Usaha Benar Dalam Pengembangan Kepribadian Buddhistik

Home » Artikel » Usaha Benar Dalam Pengembangan Kepribadian Buddhistik

Dilihat

Dilihat : 51 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 20
  • 41
  • 29,357
Usaha Benar

Oleh: Rudy Wu

 

A. Apa Itu Usaha Benar?

Usaha Benar adalah bagian dari kelompok samadhi, kelompok konsentrasi di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Usaha Benar memberikan suatu bentuk aktif bagi seorang pencari kebahagiaan dan merupakan salah satu inti ajaran Sang Buddha kepada kita.
Usaha Benar adalah upaya yang dibangkitkan ke dalam diri, ke dalam pikiran kita sehingga hal-hal yang penuh dengan kebajikan senantiasa ada dalam kesadaran kita, dalam batin diri sendiri, bukan orang lain.

 

Sang Buddha berkata, “Dan apakah, para bhikkhu, usaha benar? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul…. Ia memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul…. Ia memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkannya, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut usaha benar.” (SN V:1653-1654 / SN.45.8 Vibhaṅga Sutta)

Makna dari “kondisi-kondisi tidak bermanfaat” ucapan Buddha tersebut merujuk pada batin yang tidak bajik, batin yang tidak bermanfaat, batin yang tidak membawa pada pencerahan. Jadi, ada dua hal penting dalam Usaha Benar yang harus diperhatikan. Pertama, yaitu berkaitan dengan keadaan yang tidak bajik, ada usaha untuk mencegah dan meninggalkannya. Selanjutnya berkaitan dengan keadaan yang bajik, ada usaha membangkitkan dan memelihara hingga mencapai kesempurnaan.

Dengan demikian Usaha Benar dijabarkan sebagai berikut (AN II.16):

  1. Usaha mencegah keadaan tidak bajik yang belum muncul.
  2. Usaha meninggalkan keadaan tidak bajik yang telah muncul.
  3. Usaha membangkitkan keadaan bajik yang belum muncul.
  4. Usaha memelihara dan menyempurnakan keadaan bajik yang telah muncul
    Penjelasan masing-masing usaha tersebut akan diuraikan pada bagian selanjutnya. 

Usaha Benar disebut juga daya upaya benar, merupakan terjemahan dari bahasa Pali, Samma Vayama. Usaha dalam artian ini bukanlah usaha fisik melainkan usaha atau upaya yang dilakukan oleh batin, pikiran, kesadaran. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Usaha Benar adalah :

  1. Usaha mencegah dan membuang keadaan tidak bajik.
  2. Usaha memunculkan dan menumbuhkan keadaan bajik. 

 

B. Pentingnya Pengembangan Usaha Benar 

Dengan usaha (keras), engkau akan dapat menyeberangi air bah yang mengamuk.   

   Dengan usaha (sekuat tenaga), engkau dapat melewati penderitaan,” (SN I,214)

Sebagaimana ujaran sang Buddha di atas tersebut bahwa usaha atau suatu upaya selalu diperlukan dan dibutuhkan dalam setiap aspek maupun sikon kehidupan kita. Karena tanpa adanya hal tersebut tentunya hasil yang diinginkan tidak akan tercapai / tidak sesuai harapan. 

Maka dari itu usaha sebegitu pentingnya karena setiap orang harus berupaya untuk kebebasan dirinya sendiri. Seperti halnya, Buddha berusaha dengan sangat keras dalam mencari jalan kebahagiaan dan bebas dari penderitaan; tua, sakit, mati selama bertahun-tahun hingga akhirnya menemukannya dan membuahkan kedamaian sejati, pencerahan, nibbana

Selanjutnya usaha juga merupakan salah satu latihan dalam memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan berkata; “Lihatlah para Siswa yang selaras dengan sempurna, berteguh-hati dan selalu berupaya, selalu teguh didalam kemajuannya; inilah cara terbaik untuk memuja Sang Buddha.” (Thig: 161)

Dalam implementasi praktis kehidupan keseharian, Usaha Benar akan memotivasi semangat dalam diri agar selalu berjuang dalam bekerja, belajar hingga akhirnya mencapai kesuksesan.

 

C. Korelasi Usaha Benar (Samma Vayama) Terhadap Unsur-Unsur Jalan Utama Lainnya 

Usaha Benar sangatlah beruhubungan erat terhadap unsur-unsur lain dalam Jalan Utama Berunsur Delapan ajaran Sang Buddha, bahkan sebagai energi penggerak vital dalam terealisasinya unsur-unsur lainnya.  

Tercatat dalam Mahacattarisaka Sutta, diutarakan sang Buddha sebagai berikut:

  • “Seseorang berusaha untuk meninggalkan pandangan salah dan memasuki pandangan benar: ini adalah usaha benar seseorang.” (MN 117.9)
  • “Seseorang berusaha untuk meninggalkan kehendak salah dan memasuki kehendak pikiran benar: ini adalah usaha benar seseorang.” (MN117.15)
  • “Seseorang berusaha untuk meninggalkan ucapan salah dan memasuki ucapan benar: ini adalah usaha benar seseorang.” (MN 117.21)
  • “Seseorang berusaha untuk meninggalkan perbuatan salah dan memasuki perbuatan benar:ini adalah usaha benar seseorang.” (MN 117.27)
  • “Seseorang berusaha untuk meninggalkan penghidupan salah dan memasuki penghidupan benar: ini adalah usaha benar seseorang.” (MN 117.33)

Jelas bahwa tanpa adanya Usaha Benar, unsur yang lainnya akan sulit berkembang karena tidak ada daya yang mendukungnya. Usaha Benar bagaikan bensin yang dibutuhkan mobil agar dapat berjalan, dan latihan Usaha Benar tentunya harus dibarengi oleh Pandangan Benar dan Pikiran Benar, karena tanpa adanya kedua unsur tersebut, upaya yang dilakukan dapat salah arah, menjadi salah jalan/tersesat. Upaya yang tidak tepat akan membawa pada hal yang tidak bermanfaat, esia-siaan bahkan penderitaan.

 

D. Penjabaran Usaha Benar 1: Mencegah Keadaan Tidak Bajik Yang Belum Muncul

Langkah awal dalam melatih jalan Usaha Benar adalah upaya untuk mencegah keadaan batin /pikiran yang tidak bajik agar tidak muncul. Seperti kebencian, keserakahan, iri hati diawali dengan tidak terkontrolnya pikiran terhadap respon inderawi. pandangan inderawi mata akan sesuatu yang indah dan menarik membuat seseorang berpikir “aku mau yang ini dan itu”, mendengar sebutan kasar dari seseorang menimbulkan perasaan tidak suka atau marah. Semua itu bermula dari inderawi kita yang tidak terkendali. 

Pengontrolan pikiran dengan pengendalian gejolak indria (indriya samvara) adalah poin utama ajaran Sang Buddha, dengan ujaran-Nya; “Ketika ia menyadari suatu bentuk dengan mata, suatu suara dengan telinga, suatu bau dengan hidung, suatu rasa dengan lidah, suatu kesan dengan tubuh, atau suatu objek dengan pikiran, ia mempersepsikan tidak berdasarkan tanda atau detailnya. Dan ia berjuang untuk menghindarinya, yang mana darinya keadaan-keadaan jahat dan tidak bajik, keserakahan dan kesedihan akan muncul apabila ia tetap dengan indera yang tidak terjaga; dan ia mengawasi indera-inderanya, mengendalikan indera-inderanya”. (AN 4:14)

Pengendalian indera, dapat mengikis keadaan batin yang tidak bajik seperti; kemarahan, kebencian, keserakahan menjadi tidak berwujud atau berkembang. Namun hal itu bukanlah berarti penolakan terhadap semua hal-hal duniawi. Ia semata “memperhatikan”. Tidak mempersepsikan, tidak memikirkan lebih lanjut terhadap masukan/rangsangan dari indera. Dimana perhatian yang penuh dengan kewaspadaan menjamin seseorang selalu hidup dengan indera yang terkendali. Sebaliknya ketidakmampuan dalam mengendalikan indera akan mendatangkan berbagai masalah. Bertemu dengan objek yang dipersepsikan/dianggap tidak disukai akan membuat kebencian semakin kuat, bertemu dengan objek yang disukai akan membuat kemelekatan semakin kuat. Ketika bertemu dengan perubahan, maka serta merta penderitaan menyelimuti. 

 

E. Penjabaran Usaha Benar 2: Usaha Meninggalkan Keadaan Tidak bajik Yang Telah Muncul

Keadaan tidak bajik apapun yang menyelimuti merupakan kotoran-kotoran batin yang tertanam dari perbuatan tidak bajik sebelumnya. Kotoran batin tersebut bersumber dari kebencian (penolakan), keserakahan (kemelekatan), serta ketidaktahuan (kebodohan batin) yang akan berwujud dalam berbagai keterikatan yang merintangi pengembangan kesadaran batin.

Untuk meninggalkan keadaan tidak bajik tersebut, seseorang harus mampu menembus rintangan-rintangan batin yang bersumber dari kekotoran batin. Rintangan-rintangan tersebut bagaikan parasit yang dapat menggerogoti batin seseorang. Rintangan-rintangan batin itu dapat dikelompok menjadi Lima Rintangan Batin (Panca Nivarana), yakni;  

  1. Nafsu Indera (Kamachanda)
  2. Niat Jahat (Byapada)
  3. Kemalasan-kelesuan (Thina-middha)
  4. Kegelisihan-kecemasan (Uddhaccakukkucca)
  5. Keraguan (Vicikiccha)

Nafsu indera dan niat jahat sebagai rintangan terkuat dan menjadi penghalang terbesar dalam konsentrasi atau meditasi. Rintangan nafsu indera merupakan turunan dari akar kekotoran batin yaitu kerserakahan/kemelekatan (lobha), kebencian/penolakan (dosa) dan ketidaktahuan (moha). 

Dalam MN 20, Vitakkasaṇṭhāna Sutta, Sang Buddha menjelaskan bahwa ada lima usaha untuk mengikis kotoran-kotoran batin yang menyelimuti diri kita, yakni ; 

  1. Teknik memunculkan pemikiran berlawanan dari pemikiran tidak bajik.
  2. Teknik memahami akibat dari pemikiran tidak bajik.
  3. Teknik melupakan dan mengalihkanpemikiran tidak bajik.
  4. Teknik mengamati dan mencari sumber pemikiran tidak bajik.
  5. Teknik menekan pemikiran tidak bajik. 

 

F. Penjabaran Usaha Benar 3: Usaha Membangkitkan Keadaan Bajik Yang Belum Muncul

Usaha benar lainnya untuk membangkitkan keadaan bajik adalah dengan memunculkan dan mengembangkan Tujuh Faktor Pencerahan (satta bojjhangga), yakni:

  1. Perhatian (sati)
  2. Penyelidikan dhamma (dhammavicaya)
  3. Semangat (viriya)
  4. Kegiuran, kegembiraan mendalam (piti)
  5. Ketenangan (passaddhi)
  6. Konsentrasi (samadhi)
  7. Keseimbangan batin (upekkha)

Ketujuh faktor itu dapat menuntun jalan menuju pencerahan, dan menghancurkan belenggu serta membawa pembebasan akhir dari penderitaan.

 

G. Penjabaran Usaha Benar 4: Usaha Memelihara Dan Menyempurnakan Keadaan Bajik Yang Telah Muncul

Dalam Anguttara Nikaya 4:14 Sang Buddha menjelaskan bahwa, usaha terakhir yang dilakukan setelah membangkitkan pemikiran-pemikiran bajik adalah menjaga, memelihara dan menumbuhkan keadaan bajik tersebut hingga mencapai kesempurnaan. Usaha untuk memelihara (anurakkhanappadhana) merupakan suatu usaha untuk menyimpan erat dalam pikiran sebuah objek konsentrasi yang baik dan sudah muncul (AN 4:14).

Usaha tersebut mampu membuat faktor-faktor pencerahan yang telah tumbuh stabil dan secara bertahap akan meningkat hingga terealisasinya pembebasan, sebagai titik puncak perjuangan dari usaha benar, yang tentu saja semua faktor atau unsur di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan juga mencapai kesempurnaan. Dengan terus melakukan daya upaya benar kita akan selalu memiliki semangat memperbaiki diri dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang baik.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar  Pustaka 

https://static.sariputta.com/pdf/tipitaka/886/usaha-benarpdf.pdf

https://midway-buddhist.medium.com/apa-itu-daya-upaya-benar-9fb6931d408c

http://bahanajar.ut.ac.id/app/webroot/epub/original_files/extract/1176/EPUB/xhtml/raw/s1hrqq07.xhtml

Gambar: https://www.freepik.com/free-vector/man-with-brain-puzzle-illustration_11053079.htm

Butuh bantuan?