Tridharma Titik Temu Tiga Ajaran (4): Pendiri dan Penggagas Tridharma

Home » Artikel » Tridharma Titik Temu Tiga Ajaran (4): Pendiri dan Penggagas Tridharma

Dilihat

Dilihat : 155 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256

Oleh: Jo Priastana

 

“Topi Taois, Sepatu Konfusianis, Jubah Buddhis. Tiga keluarga menjadi satu keluarga, tinggalkan kehidupan Tusita, duduk di Shuanglin menunggu Nagapuspa”.

(Syair Master Zen Foyin, pada lukisan Acharya Fudashi)

 

Adalah Lin Chao En (1517-1598), yang dianggap sebagai kongconya orang Tridharma. Lin Chao En yang merupakan seorang intelektual disebut sebagai pemimpin dan pendiri agama Tridharma. Beliau mempelopori agama dengan unsur-unsur gabungan Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha, dan menjadi pelopor paling terkenal dari sinkretisme agama dan filsafat Tridharma semasa Dinasti Ming (1368-1644) China.

Selain Lin Chao En, terdapat tokoh lainnya yang dianggap sebagai penggagas Tridharma yaitu Acharya Fudashi. Dalam pandangan tokoh legendaris ini terdapat kaitan antara falsafah Tiga Ajaran, Tridharma: Buddha, Taoisme dan Konfusianisme. Acharya Fudashi dikenal sebagai penggagas Tridharma yang digambarkan mengenakan topi Taois, jubah Buddha dan sepatu Konfusius.

Pada abad ke 16, memang terjadi kecenderungan di Cina untuk menggabungkan agama dan filsafat. Masyarakat pada saat itu melakukan pencampuran Konfusianisme, Taoisme, ide-ide, praktek dari Buddhisme dalam keyakinan dan praktek keagamaannya. Sinkretisme ini mendasari penyebaran “buku moralitas” (shanshu) dan novel seperti Xiyouji (Journey to the West atau Cerita Tong Sam Cong pergi mengambil kitab suci ke Barat). Kisah yang juga memperlihatkan adanya unsur-unsur Tridharma seperti dewa dewi dari ketiga ajaran tersebut.

 

Pendiri Tridharma Lin Chao En

Lin Chao-en lahir pada tahun 1517 dalam sebuah keluarga akademisi di Pu-Tien provinsi Fukien. Beliau terlahir di keluarga akademis sehingga beliau dapat melanjutkan studinya dengan beasiswa. Setelah mencapai gelar akademis pertamanya pada tahun 1534, Lin menyadari bahwa sistem pendidikan pada saat itu tidak lagi relevan dan cenderung diarahkan semata-mata untuk penyediaan pejabat administrasi kekaisaran.

Pada 1546, ia meninggalkan studi konvensionalnya dan melakukan pencarian untuk menemukan jalan spiritual bagi dirinya sendiri. Setelah mendapatkan banyak ilmu, pada tahun 1551 ia pun memulai karirnya sebagai guru. Lin mengajar pemikiran-pemikiran yang diambil dari tiga ajaran. Jika dilihat dari beberapa cerita, Lin Chao En mengambil “saripati” dari ketiga ajaran dan menggabungkannya sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat yang memang cenderung berjiwa sinkretis.

Fokus Lin adalah pada budi daya pikiran umum Konfusius, Lao Zi, dan Buddha. Reputasi Lin kemudian tumbuh cepat dan dianggap memiliki jasa besar oleh murid-muridnya pada periode 1556 – 1563, terutama ketika Pu-t’ien menderita serangan berdarah dari pihak penjajah bajak laut Jepang. Disamping sebagai seorang intelektual, pemimpin agama, Lin Chao En juga seorang yang terlibat dalam aktivitas sosial-kemanusiaan.

Lin Chao En membantu masyarakat setempat dengan membagikan makanan dan obat-obatan, dan juga ditujukan bagi para pengungsi. Ia menguburkan banyak mayat yang tersebar di pedesaan. Lin menjadi tokoh publik yang dihormati dan sekolah Tridharma-nya menarik semakin banyak siswa. Di sekolah itu Lin mengajarkan agama Tridharma kepada murid-muridnya.

Selama lebih dari 25 tahun beliau mengajar Tridharma untuk banyak orang. Beliau meninggal pada atahun 1598, dan masyarakat umum mengakui jasa besarnya dalam menyebarkan ajaran Tridharma. Kuil-kuil dibangun untuk menghormatinya, karya-karyanya dicetak ulang dan menjadi teks-teks suci Tridharma.

Namun, pada akhir Dinasti Ming, Kaisar mengeluarkan fatwa melarang ajaran Lin untuk tidak berkembang. Akhirnya pada zaman itu, buku buku dan kitab suci Tridharma dibakar. Meski demikian, agama Tridharma tetap mengakar di kalangan rakyat jelata.

Kekuatan ajaran Tridharma ini dikarenakan juga oleh cara Lin mengajar yang lebih menekankan kepada praktek sehari-hari agar manusia dapat sehat jasmani rohani dan dapat hidup bahagia. Lin Chao En sendiri belajar dari banyak guru-guru spiritual yang mengajarkan ketiga ajaran (Tridharma). Beliau belajar Tao Alkemia, Neo Confucianisme dan Chan Buddhism.

Ajaran yang dipelopori Lin Chao En ini mendapatkan respon positif dari banyak orang sehingga terus berkembang. Setelah belajar dan memahami, menghayati ketiganya, dan giat menyebarkan paham tiga ajaran besar ini yang dikenal sebagai “Sam Kauw It Li”, “Lin Zhao En pun kemudian mendirikan San Jiao (Tridharma) sebagai contoh dari sinkretisme yang sempurna.

 

Acharya Fudashi Penggagas Tridharma

Selain Lin Chao En, jauh sebelumnya juga terdapat tokoh yang melegenda yang juga dapat dianggap sebagai penggagas Tridharma yaitu Acharya Fudashi. Sonika, S.Ag., MPd., mengungkapkan tentang adanya kaitan antara falsafah Tiga Ajaran, Tridharma: Buddha, Taoisme dan Konfusianisme. Ketiga ajaran ini juga memberi andil bagi tumbuhnya keyakinan terhadap Bodhisattva Maitreya.

Dosen di STAB Maitreyawira, Pekanbaru ini mengungkapkan tentang Acharya Fudashi sebagai penggagas Tridharma. Acharya Fudashi yang digambarkan mengenakan topi Taois, jubah Buddha dan sepatu Konfusius. Selain itu, Sonika S.Ag. MPd, ini juga mengemukakan tentang manifestasi Maitreya sebagai Bhiksu Budai, serta Jivaka Buddha Ji Gong, sebagaimana dipaparkan dalam tulisannya di bawah ini.

Semasa Dinasti Nachao Liang terdapat seorang Acharya, yang dikenal sebagai Acharya Fudashi. Acharya Fudashi (497-569) semula bernama Fu Lifeng, orang Yiwu propinsi Zhejiang China. Beliau perintis Kuil Shuanglin, pendiri tradisi Vimalakirti, sezaman dengan Patriat Bodhidharma, Maha Bhiksu Zhigong. Mereka dihormati sebagai Tri Acharya Kerajaan Liang.

Di era Samkok itu, filsafat Konfusianis bercampur dengan metafisika, lalu bercampur dengan Buddhisme. Ketika itu, Acharya Fudashi hidup di lingkungan kuil yang sedang semaraknya dengan perkembangan Buddhisme.

Konfusianisme dan kaum Metafisika Taoisme mengakui mengenai eksistensi sebagai yang alami, yang memiliki seperangkat mekanisme yang mengaturnya, dan disebut Tao. Konfusianis berpendapat manusia perlu dididik untuk sesuai dengan Tao, sedangkan kaum Metafisika berpendapat manusia tak bisa dilatih, biarlah berkembang dengan alami.

Pada saat pemerintahan Raja Liangwudi, metafisika tumbuh berkembang, namun tidak menggeser kedudukan Konfusianisme yang telah berakar dalam kehidupan orang Tiongkok. Buddhisme sendiri telah menyebar sejak Dinasti Han Timur, tapi masih dianggap sama dengan Taoisme.

Setelah adanya terjemahan kitab-sutra, pemahaman orang terhadap Buddhisme menjadi lebih tepat. Sebagian terjemahan tentang tradisi Theravadin, sebagian lagi tentang tradisi Mahayanis. Khususnya tentang Hukum Kesunyataan yang lebih mendekati Metafisika yang banyak disukai, sehingga fakultas Sunya-Prajna pun berkembang dengan cepat. Buddhisme mulai mengalami lokalisasi, tampil dengan cita rasa yang lebih disenangi orang Tiongkok.

Sementara itu, Kaiten Nukariya mengatakan bahwa berkat Acharya Fudashi-lah, titik kelemahan pada kaum buddhis yang ada pada saat itu berhasil disempurnakan. Acharya Fudashi telah mengharmoniskan Buddhisme dan Taoisme. Misalnya filsafat “Wujud dan Jiwa adalah satu serta Wujud dan Jiwa adalah berbeda saling beroposisi”. Sekalipun sebelumnya, Buddhisme telah mendapat dukungan dari Raja Liangwudi, namun tetap saja bisa menembus konsep filsafat Tao itu.

 

Topi Taois, Jubah Buddha dan Sepatu Konfusius

Terdapat kisah, dimana suatu hari Acharya Fudashi mengenakan topi Taois, jubah Buddhis, sepatu Konfusianis. Ia datang ke istana, dimana Raja bertanya: Buddhis ya? Acharya menunjuk jubahnya. Taois ya?, Acharya menunjuk topinya. Orang awam (Konfusianis)? Acharya menunjuk sepatunya.

Prototipe inilah yang oleh orang di kemudian hari dijadikan inspirasi pratima Acharya Fudashi di halaman masuk Kuil Shuanglin. Sebuah gambaran menyatunya tiga ajaran dalam diri seseorang berkat keberhasilan memahami, menghayati dan mampu mempraktekkannya.

Pakar buddhis Nan Huaijing mengungkapkan, Acharya Fudashi seumur hidupnya mempraktekkan Tri-Dharma dengan indah. Ia menjadikan Konfusianisme sebagai fondasi sosial, Taoisme sebagai prinsip kehidupan, dan Buddhisme sebagai panggilan kasih sayang. Sungguh dia adalah seorang praktisi yang agung dan mulia.

Ada ahli yang mengungkapkan, dalam membangun negara dengan Taoisme, menata rakyat dengan Konfusianisme. Ini adalah Dharma yang memasuki masyarakat. Sedangkan Buddhisme mengajarkan tidak terikat oleh dunia, namun penuh kasih sayang menyadarkan semua makhluk mencapai keterbebasan.

Sungguh suatu perpaduan yang harmonis. Kasih-sayang Buddhis, kearifan Taois, moralitas Konfusianis dalam diri seorang manusia. Tidak ekstrim dalam menjalani kehidupan. Falsafah ini telah mempengaruhi masyarakat Tiongkok turun-temurun.

Ada seorang pejabat tinggi Wang Anshi Dinasti Song, dimana di ruang tamunya ada sebuah lukisan Acharya Fudashi dengan syair Master Zen Foyin: Topi Taois, sepatu Konfusianis, Jubah Buddhis. Tiga keluarga menjadi satu keluarga, tinggalkan kehidupan Tusita, duduk di Shuanglin menunggu Nagapuspa.

Di tahun 569, Acharya Fudashi berkata: Badan ini sungguh menjengkelkan. Penyebab semua penderitaan. Mawas diri terhadap tiga karma, rajin menjalankan Enam Paramita; sekali terpeleset ke alam neraka, sulit bangkit terbebas, mesti senantiasa bertobat. Acharya Fudashi wafat pada usia 73 tahun, dimana sebelum wafatnya beliau sempat berpesan kepada muridnya untuk mengkremasikannya.(JP) ***

 

Daftar Pustaka:

Judith Berling A., “The Syncretic Religion of Lin Chao, dan EnsiklopediaBuddhis

Sonika, S.E., S.Ag., M.Pd. 2019. “Diktat Buddha dan Bodhisattva”. Pekanbaru: STAB Maitreyawira.

Fung Yu Lan, “A Short History of Chinese Philosophy,” 1952.

Sutradharma Tj. Sudarma, MBA., “Tiga Guru-Satu Ajaran: Kehidupan dan Ajaran Kebenaran Siddharta Gautama, Confucius, dan Lau Tzi, Yayasan Dhammadasa, Jakarta, 2000.

“Tri Dharma Seikat Bunga Rampai”, Bakti, Jakarta, 1995.

Kwee Tek Hoay, “Nan Hoa Cing”, Jilid 2, Swastika Surakarta, 1950.

Drs. I. Wibowo, (1980) “Buddhisme di Cina”, diktat Extension Course Filsafat STF Driyarkara, Jakarta.

Marga Singgih, 2019. “Sekilas Mengenal Tridharma (Sam Kauw/San Jiao di Nusantara,” Jakarta: Bakti.

Fritjof Capra., 1977.  “Tao of Physics,” Yogyakarta: Jalasutra (2001)

Lin chao en 林兆恩 alias li long jiang林龙江. Sumber https://xw.qq.com/cmsid/20211102A061PG00?f=newdc

***

Butuh bantuan?