Oleh: Jo Priastana
“Kekayaan pengalaman akan “diri” dan “Sang Diri” (Allah) yang memaknai sikap dan perilaku manusia tidak mampu dipahami secara tuntas oleh rasio murni ataupun diungkapkan dalam kata yang terbatas. Pengalaman tersebut mewacanakan pengalaman religius dalam batas-batas konvensi kata dan bahasa yang bersifat simbolik.” (Mudji Sutrisno, 1954-2025, Filsuf, Cendekiawan, Budayawan Indonesia)
Seakan menyadari akan teror kematian yang membayangi hidup, ia tampaknya selalu melakukan refleksi terhadap kematian, “momento mori,” ingat akan kematian, sebagaimana dalam puisi yang ditulisnya, “Di Depan kematian”. Di depan kematian kita diajak berhenti sejenak. Menekuri hidup yang belum diselesaikan, mengingat jalanan musafir kita. Lalu sapa-Mu menepuk bahu, pelan menyadarkan, hidup berasal dari-Mu. Berada di tangan-Mu. Sang Maha Seniman. Semoga terus kami ziarahi, oksigen hidup dalam hela-hela napas-Mu, Sang Maha Cinta!
“Di Depan Kematian,” adalah judul puisi yang ditulis oleh Romo Mudji Sutrisno yang meninggal di usia 71 tahun pada 28 Desember 2025. Beliau meninggalkan kesan dan kenangan mendalam. Banyak kalangan merasakan duka kehilangan akan sosok tokoh budayawan intelektual Indonesia ini. “May his soul rest in peace.” Kematian Romo Mudji, menimbulkan banyak pernyataan, “berkurang satu lagi orang pinter dan baik Indonesia.” Sangat indah, Mudji Sutrisno dikenang sebagai orang pintar dan baik yang langka.
Terbayang berada di depan peti kematiannya, di rumah duka dimana dia berbaring damai dengan segenap kebaikan di dalamnya yang akan menghantarnya tiba di rumah Bapak. Banyak orang menundukkan kepala, mengenang kepergian satu orang Indonesia, orang pintar dan baik, yang pergi justru di saat negeri ini sangat kekurangan orang baik dan juga pintar. Di depan peti kematiannya, kita merasakan kehilangan, menyadari sepantasnya peti mati putra Indonesia itu berbalut sang saka merah putih. Hati putih dan kebaikan yang merah menyala Romo Mudji Sutrisno, penulis buku Zen Buddhist: Ketimuran dan Paradoks Spiritualitas, 2002.
Romo Intelektual Filsuf Budayawan
Alumni dan Dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini pernah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2003, dan dia mengundurkan diri dari KPU kala itu karena hendak fokus sebagai dosen. Berbagai buku dan artikel di media massa banyak dia tulis, begitu pula ketekunan dan aktivitasnya dalam bidang budaya.
Yustinus Prastowo, mantan Staf Khusus Menteri Keuangan mengungkapkan, “Kecintaan dan perhatian pada kebaikan publik, beliau tunjukkan ketika menjadi anggota KPU dan berbagai lembaga ad hoc lainnya. Bagaimana sebagai rohaniwan Romo Mudji ingin mewujudkan keterlibatan konkret pada urusan publik.”
Semasa hidupnya, Mudji Sutrisno dikenal sebagai budayawan, rohaniwan, sekaligus pengajar di berbagai kampus, seperti Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Universitas Indonesia, Institut Seni Indonesia, dan dikenal juga sebagai rohaniwan, ahli filsafat, serta pemerhati masalah sosial dan budaya. Beliau melanjutkan studinya menempuh magister dan doktoral bidang filsafat di Universitas Gregoriana, Italia, dan mengokohkan posisinya sebagai pemikir kritis dan serius.
Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno SJ, meninggalkan warisan pemikiran, seni, dan kemanusiaan yang besar. Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1954. Ia menjalani hidup sebagai imam dalam Serikat Yesus (Jesuit), sebuah tarekat Katolik yang dikenal kuat dalam dunia pendidikan dan pemikiran. Ia dikenal dekat mahasiswa dan kalangan intelektual serta para budayawan, seniman.
Romo Mudji bukan hanya rohaniwan biasa, ia adalah seorang intelektual yang merawat gagasan kebangsaan, budaya dan kemanusiaan melalui tulisan, refleksi, dan seni. Kontribusi intelektualnya begitu dominan sejak kiprahnya sebagai mahasiswa, dinamis terutama gagasannya untuk kemajuan bangsa.
Sebagai romo atau pastur, ia mampu menyatukan iman dalam budaya dan pemikiran kritis. Ia menempatkan iman sebagai sesuatu yang hidup dan mampu berdialog dengan realitas sosial, bukan sekadar tatanan dogma. Dalam karya-karyanya, ia sering menghubungkan nilai spiritual dengan identitas budaya Indonesia dan tantangan peradaban zaman.
Ia menaruh perhatian besar tentang krisis peradaban dan moral bangsa. Beberapa karyanya seperti “Krisis Peradaban” (2013), “Esai-Esai untuk Negeri” (2015), “Zen Buddhis: Ketimuran dan Paradoks Spiritualitas” (2002) dan buku-buku reflektif lainnya menunjukkan semangatnya mendorong bangsa untuk introspeksi tentang kemanusiaan, etika, dan masa depan bersama.
Seni dan ekspresinya adalah untuk Merah Putih. Romo Mudji juga mengekspresikan pemikirannya lewat puisi dan sketsa seni rupa, yang kerap mengangkat pengalaman batin, pergulatan moral, dan keindahan yang universal, tetapi juga berakar pada budaya sendiri dan sangat menaruh perhatian pada Candi Borobudur sebagai kitab pembelajaran spiritual bangsa. Karyanya dipamerkan di berbagai ruang budaya maupun pelataran gereja.
Dialog antar agama dan toleransi menjadi bagian tak terpisahkan. Ia aktif dalam forum dialektika lintas agama dan kebudayaan. Tokoh-tokoh dari luar komunitas Katolik pun menyampaikan penghargaan atas upayanya mempererat dialog dan toleransi di Indonesia.
Warisan Filsafat Kebangsaan bagi “Merah Putih”
Dalam konteks Indonesia dimana Merah Putih sebagai simbol bangsa, terletak kebaikan intelektual Romo Mudji. Ia penggiat budaya yang mendorong pemikiran rakyat Indonesia yang kritis, inklusif, dan humanis. Bukan hanya cerdas akademis, tetapi nadanya juga kritis dan peduli pada realitas yang berkembang.
Perannya dalam menghubungkan spiritualitas dengan budaya lokal dan gagasan nasionalisme bukan sekadar slogan, tetapi hidup dalam pengalaman budaya dan moral masyarakatnya. Ia membangun jembatan antaragama dan antarbudaya, suatu kontribusi penting bagi bangsa yang beragam seperti Indonesia.
Romo Mudji Sutrisno adalah figur intelektual dan rohani yang membumikan gagasan besar dalam cara hidup sehari-hari, yang mengajak setiap orang Indonesia, tak hanya kaum akademis atau religius, untuk menjadi pribadi yang lebih peka, reflektif, toleran, dan berpihak pada kemanusiaan sebagai bagian dari semangat merah putih.
Ia juga bergelut dalam dunia filsafat. Sebagai doktor filsafat dan dosen filsafat, Romo Mudji Sutrisno tidak menempatkan dirinya sebagai pemikir di menara gading. Ia adalah akademisi dan filsuf yang memandang filsafat bukan sebagai sesuatu yang abstrak, jauh dari kehidupan sehari-hari, atau eksklusif untuk “akademisi” saja, namun membumi untuk bangsa, negara, dan rakyat Nusantara.
Baginya, filsafat adalah alat refleksi dan dialektika yang sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk memahami dirinya sendiri dan tantangan zaman secara mendalam. Ia menaruh perhatian besar dan berkiprah untuk menjadikan filsafat berfungsi, filsafat bagi bangsa.
Dalam pandangannya, karena filsafat adalah alat refleksi terhadap realitas sosial dan budaya, maka sepantasnya filsafat membantu membangun bangsa ini untuk menjadi lebih peka secara moral dan etis. Filsafat berfungsi sebagai ruang dialog lintas disiplin dan lintas budaya, filsafat mendorong kritik terhadap pandangan hidup dogmatis. Selain itu, filsafat menguatkan kesadaran identitas dan kreativitas bangsa.
Romo Mudji Sutrisno sangat menekankan filsafat sebagai laku hidup yang membantu bangsa Indonesia memahami dirinya sendiri secara kritis, etis, dan kreatif. Kiprahnya melampaui sekadar teori di kelas, namun mengembangkan cara berpikir untuk memperkaya kehidupan sosial budaya, kebangsaan kita. Baginya, filsafat membantu merah putih tidak hanya sekedar sebagai simbol, tetapi hidup sebagai gagasan yang terus direnungkan dalam pengalaman kehidupan kebangsaan yang nyata.
Di Depan Kematian
Romo Mudji Sutrisno dengan latar belakangnya, kerap melakukan refleksi atau menekuri hidup dan kematian. Ia memandang hidup secara keseluruhan sebagai rohaniwan, filsuf serta seniman, dan tampaknya menghayati kematian sebagai bagian dari pengalaman iman, refleksi eksistensial, dan spiritualitas hidup.
Di dalam puisi-puisi yang ditulisnya, tergambar kuat tentang bagaimana ia memaknai kematian bukan hanya sebagai akhir biologis, tetapi sebagai momen refleksi, kehadiran Tuhan, dan peneguhan makna hidup. Kematian digambarkan sebagai saat untuk berhenti sejenak, menekuri hidup yang akan selesai, dan penanda perjalanan hidup sebagai musafir, yang mengingatkan bahwa hidup ini sementara dan memiliki makna yang harus direnungkan.
Dalam puisi dan tulisannya, ia juga mengajak pembaca untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan sebagai Sang Maha Seniman dan Maha Cinta, sehingga kematian bukan sekadar “akhir” tanpa makna, tetapi bagian dari relasi intim manusia dengan “Yang Transenden.” Refleksi yang dilakukannya tidak lepas dari konteks iman Katolik yang ia hayati sebagai rohaniwan Jesuit.
Kehidupan rohaniwan Jesuit memberi latar atas pandangannya tentang kematian sebagai “transition toward communion with God” yang sering dibingkai sebagai hal yang bukan menakutkan tetapi transformatif. Kematian dipahami bukan semata perhentian eksistensi, tetapi sebagai perjumpaan dengan Tuhan setelah kehidupan duniawi.
Dalam puisi Romo Mudji tentang kematian, kita diajak berhenti sejenak menekuri hidup. Hal ini menunjukkan bahwa kematian adalah momen terminal yang mengajak kita mengevaluasi makna hidup secara menyeluruh setelah beragam pengalaman hidup dijalani. Kematian bukan sekadar fakta biologis, tetapi momen spiritual untuk menemukan kembali relasi manusia dengan “Yang Absolut.”
Sebagai seorang filsuf yang sering membicarakan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang eksistensi, etika, dan pengalaman manusia, ia melihat tema kematian bukan sebagai tabu, melainkan sebagai pertanyaan filosofis sentral yang menantang setiap manusia untuk menyadari keterbatasan, keterhubungan, dan tanggung jawab moral selama hidup.
Romo Mudji Sutrisno, seorang rohaniwan dan pemikir humanis memandang kematian sebagai momen untuk menghentikan diri dan merenungkan hidup yang telah dijalani. Sebagai peristiwa yang menguatkan relasi batin dengan Tuhan melalui doa dan iman. Kematian sebagai pengalaman eksistensial yang mengundang pemahaman lebih dalam tentang makna hidup manusia, bukan hanya biologis, tetapi spiritual dan filosofis.
Di Depan Peti Kematian
Aku berdiri di depan peti kayu itu hening, bukan berjumpa dengan orang yang seakan terpisah, melainkan berjumpa dengan seseorang yang membuat karya kebajikannya sendiri yang selama ini dilakoninya. Peti mati kematian itu tidak terasa menyeramkan, tidak terasa asing, tapi terasa akrab seakan mengundang memeluknya, seperti membuka buku tentang pelajaran filsafat Zen, yang penuh berisikan kebaikan sunyi yang telah lama ditulisnya pelan-pelan, dari hari ke hari dengan lakon hidupnya sendiri, dan kini menghantarnya kembali pulang.
Di depan peti mati itu, di dalam peti mati itu seakan tak terbaring jasad, melainkan jejak-jejak kebaikan sunyinya yang terus hidup. Dari doa dan kebaikan yang tak pernah dipamerkan, malam-malam panjang menemani mahasiswa resah, tulisan yang menggugat nurani bangsa, sketsa yang lahir dari cinta pada manusia, kata-kata yang dibisikkan agar merah putih tak sekadar kain, Candi Borobudur bukan sekadar batu bisu tapi dibaca sebagai kebesaran bangsa, Indonesia tetap harus diperjuangkan sekalipun sedang luka, tetap harus dirawat dan dijaga harapannya.
Aku menerawang, betapa sejak hari-hari di Sekolah Tinggi Filsafat lebih 45 tahun lalu, kutahu ia kakak kelas yang memilih jalan pastoral, yang sejak itu, sesungguhnya ia telah mulai mengukir peti mati kematiannya sendiri, bukan dari kayu jati, melainkan dari kaul kesucian sebagai frater, kesetiaan kecil yang diulang, dan kebajikan sedikit-sedikit yang berjalan bersama kedukaan rakyat jelata.
Setiap keberpihakan pada yang lemah menjadi paku. Setiap keberanian berpikir jujur menjadi sambungan. Setiap dialog lintas iman menjadi ukiran halus di sisi peti. Tak ada emas, tak ada uang kertas, tak ada nama besar. Hanya ketulusan yang tak bisa dipalsukan waktu. Kini aku tahu, yang akan membawanya pulang bukanlah peti kayu itu semata, melainkan isi peti matinya yang penuh kebaikan yang telah lama ia bangun diam-diam sejak muda.
Di hadapan peti kematian itu, aku tersenyum tipis, mengenang peristiwa lebih seperempat abad lalu kala ujian tesis (Pasca Sarjana Filsafat UI) di tangga kampus perjuangan Salemba UI – karena tak memperoleh ruang keras – yang berisik oleh deru roda reformasi 1998. Ia serasa bukan sang penguji meski sorot matanya dan rambut gondrong mampu menyatakan hal itu. Ia tidak memandang mahasiswa di hadapannya sebagai objek yang diintegorasi lewat pertanyaan evaluatif, sebagaimana umumnya penguji dengan rasionalitas instrumental.
Ia hanya berlaku sebagai seorang profesor akrab yang menyapa mahasiswa di hadapannya sebagai subyek yang serasa sahabatnya sendiri dengan rasionalitas komunikatif (Jurgen Habermas, “Teori Tindakan Komunikatif”), dalam sapa tanya kapan kita dapat bersama lagi dalam seminar dialog iman, seperti di gedung kebangkitan nasional di tahun 1994, mendedah buku karya tokoh, seperti buku biografi Herman S. Endro (Bhikkhu Jayamedho) di gedung PPM Menteng Jakarta, 2013.
Romo Mudji Sutrisno yang terakhir sempat menyapa kala berjumpa di STF Driyarkara dalam menghadiri seminar (2024) juga adalah seorang warga seminaris yang tekun, yang tidak harus duduk sebagai narasumber namun kerap berada dalam duduk hening menjadi pendengar yang baik. Seakan mencerminkan selalu ingin tahu tentang dunia ilmu pengetahuan, perkembangan budaya, pergolakan mahasiswa maupun keadaan bangsa, masihkah merah putih berkibar.
Terbayangkan, kulepaskan rangkap kedua lenganku di dada, dan kubuka mataku perlahan, memperhatikan peti mati kebajikan itu, yang sepatutnya berbalut merah putih, sulaman dari rumah kebangsaan yang terus ia jahit dengan langkah-langkah kecilnya sendiri, sedari muda, sejak mahasiswa, sejak dikenal filsuf budayawan, dan sebagai romo Katolik hingga akhir hayat.
Dalam akhir titik hening itu, jelas terkenang, seraut wajah berambut gondrong keputihan dengan sorot mata tajamnya yang memancarkan cahaya hidup gemerlapan. Semiotika kebajikan yang telah ia berikan kepada manusia dan tanah air yang kini akhirnya menemukan maknanya. Romo Mudji Sutrisno Serikat Jesuit, selamat jalan, RIP, beristirahat dalam damai, diterima baik oleh Bapak Allah di surga! (JP) ***

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar:
https://www.facebook.com/100001969875416/posts/25378741338441513/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v
Buddhazine