Virtue Signaling: (Sok) Bijak Untuk Membenci

Home » Artikel » Virtue Signaling: (Sok) Bijak Untuk Membenci

Dilihat

Dilihat : 75 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 16
  • 41
  • 29,353
virtue

Ditulis Oleh: Gifari Andika Ferisqo ()

 

Kebanyakkan orang indonesia adalah pelaku ‘musiman’ dari virtue signaling atau penyampaian tindakan, pandangan, dan pendapat yang dinilai baik oleh mayoritas agar dinilai sebagai orang yang baik.  Seorang editor penerbit Merriam-Webster, Emily Brewster menyebut “virtue signaling” dan “humblebrag” (humble = rendah hati, brag = memamerkan); sebagai contoh perilaku sok baik dan sok bijak di dunia maya.

Secara sederhana virtue signaling sama dengan sikap munafik stadium ringan. Sikap yang disayangkan dari orang yang dianggap melakukan virtue signalling adalah mereka memprioritaskan narsisisme moral demi menunjukkan superioritas mereka kepada suatu kelompok yang dianggap memiliki moralitas yang lebih rendah. Di sinilah yang bisa berpotensi menjadi masalah karena dengan sikap yang seperti ini biasanya akan muncul gesekan antara kubu satu dengan kubu lain karena secara tidak sadar virtue signalling menciptakan semacam jarak dan sifat superior-inferior dalam moralitas. 

Orang yang melakukan virtue signaling menggunakannya sebagai wacana moral, agar orang lain memberikan pengakuan. Pengakuan itu berupa pujian tentang moral tersebut atau like pada sosial media demi meningkatkan keyakinan moral orang lain membenarkan peran seseorang entah influencerpublic figure, politisi, artis atau kelompok tertentu dalam melakukan fenomena sosial ini. Namun jika seseorang yang melakukan tindakan ini terlalu mementingkan dirinya sendiri maka bisa berdampak pada kesombongan, dan juga bisa seseorang itu menjadi pribadi yang narsistik.

Virtue signaling bisa menimbulkan semacam kemunafikan yang mana mereka mengaku prihatin atau marah atas ketidakadilan atau kemalangan orang atau pihak lain. Tetapi pada batas tertentu, mereka memiliki keinginan untuk memberitahu orang lain betapa bermoralnya dirinya. Seringkali ini akan menempatkan orang yang melakukan tindakan sosial ini menjadi narsistik, kesombongan tanpa sadar dan kemunafikkan. Ini seperti semacam topeng identitas seseorang dalam menutupi sifat aslinya entah itu sifat inferior atau apapun itu yang sejenisnya. Fenomena ini di dunia maya memiliki dampak seperti dua sisi mata uang. Satu sisi menjadi dampak buruk tidak hanya bagi orang yang melakukan, satu lagi bisa menjadi baik tergantung dari bagaimana orang melakukan fenomena sosial ini. Dampak buruk dari fenomena ini antara lain: bisa berakibat seseorang overacting dalam menilai sesuatu kebaikan dalam dirinya, menjadikan dirinya seorang narsistik, menumbuhkan rasa ketidakpercayaan masyarakat jika orang tersebut melalukannya hanya untuk ikut-ikutan saja. Orang yang melakukan tindakan hanya untuk ikut-ikutan biasanya mendapatkan dorongan dari faktor psikologis, faktor tersebut misalnya keinginan dalam menyesuaikan diri dengan orang lain; seperti menjilat mayoritas dan bisa juga karena ingin mendapatkan manfaat dari yang orang lain lakukan.

 

Berorientasi Pada Pengakuan Orang Lain

Pengakuan dari orang lain akan menimbulkan kebahagiaan bagi orang yang mengidap virtue signaling. Bagi mereka, respons positif dari publiklah yang dapat menentukan kunci kesuksesan mereka. Oleh karena itu, orientasi orang yang tanpa sadar melakukan virtue signaling akan selalu mengarah kepada orang lain, sampai lupa pada dirinya sendiri. Ini dapat menyebabkan fear of missing out (FOMO), yaitu kecemasan saat tidak mengikuti trend yang sedang berlangsung. Saat suatu issue sedang marak dibicarakan sementara mereka tidak ikut membahas issue tersebut, maka kemungkinan mereka akan berpikir bahwa citra mereka tidak tampil dengan baik. Terkadang masyarakat dunia maya (netizen) pun juga menuntut mereka ikut bersuara atas issue yang sedang ramai dibicarakan tanpa peduli apa manfaatnya untuk diri mereka sendiri.

Terdapat dua perilaku sosial yang menjadi penyebab seseorang melakukan virtue signaling. Kedua perilaku ini juga tanpa sadar sering kita hadapi juga saat berinteraksi di sosial media. Pertama, seseorang menyesuaikan diri dengan tindakan dan pendapat orang lain. Oleh karena itu, mereka akan mengikuti apa yang orang lain lakukan agar dirinya merasa dianggap dan dikatakan baik.

Kedua, seseorang hanya ikut-ikutan tapi tidak benar-benar tahu dan menguasai masalah sebenarnya. Ini yang terkadang membuat mereka tidak teredukasi dengan baik soal issue tersebut, yang bisa berakibat pada argumentasi mereka akan sering menjadi blunder atau menyerang diri merka sendiri. Kasus seperti ini pernah saya temui di sebuah sosial media yang diunggah oleh seorang (oknum) Pandita yang mungkin sedang berusaha untuk menjadi public figure atau influencer dan sedang mencitrakan dirinya sebagai social justice warrior

Kemudian melakukan blunder yang membuat dirinya banyak diserang balik di dalam kolom komentarnya karena membuat status tentang pembelaannya terhadap Palestina dan mengutuk Israel tanpa tahu masalah konflik rumit yang benar-benar terjadi di sana, sehingga terkesan mengajak orang lain untuk membenci pihak lain dan membela satu pihak secara membabi-buta. Padahal secara umum kita ketahui bahwa ketika seseorang sudah diangkat sebagai Pandita haruslah menjaga sikap baik di dunia nyata maupun di dunia maya, dan seragam Kepanditaan yang diberikan semestinya dijadikan pengingat sebagai sebuah ‘rem’ untuk mengatur tindak-tanduk dirinya, serta tidak membuat sesuatu yang bersifat memecah-belah dan berbalik bisa merugikan umat Buddha secara umum. 

Belum lagi tambahan status lain dengan mengait-ngaitkan di daerah yang berkonflik dengan ajaran Buddhisme dan ajaran Timur lainnya seolah sebagai sebuah solusi berdasarkan pelanaran pribadi yang kadang bisa dinilai sedikit cacat penalarannya. Tentu saja kita tidak perlu menjadi sok pahlawan apalagi sambil membuat statement bahwa keberpihakkan pada nilai kemanusiaan jika umat Buddha mempelajari dan mempraktikkan ajaran Buddha. Apalagi dengan atau tanpa sengaja juga ‘menyenggol’ ajaran lain dengan istilah ‘Tanah Terjanji’ dan ‘Bangsa Pilihan’ di daerah konflik tersebut sungguh tidak patut untuk dikeluarkan argument seperti itu oleh seorang (oknum) Pandita. 

Itu seolah secara tersirat ‘merendahkan’ ajaran lain yang sebenarnya kontradiktif dengan ajaran Buddhisme itu sendiri yang tidak menolak atau membiarkan ajaran lain sebagaimana adanya karena Buddha juga tidak tertarik untuk menjadikan murid dari guru lain sebagai muridnya yang dalam pemahaman sekarang bisa kita kaitkan dengan ajaran atau agama lain (Digha Nikaya 25; Patika Vagga; Udumbarika-Sīhanāda Sutta). Dalam argument tersebut bisa dikatakan juga bahwa itu termasuk penyebaran ajaran Buddhisme secara tersirat dengan menjatuhkan ajaran ‘tetangga’ tetapi menjilat ajaran mayoritas di negeri ini.

Itupun belum ditambah dengan status lain yang sempat mendukung perang Rusia-Ukraina tetapi di saat yang lain juga mengutuk keras perang Israel-Palestina bahkan menuduhnya sebagai penjajah, juga menuduh kepada yang pragmatis dan bersikap netral sebagai orang yang tidak memiliki solidaritas yang sebenarnya bisa dinilai sebagai mental keroyokan atau kawanan. Sederhananya, dalam kedua kasus tersebut sang (oknum) Pandita terkesan berpihak berdasarkan prinsip “the enemy of my enemy is my friend” yang juga diikuti oleh masyarakat yang sekedar ikut-ikutan berdasarkan kebencian bersama secara komunal dan penilaian yang subyektif.

 

Konklusi

Kesimpulannya jangan terlalu menelan mentah berita-berita yang ada, sebaiknya pelajari lebih dahulu akar permasalahan dari issue yang sedang terjadi apalagi menghubungkannya dengan antar ajaran/agama, etnis, dan penalaran pribadi yang bisa berpotensi cacat nalar tanpa adanya obyektivitas. Tingkah laku yang terlihat adalah pada ucapan apakah baik dan benar, tingkat pemilihan kata-kata, serta ketepatan waktu mengungkapkannya.

Kalau pengetahuan teoritisnya tinggi namun tidak didukung oleh ucapan yang sepadan, maka sangatlah kurang bermanfaat apa yang dipahaminya tersebut. Hanya orang-orang yang berbicara baik, benar, menggunakan nalar yang baik serta tepat waktu dalam pengungkapan argumentasinya, maka orang akan menghormatinya dan tidak akan terjadi yang namanya virtue signaling yang “tong kosong nyaring bunyinya” dan sekedar ikut-ikutan dengan bermental kawanan atau keroyokan terhadap issue yang sedang berkembang dengan penalaran pribadi yang terkesan cacat. Virtue signaling jika dilakukan dengan cara yang tepat tentu saja bisa menghasilkan dampak yang baik dan buruk bagi orang lain dan pelakunya. Pelaku virtue signaling yang melakukannya dengan tujuan positif dan bukan sekedar ikut-ikutan saja bisa menyebarkan nilai positif pada orang lain. Tetapi, jika pelaku virtue signaling negatif maka itu pun bisa berdampak pada tersebarnya nilai negatif pada masyarakat. Jangan hanya karena membenci sesuatu secara pribadi lantas mengajak orang lain juga untuk membenci secara tersirat sesuatu yang dibenci secara pribadi tanpa memikirkan efek domino yang panjang terhadap kelangsungan dan ketentraman hidup masyarakat yang mejemuk, itu sama saja belum melatih diri dari dari sikap adosa (tidak membenci), terlebih telah menggunakan seragam Kepanditaan yang semestinya menjadi ‘rem’ pribadi.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Daftar Pustaka

  • Westra, Vvan. 2021. Virtue signaling and moral progress. Philosophy and Public Affairs 90 no.2
  • Linta Tartila, Pintani. 2013. Fanatisme Fans Kpop Dalam Blog Netizenbuzz. Jurnal Universitas Airlangga.
  • Rusmaniar, Viky (2020) Pengaruh Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Self Instruction Untuk Meningkatkan Pemahamam Bahaya Fanatisme Idol KPop (Penelitian pada Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 3 Mertoyudan). Universitas Muhammadiyah Magelang.

 

Butuh bantuan?