Teror Kematian (4) – Pelukan Terakhir Mirza dan Salma di Tengah Bencana Ekologis Sumatra

Home » Artikel » Teror Kematian (4) – Pelukan Terakhir Mirza dan Salma di Tengah Bencana Ekologis Sumatra

Dilihat

Dilihat : 121 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 108
  • 571
  • 278,635
Pic 2625

Oleh: Jo Priastana

 

“Cinta sejati itu abadi, tak terbatas, dan selalu seperti dirinya sendiri.

Cinta itu selalu setara dan murni. Tanpa demonstrasi kekerasan.

Cinta itu terlihat dengan uban dan selalu muda hatinya.”

(Honore de Balzac, 1799-1850, Novelis Prancis)

 

Pelukan terakhir Mirza dan Salma di tengah bencana ekologis di Sumatera Desember 2025 lalu. Mau gak percaya tapi nyata. Pelukan Terakhir Melawan Galodo: Kisah Abadi Mirza dan Salma di Malalak. Musibah galodo Malalak di Kabupaten Agam meninggalkan luka, tetapi di antara reruntuhan, tersingkap sebuah kisah cinta yang menjadi legenda. Kisah ini milik Mirza (58) dan Salma (52), yang jasadnya ditemukan pada Kamis (4/12/2025) di tengah puing Toboh (FB Artis Kesayangan, 8/12/25).

Galodo adalah istilah dalam bahasa Minangkabau untuk banjir bandang atau banjir lahar dingin. Di kedalaman lubang tempat mereka terperangkap, kedua korban ini ditemukan dalam posisi yang membungkam kata-kata: berpelukan erat. Itu adalah pemandangan yang mengharukan; di detik-detik terakhir hidup mereka, di bawah derasnya terpaan air bah, mereka tidak melepaskan. Mereka memilih dekapan sebagai perlawanan, sebagai ikrar abadi. Mereka membuktikan bahwa cinta sejati melampaui musibah.

Ibu Salma mendekap erat cintanya kepada Mirza di tengah bencana yang menyisakan air mata. Kepergian mereka adalah duka, namun penemuan mereka adalah kesaksian. Cinta Mirza dan Salma kini menjadi cahaya kecil dalam kegelapan bencana, sebuah ukiran kasih sayang yang takkan lekang dimakan waktu. Mereka mengajarkan, bahwa ikatan batin yang tulus adalah kekuatan terbesar, bahkan saat menghadapi takdir terburuk, teror kematian dari bencana ekologis. Pelukan terakhir sebelum mereka berpelukan abadi di surga.

 

Kita Ada Bersama Sampai Akhir

Peristiwa pelukan akhir Salma dan Mirza di tengah bencana Sumatra yang mendatangkan kematian memberi renungan. Renungan mendalam tak habisnya akan kehidupan dan kematian, akan ikatan batin, akan ketulusan cinta dan bahkan pelajaran tentang protes terhadap bencana yang menghadirkan teror kematian, yang nyatanya tidak lepas dari ulah manusia.

Mirza dan Salma adalah dua anak manusia yang lebih memilih mati sambil berpelukan di tengah bencana ekologis yang telah memakan korban ribuan dan ratusan orang hilang. Sungguh sangat non-manusiawi dan menegur hati nurani tentang cinta, ketakutan, keputusasaan dan martabat kemanusiaan terakhir dalam menghadapi situasi yang tak dapat dihindari.

Banyak disiplin ilmu dan filsafat punya cara masing-masing untuk membaca peristiwa tersebut dan menjelaskan kejadian Salma dan Mirza ini. Masing-masing dengan perspektif dan latar belakang keilmuannya yang sekiranya patut kita simak untuk dapat menangkap penjelasan yang lebih utuh dan komprehensif terhadap peristiwa yang mengusik hati nurani ini.

Peristiwa pelukan Salma dan Mirza di tengah bencana melebihi kisah cinta abadi pengorbanan dalam fiksi, novel atau sandiwara yang terkesan meromantisir tragedinya. Salma dan Mirza adalah tragedi yang sungguh nyata, realitas yang terjadi di tengah bencana alam ekologis.

Perspektif ilmu psikologi dan sosiologi bencana mengatakan, kejadian seperti yang Salma dan Mirza lakukan adalah reaksi manusia di tengah situasi ekstrem atau “extreme coping behavior.” Psikologi bencana menunjukkan bahwa di menit-menit terakhir, manusia cenderung mencari kedekatan emosional dengan orang yang paling penting baginya.

Pelukan adalah respons biologis. Tubuh mencari regulasi emosi, kehangatan, rasa aman, bahkan ketika keselamatan sudah mustahil. “Dyadic coping.” Dalam situasi yang tak bisa dilawan atau “uncontrollable”, dua orang bisa mengatur stres bersama, bukan untuk bertahan hidup secara fisik, tapi untuk mempertahankan integritas emosional.

Di tengah kehadiran kematian yang tak terelakkan, bencana alam ekologis yang mencekam, mereka menyatukan emosionalitas mereka dalam pelukan terakhir, dalam ikatan batin yang meyakini akan membawa mereka bersama selamanya, abadi mengatasi kefanaan hidup.

Dalam perspektif sosiologi bencana, ada rasa memiliki atau “belonginess” diantara Mirza dan Salma. Teori Baumeister & Leary menyatakan bahwa kebutuhan paling dasar manusia bukan hanya hidup, tetapi tidak sendirian dalam menghadapi kenyataan. Tindakan Mirza dan Salma dapat dibaca sebagai penegasan identitas terakhir mereka. “Kita ada bersama, sampai akhir.”

 

Pembangkangan Sunyi Terhadap Kekacauan Alam

Albert Camus (1913-1960) yang merupakan filsuf eksistensialis menulis bahwa dunia absurd sering memaksa manusia berhadapan dengan batasnya. Dalam situasi dimana tak ada pilihan moral yang menjaga hidup, pilihan terakhir adalah bagaimana menghadapi absurditas itu. Mirza dan Salma mungkin menghadapi absurditas dari hidup ketika banjir bandang menerjang, bencana alam mematikan datang di negeri cantik yang setiap hari dijalaninya. Absurditas itu dijawab dengan pelukan bersama, pelukan akhir untuk keabadian perjalanan hidup selanjutnya.

Dalam tradisi Albert Camus, pelukan mereka adalah bentuk pembangkangan sunyi terhadap kekacauan alam. Mereka bukan menyerah, tapi memberi makna dalam situasi tanpa makna. Mirza dan Salma menjadi simbol kebermaknaan dari kehidupan yang menurut eksistensialisme Albert Camus adalah absurd. Absurditas yang menunjukkan ketiadaan makna dalam hidup, dijawab dalam sunyi, dalam pelukan Mirza dan Salma di tengah bencana alam.

Kita lihat perspektif filsuf eksistensialis lainnya, Emanuel Levinas (1906-1955) yang berbicara tentang wajah orang lain. Levinas berbicara tentang wajah orang lain yang memunculkan tanggung jawab dan kedekatan tanpa syarat. Dalam tragedi Salma dan Mirza ini, pelukan itu dapat dibaca sebagai respons etis paling sederhana dan paling murni, yaitu mengakui kemanusiaan satu sama lain di saat-saat terakhir.

Pelukan Mirza dan Salma menunjukkan emosi yang sangat dalam sebagai kesatuan yang tak terpisahkan. Bagi Filsuf Amerika, Martha Nussbaum (lahir 1947), emosi merupakan kecerdasan moral. Nussbaum melihat emosi sebagai penilaian tentang apa yang penting. Dalam bencana ekologis tak terhindarkan, pelukan itu adalah bentuk pengakuan terhadap nilai tertinggi hubungan manusia. Pelukan kedekapan emosional yang kuat, tulus sebagai pusat etika.

Para pemikir ekologi seperti Arne Naess, Timothy Morton, dan teori “slow violence” Rob Nixon (lahir 1954) mengingatkan bahwa bencana ekologis bukan sekedar kejadian alam, tetapi hasil akumulasi kriris sosial, kebijakan, dan kerusakan lingkungan. Tindakan dua manusia itu adalah kesaksian bisu bahwa mereka adalah korban dari proses panjang yang tidak mereka bisa kendalikan. Etika ekologi menunjukkan bahwa kisah mereka memperlihatkan kerentanan manusia ketika alam yang biasanya menopang berbalik menjadi kekuatan yang menenggelamkan.

Kita lihat juga dari perspektif humaniora yang memperlihatkan tragedi itu sebagai kesaksian. Sebagaimana dalam sastra tragedi. Tindakan Salma dan Mirza tidak dimaknai sebagai “memilih mati”, tetapi “memilih tetap menjadi manusia sampai akhir.” Pelukan adalah pernyataan bahwa bahkan ketika dunia runtuh, manusia masih mencari cinta, kehangatan, dan kebersamaan.

Seorang penulis tragedi modern mungkin mengatakan: “Di tengah amuk alam, dua tubuh kecil itu menegakkan kebenaran tertua umat manusia, bahwa kita tidak diciptakan untuk menghadapi gelap seorang diri.”  

Dari ilmu filsafat, sampai humaniora, satu benang merahnya memperlihatkan bahwa manusia mencari makna dan kedekatan bahkan ketika hidup tak bisa diselamatkan. Pelukan Mirza dan Salma bukan sekadar gestur terakhir, melainkan sebuah pernyataan bahwa mereka hadir satu sama lain. Bahwa ketakutan tidak membatalkan cinta, dan bahwa meski dunia retak, kemanusiaan tetap bisa berlangsung.

Sedikit dalam perspektif Buddhadharma, kematian sering dipahami sebagai kelanjutan kondisi, bukan kekalahan, tetapi kejadian dimana kehadiran batin adalah satu-satunya pegangan. Dua manusia yang berpelukan di tengah banjir dapat dibaca sebagai “ketidakmelekatan pada tubuh, namun pelepasan dalam kebersamaan, menjemput arus yang lebih besar dari dalam diri.”

 

Kualitas Kebaikan Hati di Detik Terakhir

Dua anak manusia Mirza dan Salma, yang berpelukan di tengah bencana yang tak dapat dihindari. Dalam Buddhadharma, kematian bukan akhir, melainkan arus, seperti sungai besar tempat segala bentuk kembali melebur. Setiap makhluk lahir dari kondisi, dan kembali pada kondisi. Tidak ada kepemilikan; tubuh, napas, bahkan momen terakhir pun bukan “milik” kita sepenuhnya. Semua mengalir mengikuti sebab yang saling menjalin.

Namun, di tengah arus besar itu, ada satu hal yang tetap muncul berulang dalam diri semua makhluk, yaitu welas asih. Dalam welas asih Mirza dan Salma, ada kerinduan untuk tidak sendirian dalam duka. Pelukan Mirza dan Salma dapat dibaca sebagai bukan penolakan atas kematian, melainkan cara sederhana dua jiwa kecil menjaga kebajikan pada detik terakhirnya.

Dalam Abhidhamma, momen menjelang kematian disebut cuti-citta, kesadaran terakhir sebelum arus batin berlalu. Kesadaran itu bisa jernih atau kusut, damai atau takut, tergantung kondisi batin sesaat itu. Pelukan adalah bentuk spontanitas jernih: menghadirkan ketenangan, kedekatan, dan rasa aman. “Ada dua anak manusia, berada di ambang keterhanyutan, dan mereka memilih kehadiran daripada ketakutan.”

Dalam tradisi Buddhis, hal itu sudah merupakan kebajikan. Bencana ekologis mungkin tak bisa mereka lawan, tetapi kualitas hatilah yang menjadi warisan terakhir. Dalam pelukan itu, muncul tiga kualitas utama ajaran Sang Buddha, yaitu: metta, karuna, anicca. Di saat tak ada lagi yang bisa diselamatkan, cinta kasih tidak padam. Ia justru menjadi lentera terakhir yang menyala sebelum gelap. Pelukan Mirza dan Salma adalah terang kasih di antara kegelapan batin ulah manusia penyebab bencana ekologis.

Welas asih tak memerlukan kata-kata, penderitaan dan bencana itu sudah menggerakkan hati yang memunculkan spontanitas. Pelukan adalah respons spontan terhadap penderitaan, “semoga engkau tidak sendiri.” yang diucapkan tanpa kata. Salma dan Mirza saling berpelukan dalam welas asih satu sama lain dan juga untuk dunia semesta, mengabarkan bahwa hanya dalam nyala welas asihlah yang menyelamatkan kegelapan dari kebodohan yang mendatangkan bencana.

Air naik, tanah runtuh, tubuh rapuh. Pelukan itu adalah pengakuan senyap, bahwa “segalanya berubah, dan kita akan melewatinya bersama.” Dalam Buddhadharma, tidak ada ajaran untuk meromantisasi kematian. Namun ada pemahaman bahwa cara kita menutup mata jauh lebih menentukan daripada lamanya hidup.

Pelukan Mirza dan Salma adalah sebuah momen kesadaran dalam badai ketidakkekalan. Momen kecil dimana dua makhluk hidup memilih untuk hadir satu sama lain meski arus alam bencana ekologis itu menghapus segala rencananya. Pelukan Mirza dan Salma adalah “Pelukan di Tengah Arus,” bencana alam dan ekologis pada akhir 2025 lalu. Pelukan Mirza dan Salma memperlihatkan arus kesadaran kebersamaan dalam welas asih itu abadi selamanya.

Begitulah yang telah terdengar. Ketika banjir besar bangkit dari sebab-sebabnya, dua anak manusia berdiri di ambang lenyap. Mereka tidak menemukan daratan, namun menemukan satu sama lain. Maka mereka saling merangkul, menjalin metta di saat terakhir. Air naik tanpa belas kasihan, namun hati mereka tidak gentar, cinta mereka tidak gemetar.

Di tengah arus bencana dan teror kematian yang tak dapat dihentikan, mereka memilih kedamaian daripada takut, kebersamaan daripada sunyi. Seperti dua lampu kecil yang saling melindungi nyala, demikianlah mereka memasuki perubahan besar. Banjir merenggut tubuh, tetapi tidak dapat merenggut kebaikan yang muncul sesaat sebelum akhir.

Demikianlah adanya, di mana pun metta lahir, di sana duka melemah, walau hanya sekejap. Seorang tua yang sedang menatap senja sore mungkin akan berkata: “Ketika dunia runtuh, mereka memilih kebaikan dari metta, dan kebaikan metta tak akan pernah hanyut, namun membawanya kepada keabadian, cinta yang abadi dan membebaskan.” (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: instagram ericka_susilawati

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?