Tradisi Nyadran dan Gotong Royong Pancasila (1)

Home » Artikel » Tradisi Nyadran dan Gotong Royong Pancasila (1)

Dilihat

Dilihat : 59 Kali

Pengunjung

  • 17
  • 1
  • 17
  • 30,758
WhatsApp Image 2023-05-10 at 12.40.54 PM (1)

Oleh: Dedi Sukamto

Diedit oleh: Jo Priastana

 

“Budaya Suatu Bangsa bersemayam di hati dan jiwa masyarakatnya”

(Mahatma Gandhi)

 

Ketika Soekarno merenung di sebuah taman, di bawah pohon sukun di kota Ende, konon katanya renungannya itu menghasilkan butir-butir Pancasila, penemuan ideologi bangsa untuk negara Indonesia merdeka yang diperjuangkannya. Di kota Ende, Bung Karno menjalani pengasingan yang dilakukan oleh kolonial Belanda selama empat tahun (1934-1938).    

Soekarno merenungkan tentang ideologi bangsa yang digali dan bersumber dari bumi Nusantara sendiri. Nilai-nilai masyarakat Nusantara yang banyak menyimpan kearifan lokal, termasuk diantaranya tradisi Nyadran yang berkembang dalam masyarakat Jawa yang sarat dengan nilai gotong royong. Nilai gotong royong yang hidup dalam masyarakat Nusantara yang sesuai dengan Pancasila. Pancasila yang hari kelahirannya diperingati setiap tanggal 1 Juni.

Nyadran sendiri adalah suatu istilah yang digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa untuk menyebut tradisi sedekah bumi atau bersih desa. Pelaksanaan tradisi Nyadran diikuti oleh segenap penghuni desa dengan cara gotong royong. Bung Karno terinspirasi oleh nilai kegotong royongan yang berakar dalam berbagai kearifan lokal, budaya Nusantara, sebagai karakter bangsa, dan bahkan Bapak Proklamator mengungkapkan jika Pancasila diperas maka esensinya tiada lain adalah gotong royong.

 

Tradisi Nyadran dan Gotong Royong

Tradisi Nyadran sarat oleh sifat kegotong royongan. Dari segi etimologi, istilah Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, yakni “Sradha“. Istilah ini digunakan warga Hindu untuk upacara pemuliaan roh leluhur (Saksono, 2012: 45) yang bermula semasa pemerintahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Raja ini menyelenggarakan upacara Sradha untuk memuliakan arwah sang Ibunda Tribhuwana Tunggadewi.

Masuknya Islam membuat ritual Sradha menjadi tradisi Nyadran yang rutin diselenggarakan pada bulan Ruwah. Kosa kata Ruwah merujuk pada kata Arwah, di mana bulan Syakban dianjurkan untuk memuliakan orangtua, termasuk yang sudah meninggal.

Nyadran dikatakan juga sebagai upacara ilmu ghaib yang berisi ritual-ritual yang dijalankan oleh masyarakat berdasarkan kepercayaannya pada hal-hal yang ada di luar dirinya (Mugiyo, 2020:54). Berdasarkan adat Jawa, Nyadran adalah “berziarah ke makam atau pergi ke makam nenek moyang dengan membawa kemenyan, bunga dan air. Nyadran mempunyai arti menziarahi kembali makam atau tempat yang dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya suatu desa. Masyarakat biasanya menyebut tempat tersebut sebagai punden.” (Riyadi, 2017:141).

Tradisi Nyadran seringkali diorientasikan sebagai wujud ungkapan rasa syukur, yang ditujukan kepada segala sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan lebih dari diri manusia. Selain itu, tradisi ini juga ditujukan kepada roh-roh halus atau dhanyang yang dianggap sebagai pembuka desa yang telah memberikan perlindungan terhadap masyarakat desa dari roh-roh jahat yang lain.

Tradisi Nyadran adalah milik masyarakat secara bersama-sama, oleh karena itu pelaksanaan tradisi Nyadran tidak dilakukan secara individual melainkan secara kolektif, karena adanya kesamaan kepentingan antar anggota masyarakat. Upacara tradisional Nyadran ini diselenggarakan bersama-sama oleh anggota masyarakat, dan keperluan penyelenggaraannya ditanggung bersama secara gotong royong (Ravita Mega Saputri, 2021:102).

 

Tujuan dan Pelaksanaan Nyadran

Pelaksanaan upacara Nyadran yang bersifat gotong royong diawali dengan kerja bakti membersihkan makam. Kemudian dilanjutkan dengan mendoakan arwah dan memanjatkan doa untuk arwah leluhur atau syukuran. Tradisi Nyadran dilakukan masyarakat, sebagai wujud ungkapan penghormatan kepada leluhur, atau di tempat yang dianggap wingit agar memberi perlindungan dan keselamatan kepada semua warga masyarakat.

Setiap ritual tradisi yang dilakukan oleh masyarakat mengandung motif dan tujuan, dan tradisi Nyadran dilakukan karena dianggap membawa kebaikan bagi masyarakat. Tujuan dilakukannya Nyadran adalah sebagai berikut:

(1) Wujud ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap semua arwah atau roh yang dianggap melindungi masyarakat seperti: Tuhan Yang Maha Esa, roh-roh halus atau dhanyang.

(2) Wujud permohonan ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa selama satu tahun, karena merasa telah banyak melakukan dosa dan kesalahan, masyarakat memohonkan ampunan kepada Tuhan baik bagi masyarakat yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

(3) Tujuan diadakannya Nyadran juga untuk meningkatkan interaksi antar sesama masyarakat, meningkatkan hubungan sosial dan ikatan persaudaraan.

(4) Nyadran merupakan tradisi, yang memiliki tujuan membersihkan lingkungan alam. “Nyadran dilakukan dengan membersihkan desa dan pundhen dari kotoran. Misalnya, kotoran sampah-sampah dan membersihkan saluran air agar pengairan lancar”.

Tradisi Nyadran nyatanya juga bersentuhan dengan ekologi, lingkungan alam, menjaga kelestarian alam. Dalam Aggana Sutta DN 27 juga dibahas bagaimana manusia harus menghormati dan menjaga alam semesta agar selalu terjaga kelestariannya.

Sikap menjaga dan menghormati alam ini berlaku dalam Tradisi Nyadran. Karenanya, bagi umat Buddha yang berada dalam budaya Jawa yang memiliki tradisi Nyadran, merupakan juga wujud dari pelaksanaan ajaran Buddha dalam menghormati dan bakti kepada leluhur, seperti tradisi Nyadran ini dilakukan oleh umat Buddha yang berada di Dusun Sidorejo Wetan, Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (JP)

***

(Sumber: Dedi Sukamto, “Tradisi Nyadran Sebagai Pendidikan Karakter dan Perekat Kerukunan Antar Umat Beragama: Studi Kualitatif di Dusun Sidorejo Wetan, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur,” Skripsi Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha (S1) STAB Nalanda, Jakarta, 2022)

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA)

sumber gambar: https://www.kemenag.go.id/feature/nyadran-ikhtiar-masyarakat-getas-rawat-kerukunan-iws0il

Butuh bantuan?