Oleh: Jo Priastana
“Siap untuk mati adalah tanda tertinggi kesiapan untuk hidup.”
(pepatah Tionghoa)
Dalam Tradisi Tionghoa (Chinese), ada kebiasaan cukup mencolok, di mana sebagian orang lanjut usia (lansia) mempersiapkan peti mati sendiri sebelum meninggal dunia. Meski terdengar menyeramkan dan meneror atau tabu dalam banyak budaya lain, praktik ini justru dianggap wajar, bijaksana, bahkan terhormat dalam sebagian komunitas Tionghoa tradisional.
Ada filosofi di balik tradisi ini, diantaranya menerima kematian sebagai bagian dari siklus alam. Dalam filsafat Tionghoa, terutama Taoisme dan Konfusianisme, hidup dan mati dianggap bagian dari siklus alam: yin dan yang, lahir dan wafat, semua adalah keseimbangan. Memikirkan kematian bukan hal yang tabu, justru tanda kebijaksanaan. “Orang bijak memikirkan kematian dengan tenang, bukan dengan ketakutan.”
Mempersiapkan peti mati sebelum mati adalah juga sebagai tanda persiapan dan kematangan hidup. Orang tua di lanjut usia merasa bahwa mereka telah melewati semua fase kehidupan, dan saatnya menyelesaikan urusan duniawi mereka, termasuk mengurus sendiri proses kematiannya. Menyiapkan peti mati sendiri menjadi simbol tanggung jawab kelurga, agar tidak merepotkan anak cucu. Peti mati persiapan sang kakek bisa menjadi simbol mengisi hari-hari akhir dengan hidup bermakna dan sebagai merayakan kehidupan untuk hari akhir yang pasti datang.
Kematian Baik dan Transformasi Tradisi
Fenomena mempersiapkan peti mati dalam tradisi chinese ini juga mendapat sorotan dari para ilmuwan. Yanping Liu & Gertina J. van Schalkwyk, dalam tulisan “Death Preparation of Chinese Rural Elders,” dalam jurnal Death Studies Vol.43, No.4 Tahun 2019, penerbit Taylor & Francis, mengungkapkan studi fenomenologis terhadap lansia di pedesaan Tiongkok yang melakukan persiapan menjelang kematian. Artikelnya mencakup narasi mengenai “death preparation system,” simbol dan objek ritual, serta perspektif tentang kematian yang “baik” dan kelangsungan status sebagai leluhur yang dihormati.
Ada pula Sungwon Park, Hyungkyung Kim, Min Kyeong Jang, Hyungsub Kim, Rebecca Raszewski, dan Ardith Z. Doorenbos, dalam jurnal Death Studies tahun 2003 yang mereview secara luas mengenai faktor-faktor nilai budaya dan religi yang mempengaruhi persiapan kematian, termasuk pandangan masyarakat Tionghoa dan peran doktrin Konfusianisme serta tradisi keluarga dalam upaya bakti kepada leluhur. Menggali sikap dan praktik kematian pada lansia Tionghoa masa kini, di Tiongkok maupun diaspora di berbagai negara termasuk Asia yang rupanya juga masih relevan.
Sebuah referensi klasik dari tradisi dan filosofi Tionghoa terdapat pada karya Guo Pu, “Book of Burial” (Zangshu) semasa dinasti Jin Timur. Karya ini berisikan teks Taois yang memberikan pandangan tentang fengshui sebagai penentu lokasi kuburan, termasuk prinsip aliran qi dan kelayakan lokasi pemakaman, dengan implikasi spiritual mendalam. Buku ini memberi landasan filosofis dan spiritual mendalam terkait fengshui dan pemakaman.
Ada kajian Huwy-min Lucia Lu, dalam Governing Death, Making Persons: The New Chinese Way of Death. Kajian antropologi terkait industri kematian (bin-zang industry) dan tata kemandirian ritual pemakaman modern di China. Meski tidak secara spesifik membahas peti mati yang dipersiapkan sendiri, buku ini memberikan konteks struktural dan institusional terkait upacara kematian di masyarakat urban kontemporer. Buku yang menarik tentang dinamika modern dalam ritual kematian, relevan untuk memahami transformasi tradisi.
Budaya Tradisi Tionghoa
Peti mati persiapan merupakan aspek budaya dari tradisi Tionghoa di pedesaaan atau di masa lalu. Di beberapa daerah di Tiongkok, misalnya Fujian, Guangdong, atau wilayah pedalaman lainnya, sudah lazim dan menjadi tradisi umum lansia menyiapkan peti matinya sendiri.
Mempersiapkan peti mati sebelum ajal menjelang adalah juga sebagai simbol status dan kehormatan. Peti mati berkualitas tinggi menunjukkan bahwa orang tersebut menghormati diri sendiri dan leluhur. Dalam beberapa keluarga, anak yang berbakti bahkan akan membelikan peti mati sebagai hadiah untuk orang tuanya yang sudah lanjut usia.
Istilah “Shou Mu”, dalam bahasa Mandarin, peti mati yang dipersiapkan untuk lansia disebut Shou Mu, makna secara harfiahnya berarti “kayu umur panjang”, yang justru memiliki konotasi positif, bukan menyeramkan.
Terdapat aspek keagamaan dan spiritual di balik peti mati persiapan. Taoisme mengajarkan bahwa hidup selaras dengan alam adalah kebajikan tertinggi. Menerima kematian dengan damai dan persiapan matang mencerminkan keselarasan spiritual dan kehendak Tao, menyeimbangkan jalan hidup yang sudah panjang dilalui dengan mempersiapkan mati secara baik dan bermakna selagi malam belum mengakhiri senja.
Masyarakat China juga berakar pada ajaran Konfusianisme yang sangat menekankan “filial piety” atau bakti kepada orang tua. Salah satu bentuk bakti adalah adalah tidak membuat anak cucu repot saat meninggal. Orang tua yang mempersiapkan sendiri peti matinya menunjukkan kebajikan tertinggi menurut nilai-nilai Konfusianisme.
Buddhisme dari India yang masuk ke Tiongkok pun tumbuh dalam dandanan kultur China, menyatu dengan aspek moralitas, tradisi dan spiritualitas Tao. Dalam ajaran Buddhisme, kematian adalah transisi menuju kelahiran kembali (punarbhava). Menyambut kematian dengan kesiapan dan ketenangan batin adalah bagian dari melepas keterikatan duniawi.
Persiapan peti mati bagi orang tua dalam budaya Tionghoa adalah bukan tanda keputusasaan, melainkan wujud kebijaksanaan, tanggung jawab terhadap keluarga, dan penghormatan terhadap kematian sebagai fase dalam kehidupan manusia. Bisa dibilang ini adalah bentuk paling ekstrem dalam pepatah Tionghoa: “Siap untuk mati adalah tanda tertinggi kesiapan untuk hidup.”
Frasa yang tampaknya juga sejalan dengan ujar Konfusius, “mereka yang siap mati adalah mereka yang sesungguhnya hidup,” atau “kalau mau mengenal langit, berdirilah kukuh dulu di atas bumi.” Dalam filosofi China, langit dan bumi, mati dan hidup tidak terpisahkan.
Namun zaman dan dunia selalu menuntut perubahan dan kebaruan. Tidak terkecuali untuk zaman modern sekarang. Modernisasi dan perubahan sikap mempengaruhi banyak masyarakat China, baik di China sendiri maupun diaspora chinese yang tersebar di negara-begara lainnya. Di kota-kota besar atau generasi muda Tionghoa kini dimana tradisi ini mulai jarang dilakukan.
Zaman berubah, generasi baru tumbuh dengan pesat dan cepat, dan kini mungkin memiliki dunianya sendiri dalam mempersiapkan kematiannya atau bahkan tidak peduli sama sekali. Generasi baru kini mungkin tak berpikir tentang mati dan menganggap peti mati persiapan itu sudah terlalu kuno, mungkin berganti dengan asuransi kematian yang sesuai dengan nilai modern, hidup harus dirayakan, dan bukankah kematian juga harus dirayakan, ada ritual untuknya, dan juga termasuk peti mati persiapan itu.
Peti mati persiapan mencerminkan akar ketridharmaan yang kental dari adat dan tradisi budaya Chinese tentang kebijaksanaan orang China dalam penerimaan terhadap hidup dan kematian. Tradisi yang mengental dalam budaya folk religion, chinese religion. Kematian yang tercermin dalam budaya peti mati persiapan adalah perjalanan siklus alam dan menjadi tradisi kematian yang dipersiapkan sebagai perayaan berterima kasih atas hidup yang telah dijani dan lahir sebagai manusia.
Peti Mati Persiapan Kakek Ong Tjong Kim
Ada beberapa contoh nyata dari wilayah tertentu atau makna simbolik dari bentuk peti mati mereka. Meski singkat dan sedikit, boleh kita menengok sejenak bentuk bahan dan detail peti mati dalam tradisi Tionghoa, dan sedikit mengenali gambaran betapa dalam nilai budaya yang dijalankan komunitas Tionghoa tentang mati dan hidup.
Di Fujian dan Guangdong (Tiongkok Selatan), banyak orang lanjut usia di pedesaan menyimpan peti mati di rumah mereka sendiri. Mereka biasanya menyiapkan peti mati dari kayu pohon camphor (kayu kamper) karena dipercaya tahan lama dan mampu mengusir roh jahat. Peti mati ini disimpan bertahun-tahun, bahkan dipajang di tempat terhormat dalam ruang dan tidak disembunyikan.
Suku Hakka (di Tiongkok dan diaspora Asia Tenggara), masih sangat kuat menjaga tradisi leluhur. Dalam beberapa keluarga, anak tertua akan memesan peti mati untuk orang tuanya begitu orang tua memasuki usia lanjut. Mereka menganggap sebagai tanda bakti paling tinggi, karena menunjukkan kesiapan untuk mendampingi orang tua hingga akhir hayat.
Komunitas Tionghoa di Indonesia dan Malaysia, juga terutama di masa lalu masih melakukan persiapan peti mati ini. Para lansia dari kalangan Tionghoa peranakan juga menyediakan tanah makam dan peti mati sendiri, bahkan juga menyiapkan baju kematian (Shou yi).
Kakek saya yang meninggal di tahun 1965 adalah orang tua mama jauh sebelumnya, sebelum tahun 1960-an, telah menyiapkan peti matinya. Peti mati ini diletakkan bersebelahan dengan gudang menyimpan padi di sebelah kanan halaman rumah (letaknya kalau sekarang berada di tepi jalan raya Serpong). Saya kecil kerap menengoknya dan menaikinya apalagi kalau lagi bermain bola sepak dimana bolanya masuk ke atas peti berkayu jati itu yang ditutupi bilik bambu.
Semasa hidup, kakek berpesan juga agar nanti di dinding peti matinya dilapisi 7 kertas gambar. dekorasi yang indah. Beragam kertas gambar dan maknanya. Ada kertas minyak bergambar dengan langit putih kebiruan, yang memiliki makna simbolik sangat dalam dan spiritualis, dan ada pula gambar para dewa dengan simbol naga, burung phoenix, bunga teratai, dan awan.
Peti mati persiapan berbahan kayu jati dan sangat berkualitas. Kabarnya melakukan persiapan peti mati itu juga melambangkan umur panjang, keteguhan, dan pengusiran roh jahat. Kayu yang harum dianggap membantu jiwa meninggalkan dunia dengan tenang.
Kertas-kertas gambar yang indah dan bermakna menghiasi dinding peti mati itu dikerjakan ketika kakek meninggal dan berlangsung selama dua minggu sebelum pemakamannya. Naga dan phoenix adalah simbol kemuliaan dan keabadian. Kertas bergambar naga dan phoenix sangat indah sekali, menghias dinding peti mati kakek sebanyak tujuh lapis. Juga ada awan simbol transisi dari dunia fana ke alam spiritual, indah dan bermakna sekali. Hidup yang indah mati pun harus indah dan penuh makna.
Teratai adalah simbol pencerahan dan pembebasan jiwa (dalam Buddhisme teratai terbenam dalam kolam lumpur dan naik ke permukaan). Saya kerap bermain lumpur di sawah yang terdapat di depan rumah, sisi jalan (sekarang separuh jalan raya Serpong). Saya pernah mendatanginya sedang meluku sawahnya yang basah berair bertanah lumpur dengan tumbuhan teratai liar. Ia sempat berkata “sedalam-dalamnya kaki kita terbenam dalam lumpur, kita harus angkat kembali dan berjalan kembali”.
Pelajaran yang menarik untuk hidup. Kakek adalah petani. Ia meluku sawahnya bersama kerbaunya yang berjalan, menyawah, menanam padi untuk kehidupan keluarganya. Kemudian padi yang telah dipetik disimpannya di gudang padinya sebagai persiapan menghadapi pancaroba kehidupan, dan di sisi pintu kanan gudang itu, diletakkkan peti mati persiapannya menuju keabadian hidup. Peti mati yang diletakkan di sisi depan gudang padi sangat menarik sebagai semiotika penanda terima kasih kehidupan dan kematian.
Mengenang Leluhur Kebajikan Sang Kakek
Sebuah pelajaran dan inspirasi tak ternilai dari sang kakek. Pelajaran kepada sang cucu tentang ketekunan, kerja keras, ketabahan. Pelajaran hidup dan juga mati dari orang yang hidup di dalam budaya agraris yang seakan seluruh hidupnya itu memenuhi isi peti matinya. Peti mati persiapannya ketika digotong dibawa ke pekuburun, tanah makam yang terletak di belakang rumah.
Ia telah menjalani lakon kehidupan, seberat-beratnya dan sebaik-baiknya dengan meluku di sawah berpetak di tepi jalan kecil bertanah yang kini telah beralih menjadi Jalan Raya Serpong menuju Kota Modern BSD, Serpong Banten, pemukiman yang dilalui masyarakat urban dalam mencari makan dan makna.
Peti mati tradisional Tionghoa berbentuk melengkung di bagian atas dan ujungnya, konon disebut peti mati kembang. Dan kabarnya melambangkan pelindung atap rumah, memberi “tempat tinggal terakhir” yang layak dan hangat bagi mendiang. Dan isi peti mati yang juga penuh ditutupi dengan ribuan lembar kertas sembahyang – duit kertas penganti uang perak – bermakna kumpulan kebajikan yang berharga. Peti mati persiapan berbahan kayu jati, simbol penghormatan dan kekuatan, ketabahan menjalani hidup.
Tradisi mempersiapkan peti mati cermin panjang perjalanan hidup, hari-hari perenungan mendalam akan kefanaan hidup sambil menyambut ajal yang bisa setiap saat tiba atau bertahun-tahun baru datang. Peti mati persiapan, sebuah bentuk penghormatan pada diri sendiri dan keluarga dan persembahan kepada sang hidup, alam semesta dimana kita semua akan kembali.
Masihkah tradisi mempersiapkan peti mati ini bisa dipastikan kelangsungannya? Hidup memang masih berlangsung dan mati pun pasti. Sebuah nilai budaya dan spiritualitas dari generasi ke generasi yang mungkin telah tergerus zaman, justru di tengah-tengah faktisitas kematian itu sendiri yang tetap up-to-date. Adakah persiapan peti mati ini hanya terjadi dalam kehidupan masyarakat desa budaya agraris dan tidak lagi ada dalam masyarakat urban-industrial? Seperti kecamatan serpong dengan kota BSD nya kini dimana hutan karet, persawahan, dan rumah kembang berkayu jati dulu berada berganti dengan aspal jalanan, rumah berbatu, dan gedung-gedung tinggi.
Lepas dari itu semua, pesan yang sangat berarti, menunjukkan agar selagi hidup sebaiknya melakukan persiapan untuk bisa mengisi peti mati kita sepenuhnya dengan kebajikan dan menemukan makna hidup. Peti mati persiapan yang mengandung makna dalam, dan berisi amalan dalam hidup, yang akan membawa kebahagiaan di kehidupan selanjutnya. Tradisi baik dan bagus mempersiapkan peti mati persiapan dengan melakukan kebajikan bekal ke alam sana, ketimbang menduga-duga kapan waktunya dalam bermain-masin dengan ramalan.
Orang tua itu, kakek Ong Tjong Kim menaruh peti matinya di samping gubuk penyimpan padi. Ia menyadari, menyawah menghasilkan padi adalah kehidupan, dan peti mati persiapan untuk menyambut datangnya kematian, kehidupan abadi. Nyatanya peti mati persiapan itu tergeletak bertahun-tahun hingga datangnya kematian, layaknya dengan sabar sedang menanti sahabat yang datang perlahan, yang menghangatkan matanya, lalu meredup perlahan tanpa tergesa. Maka ia mempersiapkannya dengan tenang. Ia membeli sebuah peti mati jati dari hasil penjualan padinya, ukirannya halus seperti doa yang dipahatkan waktu.
Peti mati itu bukan tanda ketakutan, melainkan penghormatan kepada hidup yang telah dijalani dan dialami, serta perjalanan panjang yang masih akan ditempuh. Di dalamnya ia simpan bukan barang semata, melainkan kebaikan-kebaikan kecil dari pengalaman hidup yang pernah ia lakukan, dan yang akan membawanya ke alam sana. Senyum yang menenangkan, kata yang menahan luka, uluran tangan yang tak pernah disebutkan.
Telah lebih 60 tahun berlalu hingga aku pun sekarang sedang berada pada usia sang kakek kala itu. Di senja usia itu, justru kenangan itu masih terbayang, bagaimana kakek kerap meninjau, melongok peti matinya di sore dikala aku dan teman-teman anak-anak penggembala kerbau rehat sehabis bermain bola. Peti mati itu menjadi cermin kejujuran hidupnya, tempat ia menimbang hidup, mengisi ruang kosong hidupnya dengan perbuatan yang ringan, namun menjadi senter paling bercahaya untuk berjalan ke alam berikutnya.
Dan kenangan itu, setiap kakek melihat peti mati di sore-sore itu, tampaknya ia tak gentar. Ia hanya mengangguk pelan, seperti menyapa teman lama yang suatu hari akan menyertainya pulang. Di senja hidup ini, perjalanan waktu mengingatkan akan kebajikan leluhur, sang kakek dan peti mati persiapannya. Mungkin bagi seorang penjelajah filsafat, makna semiotika peti mati persiapan sang kakek ini yang begitu luas dan dalam itu, bisa mewujud dalam laku membaca makna kehidupan dan menulis teror kematian, selagi senja masih menyirami dengan keindahan cahayanya! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: https://www.instagram.com/p/DKiK0nQTE6F/