktif ini sebagai bentuk kebijaksanaan, dan bukan tanda menyerah.
Pasrah juga mendapat sambutan positif dalam psikologi moden. Terutama pada terapi “ATC” yaitu “Acceptance & Commitment Therapy.” Terapi psikologis yang menekankan sikap menerima hal yang tidak bisa diubah, dan penerimaan ini justru membuat seseorang lebih efektif dalam menghadapi hidup.
Kata pasrah sering dilawankan dengan kata ikhtiar. Bagaimana hubungannya, sungguhkah kedua istilah ini berlawanan atau saling melengkapi? Ikhtiar sesungguhnya adalah usaha sadar untuk mengubah atau memperbaiki keadaan dengan fokus pada hal yang masih dapat dikendalikan. Sedangkan pasrah menerima keadaan yang sudah di luar kendali dengan fokus pada ketenangan dan kesiapan menghadapi hasil.
Titik pembeda utama pasrah dan ikhtiar adalah pada kendali, yaitu mencakup aspek kontrol, aksi dan arah. Pada ikhtiar aspek kontrol ketika masih ada hal yang bisa dilakukan, aspek aksi adalah aktif, dan aspek arah berkenan “apa yang bisa saya lakukan.”
Sedangkan pada pasrah, aspek kontrol dijalankan ketika hasil berada di luar kuasa manusia. aspek aksi adalah menerima, bukan pasif, dan aspek arah adalah “apa pun hasilnya, saya siap menerimananya.” Hal ini mirip dengan prinsip Stoisisme, lakukan yang bisa dikendalikan, terima yang tidak. Pasrah bukan berarti menyerah.
Ada pasrah yang sehat (acceptance) mengakui realitas, dan tidak melawan hal yang tidak bisa diubah, tetap memiliki ketenangan dan kejernihan, tidak membatalkan usaha. Selain itu ada pasrah yang salah, seperti fatalisme atau putus asa, tidak mau berusaha padahal masih bisa, menyerah sebelum waktunya, menurunkan semangat hidup.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ikhtiar tercermin misalnya, perlunya belajar sebelum ujian, mencari pengobatan saat sakit, memperbaiki hubungan, bekerja untuk hasil yang diinginkan. Sedangkan pasrah, menerima nilai ujian setelah semua usaha, menerima prognosis medis yang sudah pasti, menerima keputusan orang lain yang tidak bisa dipaksa, menerima bahwa waktu, usia, dan kematian tidak bisa dikendalikan.
Dari perspektif filsafat Stoik, ikhtiar adalah fokus pada kebajikan dan tindakan, sedangkan pasrah adalah menerima takdir alam setelah berusaha. Pandangan Eksistensialis menyatakan bahwa ikhtiar adalah memilih makna melalui tindakan, maupun menerima absurditas dan batas tanpa kehilangan kebebasan.
Dalam terapi piskologi ACT, ikhtiar adalah adalah committed action (tindakan yang sesuai nilai), sedangkan pasrah adalah acceptance (menerima realitas tanpa menghindari). Keduanya bukan musuh, namun justru pasangan yang saling melengkapi.
Ikhtiar adalah melakukan bagian kita, sedangkan pasrah adalah menerima bagian yang bukan milik kita. Jika terus berpikir tanpa pasrah akan menimbulkan kecemasan. Jika pasrah tanpa ikhtiar akan menimbulkan putus asa, dan jika seimbang akan mendatangkan ketenangan tetapi tetap bergerak.
Pandangan Buddhis menunjukkan bahwa, ikhtiar adalah melakukan tindakan benar, sedangkan pasrah adalah melepaskan keterikatan pada hasil. Semua kehidupan bersifat anicca (tidak kekal), vonis medis bukan hukuman, melainkan penegasan hukum alam. Melakukan praktik “letting go” atau melepas dan hidup penuh kehadiran dalam “mindfulness” menjadi kunci dalam menyikapi kematian secara pasrah namun tetap bersemangat.
Terima Kasih “Preman Pensiun”
Epy Kusnandar (Kang Mus) dan juga rekannya di film “Preman Pensiun,” Didi Petet (Kang Bahar), serta beberapa rekan almarhum lainnya adalah para aktor yang berkesan yang memerankan preman pensiun sejak sinetron “Preman Pensiun 1” tayang pada 12 Januari 2015 di RCTI. Sebuah sinetron edukasi yang mencerminkan realitas kehidupan sehari-hari, mendapat sambutan dan menginspirasi tentang ada saatnya untuk pensiun, letting go.
Saatnya untuk pensiun dalam arti sadar, waktunya untuk melepas aktivitas duniawi, dan bisa menerima takdir kematian yang tidak bisa dikendalikan yang datang sewaktu-waktu. Dengan begitu, bisa berfokus hanya pada aktivitas yang perlu dan bermakna yang bisa dilakoni, sejauh masih ada waktu, sejauh masih mampu berdinamika dan bisa berubah.
Tayangan “Preman Pensiun,” layaknya setitik cahaya menerangi hari-hari sunyi memasuki masa lansia dan masa pensiun. Sebagai langkah melayat kepada almarhum Kang Mus, teriring salam perpisahan dalam narasi yang sekiranya mencerminkan dan mewakili sikap hidup yang dilakoni Kang Mus.
“Aku menerima kabar itu, seperti senja menerima malam. Tanpa melawan gelap, tanpa kehilangan cahaya terakhirnya. Pasrahku bukan menyerah, tapi jeda kecil untuk bernapas, mengakui bahwa ada batas yang tak bisa ditawar. Namun selama nadiku masih mengetuk, ikhtiarku adalah hidup, bukan bertahan tapi hadir. Mengisi sisa waktu dengan yang bernilai, mencintai lebih jujur, menangis lebih lega. Kematian mungkin sudah dijadwalkan, tapi cara menuju ke sana tetap milik langkahku. Maka aku berjalan tenang dalam penerimaan, hangat dalam harapan, tegar karena aku tahu pasti dan berani karena tahu hidupku masih di sini.
Aku duduk bersama kabar itu, seperti bhiksu duduk bersama napas. Tidak menolak, tidak menggenggam, hanya melihat apa adanya. Kematian bukan musuh, hanya tamu yang datang sesuai jadwalnya karena karma memberitahu begitu. Tubuh ini anicca, mengalir, berubah dan akhirnya pulang. Pasrahku adalah melepas, bukan putus asa. Seperti teratai yang tetap mekar, meski tahu air tempatnya tumbuh tak pernah tinggal.
Aku menerima batas umur, sebagaimana awan menerima angin. Namun selama keadaan masih menyala, aku berjalan dengan penuh perhatian. Satu langkah, satu napas, satu senyum. Semangatku lahir, bukan dari harapan hidup panjang, tapi dari keberanian untuk hadir penuh pada setiap detik yang masih bisa diberikan. Kematian mungkin menunggu di ujung jalan, rumah berpulang yang sejati, namun jalan dharma ini tetap aku lalui. Selama aku melangkah dengan welas asih, setiap langkah sudah merupakan kehidupan.”
Kang Mus, sang preman pensiun, engkau telah menutup layar kehidupan dan mengakhiri peranmu di dunia ini dengan berani menghadapi teror kematian dalam penerimaan sepenuhnya. Lakonmu tetap terkenang dan memberi pelajaran tentang makna masa pensiun sebagai pengingat untuk “letting go.” Selamat jalan dan terima kasih atas setiap tawa, cerita, inspirasi dan kenangan yang telah engkau berikan dalam kesempatan hidup di dunia ini. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: https://www.detik.com/pop/movie/d-8241457/profil-aktor-epy-kusnandar-meninggal-dunia-di-usia-61-tahun