Oleh: Jo Priastana
“Anda tak bisa menakuti kami dengan kelaparan, karena kami dari Ramadhan.
Anda tak bisa menakuti kami dengan kematian, karena kami dari Muharram.”
(Ali Khamenei, 1939-2026, Pemimpin Tertinggi Iran 1989-2026)
Kita turut belasungkawa atas meninggalnya Ayatullah Ali Hosseini Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran yang tewas dalam serangan gabungan AS- Israel ke istananya di Teheran, pada Minggu 28/2/26 di bulan Ramadhan. Ia meninggal bersama sejumlah tokoh militer yang juga tewas dalam serangan yang dikatakan Donald Trump sebagai operasi Epic Fury. Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang selama hampir 4 dekade menjadi batu karang bagi ambisi imperialisme global, telah mencapai derajat pengabdian tertinggi syahid di garis depan kedaulatan.
Ali Khamenei bukan hanya memimpin sebuah negara, ia memimpin sebuah ideologi kemandirian. Ayatullah Ali Khamenei, keturunan ke 38 Nabi Muhammad SAW, telah memberi teladan bagaimana seorang pemimpin sejati. Berani menentang zionis Israel dan hegemoni Amerika. Sebuah perjuangan tidak akan berhenti hanya karena pemimpinnya dihabisi. Mati satu tumbuh seribu. Panjang umur perjuangan, Panjang umur perlawanan (Johannes De Brito Sigsa Nano, “Iran dan Politik Global Pasca Asli Khamenei,” Kompas, 3/3/26).
Ali Khamenei mati syahid dengan menjadi martir. Ia juga meninggalkan pesan yang sangat dalam, sebuah kutipan sangat indah yang patut kita renungi sehubungan dengan kematiannya. Pesan yang sangat bermakna dalam untuk dunia dan para pejalan spiritual siapa saja dimana pun berada karena mengandung nilai universal dan mengundang kita untuk mendalami makna Ramadhan dan Muharram sebagai “tidak takut kelaparan dan tidak takut kematian.” Seperti diketahui, Iran mengalami embargo ekonomi sejak tahun 1979, namun tetap bisa bertahan dan kini sedang berperang dengan tidak takut terhadap teror kematian.
Ramadhan dan Bulan Pelatihan Diri
Ramadhan melatih manusia untuk berkata cukup. Di tengah budaya konsumsi yang terus mendorong kita merasa kurang, bulan itu mengajarkan bahwa nilai diri tidak diukur dari seberapa penuh piring kita, tetapi dari seberapa jernih hati kita. Secara sosial, pengalaman lapar kolektif menumbuhkan empati terhadap yang papa. Ia meruntuhkan kesombongan kelas dan membangun solidaritas. Maka ketika kelaparan dijadikan alat intimidasi, jiwa yang ditempa Ramadhan tidak mudah runtuh. Ia tahu bahwa tubuh bisa menahan, dan hati bisa tetap kaya meski meja sederhana (FB Suluksali, 2/3/26).
Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriah dan merupakan bulan yang suci bagi umat Islam. Pada bulan ini umat Islam menjalankan ibadah puasa dari fajar hingga matahari terbenam. Puasa atau al-shaum artinya al-imsaak, menahan diri. Menahan diri dari menahan makan, minum, pemenuhan biologis serta menjaga diri dari perbuatan buruk. Makna Ramadhan sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar menahan lapar dan haus, seperti latihan pengendalian diri, penyucian hati dan jiwa, namun juga menumbuhkan empati kepada sesama, mendekatkan diri kepada Tuhan.
Inti makna Ramadhan jika diringkas mengajarkan tiga hal utama, seperti kesabaran, keikhlasan, dan kasih kepada sesama. Seseorang yang benar-benar memahami makna Ramadhan biasanya tidak hanya berubah selama satu bulan, tetapi membawa perubahan itu dalam kehidupan setelahnya: lebih tenang, lebih sabar, dan lebih peduli pada orang lain. Sering dikatakan, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan pembentukan manusia yang lebih baik.
Ramadhan berlalu seperti sungai yang mengalir tenang di dalam jiwa. Pada awalnya ia datang sebagai kewajiban: menahan lapar, menahan dahaga, menahan diri dari segala yang membatalkan. Namun bagi seseorang yang benar-benar memasukinya dengan hati, Ramadhan bukan sekedar menahan perut, melainkan menahan ego yang selama ini ingin selalu menang.
Makna Ramadhan begitu dalam yang mungkin tercermin dari suara orang yang berhasil menjalaninya. Hari demi hari ia belajar dalam diam menetap ketika ingin pergi keluar. Ia belajar memberi ketika tangannya ingin menggenggam. Ia belajar sabar ketika dunia terasa tidak adil. Dan perlahan sesuatu berubah di dalam dirinya. Yang dulu mudah tersinggung kini menjadi lapang. Yang dulu gelisah kini menjadi tenang. Yang dulu takut kehilangan kini mengerti bahwa hidup hanyalah titipan.
Ketika Ramadhan selesai, orang lain mungkin berkata: “Bulan suci telah pergi.” Tetapi bagi orang yang telah memenuhi maknanya, Ramadhan tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di dalam napasnya, dalam cara ia memandang manusia lain, dalam kelembutan yang muncul tanpa dipaksa. Kini ia berjalan di dunia dengan hati yang lebih ringan. Seperti seseorang yang telah menaruh beban lama di tepi jalan.
Dan dari dalam dirinya tumbuh kekuatan yang sunyi, kekuatan untuk hidup sederhana, kekuatan untuk memaafkan, kekuatan untuk tidak lagi diperbudak oleh keinginan. Di situlah makna Ramadhan mencapai puncaknya. Bukan ketika bulan itu datang, melainkan ketika cahaya yang dibawanya tetap hidup di dalam diri manusia bahkan setelah bulan itu telah berlalu. Diri yang selalu penuh dan hidup setelah berlatih dalam kekosongan sepanjang hari sebulan penuh.
Muharram dan Tahun Baru Hijriah
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah (kalender Islam). Maknanya cukup dalam, baik secara spiritual, historis, maupun moral bagi umat Islam maupun siapa saja pejalan spiritual. Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam, Dzulga’dah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab. Disebut suci karena pada masa ini umat dianjurkan lebih menahan diri dari kekerasan, dosa, dan permusuhan, serta memperbanyak amal baik. Kata Muharram sendiri berarti “yang diharamkan”, maksudnya dahulu perang dan pertumpahan darah dilarang pada bulan ini.
Tanggal 1 Muharram menandai Tahun Baru Hijriah, yang dihitung sejak peristiwa Hijriah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M. Maknanya bukan sekedar pergantian tahun, tetapi simbol perubahan dan perjalanan spiritual: meninggalkan keburukan menuju kebaikan, meninggalkan penindasan menuju kebebasan, meninggalkan kegelapan menuju cahaya.
Hari yang paling terkenal dalam bulan ini adalah 10 Muharram, disebut Asyura. Dalam tradisi Islam: Nabi Muhammad menganjurkan puasa Asyura karena memiliki pahala besar. Dalam sejarah para nabi, hari ini sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa penyelamatan, misalnya Nabi Musa diselamatkan dari Firaun, maupun perahu Nabi Nuh bersandar. Bagi umat Syiah, tanggal ini juga sangat penting karena memperingati mati syahidnya Imam Husain bin Ali di Karbala tahun 680 M, cucu Nabi Muhammad.
Secara lebih dalam, Muharram sering dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi diri, memulai kehidupan baru yang lebih baik, menumbuhkan kesabaran dan pengorbanan, menghindari kekerasan dan permusuhan. Muharam merupakan momen spiritual untuk mulai perjalanan batin yang baru. Dalam arti simbolis, Muharram seperti gerbang waktu: manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan bertanya pada dirinya sendiri, ke mana hidup ini sedang menuju?
Makna Muharram yang begitu dalam mengundang orang untuk memasuki dan memahami maknanya. Ketika Muharram tiba, waktu seperti membuka sebuah gerbang sunyi. Di sana manusia berdiri sejenak, memandang ke belakang -jejak langkah yang penuh luka, kesalahan, kemarahan, dan kealpaan. Muharram bukan hanya pergantian tahun. Ia adalah panggilan halus dari waktu: tinggalkan yang lama, lahirlah kembali. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan hati, dari kebencian menuju kasih, dari keserakahan menuju kesederhanaan, dari kekerasan menuju perdamaian.
Dan ketika seseorang sungguh memenuhi makna Muharram itu, sesuatu yang diam-diam bangkit dalam dirinya. Bukan kekuatan untuk menaklukkan orang lain, melainkan kekuatan untuk menaklukkan dirinya sendiri. Bersama dengan Ramadhan, ia menjadi lebih sabar ketika dunia memancing amarah, ia menjadi lebih lembut ketika kekerasan merajalela. Ia menjadi teguh ketika cobaan datang seperti badai.
Kekuatan sejati itu tak terlihat, namun terasa seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah ketika angin mengguncang. Muharram mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pedang yang terhunus, melainkan hati yang mampu menahan diri. Dan dari hati yang demikian lahir keberanian yang paling sunyi: keberanian untuk hidup benar, meski dunia sering berjalan ke arah yang sebaliknya. Di situlah Muharram menjadi cahaya. Bukan hanya awal tahun, tetapi awal dari manusia yang baru.
Dari Ramadhan dan dari Muharram
Makna kutipan Ali Khamenei tentang Ramadhan dan Muharram ditemui dalam akun Facebook Suluksali, (2/3/26) sungguh sangat bernilai seperti dituturkan di bawah ini. Sepintas memaknai kutipan Ali Khamenei itu merupakan kalimat yang terdengar seperti teriak perlawanan, tetapi jika diselami lebih dalam, ia adalah pernyataan tentang pembentukan jiwa. Ia bukan sekadar keberanian spontan yang lahir dari emosi sesaat, melainkan hasil dari latihan yang panjang.
Di dalamnya ada pengalaman menahan lapar dengan sadar, dan ada kesediaan merenungkan kematian tanpa lari. Ia berbicara tentang manusia yang tidak lagi mudah diguncang oleh dua senjata paling tua dalam sejarah kekuasaan, yaitu rasa takut akan kekurangan atau kelaparan dan rasa takut akan kehilangan nyawa atau teror kematian.
Anda tak bisa menakuti kami dengan kelaparan, karena kami dari Ramadhan. Kalimat ini bukan tentang kebal secara fisik terhadap lapar. Ia tentang hubungan yang telah diubah. Dalam Ramadhan, lapar bukan hukuman, melainkan ruang pendidikan bagi jiwa. Secara psikologis, ketika seseorang terbiasa menahan diri dari yang halal demi ketaatan, ia sedang memutus ketergantungan pada kenikmatan instan.
Ia belajar bahwa dirinya lebih besar daripada dorongan biologisnya. Wah, di titik ini, ancaman kelaparan kehilangan sebagian daya tekanannya, karena yang bersangkutan sudah pernah berdamai dengan rasa itu, bahkan menjadikannya jalan mendekat kepada Tuhan.
Memaknai Muharram memperlihatkan, bahwa anda tak bisa menakuti kami dengan kematian, karena kami dari Muharram. Ini lebih dalam lagi. Kematian adalah ketakutan yang paling purba. Ia menyentuh naluri bertahan hidup yang paling dasar. Namun Muharram mengingatkan pada sejarah pengorbanan dan keberanian berdiri di atas prinsip meski nyawa menjadi taruhannya.
Secara filosofis, ketika seseorang telah merenungkan kefanaan, ia tidak lagi hidup dalam ilusi keabadian. Ia sadar bahwa hidup adalah titipan, dan kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditawar. Wah, kesadaran ini justru membebaskan, karena jika mati adalah keniscayaan, maka pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa hidup ini digunakan.
Muharram mengajarkan bahwa kehormatan tidak selalu sejalan dengan keselamatan fisik. Ada nilai yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan. Secara psikologis, orang yang telah menerima kemungkinan mati demi kebenaran tidak mudah diperalat oleh ancaman. Ia tidak mencari kematian, tetapi ia juga tidak menggadaikan prinsip demi menghindarinya. Di sinilah keberanian lahir, bukan dari nekat, melainkan dari kesadaran. Ia telah berdamai dengan akhir, sehingga bisa fokus pada makna (FB Suluksali, 2/3/26).
Keberanian Manusia Merdeka
Jika dua pengalaman ini, Ramadhan dan Muharram menyatu, maka lahirlah manusia merdeka. Ia tidak mudah dikendalikan oleh rasa takut terhadap perutnya, dan tidak mudah ditundukkan oleh ancaman terhadap nyawanya. Secara sosial, inilah tipe manusia yang sulit diperbudak.
Karena sistem penindasan selalu bertumpu pada dua hal itu, buat mereka lapar dan buat mereka takut mati. Tetapi ketika lapar menjadi latihan spiritual dan kematian menjadi pintu menuju perjumpaan dengan Tuhan, alat kontrol itu kehilangan taringnya.
Kalimat tersebut bukan tentang kesombongan atau provokasi. Ia adalah refleksi tentang pembentukan karakter. Ia menantang kita untuk bertanya, apakah Ramadhan benar-benar telah melatih kita menundukkan nafsu, dan apakah Muharram telah membuat kita berani hidup dengan prinsip. Atau jangan jangan kita hanya menjalani ritual tanpa membiarkan maknanya membentuk keberanian batin. Karena pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah kelaparan atau kematian. Yang paling menakutkan adalah prinsip hidup tanpa makna dan mati tanpa prinsip.
Makna Ramadhan tampaknya begitu universal. Ia bukan sekedar menahan lapar dan haus, namun juga sebagai latihan pengendalian diri, penyucian hati dan jiwa, menumbuhkan empati kepada sesama, mendekatkan diri kepada Tuhan. Begitu pula dengan makna Muharram yang bukan hanya sekedar pergantian tahun, namun panggilan halus dari waktu untuk tinggalkan yang lama, perpindahan hati dari kebencian menuju kasih, dari keserakahan menuju kesederhanaan, dari kekerasan menuju perdamaian, dan kebodohan batin yang hijrah menuju terang batin.
Dari Ramadhan dan dari Muharram yang terdapat dalam ungkapan Ayatullah Khamenei, kita belajar makna yang dalam tentang kehidupan dan kematian, tentang tidak takut akan intimidasi kelaparan, kekurangan serta tidak takut akan teror kematian.
Mengatasi tradisi yang melatarbelakanginya, dari Ramadhan dan dari Muharram yang memiliki makna yang begitu dalam dan universal itu, tampaknya juga berlaku dan pantas menjadi teladan bagi siapa saja, para pejalan spiritual dan pencahari kebenaran dimana pun. Terima kasih, atas akhir yang baik dari perjalanan hidup yang penuh makna dan keberanian. Husnul khatimah, Ayatullah Ali Khamenei! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: https://cdn.i24news.tv/uploads/22/8b/15/a7/4a/0d/63/d6/46/31/ed/cb/0f/d6/19/ef/228b15a74a0d63d64631edcb0fd619ef.jpg?width=996