Toto Muryanto: Tokoh Rugabi Sang Penyair Sepuh

Home » Artikel » Toto Muryanto: Tokoh Rugabi Sang Penyair Sepuh

Dilihat

Dilihat : 478 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 19
  • 41
  • 29,356
Pic 1 Toto

Oleh: Jo Priastana

 

“Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”

(Soekarno, Bapak Proklamator RI)

 

Komunitas Buddhis saat ini pasti tak akan mengenal sosok yang telah sepuh ini. Bahkan, komunitas pendidikan Buddhis saat ini dimana sosok ini berkiprah dan mengawali bangkitnya pendidikan agama Buddha pun pasti juga tidak ada yang mengenalnya, termasuk kepada istilah Rugabi (Rumpun Guru Agama Buddha Indonesia), organisasi pendidik Buddhis pertama. Namun perayaaan Kemerdekaan RI ke 78 di tahun 2023 ini, mengingatkan pada ungkapan dan amanat Bapak Proklamator RI tentang “Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Idiom Jas Merah menghentakkan dan mengingatkan akan seorang tokoh tersembunyi yang telah sepuh, yaitu Toto Muryanto, seorang mantan guru pejuang yang bagai pahlawan tak dikenal. Para guru yang sering di-altar-kan sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Toto Muryanto (84) adalah seorang Guru Buddhis yang sedikit banyaknya telah memberikan jejaknya, menorehkan tinta tebalnya di atas hamparan kertas putih kebangkitan komunitas Buddhis khususnya dalam mengawali kebangkitan dunia pendidikan Buddhis.

Jas Merah mengingatkan bahwa masa kini tak mungkin terbentuk tanpa masa lalu. Toto Muryanto yang beristrikan Rubinah mengawali kiprahnya di lingkungan pendidikan Buddhis pada tahun 1970-an, awal pergerakan kebangkitan Buddhis secara terorganisasi dan terdidik. Berkat dukungan Bhikkhu Subalaratano pada masa itu, beliau ditugaskan sebagai guru agama Buddha dan Bahasa Indonesia di Sekolah Silaparamita Cawang. Sekolah Sila Paramita di Cawang Jakarta Timur ini kemudian berpindah ke Cipinang Jakarta Timur karena terkena pembebasan proyek jalan tol Jakarta-Cikampek. Selain di Sekolah Sila Paramita, Bapak Toto Muryanto juga mengajar di Sekolah Ananda Bekasi ketika masa-masa awal didirikan.

 

Rumpun Guru Agama Buddha Indonesia

Di tengah kebangkitan kembali agama Buddha di tahun 1970 dan 1980an, beliau mendirikan organisasi guru agama Buddha RUGABI (Rumpun Guru Agama Buddha Indonesia. Sebuah penamaan untuk organisasi yang terkesan puitis. Dalam istilah rumpun yang bersifat puitis-organis itu terasa cocok dikenakan untuk sebuah organisasi semacam guru atau pendidik. Para guru agama Buddha berhimpun dan menumbuhkan kader-kader dan siswa-siswanya layaknya rumpun pohon bambu yang menghimpun dan menumbuhkan tunas-tunas baru, pohon-pohon bambu di sekelilingnya.

Konon kabarnya, pendirian organisasi dengan anggota yang tak seberapa – karena  pada masa itu guru agama Buddha masih langka sekali – berkat arahan dan asupan Bapak Oka Diputhera, tokoh Buddhis yang menjabat bidang Pendidikan Buddha di Direktorat Hindu-Buddha, Departreman Agama RI pada masa itu. Pendirian organiasi guru Buddhis ini tentu saja sangat strategis untuk kebangkitan kembali agama Buddha di Nusantara secara terorganisasi dan terdidik serta mendukung pemekaran bagian Buddha di Ditjen Hindu-Buddha dimana Bapak Oka Diputhera kemudian juga menjabat sebagai Direktur Urusan Agama Buddha.   

Tokoh-tokoh agama Buddha yang telah almarhum atau yang masih ada dari yang sedikit dan telah sepuh, khususnya di Jakarta dan Jabotabek pasti akan mengingat dan mengenang masa-masa perjuangan kebangkitan agama Buddha oleh para pendidik Buddha “Bambu Runcing,” sebuah istilah yang dikenakan untuk perjuangan dengan sarana yang seadanya dan juga mengacu kepada perjuangan para pahlawan kemerdekaan.

Kita kenal beberapa nama dari para sesepuh pendidikan yang berjuang masa itu, seperti: Ibu Suktadharma (Almh), Bapak Suktadharma (Alm), Bapak Prajnamitra (Alm), Ibu Prajnaparamita, Bapak Widyadharma (Alm), Bapak Karuna Atmaja (Alm), Ibu Ros (Almh), Eko Sasongko (Alm), Bapak Supardjo (74), Handa Kartawijaya (Alm), Kittinanda (Alm), Bodhiwan (Alm), Supradipa (Alm), Gunawan Makmur (Alm), Dhammadipa, Ibu Christine atau Bhiksuni Guna Sasana, dan lain-lainnya yang mungkin kita sendiri tak ingat dan tak mengenalnya dimana pun dulu berada, baik di sekitar Jabotabek maupun daerah lainnya.

Toto Muryanto, yang lahir di Gombong Jawa Tengah pada 23 Desember 1939, dan di KTP jadi 31 Desember 1939 adalah sang Guru pahlawan tanpa tanda jasa dan tak dikenal. Namun sejarah tak akan melupakan dan menghapus mereka yang yang pernah berkiprah bagi masyarakat luas dan meninggalkan jejaknya untuk sebuah perjuangan. Perjuangan nilai bagi kemanusiaan, kemasyarakatan yang adil dan tentang makna kita berbangsa dan bernegara. Meski telah sepuh, tak dipungkiri ada jejak bersejarah dari Toto Muryanto bagi komunitas Buddha dan masyarakat Indonesia umumnya.

Sang Guru yang memberikan pengajarannya selalu dalam konteks kebangsaan dan nasionalisme ini juga pernah menjadi redaktur kebudayaan “Indonesia Muda”, Bintang Timur, anggota redaksi majalah tani “Pembangunan Desa” dan “Suara Tani”, di tahun 1960-1962. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai majalah dan surat kabar. Tahun 1977-1985 menjadi pemimpin redaksi “Hikmah Tridharma”, majalah “Karisda” (1998-2002), dan mengajar di SMA Swasta, Sila Paramita Jakarta Timur dan Ananda, Bekasi.

Dikenal sebagai guru agama Buddha dan Bahasa Indonesia bagi mereka yang pernah menjadi muridnya atau mungkin yang telah melupakannya. Toto Muryanto juga dikenal melalui puisi-puisi sosialnya yang memotret sejarah perjuangan, penderitaan rakyat Indonesia maupun masalah-masalah kebangsaan hingga saat ini. Bagi Toto Muryanto, puisi merupakan pengungkapan kebenaran realitas dan kehidupan yang tidak lepas dari tindakan politis. Senada dengan June Jorban (1936-2002) seorang guru yang juga penyair dan aktivis di New York Amerika Serikat yang menyatakan bahwa “Puisi adalah tindakan politik karena melibatkan pengungkapan kebenaran.”

 

Sang Guru dan Penyair

Tokoh sepuh yang sejak muda aktif dalam dunia kepenyairan dan mass media ini, sampai detik sepuhnya ini masih aktif menulis puisi-pusi sosialnya. Pada tahun 2022 lalu, ia mempublikasikan karyanya, kumpulan puisi sosialnya yang diberi judul “Baru 81”. Buku itu dibedah di kalangan aktivis di Gedung LBH Jakarta pada 17 Juli 2022. Selain itu juga di kalangan seniman di Kendal pada 16 Agustus 2022, dalam acara Ngobrol Merdeka dengan tema “Sastra dan Politik”. Kegiatan perbincangan dan dikusi bukunya juga diadakan di beberapa kota lainnya. 

Beginilah salah satu puisinya dari 120 puisi yang terdapat pada buku tersebut. Judulnya Bersajak Merdeka Teriak merdeka. Di sini di sana. Ada teriak seindah sajak, ada teriak sebusuk orang, berak. Setiap 17 Agustus terasa saktinya. (Agustus 2020). Itulah puisi dimana kita setiap 17 Agustus merayakan kemerdekaan, salah satu diantara ribuan puisi lainnya yang belum diterbitkan. Kita simak lagi puisinya yang memotret fenomena sosial sebagai cerminan dari penderitaan yang dialami rakyat jelata.

“Kembang Desa.” Hilang kembangnya, hilang desanya. Ditinggalkannya harumnya, ditinggalkannya wanginya. Keramatnya padi, sucinya Dewi Sri. Hilang, semerbak sawah yang digadaikan. Perginya minggat, terdampar di panas berdebu, kerasnya aspal jalanan. Jakarta ibukota, para begal. Ini bukan lagi berita luar biasa, kembang desa, anak rakyat tani sederhana. Limbung di tengah hari, diperkosa. Menahan sakitnya, menahan rasa hinanya, kembang desa. Teriak tanpa daya, habis suara. Bedebah. Lemah. Acungkan kepalan tinjunya. (Januari 2019).

Ia terkesan kenes dan kritis terhadap peristiwa yang terjadi dengan negeri dan bangsa saat ini. Tapi memang begitulah suara jujur Sang Penyair, wujud jiwa patriotisme, penjaga nilai-nilai kemanusiaan, hati nurani rakyat di tengah hantaman pembangunan yang menyelubungi keserakahan, ketamakan, membuncahkan kerusakan lingkungan, terdegradasinya nilai-nilai tradisi, anak-anak sekolah yang tidak memiliki aspirasi, orientasi, serta mahasiswa yang lebih dulu rebah sebelum mampu berdiri tegak menyuarakan aspirasi derita rakyat yang masih tercengkeram dalam kemiskinan dan ketidakadilan.

Sebagai seorang guru dan penyair, Toto Muryanto berjuang pada tataran nilai kemanusiaan dan kebangsaan dan memberikan semangat pemberontakannya bagi para aktivis. Kita dapat memetik pelajaran tentang aplikasi nilai Buddhis untuk masalah-masalah kebangsaan dari tokoh sepuh yang masih menetap di satu sudut ruang kecil di rusun tua buatan tahun 1970-an yang kumuh terletak di Jakarta Timur yang konon kabarnya sedang dalam proses peruntuhan.

Baginya Berbuddha di bumi Nusantara yang mengalami kejayaan agama Buddha adalah juga berkebangsaan dan cinta tanah air, cinta rakyat Indonesia. Ia selalu mengingatkan kita akan maksud Sang Buddha mengajarkan Dharmanya, dan ajaran utamanya, tentang Penderitaan atau Dukkha dan upaya memperjuangkannya, menghentikan penderitaan. Itulah “semangat revolusioner jiwa radikal-humanis dari Siddhartha Muda yang kemudian jadi Buddha,” katanya, yang harus terus ditanamkan dalam setiap generasi Buddhis muda dan para guru Buddhis untuk menghapus penderitaan dan pembodohan yang masih dialami rakyat Indonesia kini.

Masalah penderitaan yang bersifat eksistensial seperti: lahir, sakit, usia tua, mati itu selalu dibingkainya dalam konteks sosial dan kebangsaan. Derita eksistensial itu juga bersifat sosial, derita sosial. Tak ada kebahagiaanmu tanpa penderitaanku, tak ada Buddha tanpa penderitaan umat manusia. Tidakkah kata Buddha “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata. Semoga Semua makhluk dan umat manusia berbahagia,” termasuk di dalamnya demi segenap makhluk hidup di Tanah Air Indonesia ini?

Apa yang dikatakan, penderitaan, dukkha berkenaan dengan perubahan itu, dan karena itulah perjuangan dimungkinkan. Ajaran Buddha adalah bersifat revolusioner, seperti semangat Pertapa Siddhartha, bagaimana membalikkan penderitaan menjadi kebahagiaan, cermin revolusioner bagaimana mangkuk pertapanya yang dilempar ke sungai bisa berjalan melawan arus. Untuk itu, pakailah topi perjuanganmu seperti tokoh-tokoh revolusioner dalam sejarah dan kepalkan tanganmu untuk rakyat yang menderita, untuk nilai humanitas, emansipasi, keadilan berkembang memutus belenggu penderitaan rakyat.

 

Jiwa Revolusioner

Tokoh yang di tahun 1980-an kalau diajak bertemu dan berdiskusi ini selalu tidak mau di rumah makan, mall atau cafe melainkan di tempat-tempat bersejarah seperti musium, gedung kebangkitan nasional, gedung sumpah pemuda ini, selalu mengingatkan akan nilai-nilai Buddhis yang dibingkai dalam masalah kebangsaaan dan masalah-masalah yang dihadapi rakyat Indonesia. Dalam pandangannya, perjuangan mengabarkan ajaran Buddha adalah perjuangan mengaplikasikan nilai-nilai Buddha yang bersifat spiritual yang tidak bisa dipisahkan dari kondisi dan lingkungan yang ada, sebagaimana Candi Borobudur dengan relief-reliefnya yang juga mencerminkan keadaan sosial-budaya masanya.

Umat Buddha di Indonesia tak terpisahkan dengan negeri tercinta ini. Masalah penderitaan eksistensial adalah penderitaan sosial karena sesuai hukum paticca-samuppada, hidup ini saling berhubungan dan bergantungan, everything is connected. Untuk itu, sebagai bagian dari anak bangsa negeri ini, maka jejak langkah kita di bumi Nusantara ini adalah berjuang menghapus kondisi-kondisi yang masih mengekang dan menyebabkan penderitaan bagi rakyat Indonesia saat ini.

Seorang Buddhis adalah seorang yang cerdas dalam berpikir soal sebab-akibat, mempelajari sebab-sebab atau kondisi-kondisi dimana penderitaan itu masih mencengkeram. Carilah sebab-sebab penderitaan sosial itu dalam sistem sosial, sistem politik atau sistem budaya, ideologi kapitalisme materialisme yang masih mengekang Rakyat Indonesia. Dan, mantan Guru agama Buddha dan Bahasa Indonesia yang telah sepuh ini, masih lantang menyuarakannya lewat puisi-puisi penderitaan sosialnya, karena puisi adalah suara kebenaran realitas.

Membaca dan menyimak puisi-puisi sosial Toto Muryanto mengingatkan kita akan semangat dan jiwa perjuangan tokoh-tokoh revolusioner, seperti: Kartini, Soekarno, Tan Malaka, Mao Tse Tung, Ho Chi Minh, Che Guevara, Fidel Castro dan tokoh revolusioner lainnya. Puisi-puisinya memungkinkan kita mempelajari tentang begitu banyak belenggu yang menyebabkan penderitaan rakyat dan umat manusia. Rakyat Indonesia dan umat manusia di dunia yang masih dilanda penderitaan, dimana komunitas Buddhis adalah bagian yang tak terpisahkan. Sesepuh Toto Muryanto yang kerap dipanggil Sang Kamerad oleh para aktivis muda yang memetik jiwa revolusionernya tetap berjuang untuk itu. Merdeka! “Belum” katanya! (JP). ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Butuh bantuan?