Oleh: Jo Priatsana
“Mari kita berdamai sama takdir, karena yang memang
untuk Kita, nggak akan pernah lupa jalan ‘pulang’”
(Xu Wenqiang/Chow Yun-Fat dalam Film “The Bund”)
Lagu yang menghiasi Film “The Bund” merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. Berdasarkan penilaian kritikus maupun pandangan umum tentang drama “The Bund” (1980), menunjukkan film “The Bund” dan kemunculan Chow Yun-Fat begitu luar biasa. Kesan publik selama lebih dari 40 tahun, menunjukkan begitu istimewanya posisi “The Bund” dalam sejarah drama Asia. “The Bund” sebagai drama gangster terbaik TVB sepanjang masa dan serial paling berpengaruh dalam sejarah televisi Asia. Drama yang memperkenalkan gaya “gangster berjiwa tragis” sebelum munculnya film-film mafia modern.
Selain itu, yang semakin membekas di hati adalah nuansa Shanghai 1930-an, musik yang ikonik, serta gaya visual noir, maupun akhir film yang tragis, menjadikan film “The Bund” dianggap “Klasik emas” TVB. Kekuatannya tercermin dalam beberapa aspek seperti, tentang atmosfer kuat Shanghai era 1930, kombinasi kostum, setting, musik, dan konflik politik, perseteruan mafia yang sangat otentik. Penceritaan yang tragis dan berlapis, alurnya begitu membekas, sarat emosional, penuh intrik. Ada juga kisah persahabatan, cinta, dan politik. Film ini begitu fenomenal pada zamannya.
Chemistry kuat di antara aktor, terutama personal Chow Yun-Fat yang begitu memukau dan membekas di pelupuk mata hingga kini setelah 45 tahun. Juga dengan akting Ray Lui, Angie Chui sehingga membentuk trio yang dianggap “ikonik,” bersatu bersama memaknai lagu yang melegenda (Shanghai Tan) dimana lagu dan drama ini tidak bisa dipisahkan, keduanya saling mengangkat. Chow Yun-Fat dalam Film “The Bund” mendapat pujian luar biasa. Peran sebagai Xu Wenqiang melambungkan Chow Yun-Fat menjadi superstar Asia dan membuatnya menjadi bintang kelas A.
Peran Ikonik Chow Yun-Fat sebagai Xu Wenqiang
Dalam film “The Bund” yang fenomenal ini, karakter Xu Wenqiang dianggap “role paling ikonik.” Bahkan setelah Chow Yun-Fat memasuki Hollywood, banyak fans tetap mengaitkannya dengan peran ini. Aktingnya memadukan tiga hal yang dihormati kritikus, yaitu: ketegasan seorang pria gangster, kesedihan melankoli seorang idealis, dan karismanya yang besar dan elegan.
Chow di sini dianggap sebagai pribadi yang “cool, tragic, elegant”, “James Dean versi Hong Kong.” Gangster berkelas, bukan preman jalanan.” Gaya ekspresi, dan tatapan matanya menjadi legenda. Hanya dengan tatapan, Chow bisa menunjukkan ekspresi memukau tentang kemarahan, cinta, kecewa, wibawa, kesepian. Banyak aktor muda Hong Kong kemudian meniru gaya jas panjang Chow Yun-Fat dalam “The Bund” lengkap dengan pistol dan ekspresi dingin ala Xu Wenqiang.
Reaksi penonton di Hong Kong, Asia Tenggara, dan Tiongkok daratan begitu antuasias. Mereka memberikan pujian luar biasa, bahwa drama ini menjadi fenomena budaya. Popularitas Chow Yun-Fat melonjak begitu drastis. Nama Xu Wenqiang nyaris menjadi identitasnya. Adegan terakhir dalam kematian Wenqiang membuat penonton traumatis. Sampai ada petisi agar dibuat versi lain dimana dia dibikin hidup saja. Namun justru akhir yang tragis membuat karakter itu abadi.
Film “The Bund” meninggalkan nilai warisan budaya (cultural legacy). Para komentar, sejarawan film menyimpulkan film “The Bund” adalah drama gangster paling berpengaruh di Asia. Chow Yun-Fat melahirkan arketipe “gangster elegan berhati lembut”. “The Bund” menginspirasi banyak film Hong Kong di tahun 1980-90an, termasuk karya John Woo. Lagu tema dan gaya visualnya menjadi referensi hingga puluhan tahun kemudian. Sampai sekarang, ketika orang menyebut Chow Yun-Fat adalah pria ganteng dengan jas panjang plus pistol, bayangan dari Xu Wenqiang dalam “The Bund.”
“The Bund” dan Chow Yun-Fat membuktikan film “The Bund” begitu berpengaruh, sebagai drama legendaris, master-class dalam genre gangster TV. Bagi Chow Yun-Fat yang memainkan peran Xu Wenqiang adalah mahakarya dirinya yang membentuk identitasnya sebagai bintang. Drama ini bukan hanya sukses, tetapi menjadi ikon budaya Asia dan melahirkan genre film gangster Hong Kong berikutnya.
Film ini meninggalkan kesan mendalam dan dramatis penuh perasaan di hati penontonnya yang bertanya tentang apa yang terjadi pada endingnya? Wenqiang dimatikan, dan apa arti kematian Xu Wenqiang bagi cerita? Di akhir cerita, Wenqiang ditembak dan mati setelah kembali ke Shanghai. Sebenarnya, ia kembali ke Shanghai tidak lagi mencari kekuasaan, ia hanya ingin menolong teman, menolak dunia mafia. Kematian itu mendadak, sunyi, tanpa kemuliaan, tanpa heroisme, hanya tubuh seorang pria yang roboh di jalanan Shanghai.
Kesan Abadi di Akhir Film “The Bund”
Ending ini mengejutkan penonton dan menjadi salah satu yang paling diingat dalam sejarah televisi dan film Asia. Kenapa endingnya dibuat tragis? Alasannya, secara naratif dalam cerita, pria idealis, anti korupsi, tidak mau tunduk pada mafia dan politik kotor. Di dunia Shanghai yang penuh pengkhianatan, orang seperti Wenqiang tidak mungkin selamat. Ia tidak cocok dengan dunia itu. “Ia mati karena integritasnya lebih besar daripada dunia yang korup.”
Selain itu, secara filosofi dan simbolisme, Shanghai tahun 1930-an adalah kota kejam, sebuah metafora bagi perebutan kekuasaan, politik kolonial, intrik mafia, penghianatan antar saudara. Seorang pria yang terlalu jujur akan “ditelan oleh zaman. Kematian Wenqiang adalah kemenangan Shanghai, bukan kemenangan villain atau penjahat biasa, tapi kematian orang baik berhati mulia yang berada dalam kemelut pergolakan dunia bisnis kotor dan di antara pergerakan politik.
Karenanya film “The Bund” dan sosok Chow Yun-Fat yang memerankan Xu Wenqiang menjadi begitu ikonik penuh simbolik. Studi semiotika terhadap film ini begitu mengundang daya tarik luar biasa sebagai penanda pop-culture bernilai historis dan sarat makna. Makna simbolis dan arti filosofis dimana ending tragis itu memperlihatkan bahwa hidup adalah bagaikan ombak, tidak peduli siapa, semuanya akan tenggelam. Tampak dalam pembuka lagunya yang mengalun, “ombak berlari, mengalir tanpa henti”. Ending cerita itu adalah visualisasi lirik lagunya. Wenqiang hanyalah satu ombak kecil dalam sejarah besar Shanghai. “ia datang, ia berjuang, ia hilang.”
Arus zaman terus berjalan hingga kini di tahun 2025, kesan terhadap Shanghai sebagai kota yang ikonik dan kini menjadi simbol transformasi China yang komunis menjadi spesies Kapitalis yang mensejahterakan rakyatnya. Kesejahteran bersama dan cita-cita keadilan sosial yang menjadi semangat perjuangan rakyat China dalam ketokohan Mao Ze Dong, bertransfromasi menjadi sebuah jenis kapitalisme yang kini sungguh-sungguh mewujudkan cita-cita kesejahteraan bersama dan keadilan sosial dalam welfare state lengkap dengan pertanggungan dan penjaminan pensiun setiap warganya.
“Orang baik tidak hidup lama di dunia yang kelam.” Demikian sering kita dengar frase itu. Haruskah melepaskan kebaikan? Wenqiang bukan pahlawan sempurna, ia punya ego, ambisi, dan luka. Tapi ia tetap punya kode moral, tidak mau dikuasai uang atau mafia, setia kawan, cinta dengan tulus. Dalam dunia mafia, sifat begitu adalah kelemahan fatal, meyimbolkan bahwa integritas adalah tragedi di dunia yang busuk.
Namun, kebaikan Wenqiang di tengah pergolakan kelam itu terus membekas. Kebaikannya seakan mengalir dan terbagikan bagaikan aliran sungai Huang-Po yang mendatangkan banyak orang di dunia datang untuk melihat, menyaksikan, membuktikan dan berflexing ria. Dimana semuanya, para wisatawan mancanegara itu berdiri mengabadikan dirinya di tepi sungai Huang-Po dalam pemandangan kemegahan kota Shanghai sekaligus menggugah perenungan akan perjuangan rakyatnya di sepanjang sejarahnya, sepanjang Sungai Huang Po yang terus mengalir.
Menjadi Ikon, Legenda dan Mitos
Film “The Bund” mengandung makna yang dalam tentang cinta. Cinta tragis yang tidak pernah selesai. Kematian Wenqiang memutus cinta antara dirinya dengan Cheng-cheng, namun kematian itu pula yang menjadikan hubungan mereka abadi, tidak pernah usang, tidak pernah menua, tidak pernah menjadi pahit. Jika ia hidup dan bersatu, mungkin saja cinta mereka bisa hancur oleh kenyataan.
Dengan kematiannya, cinta itu menjadi mitos. Di tepi sungai Huang Po, kota Shanghai sebuah pelajaran terpetik, bahwa tidak apa bila kita tidak bersama karena cinta akan selalu menguatkan hidup kita. Sebuah pelajaran yang menguatkan diri manakala cinta itu tidak harus bersama.
“Legenda lahir bukan dari kemenangan, tetapi dari kehancuran.” Kematian Wenqiang mengubahnya dari sekadar gangster idealis menjadi ikon, legenda, simbol pria elegan yang melawan zaman. Tanpa kematian ini karakter Xu Wenqiang tidak akan sehebat sekarang. Seperti James Dean atau Bruce Lee, kematian mereka yang tragis justru melahirkan mitologi dan legenda.
Kehidupan di Kota Shanghai terus berlanjut, tidak peduli ada yang duka ada yang bahagia seperti Sungai Huang Po yang terus mengalir bersama ombak besar kecilnya, muncul dan lenyap. Film drama ini sejatinya adalah kritik sosial, kisah tentang absurditas kekuasaan, tragedi manusia yang terseret arus sejarah.
Lalu, apa arti kematian Wenqiang bagi karakter tokoh lain? Bagi Ding Lik, ia kehilangan sahabat sejatinya, kehilangan cermin moral. Hidupnya setelah itu kosong. Wenqiang adalah satu-satunya orang yang tidak menghianati Ding Lik. Bagi Fung Chengcheng, cintanya menjadi luka abadi, dan menjadikan Wenqiang menjadi sosok yang tak tergantikan, hidupnya penuh penyesalan dan kenangan.
Karakter kota Shanghai tampaknya tidak berubah, tetap keras, meski megah dan mewah kini. Kematian Wenqiang tidak mengubah apa pun. Ini adalah simbol bahwa sistem lebih kuat dari individu.
Secara semiotika (atau kajian filsafat tentang simbol atau tanda), kesimpulan simbolis terbesar yang dapat dipetik dari akhir Film “The Bund” adalah justru saat film berakhir yang meninggalkan kenangan yang tak akan terhapus hingga 45 tahun kini. Kenangan dan filosofis tentang makna sukses dan kegagalan serta abadinya kematian.
Kematian Wenqiang bukan kegagalan, tetapi pesan, bahwa “Ada orang yang lebih besar dari hidupnya sendiri,” “Keberanian tetap indah meskipun kalah.” “Tragedi melahirkan legenda.” Hidup memang bagaikan ombak sungai Huang-Po, naik turun, gagal sukses, terus begitu, sama saja, dan tetap mengalir, seperti rahasia kehidupan itu sendiri.
Dari sungai Huang-Po di tepi kota Shanghai yang merupakan anak sungai besar Yang Tze di China, kita memetik pelajaran tentang hidup. Bahwa hidup adalah diri sendiri, kesendirian di tengah arus hidup itu yang naik turun, senang, susah, duka bahagia bercampur jadi satu.
Mungkin itulah mengapa ending tragisnya dalam Film “The Bund” itu dianggap salah satu yang paling kuat dalam sejarah drama Asia. Laki-laki Asia sangat mengidolakan Xu Wenqiang.
Lebih dari itu, Chow-Yun-Fat, aktor legendaris yang hidupnya juga disarati nilai-nilai tradisional China tentang perubahan bagaikan aliran sungai dan realitas yang harus dijalani dan dihadapi, seperti tertuang dalam filosofi Taoisme maupun Konfusius. Konfusius filsuf agung China yang juga akhirnya diperani Chow Yun-Fat. Chow Yun-Fat sebagai Konfusius dalam film “Confusius” (2010). (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: https://i.mydramalist.com/X5ZWw_4c.jpg?v=1